
"Huuuuuhh....untunglah dia sudah pergi, aku bisa bebas sekarang" ucapku sambil mengurut nafasku dengan tenang sekarang.
Aku pun segera melanjutkan pekerjaanku untuk memberikan seluruh bagian rumah disana dan terus saja bernyanyi menyanyikan lagu kesukaan agar bisa menyelesaikan semua pekerjaan dengan perasan yang ruang gembira, setidaknya hanya dengan bernyanyi dengan keras seorang diri aku bisa melupakan semua masalah yang aku hadapi di dalam hidup ini.
Menyalakan lagu dengan keras dan hanya dengan lirik juga alunan musik di dalamnya adalah hal paling menyenangkan untuk menghilangkan segenap beban di dalam dada juga pikiran, aku terus bernyanyi sekuat dan sekeras yang aku bisa sambil terus memegangi pelan di tanganku, aku juga tidak berhenti untuk membereskan rumah saat itu, aku bisa menyelesaikan pekerjaan rumah lebih cepat dari biasanya lalu aku segera mengubah channel televisi nya, hanya ketika tidak ada tuan Arfanka saja baru aku bisa bersantai dan merasa bebas seperti ini di dalam rumah.
Aku bisa menonton televisi dan menikmati cemilan tanpa sepengetahuan tuan Arfanka dan pak Tino, kebetulan sekali hari ini pak Tino pergi ke bandara untuk menjemput bi Evi aku juga segera menyiapkan sebuah kue khusus yang aku buat untuk menyambut bi Evi, dia adalah satu satunya orang yang mau menerima aku dengan ukuran tangan ketika aku pertama kali datang ke kediaman tuan Arfanka.
Dia juga yang selalu melindungi aku ketika bi Elin mendesak aku, beberapa hari belakangan ini aku juga sudah tidak pernah mihat keberadaan bi Elin ke rumah ini sehingga hanya aku sendiri yang harus melakukan semuanya dan itu cukup menguras energiku secara habis-habisan.
Saat suara open sudah terdengar aku langsung pergi untuk memeriksa kue yang tengah aku panggang, aku mengeluarkannya dan segera memberinya krim berwarna putih bersih yang sudah aku buat dengan menggunakan telur dan gula sebelumnya yang aku haluskan.
Aku mulai menghias kue tersebut dengan krim yang ada juga beberapa buah-buahan yang aku iri kecil-kecil lalu aku taruh diatas kue tersebut dengan tersusun dan rapih sampai tidak lama ketika aku baru saja selesai menghias kue tersebut akhirnya bel rumah terdengar dan saat itu aku pikir bi Evi yang sudah tiba dengan pak Tino sehingga ku merasa sangat senang dan antusias ketika mendengarnya.
"Ting....tong....Ting...tong...." Suara bel yang terdengar begitu nyaring di telingaku saat itu,
"Ahhhh...itu pasti bi Evi dan pak Tino yang sudah kembali, aku harus segera membukakan pintunya" ucapku sambil segera berlari secepat yang aku bisa untuk membukakan pintu bagi bi Evi.
"Iya...bi tunggu aku akan segera membuka pintunya" teriakku sambil tidak lupa langsung membawa kue yang sudah aku buat untuknya saat itu.
Niatku membawanya sekalian karena aku pikir itu akan menjadi sebuah kejutan yang sangat mengesankan bagi bi Evi dan aku sengaja ingin membuatnya terharu saat itu, tapi sayangnya disaat aku membuka pintu rupanya itu adalah tuan Arfanka dan dia pergi masuk menerobos aku begitu saja sampai membuat kuat yang aku pegang ditanganku langsung jatuh mengenai jas yang dia pakai juga mengenai pakaianku sedikit.
"Selamat datang bi.....aahhh..." Ucapku kaget karena melihat malah tuan Arfanka yang datang saat itu.
Dia langsung menerobos masuk ke dalam rumah begitu saja tanpa melihat dengan benar bahwa saat itu aku tengah membawa sebuah kue yang indah di tanganku sampai dia malah menabraknya dengan terburu-buru seperti itu.
"Aishh...minggir kau aku sedang terburu-buru" ucapannya kepadanya,
"Ehh..eh ..tuan aku....aahhhh" ucapku baru saja berniat memberitahu dia bahwa aku tengah membawa kue di tanganku.
Namun dia tidak mendengarkan aku sampai menabrak kue itu sampai mengotori pakaian yang dia kenakan saat itu, dan dia justru malah langsung marah dan berteriak memanggil namaku dengan sangat kencang saat itu, aku bahkan langsung bergidik ngeri melihat dia yang membelalakkan matanya selebar itu kepadaku.
"Aish....KLARA! kau benar-benar membuat aku sangat marah, cepat bersihkan pakaianku!" Bentak tuan Arsen sangat keras saat itu.
Aku juga sangat takut melihatnya dan segera saja aku mengangguk lalu langsung mengambil tisyu di dekat sana dan membantu tuan Arfanka untuk melepaskan jas di badannya saat itu, lalu aku membersihkan kemejanya yang juga terkena sedikit krim dari kue tersebut, namun sayangnya dia mungkin memang tengah terburu-buru sekali jadi dia langsung saja menyuruh aku mengambilkan setelah jas miliknya yang lain.
"Ma..ma..maafkan aku tuan, tadi aku pikir kau bi Evi dan pak Tino, maafkan aku" ucapku meminta maaf dan merasa bersalah kepadanya sambil terus membersihkan kemejanya saat itu.
"Sudahlah cepat kau ambil setelah jasku yang lain di kamar aku akan mengambil berkas yang tertinggal di ruang kerja" balas tuan Arfanka kepadaku.
__ADS_1
Aku langsung bergegas berlari sekencang yang aku bisa dengan menaiki tangga cukup cepat sampai membuat tuan Arfanka yang melihat aku bisa berlari secepat itu dia terperangah kaget melihatnya.
"Wahh...apakah dia seekor tikus? Kenapa bisa berlari secepat itu haha dia sangat lucu juga ketika takut dan panik begitu" ucap tuan Arfanka sambil menahan tawa di wajahnya.
Dia juga segera berjalan dengan cepat menuju ruang kerjanya lalu mengambil berkas yang tertinggal secepatnya hingga dia kembali menuruni tangga dan masih belum melihat keberadaan Klara saat itu, sampai ketika dia baru saja sampai di lantai bawah dari belakang terdengar suara teriakkan Klara yang memanggil namanya dengan cukup keras.
"Tuan Arfanka tunggu, jangan lupakan jasmu ini, aku akan memberikannya dengan cepat" teriakku saat itu sambil terus menuruni tangga secepat yang aku bisa.
"Hey...hey... hati-hati tangganya masih agak licin!" Teriak tuan Arfanka memperingati aku saat itu.
Tapi aku tidak terlalu memperdulikannya karena aku harus dengan cepat memberikan jas tersebut kepada tuan Arsen sebab aku sangat takut dia akan marah kepadaku dan tanpa aku sadari sebelah kakiku malah tersandung dengan kaki ku yang lainnya.
Hingga aku kehilangan keseimbangan dan langsung saja jatuh melayang ke bawah saat itu.
"Aaahhhh......" Ucapku berteriak sangat kencang dengan kedua mata yang terbuka cukup lebar karena aku sangat takut akan jatuh tersungkur ke bawah saat itu.
Namun untungnya tuan Arfanka yang melihat kejadian tersebut dia dengan cepat berjalan mendekati tangga hingga berhasil menahan tubuhku dan aku malah memeluknya sampai tidak sengaja bibirku dan bibirnya bertemu saat itu, aku langsung memebalalakkan mataku karena sangat kaget dengan kejadian tersebut.
Begitu juga dengan tuan Arfanka yang sama kagetnya denganku, aku langsung saja mendorong tubuhnya ke belakang sedikit dan memperbaiki posisi berdiriku sambil memegangi bibirku yang benar-benar sudah kehilangan ciuman pertamaku sekarang, padahal aku sudah menjaganya sejak aku kecil hingga sekarang, aku sengaja menyimpan ciuman pertamaku hanya demi pria yang akan menikah denganku nanti, tapi sekarang ciuman pertama itu sudah benar-benar hilang hanya karena sebuah kecelakaan saja.
"Hua....itu ciuman pertamaku aaahhh aku sudah tidak memiliki ya lagi sekarang, bagaimana ini" gerutuku pelan dan sangat menyesali kejadian barusan.
"Haha....aku mendapatkan ciuman pertama gadis konyol ini, tidak sia-sia aku menghabiskan satu miliar dolar untuk ibunya yang tidak berguna" batin tuan Arfanka saat itu.
Sedangkan aku masih saja tertunduk dan menepuk-nepuk bibirku merasa menyesal sekali, sampai tidak lama tuan Arfanka menyadarkan aku sebab dia yang meminta jasnya dari tanganku yang masih aku pegang saat itu.
"Hey....sudah berikan jasnya aku harus segera pergi, kau sudah membuang banyak waktu berhargaku" ujar tuan Arfanka kepadaku.
"A..ahh....iya ini tuan" ucapku dengan gugup dan merasa tidak karuan.
Aku memberikan setelan jas tersebut kepada tuan Arfanka tanpa menatap ke arahnya karena aku sangat tidak berani melihat wajah dia yang pasti akan marah kepadaku aku sangat takut juga tidak ingin melihat bibirnya yang sudah mencuri ciuman pertama dariku.
Tuan Arfanka sendiri yang mihat Klara memberikan jas itu ke arah yang salah sambil terus menunduk menghindari tatapannya dia merasa sangat aneh dan hanya bisa menaikkan kedua alisnya merasa aneh juga kebingungan sendiri dengan sikap Klara yang langsung saja berubah saat itu.
"CK....itu hanya sebuah ciuman sekilas dan tidak sengaja kenapa kau harus merasa malu seperti itu, dasar konyol" ucap tuan Arfanka sambil berjalan dari sana meninggalkanku.
Aku hanya bisa semakin menundukkan kepalaku dan merasa semakin malu karena tuan Arfanka malah mengatakannya semakin jelas aku sungguh tidak bisa menerima semua ini, rasanya aku ingin mengamuk dan menangis sekerasnya karena aku sudah kehilangan harta paling berharga di dalam diriku sendiri.
"Hua....ciuman itu mungkin tidak ada artinya dimata dia karena sudah pasti dia sering melakukan yang lebih dari itu dengan banyak wanita di luar sana yang sangat tergila-gila dan memberikan dirinya sendiri kepada dia, tapi tentu saja itu tidak berlaku untukku, aku belum pernah memiliki seorang pacarpun sejak aku lahir dan kini aku malah kehilangan ciuman pertama yang sangat berharga dengan cara yang menyedihkan seperti itu, aahhh kumplit sudah penderitaan aku ini" gerutuku terus merasa kesal dan uring-uringan sendiri.
__ADS_1
Aku tidak tahu harus melakukan apa dan otakku ini terus saja membayangkan masalah kejadian ciuman pertama ku itu, aku sungguh benar-benar ceroboh karena malah jatuh di waktu yang tepat, jika tahu begitu mungkin saat itu aku akan lebih memilih agar jatuh saja ke lantai dan tersungkur di bawah kakinya dari pada harus menyentuh bibirnya dengan bibirku seperti itu.
"Huhu... bagaimana aku bisa menghadapi dia sekarang setiap kali melihat bibirnya itu aku pasti akan teringat dengan kejadia yang sangat menyebalkan tersebut, ahhh aku harus melupakannya jangan mengingatnya lagi" ucapku sambil terus saja menepuk kepalaku sendiri.
Aku pun memutuskan untuk pergi membersihkan sisa kue yang berantakan di lantai saat itu juga terus menyibukkan diriku sendiri agar aku bisa mengabaikan juga melupakan masalah kejadian menyebalkan tersebut.
Aku membersihkan semua sisa kotoran kue tersebut lalu mengganti pakaianku dan segera menyambut bi Evi juga pak Tino yang datang ke rumah tepat ketika aku baru saja selesai mengganti pakaianku.
Namun sayangnya kini aku sudah tidak bisa memberikan kejutan apapun lagi kepada bi Evi sebab kue yang sudah aku buat benar-benar sudah hancur tanpa sisa, aku jadi merasa sedikit sedih karena tidak bisa memberikan hadiah atas kepulangan bi Evi ke rumah ini.
"Selamat datang bi, aku sangat merindukanmu" ucapku sambil langsung saja memeluknya dengan erat.
Bi Evi juga membalas pelukanku dan dia mengusap lembut kepalaku saat itu, tapi dia yang memang baik hati juga sangat peka terhadapku bahkan dia bisa mengetahui bahwa aku tengah sedih saat itu dan berusaha menyembunyikan kesedihanku darinya.
"Ehhh....Klara ada apa denganmu kamu tengah sedih ya? Apa yang membuat kamu sedih gadis manis?" Tanya bi Evi kepadaku,
"Tidak ada hanya ada serangkaian kejadian kecil yang menimpaku hari ini, tapi aku sudah baik-baik saja sejak kau datang ke rumah ini" balasku yang memang tidak mau membahas mengenai kue tersebut juga ciuman dengan tuan Arfanka sebelumnya.
Untung saja bi Evi juga tidak mendesak aku untuk menceritakan masalahnya sehingga justru malah langsung saja mengajak aku masuk ke dalam dan dia memberikan aku sebuah oleh-oleh makanan khusus dari kampungnya saat itu, aku bahkan sangat kaget ketika bi Evi bilang dia memiliki hadiah untukku.
"Ya sudah ayo kita masuk ke dalam bibi punya hadiah dan oleh-oleh untukmu" ucap bi Evi kepadaku.
Aku langsung saja membelalakkan mataku kaget dan merasa sangat tidak menentu sebab itu adalah pertama kalinya ada orang yang mau memberikan aku sebuah hadiah dan oleh-oleh seperti ini.
Aku terdiam juga terus menatap.termenung kepada bi Evi yang saat itu sibuk membongkar barang bawaannya di hadapan aku juga di bantu oleh pak Tino suaminya tersebut.
Bi Evi yang sudah selesai membongkar barang bawaannya lalu dia memberikan sebuah kado berukuran sedang kepadaku, tapi karena saat itu aku masih tidak menduga dan kaget aku hanya diam saja di saat bi Evi memberikan kado tersebut kepadaku.
"Klara....Klara....ada apa denganmu sayang, ini bibi sudah ambilkan kado untukmu dan semua makanan ini oleh-oleh khas dari kampung bibi kamu jangan lupa memakannya yang ini sangat enak loh" ucap bi Evi kepadaku dan wajahnya terlihat begitu tulus juga antusias saat memberikan semua itu kepadaku.
Aku sungguh tidak bisa menahan rasa harus di dalam diriku lagi sehingga tidak lama kemudian perlahan air mata mulai mengalir turun dari pelupuk mataku dan membasahi pipiku juga suara Isak tangis mulai terdengar perlahan membuat bi Evi dan pak Tino langsung menatap heran ke arahku.
"Hiks...hiks...hiks..." Suara Isak tangisku yang terharu dengan kebaikan bi Evi saat itu,
"Hey ...ada apa denganmu kenapa kau malah menangis apa kau tidak menyukai hadiah yang di berikan oleh istriku, aku bahkan tidak mendapatkan hadiah darinya setelah di tinggal cukup lama" ujar pak Tino yang membuat aku sedikit tertawa kecil saat itu.
"Aishh...kau ini aku kan sudah sering memberimu sudah sana biar aku yang bicara dengan Klara kau bawakan semua barang ku ke belakang" ucap bi Evi kepada pak Tino.
Pak Tino langsung menuruti ucapan dari bi Evi dan dia langsung saja membawa semua barang bawaan bi Evi ke rumah yang ada di belakang mension milik tuan Arfanka ini.
__ADS_1