
Dia terus berpikir untuk mencari solusi agar bisa mengobati adiknya hingga sembuh, hingga dokter kembali memberitahu sekretaris Jeno bahwa keadaan adik perempuannya semakin kritis dia harus segera mendapatkan tindakan medis yang tepat, sekretaris Jeno mulai menghubungi tuan Arfanka namun sayangnya ponsel tuan Arfanka tidak aktif saat itu, karena ponsel tuan Arfanka habis daya sejak beberapa menit yang lalu, sekretaris Jeno tidak bisa melakukan apapun lagi sehingga dia mulai melihat kontak tuan Briantoro di ponselnya tepat di bawah kontak tuan Arfanka.
"Maafkan aku Arfanka ini adalah tentang hidup dan matinya adikku, maafkan aku" ucap sekretaris Jeno dan langsung menekan tombol di ponselnya.
Waktu mulai berlalu malam sudah dilewati dengan segala kesulitannya, hingga ke esokan paginya tuan Arfanka yang baru memeriksa ponselnya dia segera mengisi daya ponselnya dan saat ponsel itu pertama kali menyala dia mengerutkan kedua alisnya melihat banyak sekali panggilan dari sekretaris Jeno malam tadi.
Karena penasaran tuan Arfanka pun segera menelpon balik sekretaris Jeno.
"Halo Jeno ada apa kau menghubungiku sebanyak itu tadi malam? Apa ada hal penting yang ingin kau sampaikan?" Tanya tuan Arfanka secara langsung tanpa basa basi.
"Aahhh..iya Arfanka, adikku akan di rujuk ke rumah sakit Singapura dan aku sekarang sudah bersiap-siap untuk menyusulnya dia sudah di terbangkan tadi malam, jadi aku mungkin akan izin kerja kepadamu untuk beberapa hari saja sampai operasi adikku selesai," balas sekretaris Jeno menjawabnya.
"Ohh...begitu, baiklah tapi... Apa kau bisa mengatasi semuanya, aku bisa membantumu jika kau membutuhkan apapun termasuk biaya untuk adikmu," ujar tuan Arfanka yang membuat sekretaris Jeno langsung terdiam membisu.
Tuan Arfanka mulai merasa sedikit heran karena dia juga tidak kunjung mendengar ucapan dari sekretaris Jeno setelah beberapa saat sudah berlalu, bahkan ketika dia memanggil nama sekretaris Jeno beberapa kali tetap saja tidak mendapatkan sahutan darinya, hingga tuan Arfanka harus sedikit membentak sekretaris Jeno barulah dia membalas panggilannya tersebut.
"Sekretaris Jeno.... Jeno....halo.. apa kau masih ada disana... Sekretaris Jeno!" Teria tuan Arfanka membentak.
Akhirnya sekretaris Jeno tersadar dan dia dengan cepat segera membalas panggilan dari tuan Arfanka secepatnya dengan ucapan yang agak gugup saat itu.
"AA..aaa..ahh..iya maafkan aku Arfanka tadi aku sedikit melamun, tapi kamu tidak perlu khawatir aku masih memiliki tabungan jadi aku bisa mengatasi semuanya, terimakasih atas tawaranmu" balas sekretaris Jeno saat itu.
Sampai panggilan terputus karena sekretaris Jeno sudah harus mematikan panggilannya, tuan Arfanka sama sekali tidak mencurigai apapun kepada sekretaris Jeno meski sebelumnya dia mendengar sekretaris Jeno yang menjawab ucapannya dengan gugup, dia hanya segera bersiap-siap untuk membersihkan dirinya dan pergi ke luar dari kamarnya.
Saat dia turun menuruni tangga dan hendak pergi ke dapur tuan Arfanka mihat sudah ada Kevin yang duduk di depan meja makan dan ada Klara juga yang berdiri menyambut kedatangannya saat itu.
"Selamat pagi tuan, silahkan" ucapku sambil menarikkan kursi untuknya saat itu.
Tuan Arfanka segera duduk disana dan dia mulai menatap datar ke arah Kevin sampai langsung menghembuskan nafas dengan lesu ketika melihat wajah Kevin yang memberikan tatapan tidak suka kepadanya.
"Heh...kenapa kau datang lama sekali, aku sudah sangat lapar sejak tadi, dan kau tahu pelayanmu ini terus saja menyuruhku untuk menunggumu, dia menepis tanganku setiap kali aku ingin mengambil makanan, aahh itu sangat merepotkan kenapa kau malah memilih pelayan seperti dia" gerutu Kevin yang sudah merasa kesal di pagi hari.
Aku memberikan tatapan tajam kepadanya karena dia malah mengadu kepada tuan Arfanka saat itu, meski aku sudah tahu bahwa hubungan antara tuan Arfanka dan Kevin hanyalah sebatas adik dan kakak angkat, namun tetap saja karena mereka berasal dari keluarga yang besar dan berkuasa aku tidak berani untuk melawan salah satu diantara mereka dan sejujurnya aku juga sedikit merasa cemas ketika Kevin malah mengadu seperti itu kepada tuan Arfanka.
__ADS_1
Aku cemas tuan Arfanka akan marah kepadaku karena dia langsung melirik ke arahku dan memberikan tatapan datar yang tidak bisa aku tebak bagaimana perasaannya saat itu, namun aku dengan cepat berusaha untuk menjelaskan lebih dulu sebelum tuan Arfanka sendiri yang akan berbicara kepadaku ataupun memarahi aku karena hal tersebut.
"Ee..euuh...tuan itu karena aku...aku hanya mengikuti ucapanmu saja sesuai dengan aturan yang di berikan oleh pak Tino padaku" ucapku menatap dengan penuh kecemasan pada tuan Arfanka.
Sikap diam dan tatapan datarnya itu membuat aku sangat bingung untuk bersikap dan tidak tahu harus berkata apa kepadanya namun untungnya yang tidak aku sangka, justru tuan Arfanka malah tersenyum kecil dan rupanya dia tida marah kepadaku, justru dia malah mengusir adik angkatnya Kevin dari rumah tersebut dan itu sangat membuat aku senang mendengarnya.
"Kenapa kau menatap seperti takut denganku? Aku tidak akan menyalahkan mu karena memang semua orang yang mau menumpang tinggal di rumahnya hanya boleh makan saat aku mempersilahkannya, dan kau ayo duduk mulai sekarang semua pelayan bisa makan di meja makan, khusus untukmu kau bisa makan bersama denganku" ucap tuan Arfanka kepadaku saat itu.
Aku langsung saja membelalakkan mata sangat lebar begitu juga dengan Kevin, kami berdua menatap tidak percaya dan sangat kaget mendengar ucapan tersebut sebab ini adalah yang pertama kalinya tuan Arfanka mengijinkan orang lain dan pelayan seperti aku ini untuk duduk di meja yang sama bersamanya, apalagi menikmati makanan bersamaan dengannya.
"Tu...tu..tuan apa kau sedang bercanda tanya mengujiku? Kenapa kau berkata seperti itu, bukankah aku hanya pelayan rendahan, aku juga tida berani melakukannya, sebaiknya aku pergi saja" ucapku kepadanya karena masih merasa tidak percaya saat itu.
Namun disaat aku menunduk dan hendak pergi tuan Arfanka menghentikanku dan dia malah kembali menyuruhku untuk duduk di samping Kevin saat itu.
"Mau kemana kau, aku bilang duduk ya duduk, kenapa kau sangat keras kepala" ucap tuan Arfanka kepadaku.
Karena dia sudah berkata seperti itu aku pun tidak berani untuk menolaknya lagi dan tuan muda Kevin itu langsung melirik ke arahku terus menerus dengan lekat sejak aku berdiri hingga aku duduk disampingnya aku juga segera menggelengkan kepala kepadanya, berusaha untuk memberikan isyarat bahwa aku tidak tahu apapun dengan semua ini.
Sampai tidak lama ketika aku sudah duduk dengan cepat Kevin langsung menyangkal tua Arfanka dengan keras, seakan dia sendiri tidak bisa menerima apa yang dilakukan oleh tua Arfanka kepadaku saat itu.
Namun saat aku melihat ke arah tuan Arfanka dia sama sekali tidak terlihat kaget wajahnya tetap saja santai, tenang dan datar saja, dia bahkan hanya tersenyum kecil dan terus mengambil nasi ke dalam piringnya saat itu.
Hal tersebut semakin membuat aku dan Kevin penasaran karena dia belum mengatakan apapun dari ucapan Kevin saat itu, hingga membuat Kevin semakin geram dan tidak sabar untuk mendengar jawaban darinya.
"Arfanka kenapa kau diam saja dan terlihat sesantai itu, apa jangan-jangan dugaanku tadi benar ya?" Tambah Kevin menanyakannya lagi sembari mendesak.
"Heh...apa kau sudah gila, tidak mungkin aku menyukainya, aku mengijinkan dia untuk duduk hanya karena sekarang ada kau di hadapanku, aku tidak ingin berada di satu tempat yang sama denganmu hanya berdua saja, melihat kau makan di depanku itu membuatku muak, dan sebaiknya kau cepat pergi dari rumahku, tidak ada ruang lagi untukmu!" Balas tuan Arfanka yang sangat menohok dan tidak bisa kami berdua duga.
Aku bahkan langsung saja menahan senyum ketika mendengar jawaban tersebut dari tuan Arfanka, jawabannya sungguh membuat Kevin semakin kesal dan aku terus menahan tawa dengan sekuat tenagaku, namun rupanya Kevin tetap saja tahu bahwa saat itu sebenarnya aku ingin menertawakan dia dengan puas.
"Apa kau? Senang ya..senang, kau begitu senang saat aku diusir kakakku sendiri, aishh...kalian berdua memang sama-sama konyol dan memiliki otak separuh, asal kalian tahu aku tidak akan keluar dari rumah ini selama pelayan sialan ini juga tidak keluar dari rumahmu!" Balas Kevin dengan penuh kekesalan di dalam dirinya saat itu.
Tuan Arfanka yang mendengar hal tersebut tentu saja dia sangat tidak senang karena niatnya yang ingin mengusir dan menyingkirkan Kevin secepatnya dari sini gagal total dia malah ingin Klara juga pergi dari rumahnya sehingga dengan cepat tuan Arfanka langsung tidak menyetujui hal itu dengan kuat.
__ADS_1
"Kevin memangnya kau siapa bisa melakukan hal itu, sebelum kau datang dia sudah menjadi pelayanku dalam waktu yang cukup lama, dan kau tiba-tiba hadir seperti setan di antara kami, harusnya kau mengerti kalau kau tida diterima di rumah ini, sebaiknya kau pergi ke apartemenmu sendiri, untuk apa kau memiliki apartemen jika tidak kau gunakan, dan kau juga bisa pulang ke kediaman ayah kandungmu itu, atau aku yang akan melaporkannya jika kau sudah kembali ke negara ini secara diam-diam" ucap tuan Arfanka yang sudah mengetahui bahwa Kevin kabur dari luar negeri secara diam-diam.
Kevin yang mendengar hal itu dia cukup kaget karena ternyata tuan Arfanka sudah mengetahui bahwa dirinya pergi secara diam-diam tanpa sepengetahuan ayahnya sendiri, dia sudah tidak bisa berkutik atau melawan lagi pada tuan Arfanka ketika tuan Arfanka yang sudah memberikan ancaman seperti itu kepadanya.
"Aishh ... darimana kau bisa tahu, aahh sial oke.. oke aku akan kembali ke rumah tapi kau lihat saja nanti, aku akan membuatmu kalah dariku Arfanka, CK ...kalian berdua lihat saja nanti" ucap Kevin sambil bangkit berdiri dan dia langsung saja pergi dari sana saat itu juga.
Aku menatapnya dengan heran karena dia malah mengancam aku juga, padahal aku merasa kalau aku sama sekali tidak ada urusan dengan semua hal yang selalu mereka perdebatkan satu sama lain, bahkan aku sendiri tidak tahu apa yang membuat mereka terus saja bertengkar dan tidak pernah bisa akur dalam setiap saat.
"Eehh...kenapa dia juga mengancamku, memangnya apa salahku padanya?" Gerutuku saat itu.
Aku tidak sadar kalau aku duduk di depan tuan Arfanka saat itu, sampai tuan Arfanka kembali bersikap dingin dengan wajah datarnya dan menyuruh aku untuk pergi dari sana.
"Kenapa kau masih berada disini, Kevin pergi kau juga pergi, janga duduk di tempat yang sama denganku, apa kau lupa hah?" Ucap tuan Arfanka menyadarkan aku.
Dengan cepat aku segera bangkit berdiri dan pergi dari sana secepatnya, aku juga benar-benar merasa kesal kepada tuan Arfanka karena seakan tadi dia mempermainkan aku, menyuruhku duduk tiba-tiba lalu mengusir aku juga dari sana secepatnya, aku hanya duduk beberapa detik saja disana.
"Wahhh..dia benar-benar menjengkelkan" gerutuku sambil berkacak pinggang saat itu.
Hingga aku melihat Kevin membawa koper yang macet ditangannya, aku melihat dia kesulitan untuk keluar dari rumah tersebut, karena koper miliknya sedangkan kedua bodyguard yang mengikutinya sudah dia perintahkan untuk pergi menunggunya di luar dan menyiapkan mobil sehingga dia tidak bisa meminta bantuan kepada mereka saat itu.
"Aishh...ada apa dengan koper sialan ini, aahhh... benar-benar menyebalkan, euhhh..kenapa tidak bisa di dorong" gerutu Kevin terus berusaha menarik pegangan pada koper miliknya.
Melihat dia kesulitan aku segera menghampirinya dan mencoba untuk membantu dia saat itu, karena mau bagaimana pun aku tetap tidak tega melihat dia terus uring uringan kesal tidak jelas hanya karena sebuah koper saja.
"Eehhh...ada apa dengan kopermu, apa kau kesulitan menarik pegangannya, apa kau mau aku membantumu hah? Aku bisa memperbaiki berbagai macam barang sejak aku kecil, dan sepertinya aku juga bisa membuatnya lebih mudah untuk di tarik" ucapku sengaja sembari mengerjainya sedikit.
Sesuai dengan dugaanku, Kevin yang sombong itu tentu akan gengsi untuk meminta bantuan dariku ataupun menerima tawaranku saat itu.
"CK...aku tidak butuh bantuan dari pelayan rendahan dan lemah sepertimu, memangnya kau pikir aku ini lemah, aku bisa menariknya sendiri dengan kekuatanku," balas dia dengan kesombongannya itu.
"Tuan muda Kevin, bahkan cara menariknya kau salah, itu tida akan pernah berhasil jika kau terus melakukannya seperti itu, sudahlah kau jangan sok gengsi dan sebagainya kepadaku, aku bisa membantumu dengan senang hati, sini biar aku bantu saja," ucapku kepadanya sambil berusaha untuk meraih kopernya.
Dengan cepat Kevin menyingkirkan koper itu dariku, dan dia terus saja menolak bantuan yang hendak aku berikan padanya.
__ADS_1
"Aku kan sudah bilang aku tidak butuh bantuanmu, kenapa kau bersikap sok bisa segala hal, aishh...memuakkan!" Balasnya tetap menolak.
Karena dia begitu aku pun membiarkan dia terus melihatnya kesulitan sendiri dan berusaha untuk menarik pegangan koper tersebut begitu lama, sambil terus saja tidak berhenti menggerutu kesal karena dia tidak kunjung bisa membukanya.