Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Tidak Ada Cara Lain


__ADS_3

"Tok....tok....tok...tuan dokternya sudah tiba, tuan Arfanka...." Teriak sekretaris Jeno memanggilnya dari luar.


"Astaga! Kenapa dia datang di waktu yang tidak tepat, aishhh... Gadis ini benar-benar menyusahkan ku aahh aku harus segera menyembunyikan semua pakaian sialannya itu" ucap tuan Arfanka sambil segera memunguti pakaian milik Klara yang berserakan di lantainya kala itu.


Dia pun segera menyembunyikan semuanya barulah pergi membukakan pintu untuk sekretaris Jeno dengan secepatnya karena saat itu terdengar sekretaris Jeno terus saja mengetuk pintu dengan cukup keras.


"Tuan... Apa kau ada di dalam, tuan dokternya sudah tiba, apa kau baik-baik saja?" Teriak sekretaris Jeno yang mencemaskan keadaan tuan Arfanka yang juga merupakan sahabat dia sejak kecil.


"Aahhh... Ayo masuk aku tadi sedang ada di kamar mandi jadi tidak terlalu mendengarmu, ayo masuk" ucap tuan Arfanka sambil segera mempersilahkan sekretaris Jeno juga sang dokter untuk masuk ke dalam dengan cepat.


Saat melihat kondisi Klara yang masih terlihat kepanasan dan wajahnya juga memerah, dia juga terlihat terus bergerak dan berguling kesana kemari, melihat itu sekretaris Jeno juga kaget dan langsung membelalakkan mata sambil menutupi mulut dia yang terbuka dengan kedua tangannya saat pertama kali melihat kondisi Klara yang cukup buruk saat itu.


"Oh .. astaga tuan ada apa dengannya, kenapa dia bisa sampai seperti ini?" Tanya sekretaris Jeno dengan kaget,


"Aku juga tidak tahu, dokter cepatlah kau periksa dia, aku rasa dia memakan sesuatu yang salah" ujar tuan Arfanka dengan cepat.


Sang dokter mengangguk dan segera memeriksanya namun disaat dokter itu hendak memeriksa keadaan Klara justru Klara malah memegangi tangan sang dokter dengan erat dan terus bergumam tidak jelas.


"Tolong aku, aku tidak tahan lagi, aaahhh ini terlalu panas" ucap Klara yang terus menggeliat dan dia hampir saja akan melepaskan pakaiannya lagi saat itu.

__ADS_1


Sehingga dokter juga langsung terperanjat ke belakang dan melepaskan tangan Klara yang memeganginya, dokter sudah memeriksa suhu tubuh Klara dan keadaannya saat itu, dia juga sangat kaget setelah mengetahui bahwa Klara ternyata berada dalam pengaruh obat perangsang dengan dosis yang tinggi, hingga tubuhnya tidak dapat melawan rasa keinginannya untuk melakukan hubungan suami istri saat itu.


"E..e..ehh... Ada apa dengannya, dia akan melepaskan pakaiannya aishh tutupi dia dengan cepat" ucap tuan Arfanka yang sangat panik saat itu.


Dia pun langsung berlari dengan cepat ke arah Klara dan langsung saja menutupi tubuh Klara dengan selimut dan dia menahan selimut itu dengan kuat meski Klara terus berontak saat itu.


"Dokter bagaimana ini, apa tidak ada yang bisa kau lakukan untuk meredakannya atau menghilangkan efek obatnya dengan cepat?" Tanya tuan Arfanka sambil menatap sangat panik saat itu.


Begitu juga dengan sekeras Jeno yang ada disana, dia juga turun meminta bantuan dan ikut mendesak dokter tersebut untuk segera memberikan obat kepada Klara, sebelum dia semakin menjadi gila nantinya.


Namun sayangnya dokter itu justru malah terus terdiam dengan wajahnya yang terlihat mulai pucat, sehingga hal itu membuat sekretaris Jeno semakin panik begitu pun dengan tuan Arfanka yang juga menatap dengan tegang saat itu.


"Ma..ma..maafkan saya tuan, tapi memang tidak ada obat pereda untuk hal seperti ini kecuali dia memang harus melakukan hal tersebut dengan seorang pria, setidaknya untuk beberapa hal intim agar efek obatnya melemah dan baru saya bisa menyuntikan pereda nya" ujar sang dokter saat itu.


Seketika tuan Arfanka dan sekretaris Jeno kaget membelalakkan kedua mata mereka bersamaan dan sekretaris Jeno berteriak cukup keras saat itu secara spontan.


"APA? Ba.. bagaimana bisa tidak ada obatnya dan lagi pula siapa yang akan melakukan hal itu dengannya, ohhh astaga apa tidak ada cara lain lagi dokter?" Tanya sekretaris Jeno sangat kebingungan dan panik tidak karuan.


Sedangkan tuan Arfanka diam membisu dengan mengerutkan dahinya dan dia menatap ke arah Klara yang seperti tengah menahan sakit yang luar biasa saat itu.

__ADS_1


Dokter juga menggelengkan kepala kepada sekretaris Jeno, karena memang dia menduga dosis obat yang di makan oleh Klara terlalu banyak bahkan itu bisa menyebabkan kematian untuknya jika dia tidak secepatnya di redakan saat ini juga.


"Maafkan saya tuan dan sekretaris Jeno, tapi memang dosis yang dia makan sepertinya sudah menyebar ke seluruh tubuhnya dan dosis itu mungkin diatas rata-rata pemakaian yang seharusnya sehingga jika tidak meredakannya dengan cara itu mungkin saja nyawanya juga tidak akan tertolong lagi" tambah dokter menjelaskan.


Sekretaris Jeno langsung memalingkan pandangan dan dia benar-benar merasa sangat tidak tega dengan gadis itu, dia juga bisa melihat dengan jelas bahwa gadis itu terlihat menahan rasa sakit yang sangat luar biasa sehingga setelah memikirkan dengan matang akhirnya dia pun berinisiatif sendiri untuk menolong gadis itu dengan cara yang diucapkan oleh dokter sebelumnya, namun saat sekretaris Jeno mengatakannya seketika tuan Arfanka langsung menatap tajam ke arahnya sampai membuat seorang sekretaris Jeno gugup dan takut.


"Baiklah dokter biar aku saja yang melakukannya setelah itu aku juga akan menikahinya agar dia bisa selamat" ucap sekretaris Jeno dengan beraninya.


"Heh... Jeno siapa yang meminta kau melakukan itu kepadanya, kalian berdua cepat keluar sekarang juga, aku punya cara lain untuk menyembuhkan gadis sialan ini!" Ucap tuan Arfanka dengan tatapan matanya yang tajam,


"Ta..tapi Arfanka dia akan kehilangan nyawanya dan dokter sudah bilang tidak ada cara lain yang bisa di lakukan selain dari..." Ucap sekretaris Jeno tertahan.


Karena tuan Arfanka langsung saja memotong ucapannya dengan cepat begitu saja.


"Sekalipun tidak ada cara lain aku tidak akan mengijinkan siapapun menyentuhnya dan hanya aku yang akan melakukannya, jadi sekarang keluarlah kalian secepatnya, sebelum aku sendiri yang menendang kalian dari sini!" Ucap tuan Arfanka sangat membuat sekretaris Jeno kaget dan dia langsung segera keluar mencari tangan sang dokter dengan cepat.


"Ba..ba.. baiklah kalau begitu, dokter ayo cepat kita keluar biarkan dia menyelesaikannya sendiri, kita bisa mempercayai hal itu kepadanya, ayo cepat sok" ucap sekretaris Jeno yang sudah mengerti dengan ancaman dan tatapan tajam yang di berikan oleh tuan Arfanka saat itu.


Mereka segera keluar dengan cepat dan setelah berada di luar kamar juga tuan Arfanka yang langsung mengunci pintunya barulah sekretaris Jeno benar-benar merasa bingung dan heran yang bercampur menjadi satu saat itu.

__ADS_1


__ADS_2