Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Kevin dan Tuan Briantoro


__ADS_3

Karena melihat Kevin yang terus saja kesulitan untuk menarik pegangan koper tersebut, aku pun merasa kasihan dengannya dan tentu saja aku sama sekali tidak bisa membiarkan dia begitu saja, aku bukan orang yang tega membiarkan melihat orang lain sampai kesulitan seperti itu, segera saja aku menghampiri dia dan membantu dia tanpa basa basi lagi.


Langsung aku pegang gagang kopernya tersebut dan langsung ku tarik dengan sekaligus, yang pada akhirnya berhasil untuk ditarik dengan secepatnya, namun Kevin justru malah terdiam mematung saja, pandangannya terus menunduk dan menatap ke arah tanganku, aku merasa sedikit bingung untuk beberapa saat itu, sampai ketika aku mengikuti arah pandanganya barulah aku tersadar akan sesuatu.


"Sudahlah sini biar aku saja yang menariknya kau tidak bisa menolak bantuan dariku lagi. Oke!" Ucapku memperingati dia terlebih dahulu sebelumnya.


"Hei....Kevin....tuan muda Kevin, apa yang kau lihat?" Tanyaku padanya karena dia terus terdiam mematung dengan tatapannya yang terus tertuju pada tanganku saat itu.


Aku aku melihat rupanya saat itu aku tidak sengaja malah memegangi tangannya dan bodohnya aku baru menyadari hal itu sehingga aku langsung menarik tanganku dengan cepat saat itu juga sebelum dia akan memarahi aku karena menyentuh tangannya sembarangan seperti itu.


"O...ohh...itu, maaf tadi aku hanya terburu-buru karena kau terlihat sangat kesulitan, jadi aku juga refleks melakukannya." Balasku kepadanya dengan sedikit gugup.


Sedangkan Kevin sendiri langsung melirik ke arahku dengan perlahan lalu dia tiba-tiba saja membentak sangat keras sekali.


"KLARA! Apa kau bodoh hah? Aishh sial tanganku sangat sakit sekali terjepit oleh tanganmu dan gagang koper itu, aahh...lihat ini tanganku benar-benar lecet karenamu, aishh dasar kau sangat menjengkelkan awas saja kau yah, aaahh...kenapa kau sangat menjengkelkan, aha...huhu tanganku sakit sekali" bentak Kevin sambil segera menarik koper miliknya dan dia terus meringis kesakitan sambil berjalan keluar sendiri.


Sedangkan disisi lain tuan Arfanka melihat kejadian itu dan dia menahan senyum kepadaku dan aku hanya bisa tersenyum kecil padanya juga merasa sedikit bersalah kepada Kevin karena sudah membuat tangannya lecet seperti itu, aku juga tidak menyadarinya dan benar-benar tidak sengaja melakukan itu kepada dia sebelumnya.


Karena aku pikir dia tidak akan sampai selecet itu, aku melakukannya refleks dan tidak melihat terlebih dahulu sebelumnya, jadi langsung saja menarik pegangan pada koper tersebut.


Sampai tuan Arfanka datang menghampiriku dan dia mulai memberitahuku bahwa dia akan pergi ke kantornya saat itu, aku juga segera membantunya membawakan tas kerja miliknya dan mengantarkan dia sampai masuk ke dalam mobil, sedangkan Kevin masih menunggu dia bodyguardnya yang juga belum sampai disana saat itu, bahkan ketika tuan Arfanka sudah pergi dia masih saja berdiri di luar sambil sesekali memeriksa jam di tangannya.


Aku merasa kasihan jadi mendekatinya dan mulai bertanya kepadanya saat itu, apakah dia membutuhkan bantuan dariku atau tidak.


"Tuan muda kenapa kau masih disini, apa kau butuh bantuanku lagi? Aku bisa membantumu." Ucapku menawarkan bantuan sekaligus bertanya kepadanya karena aku sangat penasaran.


Tetapi dia sepertinya memang sangat tidak menyukaiku bahkan disaat aku menawarkan bantuan dengan nada yang baik dan melakukannya secara baik-baik dia justru malah memalingkan pandangannya dariku dan dia terus saja tidak membalas ucapanku, Kevin terlihat bersikap dingin dan seakan dia tidak merasakan keberadaanku disana, sehingga aku juga sedikit kesal dengan dirinya yang terus mengabaikan aku seenaknya seperti itu.


"Aishh...kau mengabaikan aku lagi ya? Ya sudah jika tidak membutuhkanku, memangnya kau pikir aku akan membujuk mu? Haha...jangan harap, kalau mau pergi ya pergilah jangan kembali lagi kemari, kau dengar itu." Ucapku sengaja sekalian mengusirnya juga.

__ADS_1


Segera aku masuk ke dalam dan mengintipnya di balik jendela depan saat itu, sesuai dengan dugaanku Kevin langsung uring-uringan dan menggerutu kesal sendiri sambil menghentakkan kakinya tanpa henti saat itu.


Hingga tidak lama mobil dan dia bodyguardnya tiba disana, dia segera masuk ke dalam dengan perasaan yang sangat kesal dan karena hal itulah dia langsung pergi menyuruh supirnya itu untuk membawa dia pulang menuju kedian besar tuan Briantoro saat itu juga, Kevin sudah menyiapkan sebuah rencananya sendiri untuk melawan Arfanka dan dia sudah tidak sabar untuk merebut semua kekuasaan yang saat ini dimiliki oleh tuan Arfanka.


Sedangkan saat tuan Arfanka tengah di kantor dia harus mengerjakan semuanya sendiri karena sekretaris Jeno yang sudah membuat izin kepada dia sebelumnya, kini tuan Arfanka yang hendak menyalin data statistik perusahaan mulai pergi ke ruangan sekretaris Jeno untuk mengambil beberapa berkas yang ada disana, namun saat tuan Arfanka tengah mencari berkas yang harus dia tandatangani tidak sengaja dia malah menjatuhkan sebuah amplop putih dari meja sekretaris Jeno saat itu.


"Ehh.. amplop apa ini? Apa dia menerima undangan dari luar dan belum sempat memberikannya padaku?" Gerutu tuan Arfanka sambil segera mengambil amplop itu.


Tuan Arfanka membukanya dan ternyata itu adalah suatu pembiayaan rumah sakit adiknya sekretaris Jeno, tuan Arfanka mengerutkan kedua alisnya dengan kuat disaat dia melihat nominal di dalamnya yang cukup besar, dan dia tahu bahwa sekretaris Jeno tidak mungkin memiliki uang sebanyak itu, terlebih dia selalu memakai uangnya untuk pengobatan adiknya di rumah sakit selama ini. Uang operasi sebanyak itu dan rujukan ke rumah sakit besar di Singapura tentu saja ini sangat membuat tuan Arfanka merasa heran dan aneh.


"Kenapa dia tidak meminta bantuan dariku jika biaya untuk adiknya sampai sebesar ini? Apa dia mendapatkan pinjaman dari orang lain? Tapi siapa yang mau memberikan pinjaman uang sebesar ini kepadanya, bahkan jika separuhnya tetap ini akan sulit." Pikir tuan Arfanka saat itu.


Tuan Arfanka mengambil surat tersebut dan membawanya ke ruangan dia, tuan Arfanka tidak bisa fokus bekerja lagi karena dia terus memikirkan mengenai sekretaris Jek dan adiknya yang mungkin saat ini tengah menjalani operasi yang besar disana untuk menyembuhkan secara permanen kondisi adiknya yang sudah sangat lama menderita penyakit gagal ginjal, bahkan dalam surat itu, tertulis bahwa dia sudah mendapatkan donor ginjal yang cocok bagi adiknya, dan jika adiknya menjalani operasi ini maka kesempatan untuknya pulih cukup besar walaupun kemungkinan berhasil dalam operasi hanya empat puluh persen saja.


Karena merasa cemas tuan Arfanka berusaha untuk menghubungi sekretarias Jeno yang juga sahabat dia sejak kecil, dia terus berusaha untuk menghubungi sekretarias Jeno, tapi sayangnya panggilannya terus saja sibuk, itu membuat tuan Arfanka tidak bisa menghubunginya lagi, meski dia terus mencobanya berkali-kali.


"Kenapa dia sibuk, apa dia tengah menelpon dengan orang lain? Tapi bukankah dia harus menjaga adiknya yang tengah di operasi? Apa yang dia lakukan sebenarnya? Kenapa aku merasa ada yang aneh dari gelagat Jeno akhir-akhir ini, dia seperti menyembunyikan sesuatu dariku? Apa ini hanya perasaanku saja ya?" Pikir tuan Arfanka lagi saat itu.


Karena itu tuan Arfanka pun menghempaskan pikiran buruknya tersebut, karena dia pikir seseorang seperti sekretaris Jeno tidak akan mungkin mengecewakan dia apalagi mengkhianati dirinya atau menyembunyikan sesuatu darinya. Mereka juga sudah pernah berjanji satu sama lain untuk tidak pernah menyembunyikan apapun diantara mereka, karena itulah yang menandakan bahwa mereka sahabat sejati yang saling mempercayai satu sama lain dalam segala hal.


"Aahhh... sudahlah tidak mungkin juga Jeno menyembunyikan hal yang aneh ataupun lainnya, paling dia hanya tidak sempat memberitahuku karena kondisi adiknya dan kesibukan dia yang harus mengurus adiknya saat ini, aku tidak bisa berpikir buruk pada orang sebaik dia." Gerutu tuan Arfanka menghempaskan kecurigaannya tersebut.


Disisi lain Kevin yang baru saja sampai di kediaman tuan Briantoro dia terlihat langsung disambut oleh banyaknya pelayan yang berjajar rapih di depan pintu masuk dan saat dia keluar dari mobil semua pelayan yang berjajar menyambutnya itu langsung menundukkan kepala memberikan hormat kepadanya, dia hanya berjalan keluar dan mulai membuka kacamata hitam yang selalu tidak lepas darinya dan selalu saja dia bawa kemana-mana selama ini.


"Selamat datang tuan muda." Ucap semua pelayan itu dengan serempak.


Kevin menghirup udara segar dari kediamannya yang sudah sangat lama dia tinggalkan itu, dia langsung berjalan melewati mereka semua dan segera masuk ke dalam rumah untuk menemui sang ayah di ruangan khusus milik ayahnya pada rumah besar tersebut.


"Tok...tok...tok...ayah ini aku Kevin aku putramu yang tampan sudah kembali." Ucap Kevin mengetuk ruangan pribadi ayahnya yang sangat rahasia dan tidak ada siapapun yang boleh masuk kesana kecuali Kevin dan tuan Arfanka saja.

__ADS_1


Setelah mendapatkan sahutan dari sang ayah yang mengijinkannya untuk masuk barulah Kevin segera masuk ke dalam dan mulai di sambut oleh ayahnya tersebut dengan wajah yang tersenyum lebar, karena sang ayah sudah tahu bahwa putranya akan datang ke rumah tersebut menemui dirinya secepatnya.


"Wahhh....putra kesayanganku sudah kembali, selamat datang Kevin ayah sudah tidak sabar menunggu kepulangan mu ini sejak lama." Ucap sang ayah tuan Briantoro sambil merentangkan tangannya.


Dan dengan cepat Kevin menerima pelukan dari ayahnya tersebut, sang ayah yang menepuk pundaknya beberapa kali sambil menatap penuh kebanggaan melihat putranya sudah menjadi jauh lebih dewasa dari sebelumnya disaat dia pertama kali di usir dari rumah itu ke luar negeri, untuk menuntut ilmu dan menjadi mandiri disana.


"Kamu sudah sangat berubah putraku...kau sekarang sudah pantas menjadi pemimpin grup Briantoro." Ucap ayahnya tersebut.


Kevin sangat senang mendengar hal itu dia sudah tersenyum lebar dan dia langsung saja berterimakasih kepada ayahnya saat itu juga karena dia mengira itu artinya sang ayah akan menurunkan jabatan kakak angkatnya tuan Arfanka dan dia yang akan menggeser posisi kakaknya pada pemilihan petinggi perusahaan kali ini.


"Aahaha...kau terlalu berlebihan dalam memujiku ayah, tapi aku memang sudah sangat siap untuk menggantikan posisi Arfanka dalam meneruskan perusahaan." Balas Kevin dengan penuh kepercayaan diri di hadapan ayahnya sendiri.


"Hahaha....kau masih belum pantas untuk itu putraku, kau masih harus bersaing dengannya dan aku tidak akan membela siapapun diantara kalian, karena hanya yang kuat yang pantas mendapatkan kursi kebesaran itu dariku." Ucap tuan Briantoro yang membuat Kevin sangat kaget mendengarnya.


Dia merasakan rasanya di terbangkan dengan sangat tinggi lalu tiba-tiba saja di jatuhkan begitu saja oleh ayahnya sendiri, dan kini raut wajah Kevin yang tadinya sangat bersemangat dan begitu cerah kembali murung lagi layaknya wajah dia yang sebelumnya bahkan kini menjadi lebih buruk lagi dari itu.


"Ayah, jika kau hanya akan membuatku kecewa sebaiknya kau jangan memujiku di awal seperti tadi, itu sangat melukai perasaanku, karena sejak dulu kau selalu saja menjadikan Arfanka lebih daripada aku, aahhh sudahlah aku ingin beristirahat aku lelah, permisi tua Briantoro." Ucap Kevin sambil berbalik dan hendak keluar dari ruang pribadi ayahnya saat itu.


Namun langkahnya tersebut masih sempat terhenti sejenak oleh ucapan dari sang ayah yang mengatakan bahwa dia akan membuat acara jamuan makan malam, untuk menyambut kedatangan Kevin dan akan mengundang tuan Arfanka juga dalam acar itu malam ini.


"Kevin jangan lupa kau harus hadir di jamuan makan malam untuk menyambut kembalinya dirimu, ayah akan mengundang kakakmu dan Riska juga," ucap sang tuan Briantoro saat itu.


Kevin yang sudah tidak ingin menghadapi ayahnya dia hanya menjawabnya begitu saja, karena dia juga sama sekali tidak perduli dengan tuan Arfanka ataupun Riska, karena dia sudah tahu apa maksud terselubung dari ayahnya mengadakan acar seperti itu, sudah pasti ini ada kaitannya dengan putri penguasa industri per film man tersebut.


"Ya...aku akan datang, kau jangan cemas." Balas Kevin begitu saja.


Kevin pergi ke kamarnya sambil terus merasa kesal, dia bahkan sangat jengkel dalam menghadapi ayahnya, karena di matanya sendiri, dia selalu saja merasa bahwa ayahnya tidak pernah berada di pihaknya selama ini, selalu kakak angkatnya tuan Arfanka yang selalu saja di banggakan dan selalu di nomor satukan dalam mengurusi perusahaan dan lebih di percaya oleh ayahnya sendiri, dibandingkan dirinya yang sudah jelas adalah putra kandungnya sendiri.


Namun dia selalu di hempas, tidak di ajak dan selalu diasingkan ke luar negeri, maka dari itulah Kevin menjadi anak yang pembangkang dan dia selalu berani untuk melawan kehendak ayahnya kapanpun dan apapun itu, berbeda dengan tuan Arfanka yang tidak pernah bisa untuk berontak sedikitpun kepada tuan Briantoro karena dia terikan dengan sebuah balas budi yang harus dia kembalikan dan dia balaskan kepada tuan Briantoro yang sudah mengurusi dia dan menghidupi dia sejak dia kecil hingga sedewasa saat ini.

__ADS_1


Tapi walau begitu tuan Arfanka juga tidak bodoh, dia tetap memiliki aset atas namanya sendiri yang dia dapatkan dari uang hasil kerjanya sendiri selama ini, tanpa sepengetahuan tua Briantoro, dia sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat matang, untuk berjaga-jaga jika suatu saat nanti dia akan di tendang oleh keluarga Briantoro.


Bahkan tuan Arfanka sudah memikirkan mengenai semua kemungkinan itu sejak dia kecil dulu, dan sekarang dia sudah mewujudkan semua keinginan yang dulu hanya menjadi sebuah rencana di kepalanya saja.


__ADS_2