
"Aishh ..sini biar aku saja yang mengobati lukanya sendiri, ahhhh kau memang banyak sekali bicara, apa kau sudah berani seperti itu kepadaku sekarang hah?" Balas tuan Arfanka yang semakin terlihat aneh.
Tapi karena dia bos aku tidak bisa melakukan apapun selain dari pasrah menerima semua keanehan yang aku terima darinya, hingga dia yang mengobati luka di tangannya sendiri dan merasa kesal sendiri lagi karena kesulitan untuk mengobati luka itu sendirian.
Aku tentu saja tidak bisa diam melihat tuan Arfanka yang terus menggerutu kesal karena dia kesulitan mengobati luka di sikutnya saat itu.
"Aishh....dasar luka sialan, bagaimana bisa aku sulit menjangkaunya, arkhh...sudahlah tidak perlu di obati juga tidak masalah!" Gerutu tuan Arfanka samb langsung saja menaruh obatnya sembarangan begitu saja.
Aku menarik nafas panjang saat itu lalu segera mengambil kembali obatnya dan mulai bicara dengan baik-baik kepadanya, aku tahu orang keras sepertinya mungkin tidak bisa di lawan dengan kekerasan juga dan aku berusaha untuk bisa bersikap lembut dan baik kepadanya agar dia juga bisa merasakan ketulusan dan kebaikan yang aku coba untuk berikan untuknya.
Bukan bermaksud apapun aku hanya merasa bahwa aku perlu berbalas budi untuk membalas semua kebaikan yang pernah dia berikan kepada aku dan adikku sebelumnya, apalagi semua kebaikannya itu benar-benar tidak bisa aku ukur dia bukan hanya menyelamatkan adikku saja, dia menerima aku di kediamannya dengan baik walau aku seorang pelayan saja.
Memberikan aku kamar tidur yang bagus dan layak, makan yang cukup dan mendapatkan fasilitas yang sama dengan yang dia gunakan, dia bahkan membiayai pengobatan adikku di rumah sakit jiwa, yang jumlahnya tidak tercapai oleh diriku sendiri.
Maka dari itu menurutku hanya mengobati dia saat tangannya terluka mungkin itu hanyalah bentuk kecil caraku berterimakasih kepada dia, terlebih dia bisa terluka seperti itu juga karena menyelamatkan aku juga, sehingga rasanya aku sangat tidak tahu diri jika bersikap dingin atau sama sekali tidak memperdulikannya setelah dia rela membuat dirinya terluka hanya untuk menyelamatkan aku.
"Tuan...sini biar aku saja yang mengobati luka di tanganmu" ucapku berbicara dengan nada yang lebih rendah kepadanya.
Aku pikir hanya dengan cara lembutlah tuan Arfanka bisa di redakan, sehingga aku menatap dia sambil tersenyum dan meminta dirinya agar mengulurkan tangannya tersebut kepadaku.
Namun tetap saja saat itu tuan Arfanka yang terlihat masih cukup kesal dia malah menolak aku dengan cepat.
"Sudahlah aku baik-baik saja tidak perlu mengobatinya lagi" balas tuan Arfanka saat itu.
"Tuan ...lukanya akan memburuk jika di biarkan terbuka tanpa di obati seperti itu, sudah sini aku bantu kau untuk mengobatinya, lagi pula kan kau terluka karena menyelamatkan aku juga, jadi izin aku untuk mengobatinya, sini sudah kau hanya perlu diam saja dan biarkan aku yang mengobatinya, ini tidak akan terlalu sakit kok kau jangan terlalu tegang seperti itu" balasku kepadanya.
"Tidak...siapa juga yang tegang" balas tuan Arfanka dengan mengerutkan kedua alisnya saat itu.
Tapi walaupun dia membalas ucapanku dengan nada yang kesal dan cemberut seperti itu setidaknya dia mau mengulurkan tangannya dan membiarkan aku untuk mengobati luka di sikutnya sampai akhir aku sudah selesai menempelkan plester tersebut dan semuanya sudah aman sekarang, dia juga terlihat lebih baik.
"Sudah selesai, tidak lama bukan?" Balasku kepadanya.
Tuan Arfanka hanya berdecak pelan menanggapi ucapanku saat itu dan dia langsung saja mencoba memeriksa hasil dari pekerjaan aku yang mengobati lukanya seakan dia tidak mempercayai bahwa aku bisa mengobati luka di sikutnya dengan benar dan teliti.
Tapi aku juga tidak keberatan dengan hal itu karena aku sendiri merasa sangat percaya diri dengan apa yang aku lakukan padanya, itu hanya mengobati luka saja tidak terlalu masalah untukku jadi aku hanya tersenyum saja melihat dia saat itu.
Kini aku dan tuan Arfanka hanya bisa duduk di samping jalan sambil menunggu pak Tino yang akan membawakan bensinnya untuk mobil kami yang mogok, sedangkan disaat kami tengah menunggu pak Tino dan sama sekali tidak ada percakapan lagi diantara aku dan dia, tiba-tiba saja aku melihat sahabatku Amel yang dulu pernah bekerja di tempat yang sama denganku di salah satu supermarket.
Saat melihat dari kejauhan berjalan sendiri dengan membawa banyak barang di tangannya, aku sangat kaget dan betapa senangnya aku ketika bisa melihat dia lagi.
Aku berniat untuk menyapanya langsung saat itu bahkan aku sudah bangkit berdiri untuk menyapa dia namun disaat aku baru saja melangkahkan sebelah kakiku aku baru saja tersadar bahwa aku sekarang sudah tinggal di kediaman tuan Arfanka dan aku sama sekali tidak bisa menemui Amel dalam keadaan seperti ini.
"Aahh....bukankah itu Amel...." Batinku saat itu.
"Tunggu....aku sedang bersama tuan Arfanka dan aku sekarang tidak bisa bekerja lagi di supermarket itu lagi apa yang harus aku lakukan saat menyapanya nanti, apa aku masih harus menyapa dia atau tidak?" Batinku lagi dan aku hanya bisa kembali duduk sambil menghembuskan nafas lesu dan membalikkan badanku menatap ke arah tuan Arfanka untuk bersembunyi dari Amel.
Tuan Arfanka sendiri yang melihat tingkah anehku dia langsung saja bertanya kepadaku dengan cepat saat itu.
"Heh...apa yang terjadi denganmu, kenapa kau tiba-tiba terlihat senang dan berdiri lalu sekarang tiba-tiba duduk lagi dan murung seperti ini, apa kau sudah gila ya?" Ucap tuan Arfanka kepadaku dengan wajahnya yang terlihat aneh.
"Aku hanya merasa bingung saja tuan, tadi aku melihat temanku berjalan disana, aku ingin menyapanya tapi aku tidak berani" balasku kepada tuan Arfanka saat itu.
Tuan Arfanka langsung menatap ke belakang dimana aku menunjukkan tempat aku melihat Amel sebelumnya namun dia sama sekali tidak melihat keberadaan siapapun disana sehingga langsung saja malah membentak aku dan mengira aku berbohong kepadanya.
"Heh....apa kau benar-benar sudah gila yah, coba kau lihat ke sana memangnya siapa temanmu itu hah! Hantu? Jelas-jelas tidak ada siapapun disana apa yang kau lihat" balas tuan Arfanka membuat aku sangat kaget mendengarnya.
Aku langsung memebalalakkan kedua mataku dengan lebar dan segera membalikkan badan ke belakang mencari keberadaan Amel dan memastikannya saat itu juga, tapi ternyata apa yang dikatakan oleh tuan Arfanka memang benar, tidak ada siapapun disana bahkan aku sendiri merasa kaget ketika melihat sebab sebelumnya jelas sekali aku benar-benar melihat Anet berjalan disana dengan membawa banyak barang di tangannya.
"Hah?....ke..kemana Amel pergi? Tuan, kau harus mempercayai aku tadi aku benar-benar melihat sahabatku disana, dia berjalan dengan membawa banyak barang di tangannya, dia membawa kantong kresek berwarna putih yang cukup besar, memakai celana jeans hitam juga kaus berwarna putih, aku masih mengingat semua itu dengan jelas, tidak mungkin jika aku salah lihat" ucapku menjelaskan kepada tuan Arfanka.
Sayangnya dia tetap saja tidak mempercayai aku dan malah mengabaikan aku karena saat itu kebetulan sekali pak Tino sudah sampai disana, dan membawa bensin di tangannya.
"Ya...ya...sudahlah terserah kau saja, aku tidak perduli. Pak Tino sudah sampai kita harus segera ke kantor secepatnya" balas tuan Arfanka saat itu.
__ADS_1
Aku langsung menoleh ke samping ternyata memang pak Tino sudah sampai disana dengan memakai mobil lain milik tuan Arfanka juga saat itu.
Pak Tino segera memasukkan bensinnya ke dalam mobil yang dia pakai saat itu lalu setelah selesai dia segera menyuruh aku untuk kembali masuk ke dalam mobilnya tersebut dengan cepat.
Tapi aku sendiri justru masih saja merasa heran dan bingung karena tadi aku sungguh melihat Amel dengan mata kepalaku sendiri sangat jelas tapi dia bisa tiba-tiba saja menghilang seperti itu membuat aku merasa sangat aneh dan penasaran sekali kemana perginya dia saat itu.
Karena aku terus memikirkan hal tersebut aku sampai tidak sadar jika saat itu tuan Arfanka sudah berteriak memanggil aku beberapa kali dan menyuruh aku agar segera masuk ke dalam mobilnya dengan cepat, sampai karena aku tidak mendengarkan panggilannya berberapa kali itu membuat tuan Arfanka kesal dan dia langsung membentak aku dengan sangat keras.
"Klara....apa kau tuli? Ayo cepat masuk atau aku akan meninggalkan kau disini sendiri" bentak tuan Arfanka sangat kencang saat itu.
"AA..ahhhh..iya..iya tuan, aku .asuk sekarang" balasku sambil segera terburu-buru masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan sedikit tidak enak kepadanya, tuan Arfanka juga terlihat kesal kepadaku tapi aku tidak bisa berbuat apapun juga.
Sampai ketika kami sudah berada di kantor aku tidak tahu apa yang harus aku kerjakan saat itu sedangkan tuan Arfanka sendiri di sibukkan oleh pekerja dia yang terlihat begitu menumpuk di atas mejanya dia juga terlihat beberapa kali memijat keningnya yang terlihat sangat pusing aku hanya duduk diam saja di dalam ruangan itu melihat dia bekerja tanpa henti seperti itu sungguh merasa sangat tidak nyaman, sebab aku bukan tipe orang yang terbiasa banyak diam.
Aku pun memberanikan diri kepada tuan Arfanka untuk menawarkan bantuan kepadanya saat itu, karena aku melihat dia terlihat cukup kesulitan dan kesal dengan pekerjaannya tersebut.
"Eummm tuan apa ada yang bisa aku bantu, kau terlihat memiliki banyak pekerjaan siapa tahu aku bisa membantumu sebagian" ucapku kepadanya dengan penuh keberanian,
"Tidak perlu kau diam saja disana" balas tuan Arfanka sangat dingin bahkan wajahnya sama sekali tidak menatap ke arahku,
"Tapi tuan aku merasa tidak nyaman jika hanya berdiam diri saja disini tanpa melakukan apapun" balasku mengatakan keresahan yang aku rasakan.
"Ya sudah sana kau pergi pada Jeno saja, dia mungkin kesulitan sekarang, kau bantu saja apa yang dia minta, sana pergi jangan mengganggu aku lagi" balas tuan Arfanka kepadaku.
Aku pun hanya mengangguk patuh dan segera pergi dari ruangan itu menuju ruangan tuan Jeno yang merupakan seorang sekretaris di perusahaan tersebut.
Dia adalah tangan kanan tuan Arfanka sekaligus sahabat dia yang selalu menemani usahanya sejak nol hingga sebesar sekarang ini, aku tahu tuan Arfanka sangat dekat dengan tuan Jeno sehingga aku pikir aku harus menjaga sikapku dengan baik kepada sekretaris Jeno sebab aku juga takut dia akan melaporkan aku pada tuan Arfanka jika saja aku membuatnya kesulitan apalagi mengacaukan pekerjaannya.
Aku pergi ke ruangan sekretaris Jeno dan mulai mengetuk pintu ruangannya beberapa kali sampai mendapatkan sahutan dari dalam ketika dia mengijinkan aku untuk masuk.
Aku pikir pada awalnya aku perlu memperkenalkan diriku dahulu pada sekretariat Jeno namun rupanya memang tidak perlu dia sudah mengenali aku.
"Kau....untuk apa kamu kemari Klara?" Tanya sekretaris Jeno kepadaku begitu saja.
"Ehh...tuan darimana kamu tahu namaku?" Tanyaku kepadanya,
"Tentu saja aku tahu semua nama wanita yang ada di sekeliling Arfanka, sudah jangan banyak basa basi apa maksud kedatanganmu kemari?" Tanya sekretaris Jeno padaku lagi.
Melihat dia yang sama persis memiliki sikap seperti tuan Arfanka, aku benar-benar agak kesulitan dan canggung untuk bicara dengannya namun karena sekarang ini aku sudah terlanjur masuk ke dalam ruangan dia dan sudah menampakkan wajahku padanya tentu saja aku harus mengatakan semua itu.
"Begini tuan aku hanya di minta oleh tuan Arfanka untuk membantu pekerjaanmu, kau bisa menyuruhku apa saja" balas ku kepadanya sambil tersenyum kecil,
Dia terlihat mengerutkan kedua alisnya untuk beberapa saat menatap heran kepadaku dan langsung bangkit dari kursi kebesaran, bahkan dia berjalan ke arahku sambil terus memperhatikan aku dari atas hingga bawah dan kembali lagi ke atas, dia terus berjalan memutari aku, membuat aku merasa tidak nyaman dengan apa yang dia lakukan saat itu.
"Tuan apa yang kau lakukan, kenapa kau memperhatikan aku sampai seperti itu, memangnya apa yang salah denganku?" Tanyaku kepadanya dengan cepat dan sangat penasaran,
"Tidak ada...tidak ada yang salah denganmu sama sekali, baiklah kau bisa mulai membantu aku menyusun berkas ini keatas sana, setelah itu kau bisa tolong berikan sofa dan meja tamuku, baru nanti jika kau sudah selesai melakukan semuanya aku akan memberimu tugas lain" balas sekretaris Jeno itu kepadaku.
Aku hanya mengangguk mengerti dan segera melakukan apa yang dia pinta.
Segera aku membawa beberapa berkas yang menumpuk di atas meja sekretaris Jeno lalu segera menyusunnya pada tak berkas yang ada di belakang meja tempat sekretaris Jeno bekerja, dia juga kembali bekerja dengan fokus dan serius, aku tidak sengaja melihat wajahnya yang tengah mengerjakan beberapa hal di depan komputernya saat itu.
Dan ketika melihat wajah dia yang serius seperti itu, aku pikir memang tidak ada bedanya sama sekali antara dia dengan tuan Arfanka, mereka sama-sama bekerja dengan wajah yang sangat serius bahkan kerutan di dahi mereka terlihat sangat jelas.
"Haha...ternyata orang kantoran seperti mereybusa memiliki kerutan di dahi juga, wajahnya sama persis memang sahabat sejati sepertinya" batinku sambil menahan senyum sendiri.
Aku sudah selesai merapihkan semua berkas tersebut dan segera hendak pergi keluar mengambil alat untuk membersihkan meja dan sofa disana, namun saat aku baru saja hendak pergi sekretaris Jeno memanggilku dan dia meminta aku untuk membuatkan kopi untuknya saat itu.
"Ehhh ....tunggu Klara, mau kemana kau?" Tanya sekretaris Jeno padaku saat itu,
"Aku mau ke dapat untuk mengambil alat pembersih meja" balasku kepadanya, dengan nada bicara yang dingin karena aku sudah sangat lelah bekerja.
"Kalau begitu tolong buatkan aku kopi, kau kan sekalian akan kembali lagi kesini bukan" balas sekretaris Jeno padaku.
__ADS_1
"Baik tuan" balasku kepadanya.
Aku mengangguk dan segera berbalik lagi tetapi di saat baru saja aku mau melangkahkan kakiku lagi, dia kembali memanggil aku membuat aku tidak jadi pergi lagi dan harus berbalik ke arahnya dengan segera.
"Ehhh...tunggu Klara!" Ucap sekretaris Jeno,
"Ada apa lagi sekretaris Jeno?" Tanyaku kepadanya dengan wajah yang lesu,
"Jangan lupa dengan cemilannya" ucapnya yang langsung aku anggukkan dengan cepat.
Saat itu aku sudah mau pergi lagi tetapi lagi dan lagi sekretaris Jeno memanggil aku untuk yang kesekian kalinya setelah dia meminta aku membuatkannya kopi, menyampaikan pesan pada tuan Arfanka juga memintaku membawakan cemilan juga untuknya aku sangat jengkel karena tidak kunjung pergi juga dari tempat itu sebab sekretaris Jeno yang terus memanggil aku lagi dan lagi.
Hingga kali ini ketika dia memanggil aku lagi, aku langsung saja membentak dia dengan keras sebab telah kehabisan kesabaran dalam menghadapinya.
"Klara tunggu dulu" teriaknya lagi memanggilku.
"Sekretaris Jeno ada apa lagi kau terus memanggil aku berkali-kali?" Bentakku kepadanya dengan nafas menderu dan emosi yang menggebu,
"Ehhh... apa-apaan kau ini, apa kau berani marah denganku, ingat siapa yang meminta pekerjaan ke sini dan mengatakan bahwa aku bisa menyuruhmu melakukan apapun, jangan lupakan itu" balas sekretaris Jeno yang membuat aku semakin kesal.
Aku mengeratkan gigiku dengan kuat dan berusaha untuk tetap mengendalikan diriku di hadapannya hingga aku mulai berbicara lagi kepada dia menanyakan hal apa lagi yang dia butuhkan.
"Huuhh....baiklah apa lagi yang kau butuhkan sekretaris Jeno?" Tanyaku kepadanya dengan wajah yang sangat kesal.
"Tidak ada kau marah seperti itu membuat aku sudah lupa apa yang akan aku perintahkan kepadamu" balas sekretaris Jeno membuat aku sangat stress dalam menghadapinya saat itu.
"Wahhhh....wahh....kau benar-benar ya sekretaris Jeno, aishhh...aku ingin sekali menjambak rambutnya itu" gerutuku pelan saat itu sambil terus menghentakkan kakiku ke lantai dan mengepalkan kedua tanganku dengan sangat kuat.
Saat itu ku pikir gerutuanku sudah sangat pelan namun rupanya sekretaris Jeno masih bisa mendengar suara gerutuanku tersebut.
"Heh...apa yang kau katakan barusan, apa kau merasa kesal dan menggerutu tidak terima denganku hah?" ucap dia kepadaku.
Aku ingin mengatakan iya dan langsung saja memarahi dia sepuasnya saat itu juga namun aku masih sadar bahwa dia adalah sekretaris tuan Arfanka sehingga aku masih berusaha menahan diriku sendiri saat itu dan langsung saja mengatakan bahwa aku tidak seperti yang dia kira.
"Aahh...tidak....sama sekali tidak aku tidak menggerutu kok, itu hanya suara perutku saja" balasku berbohong mencari alasan kepadanya.
Aku ingin marah sekali kepadanya saat itu tapi aku tidak bisa melakukannya hanya karena dia adalah sekretaris Jeno dan memang aku sendiri yang mengatakan kepadanya bahwa dia bisa menyuruh aku apapun saat itu.
Aku benar-benar menyesal sudah mengatakan hal tersebut kepadanya, dan jika tahu akan begini aku lebih suka tinggal berdiam diri di dalam ruangan tuan Arfanka meski tidak melakukan apapun seterusnya.
Segera aku pergi dari sana dengan membanting pintu ruangan sekretaris Jeno cukup keras saat itu, bahkan hal tersebut membuat sekretaris Jeno berteriak memanggil namaku.
"Klara hati-hati dengan pintunya itu sangat mahal aishhh kau berani sekali membantingnya awas kau!" Teriak sekretaris Jeno kepadaku.
Aku sama sekali tidak perduli dengan ancaman darinya dan terus saja berjalan menuju ke ruangan tuan Arfanka untuk menyampaikan pesan dari sekretaris Jeno terlebih dahulu sebelum aku lupa dengan pesan tersebut.
Aku masuk ke dalam ruangan tuan Arfanka tanpa mengetuk pintu lebih dulu karena aku sangat kesal dan emosi saat itu, segera aku menghadap tuan Arfanka yang terlihat menatapku dengan tatapan heran sebab aku tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangannya dengan penuh keringat juga nafas yang menderu saat itu.
"Ehhhh...ada apa denganmu?" Tanya tuan Arfanka kepadaku saat itu,
"Tuan.... sekretaris Jeno mengatakan bahwa jadwal meeting hari ini sudah dia selesaikan semuanya dan kau hanya akan menghadiri makan malam dengan klien saja nanti malam, dia akan mengirimi jadwalnya kepadamu lewat email, terimakasih" ucapku begitu saja lalu membungkuk dan langsung pergi dari ruangan tuan Arfanka dengan cepat.
Aku tidak bisa berlama-lama tinggal di sana dengan emosi yang meledak-ledak di dalam hatiku tidak karuan seperti ini, rasanya aku benar-benar akan meledak sampai ketika aku keluar dari ruangan tuan Arfanka, aku tidak bisa menahan emosiku lagi lalu langsung saja berteriak menjerik sangat keras sampai membuat banyak karyawan lain di kantor itu menatap aneh kepadaku.
"Aaaaarrrtkkkkkhhhhh...dasar sekretaris Jeno sialan!" Teriakku sangat keras dan memakai sekretaris Jeno dengan keras.
Bahkan teriakkan dari Klara itu membuat tuan Arfanka sendiri sangat kaget ketika mendengarnya dan dia langsung berjalan keluar dari ruangannya untuk melihat Klara yang berteriak menggerutu kepada sahabatnya Jeno.
"Hah....apa yang Jeno lakukan kepada dia sampai marah seperti itu dan merutuki namanya sangat keras, aahhhh dia pasti mengerjai Klara, dasar Jeno" ucap tuan Arfanka merasa heran dan menggelengkan kepala melihat Klara berjalan dengan penuh emosi menuju dapur saat itu.
Setelah itu aku barulah bisa merasa lebih baik dan merapihkan pakaiankunyang sedikit kusut lalu pergi ke dapur untuk membuatkan dia kopi yang dia inginkan sebelumnya, aku menambahkan banyak sekali garam ke dalamnya bukanlah gula karena sangat kesal dan ingin memberikan pembalasan yang setimpal kepada orang yang sudah mempermainkan aku sebelumnya.
"Persetan denganmu sekretaris Jeno aku sama sekali tidak perduli meski kau akan melaporkan aku pada tuan Arfanka atau kau akan marah denganku, aku tidak perduli sekarang eughhh tambah lagi tambah lagi biar dia tahu rasa!" gerutuku sambil terus memasukkan banyak garam ke dalamnya.
__ADS_1