Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Pulang Dari Rumah Sakit


__ADS_3

Saat itu aku sungguh merasa bingung dan berusaha untuk bengkit berdiri dengan sekuat tenagaku meskipun badanku terasa sangat lemas sekali saat itu, sampai tiba-tiba saja tuan Arfanka pergi berjalan lebih dulu meninggalkan aku di belakang sehingga aku harus segera bangkit berdiri untuk menyusulnya.


"Aishh... Kenapa kau lama sekali apakah kau seekor siput hah!" Bentak tuan Arfanka kepadaku.


"I...iya tuan saya akan segera menyusulku" balasku berusaha berjalan lebih cepat saat itu.


Sebenarnya aku juga memang ingin segera sampai ke sana untuk mengejar tuan Arfanka yang sudah keluar dari rumah sakit lebih dulu, namun sayangnya badanku sungguh terasa sangat lemas saat ini dan aku tidak bisa melakukan apapun lagi sehingga walau aku sudah berusaha keras untuk berjalan dengan cepat aku tetap saja tidak bisa menyusul dia, sehingga ketika aku sampai di luar.


Nampak tuan Arfanka sudah berada di dalam mobil dan dia langsung saja menyuruh aku untuk segera masuk ke dalam begitu juga dengan sekretaris Jeno yang langsung membukakan pintu untukku.


"Ayo Klara masuklah, kau harus duduk di depan karena kursi belakang hanya milik tuan Arfanka seorang" ucap sekretaris Jeno dan hanya mengangguk mengerti.


Aku segera masuk ke dalam dan aku kesulitan untuk mengenakan sabuk pengaman saat itu, sehingga sekretaris Jeno berinisiatif untuk membantuku, namun disaat sekretaris Jeno hendak membantuku, tiba-tiba tuan Arfanka membentak aku dan dia menyuruh aku untuk berpindah ke belakang saat itu.


"Sini Klara biar aku bantu kau pasangkan sabuk pengamannya" ucap sekretaris Jeno saat itu,


"Heh... Jangan membantunya dan kau pindah ke belakang, siapa bilang kau harus duduk di depan, cepat kemari!" Ucap tuan Arfanka dengan tegas dan keras.


Aku merasa bingung dan saling tatap dengan sekretaris Jeno saat itu hingga sekretaris Jeno pun mengangguk dan segera membiarkan aku untuk keluar saat itu.


"Ba..ba..baiklah tuan" balasku dengan gugup.

__ADS_1


Aku segera keluar dan pindah ke belakang, duduk tepat di sampingnya, hingga sekretaris Jeno mulai melajukan mobil dan aku terus menjaga jarak dari tuan Arfanka, hingga kita sampai di kediamannya aku sama sekali tidak mengeluarkan suara sedikitpun dan terus saja merasa sangat canggung saat itu, hingga tidak lama saat aku hendak keluar dari mobil, tuan Arfanka membantuku dan dia mengulurkan tangannya kepadaku secara tidak terduga.


"Ayo pegang tanganku" ucap tuan Arfanka di saat aku tahu bahwa sekretaris Jeno saat itu ada di sampingnya dan hendak membantu aku juga.


Karena aku takut tuan Arfanka akan marah aku tidak berani menerima uluran tangan darinya sehingga aku menolak dia dan memilih untuk berdiri dan berjalan sendiri sekuat tenagaku.


"Ahh... Tidak papa tuan saya masih kuat berjalan sendiri, terimakasih" ucapku kepadanya.


Aku pikir dia tidak akan masalah ketika aku menolaknya dengan sangat hati-hati seperti itu, namun rupanya dugaan aku salah, dia tiba-tiba saja malah menggendong tubuhku begitu saja dan membawa aku langsung masuk dalam gendongannya ke dalam rumah begitu saja.


"E..ee..ehhh.. tuan turunkan aku tanganmu akan sakit jika menggendongku, tuan tolong turunkan aku aku tidak ingin menyusahkan dirimu lagi" ucapku berusaha memberontak kepadanya,


"Diam kau, atau aku akan membantingkanmu ke lantai!" Ucap tuan Arfanka membuat aku takut dan langsung saja aku menutup mulut dengan kedua tanganku sambil mengangguk kepadanya.


"Ohh.. ya ampun Klara apa yang terjadi denganmu apa kamu baik-baik saja?" Tanya bi Elin padaku sambil memegangi wajahku saat itu.


Aku sangat benci ketika melihat wajahnya yang penuh dengan drama tersebut dan rasanya aku ingin menampar wajahnya saat itu juga, namun sayangnya aku tidak bisa melakukan semua itu sebab masih ada tuan Arfanka yang ada di kamarku saat itu.


"Aku benci melihat wajah sialannya bi Elin, dia pasti senang melihat aku seperti ini, aaahh... Kenapa tuan Arfanka tidak pergi juga sih dari sini" gumamku merasa sangat kesal saat itu.


Aku sangat berharap tuan Arfanka tidak menganggap serius wajah dan ucapan dari bi Elin sedangkan bi Elin terus saja berbicara hal-hal bohong yang tidak pernah terjadi, dan semua itu justru membuat aku semakin muak melihatnya.

__ADS_1


"Klara aku kan sudah bilang kau jangan bekerja ketika kau sakit, kau harus beristirahat kenapa kau tidak mendengarkan aku kau jadi seperti ini kan sekarang" ucap bi Elin berbicara hal yang berbalik dengan semua kenyataan yang terjadi.


Aku mengerutkan kedua alisku merasa heran dan rasanya ingin sekali memberitahu tuan Arfanka bahwa dia lah yang menyebabkan aku seperti ini, namun sayangnya bi Elin langsung memeluk aku dan dia membisikan ancaman kepadaku yang membuat aku tidak bisa mengatakan semua kenyataan dan kebenarannya kepada tuan Arfanka karena aku takut dengan bi Elin saat itu.


"Jangan berani-beraninya kau memberitahu tuan Arfanka atau aku akan menyiksamu lebih dari sebelumnya!" Ancam bi Elin padaku.


Aku tidak bisa melawan apalagi berontak sebab posisiku di rumah itu sama dengannya dan aku juga tahu dia bukan wanita yang baik, aku takut bi Elin akan benar-benar menyiksa aku lebih parah lagi jika aku mengadu kepada tuan Arfanka sehingga aku terpaksa harus menutupi semuanya dan terus diam saja hingga tuan Arfanka juga malah menitipkan aku kepada bi Elin dan dia langsung pergi dari sana dengan cepat.


Setelah tuan Arfanka pergi, barulah taring seorang bi Elin yang jahat itu muncul dan dia memperlihatkannya tanpa rasa ragu sedikitpun, dia langsung tersenyum jahat dan dia kembali memperingati aku dengan tatapan tajam dan sinisnya.


"Bagus, kau harus menuruti semua ucapan dariku baru kau tidak akan mengalami hal seperti ini, namun sekali saja kau mengadu kepada tuan Arfanka maka aku akan menghabisimu dengan cara apapun yang akan menyakitimu dan membuat kau menderita!" Ancam bi Elin kepadaku dengan sinis.


Lalu dia memberikan aku makanan dan segera pergi dari kamarku begitu saja.


"Ini makan, makananmu dan jangan bersikap so manja kau harus tetap bekerja meski kau sakit, kecuali kalau kau tidak bisa bangun dari ranjangmu" ucap bi Elin kepadaku.


Aku hanya bisa menatap dia dengan rasa kesal hingga dia keluar dari kamarku dan aku hanya bisa menghentakkan kakiku ke lantai untuk melampiaskan semua emosi yang sudah aku tahan sejak lama, aku sungguh tidak bisa melawan dia saat ini.


"Eughhh....sial, Elin sialan wanita tua itu sangat menjengkelkan, arrkkhhh" ucapku merasa sangat kesal.


Tapi walau begitu aku tetap merasa lapar dan aku segera memakan makanan yang di bawakan oleh bi Elin saat itu, aku menikmati makanannya dengan lahap tanpa aku ketahui bahwa bi Elin sudah menjebak aku saat itu.

__ADS_1


Saat Elin keluar dari kamar dia menatap dengan sinis ke arah wajah Klara dan dia dengan sengaja sudah memasukkan obat perangsang ke dalam makanan yang dia bawakan untuk Klara dia sengaja ingin mempermalukan Klara di hadapan tuan Arfanka agar dia mendapatkan perlakuan buruk dari tuan Arfanka dan di usir dari rumah itu secepatnya karena dia tidak ingin tersaingi oleh siapapun termasuk Klara.


__ADS_2