Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Bertemu dengan Riska


__ADS_3

Ke esokan paginya Riksa terlihat sudah sangat bersemangat meski dirinya sudah mendapatkan penolakkan yang cukup kasar dari seorang tuan Arfanka tetapi dia bukanlah gadis yang mudah menyerah dia tetap saja pergi ke perusahaan tuan Arfanka lagi dan kali ini secara sengaja dia memberi tahu Jeno terlebih dahulu tentang kedatangannya sehingga Jeno terlihat begitu senang dan sangat antusias dalam menyambut kedatangan Riska Amola tersebut.


Dia pergi ke kantor tuan Arfanka sangat pagi-pagi sekali bahkan saat itu tuan Arfanka baru saja tiba di kantornya tetapi Riksa sudah duduk manis di sofa tamu yang berada di dalam ruang kantor pribadi tuan Arfanka, sekretaris Jeno yang melihat Riska disana dia langsung terlihat antusias menyambutnya.


"Aahhhh.....Riska kamu sudah tiba, kenapa kamu datang pagi-pagi sekali, bukannya kamu bilang akan datang di jam makan siang?" Tanya Jeno kepadanya setelah berpelukan cipika cipiki satu sama lain.


"Aku sangat merindukanmu, karena kemarin saat aku tiba aku tidak melihatmu jadi aku datang lebih awal dan aku ingin tinggal di sini hingga makan siang, aku memiliki waktu luang untuk kedua sahabatku sekarang" balas Riksa saat itu.


Tuan Arfanka sendiri sama sekali tidak memperdulikan keberadaannya dan dia langsung saja pergi ke kursi kebesaran miliknya lalu mulai bekerja dan merapihkan beberapa barang yang kurang tersusun diatas mejanya saat itu, tetapi di sisi lain sekretaris Jeno yang mendengar bahwa Riksa sudah pernah datang ke kantor kemarin dia mulai mengerutkan kedua alisnya dan merasa heran.


"Ehh....Riska kemarin kau kesini, jam berapa kamu kesini kenapa aku tidak melihatmu?" Tanya sekretaris Jeno padanya,


"Aku kesini cukup malam tapi itu hanya sebentar, karena Arfanka langsung mengusir aku ketika aku baru saja tiba di ruangan ini" balas Riksa menjelaskan.


Mendengar hal itu sekretaris Jeno mulai mengetahui dan mencurigai satu hal, karena waktu yang di ucapkan oleh Riksa barusan kemungkinan berbenturan dengan waktu saat Arfanka meluruskan masalahnya dengan Klara kemarin, sehingga sekretaris Jeno langsung memandang dengan tatapan serius kepada tuan Arfanka saat itu.


"Arfanka apa yang kau lakukan, kenapa kemarin kau malah mengusir Riska, kenapa juga tidak memberitahuku?" Tanya sekretaris Jeno sangat serius,


"Untuk apa, itu tidak penting dan sebaiknya kau segera kembali bekerja atau aku akan memotong gajimu karena kau kerja gaji buta" balas tuan Arfanka membuat sekretaris Jeno langsung tersentak dan dia tidak bisa protes apapun lagi.


Karena yang menjadi jaminan adalah gajinya sendiri saat itu, sekretaris Jeno pun mengalah dan dia menuruti ucapan dari tuan Arfanka secepatnya.


"Aishh... Kau ini, baiklah aku akan pergi kenapa pula kau harus mengancam gajiku, Riska maaf ya aku harus bekerja kau juga tidak menggaji aku jadi aku harus pergi, sebaiknya kau juga pergi disini kau tidak akan di anggap oleh manusia batu itu" balas sekretaris Jeno membuat tuan Arfanka langsung melemparkan tatapan mata yang menusuk kepadanya.


Sekretaris Jeno yang melihat hal tersebut dia langsung bergegas pergi dengan cepat dan terburu-buru saking takutnya melihat raut wajah datar serta tatapan dingin yang tajam dari seorang tuan Arfanka selalu bos sekaligus sahabatnya tersebut.


Sedangkan Riska sendiri masih tetap berdiam diri disana dan dia mulai berjalan mendekati kursi tuan Arfanka sambil menyentuh kedua pundak tuan Arfanka saat itu, tuan Arfanka sama sekali tidak menganggap keberadaannya dan dia justru malah menyuruhnya pergi saat itu karena baginya kelakuan Riksa disana sangat mengganggu konsentrasi dirinya yang harus bekerja dengan fokus juga teliti.


"Jangan menyentuhku, aku tidak akan tergoda seperti Jeno si buaya itu, pergi dari sini, tidak ada ruang di kantorku untuk wanita sepertimu" ucap tuan Arfanka yang membuat Riska merasa sangat kesal dan dia langsung saja memasang wajah cemberut kesal.


"Arfanka kenapa kamu selalu menolakku, kenapa kau tidak pernah mau bersentuhan denganku atau pun wanita lainnya, apa kau ini tidak normal!" Ucap Riska yang menyulut emosi dari tuan Arfanka saat itu.


Seketika tuan Arfanka sangat emosi dia langsung menggebrak meja kerjanya dengan sangat keras saking marahnya dengan apa yang di ucapkan oleh Riska terhadap dirinya.


"Brakkk...." Suara gebrakan meja yang sangat keras.


"Aku memang tidak normal untuk wanita sepertimu dan wanita lain yang menyerahkan dirinya sendiri pada seorang pria dengan begitu mudahnya, jadi sekarang kau pergi dari sini dan jangan pernah mengunjungi aku lagi, aku sudah tidak membutuhkan kau lagi!" Bentak tuan Arfanka sangat kencang pada Riska.

__ADS_1


"Lihat saja Arfanka aku akan membuatmu tunduk kepadaku suatu saat nanti, dengan atau tidaknya kau mencintaiku aku akan mendapatkan mu dangan segala cara" batin Riska dengan penuh tekad di dalam hatinya saat itu.


Riska segera pergi dari sana dengan perasaan yang sangat kesal dan tidak menentu, namun disaat dia keluar dari ruang kerja tuan Arfanka dia justru malah berpapasan dengan Klara yang saat itu hendak memberikan ponsel tuan Arfanka yang tertinggal di rumah sebelumnya.


Aku yang melihat seorang wanita canti yang tinggi dan body goals keluar dari ruang kerja tuan Arfanka langsung membelalakkan mata dengan perasaan bingung tidak keruan sebab wanita itu tiba-tiba saja membentak aku, padahal aku baru pertama kali melihatnya.


"Minggir kau dasar rakyat jelata!" Bentak wanita itu kepadaku secara tiba-tiba.


"Hah.... cantik-cantik tapi galak dia seperti macan betina saja" batinku saat mendapatkan bentakkan dari wanita itu.


Aku segera menyingkir dari jalannya dan membiarkan wanita itu berjalan melewati aku dengan cepat, aku masih menatap punggung wanita itu yang terbuka cukup lebar, melihat wajahnya aku merasa sedikit tidak asing dan seperti pernah melihatnya, tapi aku tidak tahu pasti dimana aku pernah melihat wanita menyeramkan sepertinya, bahkan ketika wajahnya cantik dia cukup menakutkan.


"Ehhh, tapi...kenapa wanita itu marah kepadaku, aku tidak salah apapun? Atau jangan-jangan wanita itu di bentak oleh tuan Arfanka ya, dia keluar dari ruangannya dan langsung seperti itu... Wahh tuan Arfanka memang pria yang kejam dan tidak pandang bulu" gerutuku pelan saat itu.


Segera aku masuk ke dalam ruangan tuan Arfanka setelah mengetuk pintu dan di persilahkan masuk, ketika masuk ke dalam aku lihat wajah tuan Arfanka sangat kusut sekali dia terlihat kacau dan sepertinya tengah marah besar, aku pikir tidak baik jika aku berlama-lama berada di dalam ruangan tersebut sehingga aku segera memberikan ponsel miliknya ke atas meja dan menggesernya pelan.


"Tuan....ini ponselmu tertinggal di meja makan jadi aku mengantarkannya, kalau begitu aku permisi tuan" ucapku sambil segera berbalik dan pergi dari sana.


Tapi tiba-tiba saja tuan Arfanka bangkit dari kursinya dan memanggilku dengan cepat, hingga aku tidak bisa berkutik lagi dan terpaksa harus berbalik kepadanya.


"Berhenti Klara!" Ucapnya menghentikan langkahku saat itu, padahal aku sudah ingin pergi dari tempat tersebut.


"Ahhh..ada perlu apa tuan?" Balasku kepadanya,


"Kemari dan ulurkan tanganmu" ucap tuan Arfanka kepadaku tiba-tiba saja.


Aku menaikkan kedua alisku dengan cukup tinggi saking merasa herannya dengan apa yang di katakan oleh tuan Arfanka kepadaku, tidak tahu apa yang ingin dia lakukan sebenarnya sampai dia tiba-tiba menyuruh aku mendekatinya dan mengulurkan tangan padanya, aku sedikit bingung dan termenung saat itu sampai tuan Arfanka sudah keluar dari tempat duduknya dan dia kembali memanggilku.


"Heh...kenapa kau tetap diam cepat kemari" ucapnya mendesak.


Aku tersadar dan segera berjalan sedikit demi sedikit mendekatinya dengan perasaan cemas tidak menentu, aku takut dia akan mem*kul aku atau melakukan hal kasar lainnya kepadaku karena raut wajahnya saat itu cukup menakutkan dan terlihat dengan jelas bahwa dia tengah menahan kekesalan.


"Kenapa gadis ini terlihat begitu takut denganku, apa dia pikir aku ini setan apa?" Batin tuan Arfanka saat melihat Klara hanya berjalan dan melangkah kakinya sedikit saja disaat dia memintanya untuk mendekat.


Karena geram dengan tingkah dan kelakuan Klara tersebut, tuan Arfanka langsung saja menarik tangannya dengan cepat hingga membuat Klara jatuh dalam pelukannya saat itu, dan aku langsung membelalakkan mataku dengan sangat lebar dan kaget, jantung yang berdebar kencang dan perasaan yang tidak menentu.


Itu sangat mengagetkan untukku karena tuan Arfanka memelukku tiba-tiba dengan begitu erat di tambah dia menempelkan dagunya pada kepalaku, ya aku tahu aku ini pendek di bandingkan dirinya tetapi perlakuannya itu membuat aku tidak nyaman.

__ADS_1


"Tu...tu...tuan apa yang anda lakukan, tolong lepaskan aku" ucapku kepadanya dengan gugup,


"Diam....biarkan seperti ini untuk beberapa saat" balasnya kepadaku dan malah memeluk aku dengan lebih erat hingga sulit untukku berontak dan melepaskan diri darinya.


Dia sangat aneh sekali saat itu karena terus memeluk aku dan memintanya untuk terus mempertahankan posisi itu dalam beberapa saat, hingga tidak lama akhirnya dia mau melepaskan aku dan ketika aku menanyakan apa maksud dia sebenarnya dia justru malah menjawabnya dengan begitu santai.


"Tuan...apa maksudnya, kenapa kau malah memeluk aku seperti tadi, apa yang salah denganmu?" Tanyaku kepadanya dengan mengerutkan kedua alisku,


"Aku hanya mencoba saja, apakah aku sungguh anti dengan wanita atau tidak dan rupanya aku bisa memeluk seorang wanita seperti itu, jadi aku laki-laki yang normal" balasnya dengan santai sambil kembali duduk di tempatnya lagi.


Sedangkan aku sendiri langsung saja membelalakkan mataku dengan lebar juga membuka mulutku begitu besar saking kaget dan merasa tidak menduga dia bisa melakukan hal itu dan membuat aku setengah baper tidak karuan karena tingkahnya, namun ternyata dia hanya mengatakan bahwa itu hanya sebuah percobaan saja.


Aku sangat kesal dan ingin marah kepadanya tetapi dia justru melah menatapku dengan ekspresi wajah yang datar dan mengusirku dari tempatnya tersebut.


"Kenapa kau seperti itu? Ayo cepat pergi, untuk apa masih disini" balasnya kepadaku begitu saja.


"Baik, permisi tuan" jawabku sambil segera pergi dari ruangan itu dengan menghentakkan kakiku cukup keras menahan emosi juga mengepalkan kedua tanganku dengan kuat.


Aku benar-benar sangat kesal dan emosi di buatnya dia sama sekali tidak seperti seorang manusia dan lebih mirip seorang robot sialan yang sangat menyebalkan, aku keluar dari ruangannya dan terus uring-uringan kesal tidak menentu, rasanya ingin sekali aku menghajar wajah datarnya dengan pukulan yang super kuat dari tanganku ini.


"Dasar manusia robot sialan dia sangat menjengkelkan dan aku inginmenghajar wajah menyebalkan itu dengan semuanya, aaaahhh" gerutuku terus merasa kesal berdiri di depan lift.


Lift itu juga sangat lama untuk terbuka membuat aku semakin emosi dan terus saja aku merasa sangat kesal sambil terus menggerutu dan memperagakan sebuah serangan layaknya aku seorang petinju untuk melampiaskan emosi pada tuan Arfanka sebelumnya yang sudah membuat aku baper tidak jelas namun endingnya hanya mengecewakan saja.


Hingga tidak disangka tiba-tiba saja pintu liftnya terbuka disaat aku memasang gawa penyerangan dengan kedua kaki terbuka memasang kuda-kuda yang kokoh dan tangan yang mengarah ke depan dengan di kelakuan sedangkan saat lift terbuka nampak seorang pemuda yang memakai pakaian sangat keren juga kacamata hitam berdiri dengan sebelah tangan yang di masukkan ke dalam saku celananya saat itu juga ada dua orang memakai jas rapih di belakang pria tersebut yang lengkap menatapku dengan tajam membuatku merinding melihatnya sekaligus menahan malu yang tidak karuan.


"Ha!..ha!..ha!!......a..aaahhh?" Ucapku yang tertangkap basah sangat memalukan.


Langsung saja aku mengganti posisi tubuhku dan segera berdiri dengan tegak juga langsung menyingkir mempersilahkan jalan untuk pria tersebut sambil membungkuk meminta maaf.


"Aahh ...silahkan tuan...maafkan aku" ucapku merasa sangat malu.


Pria itu keluar dari dalam lift dan menghadap ke arahku sambil melepaskan kacamata hitam yang dia kenakan dan dia berbicara kepadaku membuat aku merasa sangat malu.


"Hei.....jika kau mau menjadi pegulat tidak usah bekerja di perusahaan ini, jurusmu tadi bisa melukai orang lain" ucap pria tersebut kepadaku.


Aku sungguh sangat malu sampai tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya bisa terus menunduk dan mengangguk dengan cepat saat pria itu berbicara kepadaku, hingga pria itu pergi dan aku segera masuk ke dalam lift sambil menekan tombolnya dengan cepat karena tidak tahan lagi meratapi nasib diriku yang sungguh sangat memalukan juga sial hari ini.

__ADS_1


"Aishhh...tadi itu sangat memalukan, aahhh bodoh....bodoh, kenapa kau harus dalam keadaan seperti itu sih, pria tadi pasti bukan karyawan biasa aahhh sangat memalukan" gerutuku terus saja merasa malu sendiri.


Walau aku tidak mengenalnya dan pria itu juga tidak mengenalku tetapi rasa malu tetap saja ada dan aku rasakan dengan sangat jelas, apalagi ketika dia orang di belakangnya menertawakan aku saat aku mendapatkan ucapan seperti tadi oleh pria berkacamata hitam tersebut.


__ADS_2