Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Merasa Cemas


__ADS_3

Pak Tino langsung membungkuk kepada tuan Arfanka saat itu juga dan dia dengan segera pergi dari sana untuk membelikan pakaian untukku, lalu tiba-tiba saja tuan Arfanka menarik tanganku begitu sangat kuat saja dan dia membawa aku masuk ke dalam kamarku lalu menyuruh aku untuk tetap diam di dalam kamar sampai pak Tino kembali dan memberikan pakaian baru untukku.


"E..e..ehh... Tuan lepaskan aku, tuan apa yang kau lakukan ahhh" ringisku berusaha memberontak kepadanya namun sayangnya genggaman tangan tuan Arfanka sangat kuat kepadaku sehingga aku tidak bisa melepaskan tanganku darinya.


"Diam di dalam kamar ini sampai pak Tino kembali dan memberikan pakaian baru untukmu" ucap tuan Arfanka sambil menatap tajam kepadaku.


Aku seger berlari ke arah pintu dan berusaha menahan pintunya agar tidak langsung di tutup olehnya.


"Tunggu tapi tuan aku..." Ucapku berusaha menahan pintunya, namun tuan Arfanka kembali memarahiku dengan sangat keras dan membentak lebih menyeramkan daripada sebelumnya.


"Apa? Kau berani melawanku sekarang hah? Sudah diam di situ dan jangan coba-coba untuk keluar dari sana!" Bentak tuan Arfanka sambil langsung menutup pintu kamarnya bahkan dia mengunci pintu itu.


Aku berusaha berontak dan mengetuk pintunya agar dia membukakan pintu itu untukku karena aku tidak mungkin terus diam di dalam kamar tanpa melakukan apapun sedangkan banyak pekerjaan di luar yang harus aku kerjakan saat itu, dan aku tidak ingin bi Elin kembali marah lagi kepadaku jika seandainya dia mengetahui aku tidak bekerja hari ini hanya karena tuan Arfanka yang menahan aku dan mengurung aku di dalam kamar tersebut.


"Tuan...tok Tok...tok... Tok... Tuan tolong buka pintunya, aku masih harus bekerja membersihkan rumah ini tuan!" Teriakku sangat kencang,

__ADS_1


"Tidak perlu aku akan menyuruh bi Evi agar segera pulang dan membersihkannya nanti, lagi pula rumah ini juga sudah bersih untuk apa membersihkannya lagi, sudah diam di situ dan jangan berisik aku akan menaruh kuncinya di luar dan pak Tino akan membukakannya nanti" balas tuan Arfanka kepadaku.


Setelah itu aku tidak bisa mendengar suaranya lagi meski aku sudah menepuk pintu kamar berkali-kali dengan sekuat tenagaku dan berteriak memohon kepadanya agar membukakan pintu itu secepatnya.


"Tuan... Saya mohon tolong jangan kurung saya seperti ini, tuan" teriakku berusaha memanggilnya.


Namun sayangnya semua yang aku lakukan sia-sia karena tuan Arfanka sungguh pergi meninggalkan aku dari mension miliknya tersebut, dan aku juga tidak bisa melakukan apapun lagi selain pasrah menerima semua ini sekarang, aku duduk di samping ranjang dengan perasaan yang kesal dan melihat diriku sendiri di cermin yang menggunakan pakaian pelayan seksi saat itu.


"Aishh... Dasar manusia aneh, kenapa dia tiba-tiba saja marah dan mengurung aku hanya karena pakaian ini, padahal sebelumnya aku juga sempat protes tentang pakaian pelayan yang tidak pantas ini tapi dia terlihat cuek dan acuh padaku, lalu kenapa sekarang dia melah seperti itu, benar-benar sangat menjengkelkan aaarrhkkkk" teriakku menggerutu kesal dan melampiaskan emosiku sekuat tenaga.


"Aahhh... Kirei apakah dia baik-baik saja bersama dengan ibu seorang diri?" Gerutuku memikirkan nya.


Pada dasarnya aku tahu betul bagaimana sikap ibu, aku hanya takut ibu akan memperlakukan Kirei dengan buruk dan aku sangat tidak tenang ketika mengingatnya sekarang, aku juga tidak punya ponsel untuk menghubungi adikku Kirei dan di kamar itu juga tidak akan ponsel yang bisa aku pinjam dahulu.


"Ya ampun kenapa aku tiba-tiba saja mencemaskan Kirei ada apa dengannya yah, tuhan semoga dia selalu baik-baik saja" ucapku penuh harap.

__ADS_1


Kirei adalah harta paling berharga yang aku miliki sehingga aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan jika sesuatu terjadi kepadanya di luar sana, dan aku kali ini terus saja merasa cemas dengan Kirei, entah kenapa hatiku tiba-tiba saja merasa tidak tenang saat ini dan aku tidak bisa berhenti mencemaskan Kirei.


"Ya tuhan aku mohon tolong lindungilah adikku Kirei dimana pun dia berada" ucapku lagi dengan penuh kecemasan yang kuat.


Sedangkan di sisi lain Tini yang merupakan ibu kandung dari Klara juga Kirei dia justru tengah menyuruh Kirei dan memaksanya agar bekerja di bar malam itu menggantikan kakaknya Klara yang sudah dia jual kepada tuan Arfanka, bahkan saat ini dengan paksa Tini mengganti pakaian Kirei dengan pakaian seksi dan sangat terbuka, dia sengaja melakukan itu agar Kirei bisa di terima bekerja di bar tersebut dan berharap akan ada bos kaya raya seperti tuan Arfanka lagi yang bisa membeli Kirei nantinya.


"Kau harus memakai pakaian yang terbuka jika ingin memikat banyak pria kaya, kau harus mau pergi ke bar itu dan menghasilkan banyak uang untukku!" ucap Tini dengan kejamnya.


Meski Kirei terus berontak dan berusaha kabur dari ibunya tetap saja kekuatan Kirei yang masih berusia 14 tahun tentu tidak sebanding dengan kekuatan sang ibu juga kakak laki-lakinya Reno yang turut memaksa Kirei juga memegangi tangannya untuk menahan dia agar tidak kabur saat itu.


"Tidak lepaskan aku... Bu aku mohon aku akan bekerja apapun itu, aku akan kerja keras di toko swalayan menggantikan kakak dan kerja di cafe tapi aku tidak ingin ke bar dan melayani pria mata keranjang disana, aku mohon kepadamu Bu tolong kasihani aku, aku ini putrimu Bu aku mohon" ucap Kirei yang terus memohon sambil mengeluarkan air mata yang berlinang membasahi pipinya saat itu.


Memang sebelumnya semenjak kepergian Klara, Kirei lah yang di jadikan tulang punggung keluarga oleh sang ibu juga kakak laki-lakinya bahkan Kirei sudah putus sekolah saat ini karena dia tidak memiliki waktu juga uang untuk membayarnya, meski sang guru datang ke rumah beberapa kali untuk menanyakan alasan Kirei yang putus sekolah secara tiba-tiba, tapi ibunya selalu mengusir guru itu dengan cepat.


Bahkan ibu Tini tidak segan untuk membentak sang guru dan melontarkan ancaman kepadanya agar tidak berani datang kembali ke rumahnya untuk menemui Kirei dan terus memaksa untuk kembali ke sekolah karena semua itu percuma sebab dia akan tetap menyuruh Kirei urus sekolah dan mencari uang yang sangat banyak, namun sayangnya uang yang di hasilkan dari pekerjaan patuh waktu di toko swalayan juga di cafe itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kedua orang yang haus akan uang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2