Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Paginya


__ADS_3

Pak Tino pun akhirnya pergi menyusul bi Evi yang sudah pergi lebih dulu ke belakang sebelumnya, hingga mereka sudah benar-benar pergi dari sana barulah aku bisa merasa tenang dan damai, aku pergi ke pintu depan dan menunggu tuan Arfanka pulang, aku sudah berdiri beberapa saat di depan pintu untuk menyambut kepulangannya dan aku bahkan sudah berjalan mondar mandir juga disana, namun dia tidak kunjung datang juga, bahkan di saat aku sudah mulai merasa pegal dengan betisku dia masih tidak kembali juga dan aku memutuskan untuk duduk di samping pintu masuk menunggunya hingga kembali sambil memijat betisku sendiri yang pegal saat itu.


Aku sudah menunggu kepulangan tuan Arfanka cukup lama di depan pintu saat itu, sudah berdiri berjalan mondar mandi kesana kemari tanpa tujuan yang pasti, dan sudah bersandar di dinding sambil menaruh kedua tanganku di dada, aku sudah kembali ke dapur mengambil minum dan sudah duduk di sofa menyandarkan tubuhku ke belakang.


Namun sayangnya tuan Arfanka sama sekali masih belum terlihat tanda-tanda kedatangannya, suara mobilnya sama sekali belum terdengar, saat aku melihat ke arah jam dinding itu sudah menunjukkan jam sepuluh malam lebih lima belas detik biasanya dia selalu pulang jam sembilan malam tapi sampai sekarang masih belum kembali juga, tidak tahu ada kendala apa di kantornya dan urusan apa sampai membuatnya pulang terlambat seperti saat ini.


"Hoaamm....kapan sih dia akan pulang, aku sudah sangat mengantuk sekali sekarang, aahhh dia benar-benar mengganggu istirahatku" gerutuku sambil terus mengusap entah sudah berapa kali malam itu.


Aku sudah menguap berkali-kali tapi dia tidak kunjung datang juga, waktu terus berlalu jam demi jam sudah benar-benar terlewati alhasil aku ketiduran di sofa ruang depan malam itu.


Sedangkan disisi lain tanpa Klara ketahui, sebenarnya tuan Arfanka sudah mengirimkan pesan kepada pak Tino agar tidak menyiapkan makan malam dan menunggunya pulang sebab dia akan menginap di kantornya malam ini, karena banyak hal yang perlu dia selesaikan dan ada proyek baru yang akan segera dia jalankan sehingga harus menyelesaikan semuanya malam itu juga.


Tapi sayangnya pak Tino yang sudah tidur lebih awal malam ini karena dia memberikan kunci rumah kepada Klara dia lupa tidak memeriksa ponselnya yang tengah di isi saya di samping tempat tidurnya saat itu, sehingga karena dia yang tertidur dengan sangat lelap dia sama sekali tidak mendengar suara bunyi pesan yang masuk ke dalam ponselnya malam itu.


Hingga ke esokan paginya, pagi-pagi sekali tuan Arfanka pulang ke kediamannya dan disaat dia hendak menghubungi pak Tino dia sedikit curiga melihat pintu rumahnya yang sedikit terbuka sehingga dia pun mengurungkan niatnya tersebut, langsung saja tuan Arfanka masuk dan membelalakkan matanya kaget mengetahui pintu rumahnya tidak di kunci sama sekali padahal itu masih gelap dan baginya tidak mungkin juga pak Tino sudah membukakan kuncinya sepagi ini bahkan matahari masih belum nampak keluar.


"Hah...aishh...pasti pak Tino lupa untuk menguncinya" gerutun tuan Arfanka sambil segera masuk ke dalam rumahnya.


Dia berjalan pelan dengan memegangi lehernya yang sedikit pegal dan mata yang sudah sedikit sayup karena tidak bisa tidur dan beristirahat semalaman karena harus mengerjakan banyak sekali pekerjaan di kantornya.


Saat dia berjalan melewati ruang tengah tidak sengaja tuan Arfanka melihat kunci rumahnya yang ada diatas meja dan melihat Klara yang tidur di sofa dengan posisi terduduk seperti itu, dengan cepat penasaran tuan Arfanka segera menghampirinya lalu menatap lekat wajah Klara yang tertidur di sofa rumahnya tersebut.


"Kenapa dia bisa tidur di sini, apa dia tidak punya kamar, aku kan sudah memberinya kamar ngapain dia malah tidur di sofa?" gerutu tuan Arfanka sambil mengerutkan kedua alisnya dengan heran.


Dengan wajah Klara yang terlihat cukup lelah dan begitu manis, tanpa di sadari tuan Arfanka menunjukkan sebuah senyum kecil di bibirnya melihat Klara ketiduran di sofa. Namun disisi lain dia juga merasa heran dan bingung, karena Klara tidak tidur di kamarnya justru malah tidur di sofa seperti itu, bahkan tanpa selimut sekalipun.


Tuan Arfanka pergi ke kamarnya segera dan dia membawa selimut miliknya lalu menyelimuti Klara dengan lembut, barulah dia segera pergi ke kamarnya lagi untuk beristirahat beberapa saat sebelum harus kembali pergi berangkat lagi ke kantornya saat itu.


Sampai paginya ketika matahari mulai menampakkan sinarnya dan muncul ke permukaan dan menerangi dunia, cahaya itu menembus tirai yang ada di samping sofa tersebut sehingga sinarnya langsung mengenai wajah Klara, dia yang merasa silau langsung saja mengerjakan matanya pelan dan baru tersadar bahwa dia malah tidur di sofa.


"Eummm....apa sudah pagi yah? Eeehhh... benar-benar sudah pagi" ucapku yang merasa kaget karena baru sadar jika aku benar-benar ketiduran di sofa tersebut hingga pagi seperti ini.


Segera aku bangkit dan baru saja aku kembali tersadar dan merasa aneh ketika melihat ada selimut di tubuhku, dan selimutnya berwarna hijau tua, sangat berbeda sekali dengan selimut di kamarku yang jelas-jelas berwarna putih bersih, aku mengerutkan kedua alisku seketika dan langsung memegangi selimut itu dengan perasaan bingung tidak menentu.


"Haaaa..... darimana asalnya selimut ini, dan siapanyang menyelimuti aku? Kenapa tiba-tiba bisa ada disini ya?" Ucapku sambil terus memegangi selimut itu.


Hingga tidak lama datanglah bi Evi dia berjalan ke arahku sambil berbicara dan menggerutu membicarakan mengenai selimut yang ada di tanganku saat itu.


"Aishh....kamu sedang apa malah memegangi selimut tuan Arfanka, aahhh dia akan marah jika sampai selimut kesayangannya kotor dan jatuh di lantai, sudah sini cepat berikan sini biar bibir yang kembalikan ke kamarnya" ucap bi Evi sambil terus mengulurkan tangannya kepadaku.

__ADS_1


Aku menatapnya dengan kebingungan dan terus saja tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh bi Evi saat itu.


"A..apa maksud bibi selimut yang ada di tanganku ini?" Tanyaku memastikan kepadanya,


"Haduh....Klara ada apa denganmu, tentu saja selimut itu memangnya ada selimut lain lagi di sini, sini....haaa... bagaimana bisa selimut tuan berada di luar sini, jika dia tahu aduhh...dia akan marah besar nantinya" ucap bi Evi sambil langsung merampasnya dengan cepat dari tanganku.


Bi Evi jugabterus menggerutu kebingungan sendiri sambil membawa gulungan selimut itu menaiki tangga dan pergi mengembalikannya ke dalam kamar tuan Arfanka, sedangkan aku terus saja termenung merasa sangat heran dan mulai menduga sesuatu kepada tuan Arfanka.


"Apa jangan-jangan semalam tuan Arfanka yang menyelimuti aku, tapi apa dia benar-benar sudah kembali?" Ucapku bertanya-tanya sendiri saat itu.


Saat aku tengah melamun memikirkan semua itu sendiri, tiba-tiba saja dari atas sana terlihat bi Evi kembali keluar dari kamar tuan Arfanka dengan wajahnya yang terlihat cukup ketakutan sambil langsung berjalan cepat menuruni tangga dengan terburu-buru saat itu.


Karena merasa sangat heran aku langsung saja menghampiri bi Evi dan berjalan mendekatinya saat itu, aku berusaha untuk bicara dengannya secara pelan dan mulai mendekatinya sedikit demi sedikit saat itu.


"Ekhmm....bi ada apa denganmu kenapa sehabis keluar dari kamar tuan Arfanka wajahmu terlihat gugup seperti itu?" Tanyaku kepadanya.


"Itu...loh tuan Arfanka ternyata sudah bangun saat bibi masuk dia baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya, aahh dia sangat tampan dan bibi merasa sangat malu ketika melihat wajahnya saat itu, bibi juga takut dia akan marah karena bibi lupa masuk tanpa mengetuk pintu, asihh....untung saja tuan tidak apa-apa tadi" balas bi Evi kepadaku.


Aku langsung membelalakkan mataku dengan sangat lebar saat itu, karena merasa sangat syok mendengar ucapan dari bi Evi.


"Hah? Di..dia sudah ada di kamarnya?" Ucapku cukup keras saking kagetnya saat itu.


Bi Evi yang tengah mencuci sayuran dia langsung saja menatap ke arahku dengan mengerutkan kedua alisnya dan terlihat begitu serius, hingga membuat aku langsung tersadar bahwa ucapanku sebelumnya terlalu berlebihan juga cukup keras untuk bicara dengan bi Evi.


"Memangnya kenapa kamu sampai terlihat kaget seperti ini, seperti melihat setan saja?" Balas bi Evi kembali melanjutkan pekerjaannya,


"Habisnya semalam aku sudah menunggu tuan Arfanka pulang sampai sangat larut sekali tapi aku tidak mihat dia kembali, aku pikir dia tidak akan kembali tapi rupanya justru malah sudah ada di rumah makanya aku sangat kaget" balasku kepada bi Evi saat itu.


Bi Evi hanya mengangguk saja lalu dia segera meminta bantuanmu untuk membalikkan telur yang tengah dimasak olehnya saat itu.


"Aahhh...begitu, ya sudah sana balik telurnya itu hampir gosong" ucap bi Evi kepadaku.


Aku mengangguk dan segera pergi membalikkan telur tersebut.


Tapi di saat aku tengah mengangkat telur yang baru matang dan mengirimkannya, ak Tino tiba-tiba datang dengan wajah yang panik dan penuh kecemasan, terlihat dengan jelas wajahnya yang panik itu sambil memanggil nama bi Evi berkali-kali dan membuat bi Evi kelas kepadanya saat itu.


"Aduhh....Evi.....cepat kamari aishh...kenapa kau lama sekali saat aku memanggilmu cepat kemari" ucap pak Tino terburu-buru.


"Ada apa, aku ini sedang bekerja kenapa kau berteriak seperti itu memang ya kau sudah mencuci mobil tuan?" Balas bi Evi terlihat merotasikan matanya cukup kesal dengan pak Tino yang memanggilnya dengan terburu-buru seperti itu.

__ADS_1


Aku sangat penasaran dan berusaha menguping pembicaraan mereka dari belakang saat itu.


"Gawat ini gawat Evi, lihatlah tuan mengirimi aku pesan tadi malam tapi aku lupa tidak melihatnya, aku juga sudah menyuruh Klara menunggu kepulangan tuan padahal tuan sendiri bilang dia akan menginap di kantor, bagaimana jika tuan tau semua ini" ucap pak Tino dengan cepat.


"Eeehhh...ada apa dengan kalian semua pagi ini, tadi aku lihat jelas-jelas tuan sudah berada di kamarnya dan dia tidak marah sama sekali saat aku masuk, apa yang perlu kau cemaskan, aishh....sudah sana...sana sebaiknya kau cuci mobil tuan saja dan kerjakan hal lainnya, sana pergi jangan mengganggu aku saat memasak" ucap bi Evi yang terus mendorong pak Tino dengan paksa.


"Tapi Evi tuan bisa saja marah, dia tidak mungkin kembali tadi malam, dia pasti kembali subuh tadi, aku harus bagaimana menghadapinya nanti" ujar pak Tino yang masih saja terlihat cemas dan ketakutan,


"Aishh...itu urusanmu kenapa malah menanyakannya padamu, sudah sana pergi tuan tidak akan memarahiku" balas bi Evi samb terus mendorong pak Tino hingga benar-benar pergi dari dapur.


Aku yang mendengar percakapan diantara pak Tino dan bi Evi hanya bisa diam mematung sambil terperangah heran sendiri dengan kaget, aku tidak tahu sama sekali apa yang bisa aku lakukan sekarang, pikiranku terus saja melayang dan memikirkan semua dugaan yang bisa saja terjadi kepadaku tadi malam atau subuh saat tuan Arfanka tiba di rumah pertama kali.


"Aaahhh...jika semua itu benar maka kemungkinan besar yang memberikan selimut itu kepadaku adalah tuan Arfanka? Aaaahh....tapi apakah mungkin untuk dia melakukan itu kepada pelayan rendahan sepertiku, bukankah ini terlalu aneh ya?" Gerutuku merasa bingung sendiri.


Aku yang membuat dugaan sendiri dan aku juga yang berusaha keras menghempaskan semua pemikiran dan dugaan tersebut di dalam diriku, aku sama sekali tidak bisa mengakui semua itu, sebab di lihat dari karakter tuan Arfanka yang tidak banyak bicara dan hanya selalu memberikan tatapan datar, rasanya tidak mungkin dia akan melakukan hal seperti itu kepadaku.


"Apa aku menanyakannya langsung saja kepada dia nanti ya?" Batinku terus berpikir.


Hingga bi Evi datang mengagetkan aku dengan menepuk sebelah pundakku dan meminta aku menyajikan semua makanan yang selesai di masak olehnya, aku segera mengangguk dan melakukan semuanya secepat dan serapih yang aku bisa.


Tidak lupa setelah itu aku berniat membersihkan sofa dan mengelap meja juga benda lain di rumah itu dari debu, tetapi bi Evi justru malah menyuruh aku pergi memanggil tuan Arfanka untuk memberitahunya bahwa sarapan dia hari ini sudah di siapkan.


"Bi aku mau membersihkan meja dan sofa dulu ya" ucapku kepadanya sambil sudah siap dengan alat kebersihan di tanganku, bahkan saat itu aku sudah memakai celemek di tubuhku.


"Ehh..ehhh...kamu sebaiknya pergi ke kamar tuan dulu, beritahu dia makanannya sudah siap, ayo sana" ucap bi Evi memintaku untuk pergi.


Aku langsung menaikkan kedua alisku dan tentu saja aku tidak ingin pergi menemuinya karena aku masih terpikirkan masalah selimut itu, aku tidak mau terlihat gugup dan aneh di hadapannya saat ini sehingga aku berniat membujuk bi Evi dan menolak dia dengan halus.


"Aahhh...bi aku tidak bisa menghadapi tuan, perutku tiba-tiba saja sakit aku harus ke kamar mandi" ucapku beralasan kepadanya.


Tapi sayangnya bi Evi tidak mudah di kelabui dia terlihat menatap aku dengan tajam dengan kedua tangan yang di simpan di pinggangnta dan terus saja menyuruh aku untuk tidak berpura-pura dan masih harus pergi memanggil tuan Arfanka untuk turun ke bawah.


"Sudah selesai ber actingnya? Sudah sana pergi ke atas dan panggil tuan Arfanka, jangan membuatnya menunggu atau kesal ini adalah akhir pekan dia akan lebih banyak di rumah jadi sebaiknya kita harus berhati-hati sekarang" ujar bi Evi yang justru semakin membuat aku takut dan mengerutkan wajahku cemberut lesu.


"Bi....aku sungguh tidak bisa menghadapinya, aku harus bagaimana?" Ucapku sedikit merengek kepadanya,


"Aishh...anak muda ini, ayo cepat naik kenapa kamu lambat sekali sih, cepat sana naik" ucap bi Evi yang terus saja melah mendesak aku dan mendorong tubuhku untuk segera menaiki tangga saat itu.


Tidak ada pilihan lain lagi untukku saat itu, dan aku hanya bisa memasang wajah yang kebingungan dan sendu, sungguh aku tidak sanggup menghadapi tuan Arfanka nantinya, dia sangat menyeramkan di sore hari apalagi di pagi hari seperti ini, aku berjalan dengan perlahan menaiki tangga dan mulai mendekati pintu kamarnya dengan pelan sambil menggigit ujung jariku saking gugupnya saat itu.

__ADS_1


"Haduh... bagaimana ini, aku harus bagaimana menghadapinya aku sangat malu" batinku saat itu.


Padahal aku sendiri tidak tahu dengan jelas apa alasan aku harus malu kepadanya padahal aku tidak melakukan hal yang memalukan padanya.


__ADS_2