
Aku sendiri sedikit merasa kebingungan melihat keadaan dia yang seperti itu dan cukup aneh namun aku tidak berani untuk menanyakannya terlalu dalam kepadanya, kecuali jika dia sendiri yang mengatakannya kepadaku baru aku akan mendengarkan dia.
Saat aku sudah selesai menyiapkan air hangat dan kembali ke luar aku lihat tuan Arfanka terlihat masih saja merebahkan dirinya di ranjang tersebut, aku menatap dia yang sepertinya tengah tertidu saat itu dan mulai mendekatinya dengan perlahan untuk memastikan apakah dia benar-benar tertidur atau hanya merebahkan dirinya saja saat itu.
Aku berjalan dengan pelan sambil memanggil namanya beberapa kali saat itu, dan terus saja mendekatinya terus menerus dengan perasaan sedikit ragu saat itu.
"Tuan....tuan apa kamu tidur? Tuan....apa kamu tidur atau bangun?" Tanyaku terus saja memanggilnya.
Disisi lain sebenarnya tuan Arfanka hanya menutup matanya saja tetapi dia jelas sangat sadar dan bisa mendengar suara dari Anindita saat itu, dia menahan dirinya agar tidak tertawa saat mendengar ucapan dari Klara yang terdengar sangat lucu ketika memanggilnya saat itu.
"Dasar wanita bodoh bagaimana bisa memanggil orang yang tidur dengan menutup mata seperti ini begitu, sudah jelas dia melihat aku tertidur di ranjang dengan mata tertutup harus dia segera pergi, kenapa dia malah terus memanggilku dan bertanya apakah aku bangun atau tidak, dasar konyol" batin tuan Arfanka terus saja menahan tawa saat itu.
Dia terus saja berusaha untuk menahan tawanya sendiri agar dia tidak sampai ketahuan bahwa hanya berpura-pura tidur saja, karena sebelumnya tuan Arfanka sengaja berpura-pura tidur karena dia tidak ingin berhadapan dengan Klara saat itu sebab dirinya tengah tidak baik-baik saja saat ini, namun niat hati untuk menghindarinya dia justru malah harus menemukan kejadian lucu seperti itu, karena kelakuan Klara yang sedikit konyol baginya.
Disisi lain Klara yang melihat tuan Arfanka terus diam dan tidak bergerak meski dia terus saja memanggilnya beberapa kali, sehingga aku memutuskan untuk membangunkannya karena sebelumnya aku sudah tahu bahwa tuan Arfanka hendak mandi membersihkan dirinya aku juga tidak bisa membiarkan dia tidur dengan posisi yang tidak benar seperti itu.
"Tuan ..bangunlah tuan, ayo cepat bangun tuan....bukankah kau mau mandi aku sudah menyiapkan air hangat yang kau minta, tuan Arfanka" ucapku sambil menggoyangkan tangannya pelan saat itu.
Disisi lain aku ingin membangunkan tuan Arfanka, namun disisi lain aku juga takut dia marah karena aku membangunkannya dengan cara seperti itu sehingga aku pun memutuskan untuk menggoyangkan tangannya dengan pelan karena masih merasa cemas dan takut untuk membangunkannya sekaligus saat itu.
Aku segera duduk di samping ranjangnya dan kembali mencoba untuk membangunkan tuan Arfanka dengan lebih kuat lagi tetapi hasilnya tetap nihil tuan Arfanka terus saja tertidur dan dia sama sekali tidak bergerak sedikitpun, itu membuat aku sangat kesal karena dia tidak kunjung bangun juga padahal aku sudah cukup lama membangunkannya saat itu.
"Aishh...kenapa dia tidak bangun juga, apa dia ini bangkai?" Gerutuku sangat kesal.
Tuan Arfanka yang mendengar gerutuan dari Klara dia mulai mengeratkan giginya menahan kekesalan emosi di dalam hatinya karena dia mendengar Klara mengatai dirinya sebagai bangkai.
Saat itu aku sudah sangat kesal dan menyerah untuk membangunkannya tetapi melihat posisi tidur tuan Arfanka dimana kakinya masih menjuntai ke bawah ranjang juga kakinya itu yang masih memakai sepatu dan dia masih memakai setelan jas dengan lengkap, aku sendiri bahkan merasa sangat tidak nyaman ketika melihatnya tertidur menggunakan pakaian kumplit seperti itu.
Aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan berat hingga segera saja aku membantunya meski dengan perasaan kesal dan terus menggerutu kesal sebab tuan Arfanka sangat sulit sekali untuk di bangunkan saat itu.
"Huuhh.... Dia sangat menjengkelkan kenapa dia malah tidur di tempat ini dengan tidak benar, sangat menyebalkan, seharusnya tadi itu dia tidur saja langsung, tidak perlu menyuruh aku supaya menyiapkan air panas untuk dia mandi, untuk apa juga aku membuatkannya jika tidak dia gunakan, aahhh sebentar lagi air nya juga pasti akan mendingin, huhu sia-sia saja pekerjaanku tadi" gerutuku terus merasa sangat emosi tidak menentu.
Aku segera bangkit berdiri dan segera saja berjongkok untuk melepaskan sepatu yang masih terpasangan di kakinya saat itu, aku sebenarnya tidak ingin melakukan hal semacam ini karena sangat melukai harga diriku sendiri, namun memang tidak ada cara lain lagi aku juga tidak tega melihatnya yang ketiduran dalam posisi seperti itu.
"Apa dia sangat kelelahan hari ini, aahh...jika dia tidak pernah menolongku aku tidak akan mau membantu dia melepaskan sepatunya yang sangat besar ini eeughhh....sangat menjengkelkan aaahh sepatunya sangat besar sekali, apa dia ini raksasa ya" gerutuku saat itu.
__ADS_1
Aku berusaha keras untuk melepaskan sepatu yang masih di kenakan oleh tuan Arfanka yang satunya lagi, entah kenapa sepatunya itu sangat sulit untuk dilepaskan sampai harus membuat aku mengeluarkan tenaga dalam untuk melepaskannya saat itu.
"Hah...hah ...hah...sangat menjengkelkan, kenapa sepatunya sulit sekali untuk di lepaskan, apa dia memakai lem perekat di kakinya sampai membuat sepatunya sangat kuat sekali, aaahhh... bagaimana cara melepaskannya, tidak mungkin juga aku harus menarik sepatunya dengan sekuat tenaga bukan?" Ucapku lagi sambil terus saja mencoba melepaskannya dengan sekuat tenaga.
Aku mulai menekankan kakiku ke pinggiran ranjang dan sebelah kakiku lagi terus menahan tubuhku aku juga menggunakan kedua tanganku untuk memegangi sepatunya dan mulai mendorong tubuhku agar bisa menariknya dengan sekuat tenaga saat itu.
"Euuhhh....aaaaa...bruk..." Suaraku yang pada akhirnya berhasil melepaskan sepatu tuan Arfanka namun harus jatuh tersungkur ke lantai dengan tubuhku yang terlentang dan sepatu tuan Arfanka yang masih aku pegang dengan kedua tanganku saat itu.
"Wahhh....hah.....hah.. benar-benar sangat konyol bagaimana bisa aku malah jatuh seperti ini hanya untuk melepaskan sebuah sepatu saja" ucapku lagi sambil segera bangkit dan melemparkan sepatu tuan Arfanka ke samping ranjang dengan kesal.
"Aishh...sepatu sialan, gara-gara kau aku sampai terjatuh dan sekarang pinggangku terasa sangat sakit, aahhh...ini sakit sekali" gerutuku sambil memegangi pinggangku yang terasa begitu ngilu saat itu.
Tuan Arfanka terus saja menahan tawa merasakan dan mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut Klara saat itu, dia juga berusaha untuk tidak tertawa disaat Klara berusaha dengan keras untuk menarik tubuhnya dengan sekuat tenaga ke atas ranjang dan membenarkan posisinya dengan baik.
"Haha...dasar bodoh dia benar-benar konyol sekali menarik tubuhku seperti ini" batin tuan Arfanka terus saja menahan tawa.
Aku juga tetap tidak menyerah aku membalikkan tubuh tuan Arfanka dengan kedua tanganku dan aku bahkan mendorong punggungnya dengan sebelah kakiku saat itu, lalu mulai aku tarik jas yang dia kenakan dengan sekuatnya, sampai akhirnya aku justru malah terjatuh dan menimpah tubuh tuan Arfanka saat itu.
Aku bahkan tidak sengaja malah mencium bibirnya secara tidak sengaja dan aku langsung terdiam mematung dengan membelalakkan kedua mataku saking kagetnya saat itu.
"Astaga....apa yang aku lakukan, aahhh matilah aku jika sampai tuan Arfanka tahu kalau aku mencium bibirnya seperti tadi, bagaimana ini?" Ucapku terus memikirkan dengan perasaan cemas sambil memegangi bibiku sendiri saat itu.
Dan yang tidak aku sangka tiba-tiba saja tuan Arfanka membuka matanya dan dia langsung membalikkan tubuhku sehingga kini posisiku berada di bawah dekapan tubuhnya saat itu, aku sangat kaget sekali saat itu, sampai terus saja menatapnya dengan kedua mata yang terbelalak lebar dan diam membisu tanpa bisa melakukan apapun lagi.
Aku bahkan merasakan sulitnya menelan salivaku sendiri sambil terus menatap wajahnya yang menatap begitu tajam dan sangat lekat kepadaku saat itu.
"Tu....tu...tuan....kenapa kau tiba-tiba bangun?" Tanyaku kepadanya saat itu dengan sangat gugup.
Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa dia mendekap tubuhku sehingga sulit untuk aku melepaskan diri darinya dan dia hanya tersenyum kecil kepadaku lalu dengan cepat dia segera bangkit dan aku pun segera bangkit terduduk dengan cepat.
"Aahhhh....aku tahu semua yang kau lakukan kepadaku dan kau akan di hukum karena semua itu" ucap tuan Arfanka membuatku semakin kaget mendengarnya.
"APA?... Tuan bagaimana bisa kau tahu bukankah kau baru saja bangun, jika kau tahu semuanya, berarti sebelumnya kejadian itu...bibirku ....dan bibirmu ....aahhhh" ucapku sambil langsung menundukkan kepala dengan penuh rasa malu.
Aku tidak berani lagi menampakkan wajahku kepadanya karena semua ini terlalu memalukan bagiku aku terus menundukkan kepala dan membiarkan rambut panjangku agar menutupi wajahku saat itu agar tuan Arfanka tidak bisa melihat wajahku begitu pula sebaliknya.
__ADS_1
"Hah...tentu saja kau yang menciumku bukan, kenapa kau harus menunduk dan merasa malu seperti itu ini juga bukan yang pertama kalinya" ucap tuan Arfanka yang keceplosan saat itu.
Aku langsung mengangkat kepalaku dan menatapnya denga mengerutkan kedua alisku, menatapnya dengan sangat tajam dan begitu serius, pasalnya saat itu aku rasa itu adalah pertama kalinya aku melakukan hal semacam itu kepadanya dan itu adalah ciuman pertamaku juga, tetapi bisa-bisanya tuan Arfanka mengatakan bahwa itu bukan yang pertama kalinya.
"Tuan apa yang kau maksud jika ini bukan yang pertama kalinya?" Bentakku meninggikan suara sambil membelalakkan mata dengan sangat lebar kepadanya.
Tuan Arfanka baru ingat bahwa yang pertama tentu saja aku tidak akan mengingatnya karena saat itu aku tengah berada dalam pengaruh obat yang di berikan oleh h bi Elin sebelumnya, hingga aku harus tidur di ranjang tuan Arfanka pada malam itu, namun tuan Arfanka tidak mengatakan hal itu sebab dia mungkin takut bahwa aku akan mempermasalahkan dan menanyakan lebih dalam lagi mengenai kejadian tersebut.
Sehingga dengan sengaja tuan Arfanka menyembunyikan mengenai hal tersebut dan tidak membiarkan seorang Klara untuk mengetahuinya saat ini, kecuali jika dia mengingatnya sendiri, tuan Arfanka sibuk memikirkan alasan yang bisa dia katakan.
"O..aaahh...maksudku bukan tentang ciuman itu, tapi tentang gerutuan menyebalkan yang kau ucapkan kepadaku" balas tuan Arfanka sengaja mengesampingkan dan mengalihkan masalah ciuman itu secepatnya.
"Tidak mungkin aku kan sedang membahas mengenai hal itu kenapa kau malah menjawab mengenai hal lain?" Balasku tidak mempercayai dia untuk pertamanya.
Bagaimana aku bisa mempercayai dia bahwa dari raut wajah dan cara dia bicara saja sudah terlihat sangat jelas dia seperti tengah menyembunyikan sesuatu dariku, meski aku tidak tahu dengan jelas apa yang sebenarnya tengah dia sembunyikan dariku itu sampai membuat raut wajahnya bisa berubah hanya dalam hitungan detik, bahkan dia juga sampai memainkan pandangannya dariku.
Padahal sebelumnya dialah yang terus memandangi aku dan menatapku tanpa henti, itu sangat mencurigakan dan membuat aku sangat curiga dengan gerak geriknya.
"Heh...aku tidak ingin membahas mengenai hal memalukan seperti itu dan sengaja aku mengalihkan pada hal lain agar kau bisa berhenti membahas hal seperti itu, dan aku peringatkan kepadamu jangan sampai kau membicarakan hal semacam itu kepada orang lain, apa kau mengerti hah!" Ucap tuan Arfanka sambil segera bangkit berdiri dan berkacak pinggang di hadapanku.
Aku hanya bisa langsung mengangguk tanpa aku tahu mengapa aku melakukan semua itu, aku merasa aku seperti terhipnotis olehnya untuk menurut semua ucapan darinya saat itu.
Hingga tidak lama tuan Arfanka langsung saja menarik tanganku da dia mengusir aku untuk keluar dari kamar dia secepatnya saat itu juga.
"Baiklah karena kau sudah mengerti itu bagus sekali, sekarang cepat kau pergi keluar, ayo cepat pergi, untuk apa lagi kau masih berada di dalam kamarku aku akan pergi mandi sekarang, cepat sana...sana..." Ucap tuan Arfanka sambil terus mendorong tubuhku begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Padahal tanpa dia harus mendorongku dan mengusir aku dengan cara paksa seperti itu dan cukup kasar, aku juga bisa pergi dan keluar sendiri tanpa harus dia yang mendorong tubuhku terus menerus seperti itu dan membuat aku merasa sangat tidak nyaman dengan tingkahnya yang seperti itu kepadaku.
"Aah...eeehh...eh..tuan apa yang kau lakukan lepaskan, aku bisa jalan sendiri hey....bruk" suara pintu yang langsung saja di tutup sangat keras olehnya tepat setelah aku di lempar keluar olehnya dengan kasar.
Aku benar-benar merasa sangat kesal dan emosi berdiri di depan pintu tuan Arfanka sambil menggerutu kesal dan tanpa henti terus saja merutuki ya dengan sepuas yang aku bisa untuk melampiaskan emosi di dalam diriku saat itu juga.
"Benar-benar sangat menjengkelkan, aaaakkkk...euh...euh...dasar kau mentang-mentang kau adalah bos disini bisanya hanya berbuat seenaknya kepadaku aishh... awas saja aku tida akan membiarkan semua ini terus terjadi padaku!" Bentakku sambil terus menggerutu sangat keras sambil menendang pintu kamar tuan Arsen dengan kakiku.
Hingga dari bawah terdengar tawa menggelegar dari Kevin yang terus saja merasa sangat puas ketika melihat aku yang di dorong keluar dengan kuat begitu saja oleh tua Arfanka saat itu.
__ADS_1
"Ahahaha...rasakan itu, hahaha...konyol sekali haha..kasihannya pelayan yang setia dengan majikan itu, bukannya mendapat hal baik, justru malah di tendang majikannya sendiri aaahh sinetron ini sangat menyedihkan" ucap Kevin sambil berjalan melewati tangga dan tertawa sangat lebar sambil menggelengkan kepala pelan meledekku saat itu.