
"Saya rasa hal seperti itu tidak bisa, tetapi anda bisa membiarkan masalah ini dengan pihak administrasi di depan sana" balas sang dokter menyuruh aku untuk pergi dari sana dengan halus.
Aku mengangguk mengerti dengan maksudnya dan saat aku keluar dari sana aku melihat tuan Arfanka yang ternyata masih ada menungguku di luar ruangan tersebut.
Dia berdiri menghadap ke arahku tepat ketika aku baru saja keluar dari ruangan pribadi dokter tersebut saat itu, aku terus saja menunduk dengan lesu dan tidak bisa mengatakan apapun lagi saat itu, selain dari terus berjalan lesu menuju meja administrasi yang berada di bagian depan rumah sakit tersebut.
"Ada apa dengannya, apa dia habis terkena marah oleh dokter itu sampai harus keluar seperti ini?" Batin tuan Arfanka menduga-duga saat itu.
Padahal saat itu aku justru sudah tidak memiliki energi atau semangat sedikitpun di dalam diriku aku benar-benar merasa sangat lesu dan tidak tahu harus berbuat apa, uang tagihan ganti rugi dari rumah sakit yang tidak tahu akan semahal apa, dari mana aku bisa melunasi semuanya aku bahkan tidak memiliki uang satu persen pun.
Aku benar-benar tidak memiliki apapun selain dari menjual apa yang kamu punya saat ini, sedangkan saat ini saja aku sudah tidak punya apapun selain ragaku sendiri, aku berjalan dengan lesu dan sama sekali tidak melirik sedikitpun ke arah tuan Arfanka saat itu, aku tidak berani untuk menatap matanya dan hanya berjalan sendiri menuju tempat administrasi di bagian depan rumah sakit tersebut.
Aku terus saja berjalan dengan penuh kecemasan yang tidak menentu dan sulit untuk aku gambarkan saat itu, bahkan berjalan saja aku terasa seperti melayang, karena takut untuk memikirkan seberapa besar tagihan yang harus aku bayar saat itu untuk melunasi semua kerusakan yang di akibatkan oleh adikku Kirei saat itu.
Hingga sesampainya disana langsung saja aku menanyakan kepadanya tentang tagihan kerusakan fasilitas di kamar pasien adikku saat itu.
"Eumm...permisi mbak" ucapku kepada pihak administrasi disana saat itu,
"Iya...ada yang bisa saya bantu mbak?" Tanyanya kepadaku,
"Saya ingin melihat tagihan kerusakan fasilitas barang di kamar pasien VIP nomor 11" ucapku kepadanya saat itu.
"Baik mbak tunggu sebentar ya saya akan memeriksanya segera" ujar wanita tersebut dan segera memeriksanya dari komputer yang ada di hadapannya saat itu.
Aku berdiri di hadapannya menunggu dengan perasaan yang tidak menentu saat itu, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi dan sungguh merasa sangat kebingungan sendiri saat itu.
Berdiri dengan menggigit ujung kuku ibu jariku saat itu dengan perasaan yang tidak menentu dan terus saja merasa cemas tidak karuan karena aku sangat takut bayaran yang harus aku bayar akan sangat mahal nantinya.
"Ya tuhan aku mohon semoga tidak semahal yang aku bayangkan, Ako mohon tuhan tolong jangan menyulitkan aku lagi, permudahkan urusanku ini tuhan aku mohon" batinku penuh harapan saat itu.
Meski aku tahu berharap seperti sebenarnya tidak akan ada gunanya sebab mau aku berharap dan berdoa seperti apapun dengan penuh harapan yang besar, semuanya sudah benar-benar terlambat saat itu, aku sudah terlanjur sampai disana dan adikku Kirei juga memang sudah merusakkan banyak barang di dalam ruangan pasien tersebut, terlebih ruangan itu adalah ruangan VIP yang hanya di gunakan oleh orang-orang kaya saja, tentu bayaran dan semua fasilitasnya juga akan di berikan yang terbaik, lebih baik dari pada ruangan umum yang lainnya.
Dan aku sungguh tidak bisa mengubah semua itu karena tuan Arfanka sendiri yang sebelumnya membawa adikku masuk ke dalam rumah sakit yang besar dan mewah seperti ini.
Padahal jika sebelumnya aku saja yang merawat adikku sendiri mungkin aku juga tidak perlu merasakan kebingungan dengan masalah biaya seperti ini, aku juga bisa lebih dekat dengan adikku Kirei, tidak perlu merepotkan tuan Arfanka dan membuatnya harus membayar semua biaya adikku di rumah sakit jiwa tersebut.
...****************...
Sedangkan disisi lain tuan Arfanka sebenarnya tengah memperhatikan Klara dari kejauhan dia melihat dengan mengerutkan kedua alisnya bersamaan melihat Klara yang berdiri sambil sesekali berjalan mondar mandi tidak jelas dengan menggigit ujung kuku ibu jarinya saat itu di hadapan mm eja administrasi seorang diri seperti orang tengah linglung dan kebingungan.
"Ehhh..sedang apa dia berdiri disana, aku kan sudah membayar semua biaya administrasi ruang rawat dan semua perawatan adiknya selama di rawat di rumah sakit ini dalam satu bulan, ini belum juga pertengahan bulan kenapa dia harus pergi ke sana lagi, apa yang akan dia bayar dan sedang dia lakukan sebenarnya?" Gerutu tuan Arfanka yang merasa sangat penasaran saat itu.
Dia pun mulai mendekati Klara dan semakin mendekatinya dengan perlahan, tapi disaat dia hendak menyentuh pundak Klara dan menyapanya saat itu pihak administrasi memanggilnya sehingga dengan cepat Klara langsung saja berbalik menatap ke depan meja administrasi tersebut dan menghadap pihak administrasi dengan cepat.
Hingga wanita tersebut langsung saja memberitahu Klara jumlah yang harus dia bayarkan saat itu akibat dari kerusakan fasilitas yang di perbuat oleh adiknya sejak beberapa hari yang lalu termasuk dengan yang dia rusak sampai hari ini.
__ADS_1
Aku yang mendengar jumlah uangnya sangat besar bahkan lebih besar daripada yang aku pikirkan sebelumnya dan itu benar-benar di luar dari pemikiran dan dugaanku sangat di luar ekspektasi diriku sendiri.
"HAH? MBAK apa kamu tidak salah menghitung? Kenapa bisa sebesar itu, adikku bahkan tidak memakai perlengkapan apapun yang terlihat cukup mahal kenapa bisa sampai sebesar itu jumlahnya" ucapku sangat kaget dan berteriak cukup keras kepada wanita yang menangani bagian administrasi tersebut.
Wanita itu pun memberikan aku rincian barang yang di rusak oleh Kirei termasuk dengan harganya yang sudah tertera di samping sana.
"Maaf mbak tetapi segitu yang tertera di dalam sini, jika mbaknya tidak percaya kepada saya, silahkan mbak bisa mihat rinciannya sendiri di sini, silahkan mbak" ucap wanita tersebut mempersilahkan kepadaku saat itu.
Aku langsung saja melirik ke arah sana dan melihatnya dengan mata yang terbelalak ketika melihat semua rinciannya yang memang sangat benar dengan apa yang di sebutkan oleh wanita tersebut, harga gelas dan mangkuknya saja berharga ratusan ribu dalam satu buahnya di tambah remote AC juga ranjang yang rusak dan bantal yang di sobek oleh Kirei semua itu memiliki harga yang sangat mahal di mataku.
Aku bahkan sangat syok ketika mihatnya bahkan hampir saja pingsan saat itu, sebab uang sebesar itu sama sekali tidak pernah aku pegang, dan aku benar-benar merasa sangat lemas ketika membacanya.
"Astaga....ahhhh..kenapa bisa semahal ini, hanya sebuah bantal saja kenapa bisa sampai jutaan begini, ini gila....aahhh kepalaku" ucapku dengan nafas yang tidak teratur dan aku memegangi kepalaku yang terasa pusing saat itu.
Aku berjalan mundur ke belakang dan malah menabrak tuan Arfanka yang ternyata sudah berada di belakangku saat itu, dan aku sama sekali tidak mengetahui kapan dia berada di sana saat itu.
"Ahhh.....tu...tu..tuan sejak apa kau ada disini?" Tanyaku kepadanya dengan wajah yang kebingungan dan linglung sendiri,
"Aku sudah berdiri di sini sejak lama, kau saja yang buta dan tidak melihatku" balasku terlihat seperti kesal denganku.
Tapi aku sungguh tidak bisa melawannya saat ini, dia jelas bukan lawan untukku sebab dia adalah bos ku aku juga tidak bisa berkata-kata apapun lagi kepadanya dan hanya menunduk sambil meminta maaf kepadanya karena aku sudah melupakan keberadaan dia sebelumnya.
"Aahh ...ma...maafkan aku tuan, aku sungguh tidak bermaksud seperti itu maafkan aku tadi aku hanya terlalu panik saja" ucapku meminta maaf dan merasa sedikit bersalah kepadanya saat itu.
Tapi untungnya dia hanya menatap sinis dan merotasikan matanya saja kepadaku sesaat sampai akhir tiba-tiba saja dia justru malah membayarkan biaya administrasi kepada wanita tersebut, hal tersebut tentu saja membuat aku sangat kaget mendengar dia akan membayarkan semua tagihannya begitu saja dengan sangat mudah dan wajahnya yang terlihat memiliki ekspresi yang begitu datar saat itu.
Bahkan pihak administrasi itu saja kaget mihat sebuah kartu hitam di berikan kepadanya karena sebelum ya belum pernah ada orang yang membayar ke rumah sakit itu menggunakan kartu hitam no limit seperti itu.
"A..a..ahhh..baik tuan" balas wanita itu dengan gugup dan tangannya bahkan gemetar sakit kagetnya memegangi kartu no limit seperti itu.
Hingga dia selesai menggeseknya segera saja dia menghembuskan kartu itu kepada tuan Arfanka dan aku menatap dengan kebingungan kepada wanita tersebut karena dia masih saja tersenyum sendiri menatap ke arah tuan Arfanka juga aku masih merasa kaget tidak menduga dia malah membayarkan aku atas tagihan itu, padahal aku bahkan belum melunasi biaya administrasi kepadanya dimana biaya perawatan dan ruang rawat Kirei saja sebelumnya sudah di bayar olehnya, belum lagi uang yang di pakai oleh ibu yang sudah jauh sangat banyak.
Aku tidak yakin apakah aku akan sanggup membayar semua tagihan uang tersebut kepadanya atau tidak, ini sangat membebani pikiranku sekarang.
"Tuan..kenapa anda malah membayarkan tagihannya?" Tanyaku kepadanya dengan mengerutkan kedua alisku yang masih belum bisa menerima semua itu.
"Sudahlah ayo kita kembali saja aku sudah sangat lelah disini dan lihat sikutku masih perlu di obati dengan secepatnya, aishh...ini sangat perih sekali" ucap tuan Arfanka sambil mengungkapkan kemeja panjang miliknya.
Pantas saja saat itu dia melepaskan jas nya dan menggulung keatas sedikit sebelah tangan kemejanya saat itu, aku pikir dia hanya merasa gerah saja rupanya sikutnya tersebut benar-benar terluka dan memar hingga terlihat lebam ke hijau hijauan cukup besar saat itu.
Aku pikir itu terjadi pasti karena dia menolong aku sebelumnya saat di dalam ruang rawat Kirei saat itu, dan aku kembali merasa malu takut juga tidak karuan kepadanya.
"Aku sudah menimbulkan banyak sekali masalah, harus bagaimana sekarang huhu" batinku merasa begitu campur aduk.
Aku tidak bisa melakukan apapun lagi dan hanya bisa diam membisu lalu segera berlari ketika melihat tuan Arfanka sudah berjalan pergi lebih dulu dengan langkah besarnya meninggalkan aku sendiri di sana.
__ADS_1
"Heh...kenapa kau diam saja, ayo cepat!" Ucap tuan Arfanka mendesakku saat itu.
Aku pun segera membalas ucapannya sambil segera berlari kecil mengejar dia dan berusaha untuk menyamakan langkahku dengannya walaupun jelas sekali terlihat bahwa langkahku dengan langkahnya sangatlah jauh beda bahkan dari tinggi badannya saja sudah bisa terlihat begitu jelas seberapa besar langkah kaki yang bisa aku lakukan sedangkan tuan Arfanka sendiri sangat tinggi dan kepalaku bisa disetarakan dengan pundaknya saat itu.
Saking pendeknya aku saat itu.
"A..ahh..iya tuan, aku akan menyusul mu segera" balasku sedikit berteriak kepadanya saat itu.
Aku pun langsung saja berlari kecil di sampingnya sedangkan dia bisa berjalan dengan santai dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana miliknya, aku berada seperti seorang kurcaci ketika berdiri di sampingnya apalagi berjalan seperti ini di sampingnya berjalan cepat hampir seperti berlari sedangkan dia berjalan dengan langkah yang sangat besar dan terlihat begitu santai dan berkelas saat berjalan.
Dia benar-benar bos besar yang sangat berkarisma dan sangat menakutkan dengan tatapan maut yang dia miliki dimana semua orang yang mihatnya pasti akan merinding takut dengan tatapannya yang sangat menyeramkan itu.
Aku juga mulai memberanikan diri kepadanya untuk bertanya mengenai luka di sikutnya tersebut karena aku pikir pasti itu cukup sakit sebab aku sendiri pernah merasakannya sendiri.
"Eumm..tuan apakah sikutmu sangat sakit?" Ucapku bertanya kepadanya,
"Kenapa kau bertanya begitu kepadaku?" Balasnya malah balik menyelidiki aku, padahal saat itu aku hanya berusaha untuk bertanya dan melakukan basa basi saja dengannya tetapi dia menanggapinya dengan cara yang sangat serius dan menegangkan seperti itu.
Membuat aku langsung gugup ketika mendapatkan tatapan seperti itu darinya.
"A..ahh..tidak, aku hanya penasaran saja, karena aku pernah merasakan memiliki luka yang sama sepertimu di tempat yang sama juga" balasku kepadanya dengan sedikit gugup.
Aku juga segera menunduk memalingkan pandanganku darinya, sebab aku tidak berani menatap matanya apalagi dia yang bertanya seperti itu kepadaku, aku mana berani menatapnya jika dalam keadaan seperti itu.
"Aishh...dasar kau ini, pegang jasku ini" ucap tuan Arfanka yang langsung saja menyimpan jasnya pada kepalaku begitu saja seakan dia menaruh jas itu pada sebuah benda atau gantungan pakaian padahal aku kan seorang manusia.
Jas nya tersebut langsung saja menutup pandangan jalanku sehingga aku refleks langsung berhenti berjalan dan menarik jas di kepalaku tersebut yang di taruh oleh tuan Arfanka sebelumnya dengan perasaan yang sangat kesal dan emosi.
"Eughhh...kenapa dia melakukan ini padaku, sih memangnya dia pikir aku ini semacam gantungan pakaian apa? Seenaknya menaruh jas ke atas kepala orang seperti itu, sangat tidak sopan!" Gerutuku sangat keras sambil menghentakkan kakiku cukup keras saat itu.
Sampai ternyata tidak sengaja tuan Arfanka mendengar gerutuanku tersebut, dia langsung berbalik menatap ke belakang dengan lirih melihat ke arahku sedangkan aku dengan cepat langsung saja memalingkan pandanganku ke arah lain karena aku takut dia akan mengetahui bahwa memang aku yang mengerut kepadanya saat itu.
"Aahh sial dia malah menatap kesini, jangan sampai dia mengetahui kalau barusan aku yang menggerutu padanya dengan sangat keras" batinku merasa cemas saat itu.
"Heh...ayo cepat, dasar manusia pendek, jalan saja kau sangat lambat!" Ucapnya malah mengatai aku begitu saja.
Aku merasa sangat kesal dan langsung berlari menghampirinya dengan cepat sampai kami segera masuk ke dalam mobilnya dan tuan Arfanka mulai melajukan mobil keluar dari wilayah rumah sakit jiwa tersebut dengan perlahan.
Hari memang sudah sore saat itu, dan aku tahu aku sudah mengambil banyak sekali waktu tuan Arfanka dengan hal yang mungkin tidak berguna sama sekali baginya, karena hanya di habiskan sia-sia di sebuah rumah sakit jiwa dengan mendapatkan lemparan random dari adikku yang mengalami gangguan jiwa saat ini.
Sebenarnya saat melihat dia diam dan mengemudi dengan serius seperti itu aku mulai berpikir bahwa dia tidak terlalu buruk saat itu, dan wajahnya juga terlihat lumayan tampan.
"Hehe...dia tidak buruk juga jika tengah menyetir seperti itu" batinku sambil menampakkan sebuah senyuman di wajahku secara perlahan saat itu.
Dan tanpa Klara ketahui sebenarnya saat itu tuan Arfanka juga memperhatikan dia secara diam-diam dengan ujung matanya hanya saja tuan Arfanka melakukan semua itu dengan sangat rapih sehingga dia tidak mengetahui hal tersebut sama sekali.
__ADS_1
"Ckk...dia tersenyum seperti itu sambil menatapku diam-diam, pasti dia terpesona dengan ketampanan ku, ini aku memang sangat luar biasa dan sempurna haha" batin tuan Arfanka yang sangat percaya diri saat itu.