Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Kesembuhan Kirei


__ADS_3

"Jika saja aku tidak janji maka aku tidak akan pernah pergi, ini bukan karena aku menuruti ayah tetapi karena aku menepati janjiku sendiri padanya." Gerutu Kevin sambil bergegas pergi dari sana secepatnya saat itu juga.


Sampai tidak lama setelah Kevin pergi ke luar, aku baru terbangun saat itu dan merasa heran merasakan ada selimut yang menutupi tubuhku saat itu, padahal aku masih ingat dengan jelas bahwa semalam aku tidur tanpa memakai selimut.


"Ehhh..selimut dari mana ini? Tidak mungkin Kevin yang memberikannya kepadaku bukan? Aahh tidak mungkin dia sebaik itu, dia kan sangat perhitungan sekali." Gerutuku lagi sambil dengan cepat menggulung selimut yang semalam aku gunakan untuk tidur.


Setelah selesai menggulung semuanya aku segera pergi menaruhnya ke kamar dan sudah tidak ada Kevin disana bahkan kopernya juga sudah tidak ada sampai aku tahu bahwa dia sudah pergi sebelum aku terbangun pagi ini.


"Ahh..untunglah jika dia sudah pergi, sekarang aku sudah bisa hidup dan tinggal disini dengan bebas," tambahku sambil segera saja pergi membuat makanan.


Hari ini adalah jadwal aku menjenguk adikku Kirei dokter sudah mengatakan bahwa akhir-akhir ini Kirei mulai membaik dia sudah ingat dengan namanya dan aku berharap semoga saat aku pergi menjenguk dia sekarang, dia bisa mengenali aku sebagai kakaknya. Dokter juga mengatakan bahwa Kirei sudah tidak banyak mengamuk ataupun menangis dan menjerit histeris seperti yang biasa terjadi kepadanya setiap kali malam tiba.


Ataupun disaat tempat disana menjadi sedikit gelap, itu dikarenakan Kirei mengalami trauma yang cukup buruk sebab kejadian di bar malam itu, meski pada akhirnya tuan Arfanka datang tepat waktu dan Kirei belum sempat di sentuh oleh pria tua itu, namun rasa takut di dalam diri Kirei sudah terlanjur membunuh mentalnya dia terus berhalusinasi dan terbayangkan kejadian mengerikan itu setiap saat, dalam jangka waktu tertentu terlebih saat menemukan keadaan yang gelap dia selalu menggigil ataupun menjerit histeris dan selalu berteriak meminta tolong.


Padahal dia baik-baik saja dan tidak ada apapun yang terjadi dengannya, semua yang di lihat oleh Kirei selama ini hanya hasil dari halusinasi yang di ciptakan oleh gelombang otaknya sendiri akibat trauma yang sangat buruk.


Namun seiring berjalannya waktu dengan di dampingi oleh dokter profesional yang lembut dan baik, akhirnya kini Kirei sudah mendapatkan banyak sekali perubahan, bahkan dokter juga mengatakan bahwa dia terkadang mengingat namaku meski aku belum sempat untuk pergi menemui dia lagi.


Dan ini adalah waktu yang tepat untuk aku pergi menemui Kirei, aku juga membuatkan makanan kesukaan Kirei dan berharap semua ini bisa membantu Kirei mengenali aku lagi dan kami bisa tinggal bersama lagi nantinya.


Dengan begitu aku juga tidak perlu merepotkan Kevin lagi dan aku bisa membayar tagihannya lebih sedikit.


Rasa semangat dan tidak sabar yang menyelimuti diriku aku terus saja bersenandung ria saat menyiapkan bekal makanan untuk Kirei sampai ketika aku pergi hendak menunggu taxi tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang berhenti di depanku dan mobil itu rupanya adalah mobil milik Riska seorang wanita yang mengaku sebagai tunangan tuan Arfanka sebelumnya.


Dia menurunkan kaca mobilnya dan memanggil aku saat itu, aku merasa sangat kaget dan gugup ketika melihatnya karena aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan padaku.


"Hei...kamu Klara kan pacarnya Kevin?" Ucap dia menyapaku saat itu.


Karena sebelumnya Kevin sudah terlanjur mengaku bahwa aku adalah pacarnya jadi saat ini terpaksa aku harus kembali berbohong dan hanya bisa mengangguk untuk membalas ucapan dari wanita yang selalu mengenakan pakaian seksi juga sangat glamor tersebut, sangat berbeda jauh denganku yang hanya memakai kaos sederhana juga sebuah celana jeans biasa.


Jika bersampingan dengan wanita seperti itu aku merasa minder sendiri dan merasa bahwa kami terlampau sangat jauh bagaikan langit dan bumi, aku tidak nyaman bicara dengannya sampai dia malah menawarkan tumpangan kepadaku tapi aku tentu saja menolak ajakan darinya sebab aku juga tidak ingin wanita itu mengetahui bahwa aku hendak pergi ke rumah sakit jiwa saat ini.


"Iya..aku Klara kamu tunangannya kakak Kevin kan?" Balasku kepadanya.


Wanita itu benar-benar sangat centil dia terlihat tersenyum lebar dan sangat senang ketika aku mengatakan bahwa dia tunangan tuan Arfanka, padahal di dalam hatiku aku sangat muak melihat wanita caper seperti dia ini yang sangat menjengkelkan.


"Ahah...iya....kau mau kemana? Ayo masuk biar aku antarkan dengan supirku." Balas dia yang langsung menjadi baik setelah aku mengakui dia sebagai tunangan tuan Arfanka.


"Ohh..tidak usah aku sudah memesan taxi sebentar lagi akan tiba, tidak perlu merepotkan kamu, aku tahu kamu seorang selebritis terkenal jadi kamu pasti sangat sibuk, ayo lanjutkan saja pekerjaan luar biasanya itu, tidak perlu mencemaskanku," ujarku sengaja ingin mengusir dia dengan halus.


Bukanya tersinggung atau apapun, wanita bernama Riska itu justru malah terlihat semakin menjadi dan dia mulai menyombongkan dirinya sendiri semakin tinggi di hadapanku dan membuat aku sangat kesal sekali ketika mendengar ucapannya yang terkesan seperti merendahkan aku saat itu.

__ADS_1


"Ohoho...tentu saja kau benar, aku memang sangat sibuk, tidak sepertimu yang tidak memiliki kegiatan, Kevin bilang kamu hanya pekerja paruh waktu ya? Aahh kasihan sekali aku padamu, ya sudah aku pergi dulu ya kalau kamu mau aku bisa menawarkan pekerjaan di lokasi syuting untukmu nanti, minta saja nomorku pada pacarmu oke." Ucap dia kepadaku sambil segera menaikkan kaca mobilnya dan segera pergi dari sana.


Aku benar-benar sangat emosi di buatnya dan setelah wanita itu pergi langsung saja aku melepaskan emosi di dalam diriku saat itu, aku berteriak sekencang yang aku bisa sambil menghentakkan kakiku ke tanah berkali kali dengan penuh emosi.


"Aarrrkkkkk...sialan wanita sombong, gila, tidak tahu diri, murahan, menjengkelkan bibirnya seperti bebek yang jelek hah!" Gerutuku yang terus merutuki dia dengan sepuasnya.


Belum pernah sekalipun aku menemukan wanita seperti dia, benar-benar hanya satu saja sudah membuat aku sangat jengkel dan emosi setiap kali bertemu dengannya, aku tidak ingin lagi bertemu dengan wanita sombong tersebut lagi, melihatnya menyebut namanya bahkan hanya dengan melihat mobilnya sudah membuat aku begitu emosi.


Aku berusaha menenangkan diri karena taxi pesananku sudah tiba saat itu, aku segera naik ke dalam dan pergi ke rumah sakit jiwa dengan cepat.


Sesampainya di rumah sakit jiwa dokter sudah memperbolehkan adikku keluar dari ruangannya dan sudah bisa berjalan-jalan di taman seorang diri hanya di temani satu perawat saja untuk menjaga dia dan memperhatikannya dari belakang saat itu, saat aku sampai di taman aku melihat Kirei tengah duduk di salah satu ayunan dan dia tersenyum cerah sambil terus saja bermain di temani salah satu perawat disana saat itu.


Aku menghampiri dia dengan cepat dan langsung memanggil namanya.


"Kirei....kamu sudah sehat? Kakak sangat merindukanmu." Ucapku sambil langsung memeluk Kirei saat itu.


Dan yang membuat aku sangat senang rupanya Kirei sudah benar-benar mengingat aku dia juga membalas pelukanku dengan erat, aku sangat terharu dengan perubahan yang di alami adikku ini, meski perubahannya terkesan lamban tetapi aku senang Kirei sudah bisa mengenali aku seperti ini.


"Aku juga sangat merindukanmu kakak." Balas Kirei membuat aku benar-benar tidak bisa menahan air mata kebahagiaan saat itu.


"AA...AA..apa? Kirei apa barusan kamu memanggil aku kakak? Apa kamu sudah ingat dan sudah mengenali aku?" Tanyaku kepada dia dengan memegangi kedua pundaknya saat itu.


"Iya..aku tentu saja mengenalimu kak Klara, kau yang menyelamatkan aku dari ibu dan Reno, tentu saja aku akan mengenalimu termasuk dua manusia yang membuat aku seperti ini, aku sangat membenci mereka kak, aku ingin membalas dendam kepada mereka, aku ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan mereka juga harus berakhir di rumah sakit jiwa ini, bahkan lebih buruk dari itu." Balas Kirei dengan sorot mata yang tajam dan aku mulai mencemaskannya.


Mendengar itu aku tidak tahu lagi jawaban seperti apa yang harus aku katakan kepadanya agar aku bisa memberitahu pada Kirei bahwa balas dendam bukanlah hal yang baik terlebih kepada ibu dan kakaknya Reno, sekalipun mereka sudah begitu kejam kepada dirinya.


"Kirei ....sayang, kakak sudah menempati janji kakak untuk terus melindungi kamu, kamu jangan melakukan hal seperti itu, tidak semua yang jahat harus kamu balas dengan kejahatan juga, kakak juga tidak tahu bagaimana kabar ibu dan Reno sekarang, semenjak hari itu kakak sudah memutuskan hubungan dengan mereka dan kakak tidak pernah mencoba mencari tahu mereka, kamu juga sebaiknya jangan menyimpan dendam apapun kepada siapapun yang sudah berbuat jahat padamu sebelumnya, karena hanya dengan hati yang ikhlas baru kamu akan merasakan tenangnya hidup. Kamu mengerti maksud kakak kan?" Ucapku berusaha memberikan pengertian kepada Kirei.


"Eumm...aku mengerti kakak terima kasih sudah mengingatkan aku dan terimakasih karena sudah menempati janjimu, aku sayang sekali padamu kak." Ucapnya sambil kembali memelukku dengan erat.


Dan tanpa aku ketahui saat itu mungkin Kirei masih tetap menyimpan dendam yang sangat besar meski aku sudah memberikan pengertian dan meski dia sudah bersikap baik di hadapanku seakan dia menuruti ucapan dariku saat itu.


Karena aku melihat Kirei sudah sembuh dan dia baik-baik saja aku pun akan membawa dia pulang hari ini juga karena aku tahu Kirei pasti sudah ingin segera keluar dari tempat yang buruk ini, aku pun menemui sang dokter yang juga terlihat bahagia karena dia sudah bisa menyembuhkan mental dan trauma yang menghantui Kirei selama ini.


"Dokter kalau begitu aku permisi, terimakasih banyak sudah merawat Kirei selama ini." Ucapku kepada sang dokter saat itu.


"Sama-sama. Kirei jangan pernah memendam semua sendiri lagi ada aku, perawat dan kakakmu yang selalu bersedia mendengarkan setiap ceritamu, kamu bisa datang kemari kapan saja untuk konsultasi atau sekedar bercerita tentang dunia baru yang kamu jalani kepada kami semua." Ucap sang dokter sambil mengusap lembut kepala Kirei dengan lembut saat itu.


"Iya..dokter aku akan sering-sering mengunjungimu," balas Kirei sambil tersenyum lebar.


Aku segera menggandeng tangannya dan membawa Kirei pergi dari sana, aku sudah memesan taxi sebelumnya sehingga ketika kami keluar dari rumah sakit itu, kami sudah langsung di tunggu oleh taxi pesananku sebelumnya.

__ADS_1


Rasanya benar-benar merasa sangat senang sekali bisa membawa pulang Kirei dalam keadaan mental dan fisiknya yang sudah pulih seperti sedia kala, aku juga pergi membawa Kirei ke apartemen dan dia terlihat sangat kagum karena sebelumnya kami hanya tinggal di rumah kecil yang sumpek dengan ibu yang begitu boros dan selalu memarahi kami dengan kasar.


"Wahh...kakak apa selama ini kamu tinggal di apartemen yang mewah begini?" Tanya Kirei saat pertama kali masuk ke dalam apartemen Kevin yang aku tinggali saat itu.


"Tidak sebelumnya kakak bekerja sebagai seorang pelayan rumahan di sebuah rumah yang sangat megah sampai berkali-kali lipat dari apartemen minimalis ini, disana lebih bagus, lebih luas dan sangat luar biasa," balasku kepada Kirei saat itu.


"Lalu kenapa kamu sekarang tinggal disini? Dan darimana kakak bisa memiliki uang untuk membeli apartemen mewah seperti ini?" Tanya Kirei lagi dengan menaikkan kedua alisnya kepadaku saat itu.


Aku segera mempersilahkan Kirei untuk duduk dulu di sofa karena dia sudah terlalu banyak bertanya kepada sedari kita masuk, aku juga segera menyajikan minuman untuknya barulah setelah itu aku membalas semua pertanyaan darinya yang sudah tidak sabar untuk dia dengarkan jawabannya dariku.


"Sudah jangan banyak bertanya lagi, ayo duduk dulu kakak akan buatkan minuman untukmu," ucapku kepadanya saat itu.


"Ini minumlah dulu baru nanti kakak akan balas pertanyaan darimu sebelumnya." Balasku kepada dia sengaja melakukannya agar Kirei mau meminum air itu dengan cepat.


Dan dugaanku memang benar ketika aku mengatakan semua itu akhirnya Kirei aku meminum minuman yang aku sajikan untuknya, dia bahkan meminumnya dengan sangat cepat hingga air tersisa sedikit saja.


Aku hanya bisa tersenyum saja menanggapi Kirei yang sangat lucu saat itu dan dia begitu penasaran dengan jawaban yang akan aku beri tahukan kepadanya, aku juga segera mengatakan semuanya tentang tuan Arfanka juga aku yang kini malah berakhir tinggal menyewa apartemen mewah milik Kevin saat ini.


"Kak..kenapa kamu harus memutuskan kontrak kerja dengannya bukankah pria itu adalah bos yang baik untukmu dan aku, dia menolongku malam itu dia juga memberikan aku untuk di rawat di tempat paling baik, dia juga memperlakukanmu dengan baik juga, apa lagi alasan kamu harus memutuskan kontrak dan memilih tinggal di sini dengan adik angkatnya, bukankah dia akan sakit hati dengan sikapmu ini." Ujar Kirei kepadaku.


"Eumm..apa yang kamu katakan memang benar, dia pasti sakit hati kepada kakak tapi kakak benar-benar tidak bisa tinggal dengannya, dia sudah memiliki tunangan jadi kakak tidak bisa tinggal lagi dengannya." Balasku dengan tertunduk lesu saat itu.


Kirei terus menatapku dengan tatapan mata yang menyelidiki dan dia mulai menanyakan mengenai perasaanku terhadap tuan Arfanka saat itu, yang sama sekali tidak aku sadari selama ini, dan berkat Kirei saat itu, aku langsung menyadarinya bahwa ternyata selama ini tanpa aku sadari aku juga memperdulikan tuan Arfanka dan menyukai dia.


"Kak..kenapa kamu terlihat sedih ketika menceritakan pria itu sudah memiliki tunangan? Apa kamu menyukainya?" Tanya Kirei kepadaku pada awalnya.


"Aahh..apa? Tidak kok mana mungkin aku menyukai tuan Arfanka, dia adalah bos kakak, itu sangat canggung." Balasku yang menyangkal kan.


"Kirei menarik tanganku dan dia melihat ada sebuah cincin di jari manisku saat itu, hingga dia mengira kalau aku sudah bertunangan dengan pria lain selain tuan Arfanka saat itu.


"Kakak....kalau kamu tidak menyukai tuan Arfanka itu, maka kamu tidak perlu sedih keluar dari rumahnya bahkan seharusnya kami merasa bahagia karena bisa hidup dengan bebas dan nyaman, tapi yang aku lihat dari sorot matamu yang sendu ini, aku hanya melihat kesedihan dan rasa sakit saja, kamu tidak bisa membohongi dirimu terus kak, tidak masalah jika kamu menyukainya bukan." Balas Kirei kepadaku.


Aku hanya bisa terus menunduk saja dan tidak tahu apa yang harus aku balas kepada Kirei saat itu, sebab setelah aku memikirkannya aku memang menyukai tuan Arfanka dan sepetinya aku sangat menyukai dia, hanya saja keberadaan tunangannya itu yang selalu menghalangi aku untuk mengatakan yang sebenarnya kepada tuan Arfanka selama ini.


"Sepertinya kakak memang menyukai dia, tapi tetap saja Kirei kakak dan tuan Arfanka ini tidak akan pernah bisa bersama, kami terlalu jauh belum lagi ayahnya mungkin tidak akan menerima kakak sebagai menantunya, kakak tidak cantik dan tidak memiliki banyak harta seperti tuanangannya itu, apa yang bisa kakak banggakan?" Balasku kepada Kirei.


"Kak...berhenti berkecil hati lihat di tanganmu dari mana kau mendapatkan cincin ini, jangan bilang kau menyerah pada tuan Arfanka hanya karena kau sudah di lamar pria lain ya?" Ucap Kirei yang membuat aku langsung tersenyum sambil menggosok atas kepalanya pelan.


"Aishhh..kau ini anak kecil tapi sudah sangat teliti sekali, cincin ini dari tuan Arfanka kemarin saat pertama kali kakak pindah ke tempat ini dan berbelanja dia malah menyatakan cintanya kepada kakak, tapi kakak menolak dia namun dia masih tetap meminta kakak untuk memikirkannya, dia konyol bukan? Dia tetap memaksa kakak untuk mengenakan cincin ini, padahal kakak sudah menolaknya," balasku kepada Kirei saat itu.


Tiba-tiba saja Kirei langsung membelalakkan matanya dengan sangat lebar dan langsung memeriksa cincin di tanganku saat itu, hingga tidak lama dia langsung menutup mulutnya dengan kaget dan seperti orang yang benar-benar aneh sekali.

__ADS_1


Entah apa yang membuatnya sampai sekaget itu ketika melihat cincin yang di berikan oleh tuan Arfanka kepadaku ini.


__ADS_2