
"Sekretaris Jeno jangan kau pikir aku akan terus diam saja dan tidak melawan dirimu hanya karena kau adalah sahabat dari tuan Arfanka, aku bisa menghajarmu jika aku ingin, aku bisa melakukan semuanya kepadamu jika kau terus membuat aku kesulitan dan menahan amarah sampai seperti ini lagi" ucapku memberikan dia peringatan terlebih dahulu.
Dia menatap tajam kepadaku seakan dia mengira semua peringatan yang aku lontarkan kepadanya hanyalah bualan mulutku saja, tanpa dia tahu bahwa aku adalah wanita yang sangat berbeda dengan apa yang dia pikirkan selama ini tentang seorang wanita dalam hidupnya.
Setelah mendengar jawaban dariku yang sangat berani melawan perkataan darinya nampak sekretaris Jeno seperti menahan amarah dengan mengeratkan giginya cukup kuat dan kedua tangan yang dia kepalkan begitu erat, aku tahu dia marah sekali atas ucapanku saat itu, mungkin dia juga tidak terima karena aku sudah mengerjai dia dengan kopi tersebut, aku mengerti semua itu tetapi apakah dia juga mengerti dengan kesalahan yang dia berikan kepada aku juga? Dia juga sudah membuat aku kesal dan mengalami banyak kesulitan namun bedanya dia tidak menyadari kesalahannya sendiri dan hanya berfokus dengan kesalahan yang aku timbulkan, sehingga aku sangat berani melawannya saat itu karena memang aku merasa bahwa disini tidak hanya aku saja yang salah melainkan kami berdua yang memang tidak memiliki pemikiran yang cukup sejalan.
"Kau....beraninya kau bicara selantang itu kepadaku, kau pikir kau ini siapa hah? Arfanka lihatlah karyawan yang kau bawa kemari, dia bersikap sangat berani melawanku bahkan di hadapanmu sekalipun, apa kau tidak akan memecatnya sama sekali!" Ucap sekretaris Jeno dengan kedua alis yang di kerutkan begitu tajam menatap ke arah tuan Arfanka saat itu.
"Jeno bisakah kau tenang sedikit aku bahkan belum mendengarkan penjelasan dari Klara, biarkan dia menjelaskan semuanya dahulu baru aku bisa memutuskan semuanya" balas tuan Arfanka yang sangat bijaksana di mataku saat itu.
Saat melihat bagaimana dia membela diriku disaat sahabatnya sendiri terus saja mendesak dirinya untuk memecatku, aku sungguh merasa sangat terharu atas apa yang dia lakukan, aku pikir dia selama ini selalu acuh tak acuh kepadaku, seperti tidak memperdulikan apapun terhadap aku dan dia bahkan jarang sekali melirik ke arahku namun kali ini dia mau membela aku dan memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya, itu adalah hal yang menurutku cukup bijaksana dari seorang tuan Arfanka.
"Klara ayo jelaskan padaku dari sudut pandang dirimu tentang apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Jeno, kau harus mengatakannya dengan jujur, aku bisa memeriksa cctv jika kau tidak jujur" ucap tuan Arfanka kepadaku.
"Baik ....aku akan mengatakan semuanya dengan apa adanya, kau bisa mempercayai aku tuan" balasku dengan sangat yakin dan penuh percaya diri.
Aku pun mengatakan semuanya di mulai dari sekretaris Jeno yang selalu memerintahkan aku banyak hal dalam sekali waktu, bahkan dia terus saja menahan diriku disaat aku hendak keluar untuk mengambil pembersih meja, dia terus menyuruh aku mengambil ini dan itu membuatkan ini dan itu dengan syarat yang membuat aku pusing juga terus memerintahkan aku tanpa henti seenaknya saja, dia tidak pernah melihat bahwa saat itu aku kewalahan dengan banyaknya perintah yang dia berikan kepadaku padahal saat itu aku juga tengah mengerjakan perintah yang dia berikan kepadaku sebelumnya.
Setelah aku menceritakan semua itu dan mengutarakan semuanya sama persis dengan kejadian yang terjadi, tuan Arfanka langsung menatap ke arah sekretaris Jeno dengan tatapan cukup tajam sedangkan sekretaris Jeno sendiri mulai memalingkan pandangannya ke arah lain dengan wajah yang seakan tetap saja tidak merasa bersalah sedikitpun.
"Sekretaris Jeno apa semua itu benar?" Ucap tuan Arfanka kepadanya,
"A.. apa? Bukankah dia sendiri yang pada awalnya mengatakan bahwa aku bebas untuk memerintah dia apapun, lagi pula bukankah dia asisten pribadi yang kau bawa untukku, jadi aku bebas memerintah dia bukan? Jika dia tidak sanggup kenapa dia harus melamar pekerjaan ke perusahaan ini untuk bekerja padaku" balas sekretaris Jeno yang sepertinya memang sudah salah paham kepadaku sejak awal.
Aku kaget mendengar ternyata dia mengira aku sebagai asisten pribadi baru untuknya, aku langsung membantah ucapannya dengan cepat.
"Sekretaris Jeno apa kau sedari awal mengira aku sebagai asisten pribadimu?" Tanyaku kepada dia memastikan.
"Ya...memangnya kau siapa lagi jika bukan asisten pribadiku yang baru" balasnya masih tidak mengerti,
Aku hanya bisa menggerutu sendiri dengan kesal dan pelan karena aku tidak akan bisa melawan dia lebih keras lagi di hadapan tuan Arfanka meski aku sangat ingin dan aku bisa melakukannya dengan sekuat tenagaku.
"Aishh...dasar manusia bodoh ini, bagaimana bisa dia langsung menyimpulkan sendiri bahwa aku adalah sistem pribadinya, sudah jelas aku ini pelayan tuan Arfanka, dasar manusia sialan aahh aku ingin menghajar dia dengan kedua tanganku secara langsung" gerutuku pelan sambil mengepalkan kedua tanganku sangat kuat.
Dengan cepat tuan Arfanka langsung saja memberitahu dia bahwa aku memang bukan sekretaris pribadi baru untuknya melainkan hanya pelayan di rumah tuan Arfanka saja.
"Sekretaris Jeno sepertinya ini hanya sebuah kesalah pahaman saja diantara kalian berdua, dan perlu kamu tahu, Klara ini adalah pelayan di rumahku dia bukan karyawan di kantor ini, dan aku sengaja menyuruh dia datang untuk membantumu karena dia pikir tidak memiliki pekerjaan di kantor ini membuatnya bosan, kebetulan sekali aku pikir kau sedang membutuhkan asisten jadi aku menyuruh dia kepadamu saja" balas tuan Arfanka menjelaskan semuanya.
Seketika sekretaris Jeno langsung saja membelalakkan matanya dengan sangat lebar menatap ke arahku yang memberikan tatapan sinis kepadanya, dia langsung menutup mulutnya yang tadi terbuka cukup lebar saking kagetnya mendengar penjelasan dari tuan Arfanka saat itu.
"Astaga....apa maksudmu? Ja..jadi dia bukan asisten pribadiku ya?" Balasnya terlihat sangat syok saat itu.
"Bagaimana apa kau mengerti sekarang, harusnya kau bersyukur aku bisa membantumu dengan suka rela, bukannya kau yang malah menyuruh aku seenaknya" balasku kepadanya dengan kesal.
Tuan Arfanka justru malah terlihat menahan tawa sendiri dan dia langsung saja menyuruh kami berdua untuk bubar dan tidak melakukan kekacauan apapun lagi karena ini sudah masuk pada jam pulang.
"Aahhh..sudah...sudah...Klara ayo ikut denganku kita akan pulang sekarang" ucap tuan Arfanka kepadaku.
Aku pun segera mengikuti langkahnya dari belakang dan terus menjulurkan lidah dengan puas kepada sekretaris Jeno hingga wajahnya terlihat begitu kesal sekali saat itu.
"Whlee...huh...rasakan itu" ucapku sambil terus meledeki dia dengan puas.
Dia terlihat begitu kesal dan mengerutkan kedua alisnya sangat jelas di tekuk begitu tajam, aku benar-benar puas karena tuan Arfanka bisa membelamu saat itu, padahal pada awalnya aku pikir dia tidak akan membela aku dan akan memarahi atau ataupun berbuat hal lain yang menyulitkan aku karena aku sudah membuat kekacauan kepada temannya sendiri di kantornya seperti tadi, tapi ternyata aku memang terlalu banyak berpikir buruk tentangnya pada nyatanya dia tidak seburuk yang aku pikirkan.
Aku terus saja menahan senyum sendiri sambil berjalan di belakangnya dan menunduk merasa sangat senang hingga aku tidak sadar bahkan saat itu kami hendak keluar dari dalam lift bersama dan aku tidak melihat kalau tuan Arfanka tiba-tiba menghentikan langkahnya di depanku sehingga membuat aku menubruk punggungnya dari belakang.
"Brukkkk...aduhhh" suaraku yang menunduk tubuh tuan Arfanka cukup keras.
Aku memegangi jidatku saat itu dan tuan Arfanka langsung berbalik menatap ke arahku dengan ekspresi wajahnya yang sangat dingin tanpa ada senyum atau apapun yang bisa menggambarkan suasana hatinya saat itu.
"AA..ahhh...maafkan aku tuan tadi aku tidak terlalu fokus aku minta maaf" ucapku kepadanya sambil segera membungkuk dan meminta maaf dengan sebaik-baiknya.
Dia hanya terlihat menghembuskan nafas yang terdengar begitu berat lalu menyuruh aku untuk berjalan di sampingnya.
__ADS_1
"Jalan di sampingku agar kau bisa melihat jalan dengan benar dan tidak lagi menabrak orang sembarangan seperti itu, seperti orang buta saja!" Ucap dia mengatakannya dengan nada yang sedikit sensitif.
Aku membelalakkan mataku kaget mendengar ucapan darinya saat itu, dia kembali lagi pada setelan awal yang sangat menyebalkan, padahal tadi dia sama sekali tidak terlihat sedingin ini namun hanya dalam beberapa saat saja dia bisa berubah kembali menjadi sosok pria yang sangat menyebalkan membuat aku sulit sekali menebak kepribadian yang dia miliki sebenarnya.
"Aneh...ada apa dengannya, mood nya itu sulit sekali di tebak, bahkan terkesan lebih buruk dari seorang wanita yang sedang datang bulan" gerutuku pelan saat itu.
"Heh...untuk apa kau masih berdiri disana? Apa kau tidak ingin kembali ke rumah hah?" Ucap tuan Arfanka yang sudah berjalan lebih dulu di depan sebelumnya.
Mendengar dia sudah berteriak kepadaku dengan nada seperti itu aku segera pergi berlari kecil menyusulnya hingga segera masuk ke dalam mobil dia dan tidak berani bicara lagi karena aku sedikit merasa takut melihat ekspresi dan mood di wajahnya yang terlihat tidak baik.
Meski aku sangat penasaran kenapa dia bisa tiba-tiba saja menjadi sangat menyebalkan dan acuh kembali kepadaku seperti itu, tetapi aku mana berani menanyakannya secara langsung kepada dia, apalagi dalam kondisi mood dirinya yang sangat tidak jelas seperti sekarang ini. Aku pun memilih untuk dia sepanjang perjalanan namun tiba-tiba saja dia malah mengeluarkan pembicaraan lebih dulu.
"Heh...kenapa kau diam saja, apa kau kesal atau tidak suka denganku?" Ucapnya begitu saja.
Jelas aku merasa sangat heran, bagaimana bisa dia berpikir seperti itu padaku, padahal jelas sekali disini yang memiliki permasalahan adalah dia sendiri bukan aku, dia yang moodnya buruk dan dia yang tiba-tiba bersikap aneh seperti itu, memangnya aku harus seperti apa jika moodnya buruk seperti ini.
"Ahh...apa yang kamu pikirkan tuan, aku sama sekali tidak kesal apalagi membencimu, aku hanya tidak ingin bicara saja" balasku kepadanya.
"Apa maksudmu kau tidak senang bicara denganku?" Balas dia lagi yang malah berpikiran negatif terus kepadaku,
"Tuan apa kamu ada masalah sebelumnya, kenapa kamu terlihat aneh setelah keluar dari ruangan sekretaris Jeno?" Tanyaku kepadanya.
"Tidak ada" balasnya sangat singkat.
Dia marah-marah dan menuduhku yang tidak jelas, itu sudah menandakan bahwa dia mengalami beberapa masalah dalam pikirannya, tapi disaat aku menanyakan dengan inisiatif kepadanya, dia justru malah terlihat menutup diri dariku dan tidak ingin menceritakan masalah yang dia pikirkan sampai mengganggu pikirannya.
"Dasar manusia sialan, sangat aneh dan menjengkelkan, kalau kau sedang using dan stress kenapa juga harus melampiaskannya kepadaku seperti ini, membuat aku merasa bingung tidak menentu, aishhh jika bukan karena aku berhutangbudi dengannya aku tidak akan rela dia terus memperlakukan aku seperti ini" batinku merasa sangat kesal dan emosi.
Tidak lama akhirnya kami sampai di kediaman tuan Arfanka dia langsung keluar dari mobilnya dengan cepat begitu juga denganku, saat dia masuk ke dalam rumahnya dia langsung membiarkan pintunya tertutup begitu saja tepat di saat aku hendak melangkahkan kaki mengikuti dia masuk ke dalam sehingga aku tersentak kaget melihat pintu itu hampir saja akan menabrak mengenai wajahku.
"Brukk....." Suara pintu yang tuan Arfanka biarkan tertutup sendiri.
"Astaga...kenapa dia tidak menahannya sebenarnya ata setidaknya dia mengatakan apa kek, biar aku bisa berjaga-jaga, aishh untung saja tidak mengenai wajahku, jika kena aahhh itu pasti akan menyakitkan" gerutuku pelan sambil segera mendorong pintunya lagi dan masuk ke dalam.
Aku semakin merasa heran dan aneh dengan sosok tuan Arfanka ini, dia benar-benar manusia paling sulit di tebak yang pernah aku temui dalam hidupku selama ini, karena sebelumnya aku tidak pernah menemui orang seaneh dirinya.
Bi Evi juga langsung mendatangi aku dan dia mencoba untuk menanyakan kepadaku tentang tuan Arfanka yang terlihat begitu aneh hari ini.
"Klara kemari, ada apa dengan tuan, apa kamu bertengkar dengannya?" Tanya bi Evi kepadaku saat itu,
"Aku tidak tau bi, dia sudah terlihat seperti itu sejak dari kantornya, aku juga sama sekali tidak bisa melakukan apapun" balasku kepadanya.
"Pasti tuan akan merasa kesulitan dengan pekerjaannya, atau dia kesulitan karena bisnis yang selalu mendesak dia untuk berkencan dengan para gadis, itu sudah biasa biarkan saja tuan menyelesaikan semuanya sendiri" balas pak Tino yang langsung saja ikut dalam pembicaraan aku dan bi Evi.
Seketika aku dan bi Evi yang tidak mengetahui mengenai hal tersebut, kami langsung menatap ke arah pak Tino dengan wajah yang sangat penasaran dan menyelidik sampai membuat pak Tino langsung menaikkan kedua alisnya merasa heran mendapatkan tatapan aneh dari kami berdua.
"Kenapa kau tidak pernah bilang padaku jika tuan Arfanka selalu memiliki kencan buta di luar sana?" Ucap bi Evi mulai mengintrogasi dirinya
"Iya kenapa tidak memberitahu aku juga?" Tambahku saat itu.
Seketika wajah pak Tino terlihat sedikit panik dan cemas, mungkin saat itu dia keceplosan malah memberitahu bi Evi dan aku yang seharusnya tidak mengetahui mengenai hal ini, sebab tuan Arfanka selalu kesal dan stress ketika dia harus menghadapi banyak kencan buta yang di jadwalkan oleh rekan bisnis dia seenaknya.
"Astaga...kenapa aku malah membocorkan masalah ini, aahhh sial dasar mulut lemes ini, mereka berdua pasti akan mengintrogasi aku sekarang" batin pak Tino saat itu.
Dia mencoba untuk membuat alasan dengan menargetkan aku saat itu dan langsung saja menatap ke arahku dengan tatapan yang cukup tajam.
"Heh...Klara untuk apa kau juga malah ikut-ikutan istriku, memangnya kau siapanya tuan? Ke apa juga aku harus melaporkan semuanya tentang tuan kepadamu, aishh sudahlah kalian ini bubar saja aku harus pergi menemui tuan dulu" ucap pak Tino beralasan dan dia segera pergi menaiki tangga untuk menghindari aku dan bi Evi.
"Eh ..eh..eh ..pak Tino tunggu, ahhh..bi lihat pak Tino pasti sengaja menghindar dari kita" ucapku mengadu pada bi Evi saat itu.
Aku pikir bi Evi ada di pihakmu, namun saat aku berbalik menatap ke arahnya dia justru malah menatap aneh kepadaku seperti tengah menyelidiki aku dengan wajahnya yang cukup serius.
"Aahhh...bi kenapa bibi menatap aku seperti itu, apa yang salah denganku?" Tanyaku kepadanya dengan raut wajah yang kebingungan,
__ADS_1
"Tunggu....tunggu...sepertinya di disini bibi mencium bau..bau hal yang aneh" ucap bi Evi sambil berjalan mengelilingi aku perlahan.
Aku semakin merasa aneh dan kebingungan melihat tingkah bi Evi yang juga sangat tida biasa malam ini, aku hanya bisa menatapnya dengan mengerutkan kedua alisku saking .erasa bingung dan heran dengan apa yang dia lakukan padaku.
"Ya ampun bi, ada apa denganmu? Kenapa malah menatap aku seperti ini?" Tanyaku kepadanya semakin kebingungan,
"Kenapa kamu harus ikut penasaran tentang tuan Arfanka bukankah kamu sangat membencinya dan tidak menyukai dia karena tuan Arfanka sudah membuatmu terjebak disini sebagai pelayan dengan jangka waktu yang tidak tahu sampai kapan?" Ucap bi Evi mencurigai diriku.
Aku langsung menaikkan kedua alisku merasa kaget mendengar ucapannya, bi Evi ternyata malah mencurigai aku tentang hal tersebut, aku yakin sekali itu bisa terjadi karena ucapan dari pak Tino sebelumnya, meski aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku harus merasa penasaran tentangnya tetapi aku harus menghindari bi Evi terlebih dahulu saat ini.
"Aahhh...aku hanya penasaran saja, ya sudahlah aku juga tidak benar-benar perduli tentangnya aku mau ke kamar dulu bi, selamat malam" ucapku sengaja menghindari pertanyaan lain yang akan lebih menyudutkan diriku nantinya.
Segera aku pergi terburu-buru masuk ke dalam kamarku dan menutup pintunya dengan cepat, entah kenapa saat itu aku merasa sangat cemas dan jantungku berdetak kencang seakan aku menyembunyikan sesuatu yang takut akan di ketahui oleh bi Evi saat itu, padahal aku kan sama sekali tidak merasa menyembunyikan apapun darinya.
"Ehh...kenapa aku harus merasa cemas dan takut, memangnya apa yang aku sembunyikan darinya? Aahhh aku pasti sudah eror karena kelelahan hari ini" gerutuku sendiri yang baru sadar dengan sikap anehku.
Disisi lain sebenarnya sebelum tuan Arfanka pergi ke ruang sekretariat Jeno untuk meluruskan masalah antara sekretaris Jeno dan Klara dia kedatangan oleh seorang wanita yang tidak lain adalah sahabat dia juga saat duduk di sekolah menengah atas, mereka bersahabat bertiga sekretaris Jeno, tuan Arfanka juga Riska.
Riska Amola adalah salah satu putri tunggal dari keluarga yang terpandang dan kaya raya di kota tersebut, dia sudah bersahabat dengan tuan Arfanka sejak duduk di bangku sekolah menengah atas hingga saat ini, dia adalah seorang model yang sangat ternama dan begitu populer, dia selalu berada di luar negeri sebelumnya dan hari ini dia tiba di negara asalnya, dia bahkan langsung datang menemui tuan Arfanka setelah dia baru saja mendarat di negara ini, dia berniat menemui tuan Arfanka untuk menyapanya menjadi orang pertama yang dia datangi.
Dia sangat mencintai tuan Arfanka dalam waktu yang sangat lama, sayangnya tuan Arfanka sama sekali tidak pernah menaruh perasaan sedikit pun kepadanya, dia juga tidak terlalu suka dengan gelar yang dimiliki Riska sebagai seorang model terkenal sebab dia selalu mengenakan pakaian seksi yang cukup terbuka di mata umum, dia juga memiliki banyak sekali penggemar dimana-mana karena kecantikan dan kekuasaan ayahnya dia dapat memiliki apapun yang dia inginkan termasuk karirnya menjadi seorang model yang selalu berkilau, bahkan saat ini dia akan melakukan debutnya sebagai seorang aktor.
Dia datang ke kantor tuan Arfanka untuk memberitahu mengenai pencapaian dirinya tersebut, begitu juga dengan sekretaris Jeno, namun sayangnya disaat Riska memberitahu mengenai hal itu tuan Arfanka hanya bersikap dingin seperti biasanya sehingga Riska tentu saja merasa kecewa dan marah dia langsung kembali pergi dari tempat itu dalam keadaan yang marah sampai tidak lama sekretaris Jeno juga datang ke kantor pribadinya mengatakan masalah Klara padanya.
"Kejutan!" Teriak Riska yang langsung saja masuk ke dalam ruang kerja pribadi tuan Arfanka saat itu.
Tuan Arfanka hanya menatapnya sekilas lalu dia kembali fokus dengan pekerjaan yang ada di hadapannya saat itu.
"Arfanka apa kau sama sekali tidak ingin melihatku setelah dia tahun kita tidak bertemu? Arfanka!" Teriak Riska yang sangat kesal karena tuan Arfanka terus saja mengabaikan dirinya, bahkan sama sekali tidak melirik ke arahnya sedikitpun.
"Untuk apa kau datang kemari" balas tuan Arfanka sangat dingin kala itu.
"Arfanka tentu saja aku datang untuk menemuimu, aku sangat merindukanmu, dan aku pulang dengan membawa kabar baik kali ini, apa kamu ingin mendengar kabar baikku tidak?" Ucap Riksa sangat antusias dan bersemangat,
"Tidak...kau pergilah pada Jeno dia pasti akan sangat senang kau kembali" balas tuan Arfanka menyuruh Riska untuk pergi dengan halus.
"Tidak aku ingin bersama denganmu, aku kesini untuk menemuimu dan ingin mengatakan kepadamu bahwa aku akan debut aktor disini, aku akan tinggal dalam waktu yang lama untuk mengerjakan projects akting pertamaku, kamu pasti senang kan mendengarnya dengan begitu kita bisa lebih banyak bertemu sekarang" ucap Riksa yang begitu senang memberitahukan hal tersebut kepada tuan Arfanka.
"Siapa yang senang aku biasa saja, yang mendapatkan pencapaian itu kau, bukan aku lalu kenapa juga aku harus senang?" Balas tuan Arfanka yang sama sekali tidak memperdulikan Riska sedikit pun.
Dari situlah Riska sangat kesal dan dia marah besar, bahkan dia sampai menggebrak meja kerja tuan Arfanka sangat keras menggunakan tangannya sendiri.
"Brakk....." Suara meja yang di gebrak sangat kuat oleh Riksa saat itu sampai membuat tuan Arfanka menghembuskan nafas kasar tapi dia tetap tidak menatap sedikitpun ke arah Riska saat itu.
"Arfanka kau benar-benar keterlaluan kali ini, tidakkah kau tahu aku menghabiskan banyak waktu untuk sampai ke sini menemui dirimu aku bahkan langsung datang kesini saat aku baru saja mendarat, kau adalah sahabatku seharusnya kau memberikan aku sedikit perhatian atau apapun itu layaknya sahabat kebanyakan, kenapa kau selalu memperlakukan aku seperti ini sejak dulu, kau sama sekali tidak berubah kau sangat berbeda dengan adikmu Kevin!" Bentak Riska sangat keras lalu dia langsung saja pergi dari tempat itu secepatnya.
Riska pergi dengan emosi yang menggebu di dalam hatinya dia terus pergi meninggalkan perusahaan itu, dan disaat Riska sudah benar-benar pergi barulah tuan Arfanka terlihat sangat kesal dia menggenggam erat bolpoin di tangannya hingga terlihat jelas tangannya yang memerah karena dia menahan emosinya saat itu.
Hingga tidak lama datang sekretaris Jeno ke ruangannya dan itu seketika membuat tuan Arfanka harus mengubah ekspresi wajahnya dengan cepat, dia sama sekali tidak berniat memberitahu Jeno tentang kedatangan Riska ke kantornya, karena saat itu Jeno sendiri sibuk marah tidak jelas membicarakan mengenai Klara sedangkan tuan Arfanka langsung tersenyum kecil mendengarkan penuturan kata dari Jeno yang di kerjai oleh Klara sehingga dia bisa sedikit melupakan masalahnya dengan Riksa barusan.
Hingga setelah itu tuan Arfanka langsung saja mengajak sekretaris Jeno untuk pergi menemui Klara yang masih berada di ruangan sekretaris Jeno dan mereka mulai bertemu sama seperti adegan sebelumnya.
#FlashBack OFF
Itulah yang menyebabkan sikap aneh terjadi kepada tuan Arfanka, dia sangat kesal dengan kedatangan Riska di kota itu terlebih ketika dia mendengar bahwa Riksa akan tinggal di kota tersebut dalam waktu yang cukup lama, dia tidak sanggup untuk menghadapi wanita yang keras kepala dan selalu menghalalkan segala cara untuk bisa mendekati dirinya seperti Riksa ini.
Meski Riksa dan Jeno selalu berpikir bahwa mereka bersahabat bertiga sejak sekolah menengah atas tetapi tuan Arfanka sama sekali tidak pernah menyetujui atau mengiyakan ungkapan tersebut, dia hanya membiarkan Riksa ikut dengannya karena dia tahu bahwa seorang Riksa sulit untuk dirinya singkirkan sebab kedua orangtuanya yang bersahabat dekat dengan keluarga angkatnya.
Meski untuk saat ini tuan Arfanka sudah memiliki aset kekayaannya sendiri di belakang tanpa sepengetahuan ayah angkatnya, tetapi dia masih belum bisa menguasai seluruhnya sehingga dia pikir dia masih harus berhati-hati dengan adiknya Kevin yang merupakan putra kandung dari ayah angkatnya Briantoro yang bisa kapan saja mengambil alis semua hal yang dia hasilkan dengan jernih payahnya sendiri selama ini.
Riska dan Kevin bagaikan sebuah ancaman besar yang harus dia hancurkan atau dia singkirkan agar dia bisa tenang dan menjadi satu-satunya pewaris dari kekayaan keluarga Biantoro, namun tuan Arfanka tidak bisa melakukan semua itu, sebab dia bukanlah orang yang kejam, dia di didik dengan banyak hal yang sangat keras oleh Briantoro sejak kecil, dan dia selalu di tuntut untuk berbalas budi dengan keluarga Briantoro selama dia masih hidup, padahal semua kekayaan dan kejayaan keluarga Briantoro bisa tercapai berkat kerja keras dan kejeniusan yang dimiliki oleh tuan Arfanka seorang diri.
Briantoro pada awalnya sengaja mengadopsi tuan Arfanka yang terlihat luntang lantung di jalanan tanpa keluarga karena keluarganya mengalami kecelakaan besar yang mengakibatkan kedua ayah dan ibunya meninggal dunia, paman dan bibinya juga meninggal beberapa bulan setelah kecelakaan tersebut sehingga dia tidak memiliki naungan atau tempat tinggal sama sekali sebab paman dan bibinya yang meninggal dengan keadaan terlilit hutang, dia hanya tidak sengaja bertemu dengan seorang Briantoro di jalanan ketika dia tengah mengamen seperti biasanya, melihat Briantoro yang hampir di jambret oleh preman disana, dia tentu saja memiliki keinginan dan hati nurani untuk menolong dengan cepat sehingga dapat menyelamatkan harta paling berharga yang di miliki oleh Briantoro saat itu, sehingga Briantoro yang kebetulan membutuhkan seorang anak untuk memancing istrinya agar bisa hamil dia langsung mengadopsi tuan Arfanka menjadi putranya, hingga tidak lama istrinya langsung hamil setelah tuan Arfanka tinggal dengannya selama tiga tahun, dan dalam tiga tahun itu tuan Arfanka yang masih berusaha sekitar lima tahunan di didik untuk bisa belajar banyak hal sebab sudah terlihat kejeniusan yang dia miliki ketika memasukkan dia sekolah ke salah satu TK.
__ADS_1
Hal itu membuat Briantoro semakin menyukai tuan Arfanka hingga terus mengurusnya hingga sebesar sekarang dan menjadi pemimpin dari perusahaan miliknya yang sudah sangat besar dan menjadi nomor satu.