
Aku hanya bisa menatapnya dengan perasaan bingung karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara dua kakak beradik tersebut, dan aku juga tidak terlalu perduli dengan apa yang mereka lakukan, sehingga aku hanya mengabaikannya saja dan segera pergi menuju kamarku.
"Aishh....apa yang mereka lakukan dasar kakak dan adik memang sama saja, sama-sama berdarah dingin" gerutuku saat itu.
Segera aku langsung masuk ke dalam kamarku dan mulai merebahkan diri, namun disaat aku baru saja hendak mematikan lampu kamarku tiba-tiba saja terdengar suara pertengkaran yang sangat keras dari luar sehingga membuat aku tidak bisa tertidur dan langsung saja aku kembali bangkit terbangun sambil menggerutu dengan kesal.
"Aishh...suara berisik apa sih di luar, apa adiknya tuan Arfanka itu belum pulang juga yah, mereka terdengar seperti bertengkar?" Gerutuku saat itu.
Aku pun segera keluar dari kamar meski dengan perasaan yang kesal dan sangat malas, saat aku membuka pintu kamar dan melihat ke ruang tengah langsung saja aku melihat tuan Arfanka dan adiknya Kevin tengah saling tarik menarik dengan begitu kuat saat itu, mereka terlihat saling mencekik leher masing-masing dan terdengar suara keras diantara mereka berdua yang benar-benar bertengkar saat itu.
Aku yang melihatnya pertama kali benar-benar sangat kaget dan tidak menduga bahwa seseorang seperti tuan Arfanka bisa melakukan perbuatan yang cukup memalukan seperti itu di belakang orang-orang.
"Astaga ..apa yang kalian lakukan?" Ucapku cukup kencang sambil menyalakan lampu tengah saat itu.
Seketika tuan Arfanka dan adiknya Kevin langsung saja menatap ke arahku dengan sorot mata kaget dan kebingungan saat itu, mereka juga segera menghentikan tingkah mereka yang cukup kekanak-kanakan saat itu.
Aku menatap ke arah tuan Arfanka juga adiknya Kevin yang menatap dengan lekat sambil membulatkan matanya dengan sangat lebar ketika melihatku, aku sendiri mulai merasa kebingungan karena mereka menatap aku dengan cara yang sangat membingungkan seperti itu, rasanya ini cukup aneh untukku.
"Ke..ke...kenapa kalian berdua menatapku seperti itu?" Tanyaku dengan penuh keheranan.
Hingga tidak lama tiba-tiba saja tuan Arfanka langsung menendang kaki adiknya Kevin dan membuat Kevin meringis kesakitan, aku juga kaget ketika melihat hal tersebut karena tuan Arfanka melakukannya secara tiba-tiba.
"Duk...beraninya kau melihat dia, tutup mata keranjang mu itu!" Bentak tuan Arfanka setelah menendang kaki Kevin.
Kemudian tuan Arfanka segera berjalan cepat ke arahku dan dia langsung saja memakaikan jas miliknya yang sebelumnya dia pakai, dia memakaikan jas itu kepadaku dan langsung saja mendorong aku untuk masuk kembali ke dalam kamar, aku sama sekali tidak mengerti kenapa dia melakukan itu padaku sehingga aku terus saja berontak dan merasa sangat heran.
"Ee ..ee....ehh..tuan ada apa denganmu, kenapa kau malah terus mendorngku seperti ini, tuan ada apa sebenarnya?" Ucapku terus merasa sangat heran,
"Sudah ..cepat kau masuk saja ke kamarmu ini bukan urusanmu, sudah masuk...ayo cepat masuk" ucap tuan Arfanka yang terus mendorong aku dengan paksa.
Hingga aku langsung saja masuk ke dalam kamar kembali dan tuan Arfanka langsung menutup pintu kamarku begitu saja, aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan sampai terus mendorong aku seperti itu dan menyeret aku masuk dengan paksa ke dalam kamarku.
"Eeehh....ada apa dengannya, kenapa dia malah mendorong aku dan terus saja memaksa aku untuk masuk kemari, apa dia ini kurang waras ya?" Gerutuku saat itu.
__ADS_1
Aku tidak memperdulikannya lagi, meski aku tahu dia tengah bertengkar dengan adiknya Kevin, tapi aku mulai penasaran dan menatap tubuhku di cermin, barulah saat itu aku tersadar bahwa aku memakai piyama tidur yang cukup pendek dengan belahan dada yang turun kebawah, mungkin itu juga alasan tuan Arfanka memberikan aku jas miliknya dan terus mendorong aku untuk masuk kembali ke kamar secepatnya.
"Aaahhh ..sial...aku lupa bahwa sebelumnya aku sudah siap-siap untuk tidur, aahh bodoh..bodoh... Bagaimana aku bisa melupakan semua ini, benar-benar konyol sekali" gerutuku saat itu.
Aku benar-benar merasa malu dan tidak karuan tidak tahu harus berbuat apa dan terus saja merasa sangat malu, aku langsung pergi menjatuhkan diri sendiri ke ranjang dan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut tebal yang ada disana, aku tidak sanggup lagi untuk memperlihatkan diriku kepada tuan Arfanka nantinya karena kejadian barusan sangat memalukan sekali.
Di tambah tidak hanya tuan Arfanka yang mihat aku memakai pakaian ini tetapi adiknya Kevin juga melihatku, ini benar-benar kesialan yang fatal untukku dan aku sungguh menahan rasa malu yang sangat tinggi.
"Hua.... Ini benar-benar sangat memalukan sekali, bagaimana aku bisa menangani semua ini, benar-benar sangat memalukan sekali, aku tidak sanggup lagi hiks..hiks.." ucapku terus merasa buruk sepanjang malam.
Bahkan karena kejadian itu aku tidak bisa tidur semalaman meski aku sudah berusaha untuk menutup mataku sekuat tenaga.
Sedangkan disisi lain tuan Arfanka yang berhadapan dengan adiknya dia terus saja berusaha untuk mengusir Kevin yang selalu saja menjadi biang keladi dan pembuat onar dalam hidupnya setiap kali dia kembali, bahkan kali ini saja Kevin terus memaksa untuk tinggal di rumah tuan Arfanka sedangkan tuan Arfanka sendiri tidak bisa mengijinkan hal itu, karena dia tahu bahwa jika Kevin tinggal degannya maka rumahnya ini tidak akan dapat tertolong lagi.
Kevin selalu berbuat semena-mena seakan rumah ini adalah miliknya, dia selalu merusak barang-barang dan membuat tuan Arfanka naik pitam setiap saat jika dia harus tinggal dengan Kevin, itulah yang membuat tuan Arfanka tidak memberikan izin kepadanya sebab tuan Arfanka sudah mengenal bagaimana Kevin jauh sebelum mereka menjadi sebesar saat ini.
"Heh .. Arfanka aku kan adikmu seharusnya kau mengijinkan aku untuk tinggal di rumahmu, kenapa kau malah melarangku seperti ini, apa jangan-jangan kau sengaja ya ingin mengeluarkan aku dari rumah ini karena kau ingin berdua-duaan dengan gadis tadi?" Ucap Kevin yang mulai berasumsi tidak jelas.
"Heh...jaga ucapanmu, aku memiliki pelayan dan pak Tino kau tahu itu sejak lama mana mungkin aku tinggal berdua saja dengannya" balas tuan Arfanka saat itu,
"CK...aku tidak percaya denganmu, buktinya dimana mereka berdua sekarang, aku bahkan tidak melihat pelayanmu si Elin yang sangat ganjen itu" balas Kevin kepada tuan Arfanka.
Dengan penuh emosi tuan Arfanka tetap berusaha menenangkan dirinya agar dia bisa mengendalikan emosi pada dirinya sendiri, karena jika tidak maka sudah sejak lama tuan Arfanka akan menghajar adiknya Kevin dengan sekuat tenaga bahkan mungkin Kevin tidak akan mampu untuk berbicara se lantang sekarang ini.
"Kevin aku peringatkan kepadamu, jika kau berani macam-macam aku tidak akan membiarkanmu dengan mudah, jika saja kau bukan anak kandung dari Briantoro maka aku sudah sejak lama menghajarmu!" Ucap tuan Arfanka menahan kekesalannya yang sudah menumpuk sangat banyak.
Kevin yang mendapatkan peringatan sangat menakutkan seperti itu dari tuan Arfanka dia sama sekali tidak terganggu dan tetap saja terlihat memasang wajah yang santai juga tenang, bahkan dia malah tertawa menanggapi ucapan peringatan dari tuan Arfanka saat itu.
"Apa.... Ahahaha .. Arfanka.. Arfanka apa kau lupa siapa aku ini? Aku adalah Kevin Briantoro, mana mungkin aku takut dengan peringatan atau ancaman seperti itu darimu, aku akan tetap tinggal disini, dengan atau tanpa izin darimu" balas Kevin penuh percaya diri dan dia hendak pergi ke kemar tamu yang berada di samping kamar Klara saat itu.
Tuan Arfanka benar-benar sangat marah dan kesal, dia terus saja merutuki Kevin dan berteriak kepadanya mengusir dia dengan paksa sambil menarik tangannya dengan kuat.
"Kevin! Kau benar-benar menguji kesabaranku, kemari kau...aku tidak akan pernah memberikanmu izin untuk tinggal di rumahku, keluar ..ayo cepat keluar!" Teriak tuan Arfanka yang terus berusaha mengusirnya.
__ADS_1
Kevin sama sekali tidak menyerah dia justru mulai membuat kesepakatan dengan tuan Arfanka karena dia sudah merasa sangat lah terus saja saling tarik menarik dengan tuan Arfanka saat itu, sedangkan dia sendiri menyadari bahwa lama kelamaan kekuatan yang dia miliki tentu akan berkurang, karena kakaknya sejak dulu selalu menjadi lebih kuat daripada dirinya.
"Aish....sudah...sudah .. hentikan... Arfanka aku hanya akan tinggal satu malam saja disini, ini sudah sangat larut tidak akan ada hotel yang buka dan aku malas untuk berpergian, aku sudah lah sejak turun di bandara aku bahkan belum beristirahat, sebaiknya kau mengijinkan aku tinggal disini satu malam saja atau aku akan melaporkanmu pada ayah bahwa kau memasukkan seorang gadis ke dalam rumah" ucap Kevin mengancam sekaligus memberikan kesepakatan pada tuan Arfanka saat itu.
Akhirnya setelah mendengar itu tuan Arfanka sedikit berpikir dan dia mulai melepaskan tangan Kevin dengan kasar.
"Apa yang dia katakan bisa berbahaya untuk Klara aku tidak mungkin membiarkan ayah tahu soal ini, jika tidak dia pasti akan menyuruh Klara keluar dari sini dengan kasar, dan mungkin saja dia akan memata-matai Klara" batin tuan Arfanka berpikir saat itu.
Karena takut keberadaan Klara akan diketahui oleh ayahnya Briantoro, akhirnya tuan Arfanka pun terpaksa harus memberikan izin pada Kevin menginap di rumahnya malam itu, namun dia tetap menegaskan kepada Kevin agar dia tidak mengingkari ucapannya seperti yang sering dia lakukan sejak dulu pada tuan Arfanka.
"Baiklah aku akan membiarkanmu tinggal di sini, tapi ingat itu hanya satu malam saja, kau tidak boleh mengingkari ucapanmu itu, apa kau mengerti?" Ucap tuan Arfanka dengan tegas.
Kevin merasa sangat senang ketika dia akhirnya berhasil membuat tuan Arfanka memberikan izin padahal, tetapi seorang Kevin tentu saja tidak memperdulikan masalah dia akan menempati ucapannya atau tidak dia hanya ingin membuat dirinya tetap tinggal di kediaman tuan Arfanka karena dia ingin mencari tahu apa rahasia yang membuat tuan Arfanka bisa selalu menang dan lebih unggul darinya dalam bisnis.
"Aahaha...kau tenang saja kakak, aku hanya akan tinggal malam ini saja kok, tenang saja, sudahlah kalau begitu aku sepertinya harus tidur jangan lupa kau matikan lampunya ya" balas Kevin sambil segera masuk ke dalam kamar tamu yang berada disamping kamar Klara saat itu.
Sedangkan tuan Arfanka terus mengacak rambutnya kasar seorang diri, dia merasa sangat emosi dan kesal yang sangat tidak menentu, dia tidak bisa menyingkirkan Kevin malam itu dan melihat Kevin tinggal di rumahnya itu sangat membuat dia terganggu meski dia sudah menyepakati semua itu hanya untuk malam ini saja.
"Aaaarghhh...dia benar-benar pengacau yang handal, awas saja jika kau tidak menepati ucapanku itu, aku benar-benar akan menendang mu dari rumah ini" gerutu tuan Arfanka.
Dia pun segera pergi menaiki tangga dan kembali ke kamarnya dengan cepat, dia terus membersihkan diri dan berusaha untuk menghapus semua kekesalan dan emosi di dalam dirinya dengan mandi dan sengaja membiarkan air terus mengguyur kepalanya dalam waktu cukup lama malam itu.
Seperti biasa tuan Arfanka harus selalu meminum obat tidur, karena dia memiliki gangguan dalam proses tidurnya dia tidak pernah bisa merasakan kantuk dan selalu kesulitan untuk beristirahat setiap malam, sehingga dia juga selalu memeriksakan diri ke rumah sakit atau dengan dokter pribadinya untuk memeriksa penyakit insomnia yang dia derita selama ini.
Memakan obat tidur dengan dosis yang cukup banyak dalam setiap malam hanya agar bisa merasakan kantuk dan bisa tidur dengan tenang, namun sayangnya dia terkadang tetap tidak bisa tidur meski telah meminum obat tersebut.
Seperti kali ini, lagi-lagi tuan Arfanka harus memakan dua tablet obat itu sekaligus karena dia masih belum mendapatkan reaksi apapun setelah meminumnya dia mulai merasa kesal dan terus memaksakan dirinya untuk menutup mata dan sudah merebahkan tubuhnya di ranjang, tuan Arfanka sengaja menutupi wajahnya dengan bantal sebab hanya itu satu-satunya cara yang bisa dia lakukan agar dia bisa tertidur lebih cepat dan tanpa gangguan.
Sedangkan disisi lain Kevin terus saja merasa sangat senang karena dia bisa tinggal di rumah Arfanka dan tentu saja semua yang dia katakan kepada tuan Arfanka sebelumnya hanyalah sebuah kebohongan belaka untuk membuat tuan Arfanka melepaskan dia, dan dia bisa tertidur dengan cepat.
"Ahahah ..dasar Arfanka si bodoh itu, dia masih saja percaya dengan ucapanku, padahal dia tahu aku tidak pernah menepatinya, lihat saja besok aku akan terus membuat cara agar dia tidak bisa mengusir aku dari tempat ini hahaha" ucap Kevin terus tertawa dengan puas.
Bahkan aku yang tidur di sampingnya bisa mendengar tawa Kevin yang sangat menggelegar itu, dan tawanya tersebut sangat menggangguku, aku yang mendengar tawanya sangat kencang langsung saja menutup kedua telingaku dengan bantal disana.
__ADS_1
"Aishh ...tawa siapa itu sangat kencang sekali, sudah pasti itu adiknya tuan Arfanka mana mungkin juga tuan Arfanka tidur di kamar sebelah, aahhh.....si Kevin sialan itu sangat menjengkelkan, pantas saja tuan Arfanka terus berusaha untuk mengusirnya dari sini" gerutuku malam itu.