Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Kembalinya Kevin


__ADS_3

Alhasil Kevin terus saja menggerutu dengan kesal bahkan dia sampai membentak tuan Arfanka dengan sangat keras ketika di perjalanan saat itu, sambil kedua tangannya yang berpegangan dengan kuat karena dia takut dirinya akan jatuh ke lantai mobil atau terjepit disana nantinya.


"Aishh.. Arfanka apa kau mau membawaku mati, hey.. pajukan mobilnya dengan benar, aishh...aku akan mengadukan mu pada ayah, jika kau tidak mendengarkan ku!" Teriak Kevin mulai melontarkan ancaman.


Akhirnya ancaman itu berhasil untuk menghentikan tingkah dari tuan Arfanka yang melakukan mobil dengan sangat kencang sekali bahkan sampai membuat seorang Kevin sangat ketakutan dan begitu merasa mual hingga sesampainya di depan rumah tuan Arfanka, Kevin langsung berlari keluar sambil mendobrak pintu dan berlari ke kamar mandi menyenggol aku saat itu.


"Awas...minggir! Minggir!" Ucap Kevin sambil menutupi mulutnya dan menahan rasa mual juga berlari sedikit sempoyongan saat itu.


Melihat dia menyenggolku dengan kondisi seperti itu tentu saja aku menatapnya dengan heran dan sekilas kembali menatap tuan Arfanka saat itu, namun aku tidak berani bertanya kepadanya sebab wajah tuan Arfanka yang saat itu terlihat tengah kesal dan emosi.


"Eehh....ada apa dengannya? Kenapa tuan Arfanka juga terlihat kesal dia langsung naik ke atas begitu saja, dan bahkan tidak berbicara apapun padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" Gerutuku merasa kebingungan sendiri.


Tuan Arfanka sudah naik ke lantai atas sejak Kevin masuk ke kamar mandi sebelumnya dan aku juga segera menghampiri Kevin ke kamar mandi karena sedikit mencemaskan dirinya, terdengar dengan jelas suara Kevin yang terus muntah-muntah di dalam kamar mandi dapur saat itu, sehingga aku mencemaskan keadaannya.


"Tok...tok...tok..Kevin apa kau baik-baik saja, tuan muda Kevin tolong jawab aku jika kau baik-baik saja!" Teriakku memanggil dia saat itu.


"Hah...hah...hah... Aku baik-baik saja!" Balas Kevin dari dalam sana.


Aku pun bisa merasa sedikit tenang jika dia masih bisa menjawab ucapannya dan segera saja aku pergi menyiapkan air hangat untuknya juga membawakan penghangat untuk dirinya agar dia tidak terus merasa mual seperti itu, hingga ketika Kevin baru keluar dari kamar mandi dan langsung duduk di sofa dengan lemas, aku segera menghampiri dia dan memberikan segelas air hangat padanya.


"Ini minum dulu air hangatnya agar kau tidak mual lagi," ucapku sambil memberikan segelas air tersebut.


Dia awalnya menatapku dengan sinis namun setelah aku mendekatkan lagi air itu untuknya dia pun mau mengambilnya dan segera meminum air tersebut dengan cepat sambil meneguknya dengan perlahan, tapi disaat dia hendak meneguknya dia mungkin tidak terbiasa dengan air hangat sehingga dia malah hampir saja menumpahkan air itu jika saja aku tidak dengan cepat menahan tangannya.


"Aaaaahh...hei..ini panas sekali apa kau tidak memiliki rasa ya? Hangat darimana nya, ini panas!" Ucap dia sedikit membentak sambil membelalakkan mata kepadaku.


"Hah? Aku sudah mencobanya, kau saja yang tidak terbiasa, sini biar aku tiupkan saja untukmu jika kau masih merasa panas, apa susahnya sih, tinggal begini saja." Balasku kepadanya sambil segera mengambil kembali air itu dan meniupnya dengan perlahan.


Sedangkan saat itu aku tidak sadar bahwa Kevin memperhatikan wajahku yang tengah meniupi air itu untuknya, setelah aku rasa sudah cukup barulah aku berikan lagi padanya dan menyuruh dia untuk tidak memegangi gelas itu lagi sebab tentu saja gelasnya akan terasa lebih panas.


"Sudah... Biar aku saja yang pegang, kamu cepat minum saja," ucapku kepadanya.


Kevin pun segera meminum air itu dan sekarang dia sudah percaya bahwa airnya memang hangat bukan panas lagi seperti yang dia rasa sebelumnya, dia langsung merebahkan tubuhnya ke sofa belakang saat itu dengan wajah yang sedikit pucat, mungkin dia merasa sangat lemas sebab sudah muntah di kamar mandi cukup lama saat itu.

__ADS_1


"Kevin ada apa denganmu, kenapa kau bisa muntah seperti itu, apa kau baik-baik saja?" Tanyaku kepadanya dengan penasaran dan sedikit mencemaskannya.


"Aahh...semua ini karena Arfanka sialan itu, kau tahu dia melajukan mobil bak seperti orang yang sudah bosan hidup, belok menekuk dan tajam hingga hampir saja membuat aku terbanting kesana kemari saat berada di dalam mobil, tentu saja aku akan merasa mual jika dia melajukan mobil dengan ugal-ugalan seperti itu, aahh..jika kau ada di dalamnya saat itu kau juga pasti tidak akan sanggup... Astaga kepalaku pusing sekali." Balasnya padaku saat itu.


"Aku akan ambilkan obat pusing untukmu, tunggulah disini," ucapku padanya sambil segera mengambilkan obat itu untuknya.


Meski aku sebelumnya membenci dia dan sering merasa kesal dengan kelakuan dan sifatnya itu namun ketika dia melihat tidak berdaya seperti ini tentu saja aku tidak tega, jadi tentu saja aku akan membantu dia dengan semampuku saat ini, lagi pula aku tidak perduli siapa dia, yang pasti aku hanya perlu membantu siapapun yang membutuhkan bantuan dariku.


Tapi disisi lain Kevin tidak mengira hal tersebut dengan sebuah kebaikan bisa saja, dia justru merasa bahwa Klara seperti mencemaskan dirinya karena hal lain yang romantis, dia juga tersenyum lebar saat melihat Klara dengan baiknya membantu dia menyuapinya minum bahkanmau memberikannya obat penghangat ini sekaligus mau mengambilkan dia obat pusing padahal dia tidak meminta semua itu sama sekali sebelumnya.


"Ternyata dia baik juga, dia adalah orang pertama yang mau mengambilkan obat untukku dan memperhatikan aku seperti ini, jika aku bisa mendapatkan dia aku tidak masalah meski akan terus kalah dari Arfanka," batin Kevin memikirkan saat itu.


Sampai Klara kembali dan dia memberikan obat tersebut kepada Kevin secepatnya saat itu juga.


"Ini obatnya, aku juga sudah mengambilkan air lagi untukmu, ayo cepat minum lalu istirahatkan tubuhmu, kau akan tinggal disini lagi bukan?" Ujar Anindita yang membuat Kevin terperangah sambil segera dia meminum obatnya tersebut.


"Darimana kau tahu aku akan tinggal lagi di rumah ini?" Tanya Kevin padaku.


"Bagaimana aku tidak tahu barusan pak Tino membawa koper milikmu dari luar, aishh...apa kau bodoh ya, kenapa kau kembali lagi kemari, aku sudah sangat senang ketika melihat kau pergi, malah kembali lagi." Balasku kepadanya dengan kedua mata yang di rotasikan saking kesalnya.


"Aku tinggal disini juga terpaksa kau tidak akan pernah tahu bagaimana tuan Briantoro memperlakukan kami berdua selama ini, terutama Arfanka sebenarnya tadi aku sedikit kasihan dengannya, karena dia malah dijodohkan dengan wanita seperti Riska, aahh malang sekali nasibnya itu, untung saja aku bisa bebas memilih pasangan tidak seperti dia yang harus selalu di tentukan oleh tuan Briantoro sejak kecil hingga sebesar sekarang, atau mungkin hidupnya akan terus diatur oleh tuan Briantoro selamanya hingga dia menaninggal, ahhh dia benar-benar bodoh bukan?" Ungkap Kevin membuatku sangat kaget ketika mendengar tuan Arfanka sudah di jadikan saat itu.


"AA..a..apa? Tuan Arfanka dijodohkan? Dengan siapa?" Tanyaku begitu penasaran sekali.


Kevin malah mengerutkan kedua alisnya menatap kepadaku saat itu dan dia terlihat sedikit kesal, hingga tidak diduga dia malah memantik jidatku dengan jarinya cukup keras sampai aku meringis kesakitan memegangi jidatku yang sedikit sakit saat itu.


"Pletak...." Suara jari Kevin yang memantik jidatku dengan jari tengah dan jempol tangannya.


"Aduhh...hei.. kenapa kau malah melakukan itu? Apa salahku denganmu?" Ucapku protes dengan keras dan sangat tidak terima kepadanya.


"Kau itu bodoh atau idiot, sejak awal aku sudah bilang Antonio dijodohkan dengan Riska, tidak mungkin kau tidak tahu siapa dia bukan?" Tambah Kevin yang langsung aku jawab dengan gelengan kepala saat itu juga.


Tentu saja saat itu aku langsung menggelengkan kepalaku karena aku memang tidak tahu siapa wanita bernama Riska itu, bahkan selama ini aku baru mengenal seseorang bernama Riska dalam hidupku, jadi aku menggelengkan kepala kepadanya.

__ADS_1


Kevin langsung semakin kesal dan menggerutu lebih parah lagi, ditambah kini dia malah mulai menghinaku karena ketidaktahuanku terhadap wanita yang bernama Riska tersebut.


"Aishh..apa kau sungguh tidak mengenalinya? Aahh..kau benar-benar konyol, kemari lihatlah ini, kau lihat baik-baik wanita yang dikejar para wartawan ini, saninilah Riska, dia itu model sekaligus aktris terkenal di negara kita sampai ke luar negeri, dia dikenal dengan parasnya yang cantik juga keahliannya dalam membuat iklan, dimana semua barang apapun itu yang diiklankan olehnya, pasti tidak akan pernah kecewa atau gagal," jelas Kevin memberitahukan aku tentang seorang wanita yang sangat cantik juga mengenakan pakaian yang seksi di dalam televisi saat itu.


Aku terperangah melihatnya bahwa aku baru menyadari bahwa wanita yang sering aku lihat pada iklan di televisi itu bernama Riska, aku hanya mengetahui wajahnya saja yang sering berseliweran di media sosial maupun di televisi membintangi banyak iklan, namun baru kali ini aku tahu jika namanya adalah Riksa.


"Di..dia? Apa kau tidak sedang bercanda denganku?" Tanyaku lagi karena masih sulit untuk mempercayai ucapan Kevin saat itu.


"Tentu saja, kau lihat aku baik-baik memangnya ada wajahku yang terlihat berbohong kepadamu hah?" Balas Kevin sedikit membentak padaku saat itu.


Melihat bagaimana cara dia membentakku aku mulai yakin dan mempercayai dia, namun rasanya aku tidak terima ketika mendengar hal itu tidak tahu kenapa, tidak mungkin juga aku menyukai tuan Arfanka, rasanya wanita seperti aku ini sangat tida pantas untuk bisa mendapatkan cinta dari orang sehebat dirinya.


"Tapi Kevin jika memang tuan Arfanka dijodohkan dengan wanita sehebat Riksa itu, kenapa dia harus kesal dan terlihat tidak senang, bukankah pria akan sangat senang jika di pasangkan dengan wanita cantik da terkenal seperti Riska ini?" Tanyaku merasa sangat heran dengan hal itu.


Kevin hanya menaikkan kedua bahunya menatap kebingungan juga padaku, namun aku yakin dia tidak mungkin benar-benar tidak mengetahui apa alasannya karena dia adalah adik dari tuan Arfanka, walaupun dia hanya adik angkat tetapi seharusnya dia mengetahui hal sepenting itu dari kakaknya.


"Aishh..kalau kau sendiri tidak tau untuk apa kau merasa kasihan juga dengannya, kau pasti sengaja berbohong denganku bukan?" Ucapku mendesak dia saat itu.


Dia mungkin bisa saja berpura-pura di hadapanku tapi wajah dan matanya tidak akan pernah bisa berbohong dengan mulut sebab seseorang seperti dia mana mungkin mengatakan kasihan pada tuan Arfanka yang dia benci dan selalu bertengkar dengannya jika dia tidak tahu apapun sama sekali.


Namun meski aku sudah mendesak dia seperti itu Kevin tetap saja tidak mau bicara dia justru malah memalingkan pembicaraan dan malah langsung pergi ke kamarnya meninggalkan aku begitu cepat.


"Aahh .. sudahlah aku tidak ingin bicara lagi denganmu, menyebalkan sekali, bisa bisanya kau tidak mengenali selebriti terkenal sepertinya aishh," gerutu Kevin sambil pergi dari sana saat itu juga.


Sedangkan aku masih saja menatap terperangah tidak bisa mengerti sepenuhnya dengan apa yang sudah dikatakan barusan oleh Kevin, aku juga tidak menduga jika tuan Arfanka benar-benar akan bertunangan dan sudah di jodohkan oleh ayah angkatnya sendiri dengan seorang wanita yang sehebat itu.


Aku merasa sedikit tidak nyaman dengan perasaanku sendiri dan entah kenapa aku merasa sedih saat ini, apalagi saat mendengar semuanya dari Kevin saat itu, rasanya sungguh tidak nyaman dan aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, ini adalah yang pertama kalinya untukku.


"Aaahh..ada apa denganku? Tidak mungkin aku menyukai tuan Arfanka bukan? Aahh tidak boleh aku tidak pantas untuknya, aku harus sadar diri," gerutuku menyadarkan diriku sendiri.


Aku berusaha untuk melupakannya dan mengesampingkan perasaan sedih yang sangat tidak nyaman dan tidak tahu harus bagaimana mengendalikannya saat ini, aku juga segera pergi ke kamarku sendiri dan segera pergi tidur.


Tanpa Klara sadari sebenarnya saat itu Kevin tidak benar-benar masuk ke dalam kamarnya dia mengintip dari balik pintu dan tentu saja Kevin mendengar semua gerutuan dari Klara barusan, sebelum mendengar semua itu Kevin sendiri juga sudah menduga bahwa Klara pasti memiliki perasaan lebih kepada tuan Arfanka begitu juga sebaliknya, namun dia tidak akan membiarkan semua itu terjadi.

__ADS_1


"CK.... Dia akan semakin menderita jika menyukai pria pecundang sepertinya, aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi, kenapa juga harus Arfanka selalu yang disayangi semua orang?" Gerutu Kevin dengan kesal sambil segera menutup pintu kamarnya dengan rapat.


Terlihat sangat jelas bahwa saat itu Kevin begitu kesal dan marah tatapan matanya saja begitu tajam dan menyipit, dia begitu kesal saat mendengar gerutuan dari Klara dan tidak bisa menerima semua itu, bahkan dia sendiri langsung membuat rencana sendiri untuk bisa mendekati Klara supaya dia bisa menjadi lebih dekat lagi dengannya dan menjauhkan Klara dengan Arfanka.


__ADS_2