
Aku sungguh merasa khawatir dan terus saja merasa cemas dengan adikku Kirei aku tidak bisa menunggu lama lagi sehingga aku terus berusaha memohon kepada pak Toni saat itu, namun sayangnya pak Toni tetap tidak memberikan aku pinjaman ponselnya itu, meskipun aku sudah mengganti pakaian hingga aku terus mengikuti dia sampai dia berjalan ke depan pintu untuk menunggu tuan Arfanka pulang.
"Pak.. aku mohon tolonglah pak, aku sangat mencemaskan adikku, aku sudah lama tidak menghubunginya aku takut terjadi sesuatu yang buruk dengannya" ucapku terus memohon dan semua tetaplah sia-sia,
"Maafkan saya nona Klara, bukan saya tega kepadamu tetapi semua itu memang harus sesuai dengan izin dari tuan Arfanka sendiri, anda sendiri tahu bukan bahwa bagaimana sikap tuan Arfanka dia bisa saja menghukum anda dan saya sekaligus jika kita melanggar aturannya, tolong mengerti posisi saya juga nona Klara" ujar pak Tino saat itu.
Aku sungguh tidak tahu lagi sampai tidak lama akhirnya tuan Arfanka sampai di rumah dan aku langsung saja mendekatinya juga meminta bantuan kepadanya dengan memohon sekuat tenagaku saat itu, meski terasa sangat canggung dan aku sendiri juga merasa takut kepadanya namun aku tetap harus berani melakukan semua itu agar aku benar-benar bisa menghubungi adikku Klara.
"Selamat datang tuan" ucap pak Toni menyambut kedatangannya aku juga segera membungkuk dan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh pak Tino,
Tuan Arfanka hanya menatap sekilas kepadaku dan dia langsung melanjutkan jalan melewati aku begitu saja, namun dengan cepat aku langsung berlari kecil menghampirinya dan menahan dia dengan secepatnya.
__ADS_1
"Tu ..tuan... Ada yang ingin saya bicarakan denganmu" ucapku sedikit merasa gugup,
"Katakan" balasnya dengan wajah yang datar dan cukup tajam menatap ke arahku saat itu,
Aku menarik nafas dalam dan berusaha untuk menguatkan diriku sendiri hingga aku mulai mengatakan keinginanku kepadanya.
"Huuhh... Tuan aku ingin meminjam ponselmu aku ingin menghubungi adikku Kirei, aku sangat merindukan dia dan sekarang aku mencemaskannya, apakah kau bisa meminjamkan ponselmu padaku?" Ucapku mengatakannya dengan semua keberanian yang sudah aku kumpulkan dengan susah payah.
"Tidak bisa, kau tidak akan aku izinkan untuk memegang ponsel, bagaimana jika nanti kau menghubungi orang lain lalu meminta untuk di selamatkan dan kabur dari tugasmu" ujar tuan Arfanka yang ternyata malah tidak mengijinkan aku.
Aku terperangah kaget melihatnya saat itu, sedikitpun aku tidak pernah menduga ternyata itulah alasan dia melarang aku untuk memegangi ponsel, padahal aku sendiri tidak pernah terpikirkan untuk melakukan hal seperti itu, dan aku juga tidak memiliki siapapun di luar sana yang bisa membantu aku untuk kabur dari orang sepertinya.
__ADS_1
Maka dari itu aku pun segera menjelaskan kepadanya dan memohon lagi padanya dengan sekuat tenaga dan penuh harapan terhadap dirinya.
"Tuan... Bagaimana anda bisa berpikir seperti itu padaku? Asal kau tahu aku hanya punya satu sahabat dan dia juga orang biasa sama sepertiku dia hanya pegawai toko swalayan tempat aku bekerja dan orang seperti dia tidak mungkin bisa menolong aku kabur darimu, aku juga akan menghubungi ibuku untuk menanyakan kondisi adikku hanya itu saja, jika kau tidak percaya kau bisa melihatnya secara langsung aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu, aku janji tuan aku mohon kepadamu" ucapku memohon dan memegangi tangannya.
Aku memang wajahku dengan sendu berharap dia bisa memiliki hati nurani dan rasa kasihan padaku sehingga bisa segera meminjamkan ponselnya sebentar kepadaku.
"Memangnya apa jaminan untukku bahwa kau tidak akan melakukan hal itu?" Ucapnya lagi yang masih saja tidak mempercayai aku.
Padahal saat itu aku sudah mengatakan semuanya dan memberikan pengertian yang sangat banyak untuknya, tapi dia tetap saja membuat aku geram dan kesal sebab tetap tidak mempercayai aku.
"Tuan aku janji padamu aku benar-benar tidak akan kabur darimu, aku mohon tolong beri aku ponselnya aku mohon harus bagaimana lagi caraku memohon kepadamu tuan" ucapku yang hampir urus asa memohon kepadanya.
__ADS_1
Akhirnya tuan Arfanka mau memberikan pinjam ponsel kepadaku dan aku langsung mengambil ponsel miliknya itu lalu menghubungi nomor ibuku yang aku ingat saat itu sekaligus aku memperlihatkannya pada tuan Arfanka agar dia yakin dan percaya bahwa aku benar-benar menghubungi ibuku, tidak hanya itu aku bahkan membesarkan suaranya agar tuan Arfanka dan pak Toni bisa mendengar langsung siapa yang aku hubungi dalam panggilan telpon tersebut.