
Dengan tangan yang gemetar cukup hebat aku berusaha meraih sandwich yang di ambilkan oleh tuan Arfanka saat itu, aku terus mengangkat tanganku dan meraih gagang garfu tersebut hingga ketika aku sudah mendapatkannya tuan Arfanka langsung saja kembali mendesak aku lagi untuk segera memakan sandwich tersebut.
"Nah...sekarang ayo makan, cepat masukkan sandwich spesial buatanmu itu ke dalam mulutmu, ayo cepat!" Ujar Tuan Arfanka yang mendesak aku dengan keras.
Entah kenapa saat itu aku merasa bahwa dia seperti sudah mengetahui semua perbuatan yang aku lakukan kepada roti lapis miliknya tersebut sampai dia harus memaksa aku sendiri yang memakannya dengan cara yang begitu kasar saat itu.
Aku menatap dengan perasaan yang resah dan gelisah tidak karuan ke arah roti sandwich yang ada di hadapan tuan Arfanka saat itu, aku benar-benar sangat takut ketika hendak menyentuh roti lapis yang sudah aku masukkan banyak sekali saus juga potongan cabai, aku benar-benar merasa sangat takut dan gugup sekali sekarang.
"Ya...tuhan tolong selamatkan lambungku, aku tidak pernah memakan makanan sepedas itu, ohhh lambungku yang tersayang bagaimana ini" batinku terus saja merasa sangat resah dan sedih sendiri.
Sedangkan disisi lain ketika aku melirik ke arah tuan Arfanka dia justru malah menatapku dengan tatapan datar dan mendesak sambil menaikkan kedua alisnya membuat aku kesulitan menelan salivaku sendiri karena pandangannya yang sangat menyeramkan itu.
"Tunggu apa lagi, apa kau mau aku yang menyuapi ke mulutmu itu?" Ujar tuan Arfanka yang membuat aku langsung membelalakkan mataku sangat lebar.
Aku sangat kaget mendengar dia menawarkan diri untuk menyuapi sandwich tersebut ke dalam mulutku, aku pikir jika dia yang menyuapiku kesannya bukan romantis atau apa, tetapi akan menjadi kejam sebab aku takut dia akan memasukkan potongan yang besar ke dalam mulutku saat itu dan aku sungguh merasa sangat takut dengannya saat itu.
Maka dari itu saat dia menawarkan diri untuk menyuapiku aku langsung saja menggelengkan kepala dengan cepat dan langsung menolak dia dengan sekeras yang aku bisa saat itu juga.
"Oh...tidak....tidak tuan, itu sangat tidak di perlukan aku kan memiliki tangan sendiri dan aku jelas bisa mengambil sandwich tersebut sendiri kau tidak perlu repot-repot melakukan hal seperti itu untukku, sekarang aku akan segera mengambilnya" ucapku yang dengan cepat menolak tawaran darinya saat itu.
"Ya sudah, ayo cepat makan, ayo makan" balas tuan Arfanka yang semakin mendesak aku saja.
Aku perlahan mengulurkan tanganku dan hendak mengambil makanan itu secara pelan dan hati-hati, meski tanganku terlihat begitu gemetaran saat itu tapi aku sungguh tidak bisa melakukan apapun lagi selain memang harus memakan sandwich tersebut di hadapan tuan Arfanka.
Saat itu aku benar-benar merasa di jebak dengan jebakkan yang aku buat sendiri, aku sungguh merasa sangat kecewa dan menyesal sudah berbuat seperti itu kepada tuan Arfanka yang pada akhirnya malah aku sendiri yang harus merasakan akibatnya sendiri.
Aku mulai memasukkan sandwich tersebut secara perlahan ke dalam mulutku dan aku mulai menggigitnya sedikit tapi tuan Arfanka tiba-tiba saja langsung mendorong sandwich tersebut cukup dalam sampai membuat aku mendapatkan gigitan yang cukup besar saat itu.
Aku terpaksa mulai mengunyahnya dan rasanya gigiku mulai mengigit beberapa potongan cabai dan lidahku langsung saja bisa merasakan kepedasan dari lidah tersebut, aku benar-benar merasa mulutku begitu terbakar dan wajahku mulai semakin memerah secara perlahan tapi pasti saat itu hingga hanya dalam beberapa kali kunyahan saja aku sungguh sudah sangat tidak tahan lagi.
Dan langsung saja aku memuntahkannya sambil berlari ke dapur mengeluarkan semua makanan itu dengan perasaan yang sangat tidak karuan dan mulut yang rasanya sudah terbakar sangat panas sekali.
"Huaa.....howek....howekk.....aaahhh panas sekali, aduh....pedas....pedas...ahh" ucapku sambil terus mengipasi mulutku yang terbuka sangat lebar saat itu sambil aku terus mencari air kesana kemari dan langsung saja meneguk air sebanyak yang aku bisa untuk meredakan rasa pedas dan panas di lidah juga di dalam mulutku saat itu.
Namun sialnya meski aku sudah meminum air yang cukup banyak rasa pedas dan panasnya itu tetap saja tidak mau hilang justru aku malah lebih bisa merasaknnya lagi setelah meminum cukup banyak air saat itu.
__ADS_1
Sedangkan tuan Arfanka yang mihatku kepedasan dia malah tertawa dengan begitu puasnya dan terus meledeki aku dengan perkataan darinya yang sangat menyebalkan untuk aku dengar saat itu.
"Ahaha....ada apa denganmu, kau bilang di dalam sandwich spesial buatanmu itu tidak kau masukkan apapun tapi buktinya sekarang kau malah kepedasan seperti itu, haha...itulah balasannya jika kau mencoba mengerjaiku" ucap tuan Arfanka yang malah terus memuaskan diriku sendiri.
Aku sungguh merasa sangat kesal dan tidak bisa melakukan apapun lagi saat ini sehingga aku hanya bisa merengek merasakan rasa pedas yang teramat sangat di dalam mulutku saat itu, ini benar-benar sangat pedas dan panas mungkin karena aku memang tidak terlalu suka pedas bahkan aku hampir tidak pernah memakan makanan pedas sepanjang hidupku selama ini, sehingga makanan tadi cukup menyiksa aku dan mulutku sangat kejam.
Aku tidak bisa berkata-kata apapun lagi ataupun untuk melawan tuan Arfanka karena memang pada kenyataannya memang akulah yang salah sebab sudah berniat mengerjai dia dengan hal tersebut jadi aku tidak terlalu keberatan disaat aku sendiri lah yang justru malah mendapatkan kesialan tersebut.
"Huaaa...ini panas sekali hah...hah....hah" ucapku sambil terus mengipasi mulutku yang terbuka saat itu.
Hingga tidak lama tiba-tiba saja tuan Arfanka memberikan sepotong lemon kepadaku yang sudah di iris tipis olehnya saat itu.
"Ini makanlah, itu bisa meredakan mulutmu yang kepedasan" ucapnya sambil menjulurkan tangannya ke depan wajahku saat itu.
Aku langsung terperangah merasa kaget dan tidak menduga dia masih bisa bersikap baik kepadaku seperti itu, padahal aku yang sudah berniat mengerjai dia dengan sandwich tersebut, dengan perasaan yang merasa sangat bersalah kepadanya aku benar-benar merasa tidak enak hati dengannya dan saat itu aku bahkan tidak berani untuk menerima sepotong lemon yang dia berikan kepadaku saat itu.
"Apakah dia tuan Arfanka yang aku kenal, bagaimana bisa dia mau menolong aku disaat aku sudah berniat dengan jelas mengerjainya" batinku yang merasa sangat malu kepadanya saat itu.
"Kenapa kau malah diam saja? Apa kau sudah tidak merasa pedas lagi, ayo ambil" ucapnya mendesakku saat itu,
"Maafkan aku tuan....dan terimakasih atas melonnya" ucapku kepadanya samb segera memasukkan melon itu ke dalam mulutku.
Aku langsung saja merasa keasaman karena memang melonnitu rasanya sangat asam sekali sampai membuat aku bergidik sedikit dan menutup sebelah mataku merasakannya, tapi sialnya lagi-lagi tuan Arfanka justru malah menertawakan aku lagi ketika melihat aku merasa keasaman saat itu.
"Ahaha....wajahmu itu sangat lucu sekali, ayo makan lagi lemon nya biar aku potret wajahmu yang jelek itu, ahaha....ayo cepat makan" ucapnya kepadaku saat itu.
Aku langsung saja memasang wajah yang cemberut dengan kesal karena aku merasa sangat kesal, aku tidak mau melakukan semua itu tetapi dia sudah memasang kameranya sendiri dan mengangkat ponselnya di hadapan wajahku saat itu, aku sungguh merasa sangat kesal dan emosi karena dia terus saja memperlakukan aku seperti itu.
"Apalagi yang mau tunggu, ayo cepat makan lagi aku sudah mempersiapkan kameranya, dasar kau ini, ayo cepat" ucapnya yang malah mendesak aku terus menerus.
Aku sungguh merasa sangat kesal dan emosi, rasanya aku ingin marah kepada dia tapi sayangnya aku tidak bisa melakukan itu sehingga tidak ada pilihan lain lagi hingga aku hanya bisa menuruti kemauannya itu.
Aku kembali memasukkan lemon tersebut ke dalam mulutku dan langsung saja memperlihatkan wajahku yang seperti sebelumnya sampai tuan Arfanka langsung saja tertawa sangat puas sambil memotret wajahku entah berapa kali banyaknya saat itu.
Tapi di sisi lain aku juga sedikit merasa heran dengan tingkahnya saat itu, sebab itu adalah pertama kalinya aku melihat dia bisa tertawa dengan selepas itu, padahal sebelumnya dia selalu menatap dengan tajam ke arah wajahku, meski aku melakukan kebaikan sekalipun dia tetap selalu memasang wajah yang datar kepadaku dan seakan selalu membenci aku namun kali ini disaat aku melihat dia tertawa di hadapan wajahku dia terlihat begitu bebas dan tertawanya itu sungguh membuat aku juga merasa ikut ingin tertawa juga.
__ADS_1
Sampai aku akhirnya juga ikut tersenyum melihatnya sebab dia tertawa dengan begitu keras dan menggelegar saat itu.
"Jika dilihat lihat, tuan Arfanka tampan juga dan dia tidak terlalu kejam setelah aku bisa melihatnya tertawa dengan selepas ini" batinku memikirkannya.
Aku tersenyum tanpa aku sadari saat itu dan merasa sangat senang bisa membuatnya sampai tertawa seperti itu, tapi disaat aku tersenyum sambil memakan lemon di mulutku tiba-tiba saja tuan Arfanka yang baru menyadari dirinya tertawa terlalu keras dan terlalu lama dia langsung saja berhenti seketika ketika melihat aku yang menatapnya sambil tersenyum saat itu kepadanya.
"Aishh....aku lupa masih ada di cewek konyol ini di hadapanku, aahh...apa yang harus aku lakukan matilah aku derajatku akan turun jika seperti ini" batin tuan Arfanka saat itu.
Dia pun segera mengubah ekspresi wajahnya dengan cepat dan langsung saja memasang wajah dia seperti biasa yang tanpa ekspresi juga selalu datar saat menatap kepada semua orang saat itu, wajahnya sungguh sangat menyeramkan karena dia bisa mengubah ekspresi wajahnya dalam beberapa detik saja, sampai membuat aku merasa kaget dan terperangah heran melihatnya.
"Ekhmm.... Apa kau lihat-lihat kepadaku, sana pergi untuk apa lagi masih disini" bentak tuan Arfanka kepadaku membuat aku tersentak kaget.
Aku yang tadinya tersenyum sangat lebar langsung saja mengubah ekspresi diriku juga dan langsung kembali bangkit berdiri sambil meminta maaf dan membungkuk kepadanya dengan cepat.
"Maafkan aku tuan, aku sungguh minta maaf kepadamu, tolong maafkan aku...aku akan pergi sekarang" ucapku kepadanya dengan wajah menahan tawa saat itu.
Aku segera pergi dari sana dengan cepat dan saat aku mengintipnya dari arah kamarku saat itu, aku melihat tua Arfanka yang kembali tertawa melihat foto diriku di ponselnya, aku sudah tahu bahwa dia akan melihat fotoku lagi dan menertawakan aku disaat aku sudah tidak ada.
Dia juga masih terlihat menikmati sandwich milikku yang aku lupa tidak aku bawa saat itu, aku sungguh merasa kesal dan mengepalkan kedua tanganku dengan kuat saat itu, aku sungguh merasa sangat emosi saat itu, sehingga aku langsung saja menatap dengan tatapan tajam dan mengerutkan keningku dengan kedua alisku cukup kuat saat itu.
"Benar-benar manusia menjengkelkan, bisa-bisa dia menertawakan aku di belakang dan masih memakan sandwich milikku, aishh....sangat menyebalkan sekali sih" gerutuku sangat kesal saat itu.
Aku terus memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa menghapus semua fotoku yang membuat dia terus menertawakan aku setiap kali dia melihat fotoku di ponsel tersebut saat itu, dan tiap kali melihat wajahnya yang tertawa dengan lepas aku merasa sangat emosi dan ingin memarahi dia secara langsung saat itu.
Sayangnya aku benar-benar tidak bisa melakukan semua itu kepadanya karena aku sadar bahwa posisiku di rumah ini hanyalah seorang pelayan biasa saja, aku ingin marah tapi hanya bisa menggerutu sendiri dan melampiaskan emosiku sambil menepuk dinding kamarku dengan cukup keras saat itu, tapi sialnya bukan amarahku yang mereda malah tanganku yang terasa sakit karena aku menepuknya terlalu keras sampai menimbulkan suara yang cukup kencang saat itu.
"Plakk......adudududuhhh ..... aish kenapa sesakit ini, aaahhh bagaimana jika dia mendengarkan suara tepukan ku ke tembok barusan, aku harus segera mengunci pintu" ucapku sambil langsung saja masuk ke dalam kamar secepat yang aku bisa.
Aku terus saja masuk ke dalam kamar dan benar-benar mengunci pintu kamarku secepat yang aku bisa saat itu, karena aku benar-benar takut tuan Arfanka akan mendengar ucapanku dan suara tepukan ku ke tembok saat itu.
Sampai tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki tuan Arfanka yang keluar dari rumah dan aku langsung saja segera membelakangi pintu kamarku dengan perasaan yang tidak nyaman saat itu karena aku takut dia akan mengetahui keberadaan aku yang mengintip dia secara diam-diam saat itu.
Sampai ketika tidak lama kemudian setelah suara langkah kaki itu sudah terdengar cukup jauh barulah aku kembali membuka pintu dan mengintipnya secara pelan-pelan sampai aku lihat tuan Arfanka yang baru saja keluar dari pintu rumah itu, lalu aku langsung saja merasa sangat lega sekali saat itu sambil mengusap dadaku dengan pelan dan menghembuskan nafas dengan lega.
"Huuuuuhh....untunglah dia sudah pergi, aku bisa bebas sekarang" ucapku sambil mengurut nafasku dengan tenang sekarang.
__ADS_1
Aku pun segera melanjutkan pekerjaanku untuk memberikan seluruh bagian rumah disana dan terus saja bernyanyi menyanyikan lagu kesukaan agar bisa menyelesaikan semua pekerjaan dengan perasan yang ruang gembira, setidaknya hanya dengan bernyanyi dengan keras seorang diri aku bisa melupakan semua masalah yang aku hadapi di dalam hidup ini.