Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Bi Elin


__ADS_3

Sampai suara ketukan pintu dari luar terdengar olehku dan ucapan dari bi Evi terdengar.


"Klara apa kamu di dalam, keluarlah bibi ingin bicara denganmu" ucap bi Evi dari luar sana.


Aku pun segera mengusap wajahku dengan tisyu dan segera keluar menemuinya, sambil menutupi kesedihan dan bekas wajahku yang sudah menangis sebelumnya.


"Nona Klara apakah kamu baik-baik saja? Bibi sangat mengkhawatirkan dirimu?" Ucap bi Evi sambil memegangi kedua lenganku,


"Lepaskan tanganku, aku tahu bibi sama saja dengan bi Elin semua orang disini memang buta dan aku hanya akan terus berada dalam posisi korbannya" ucapku sambil melepaskan tangan bi Evi yang memegangi tanganku saat itu.


Bi Evi terlihat sedikit sedih di kembali menahan tanganku dan tiba-tiba saja memberikan sebuah kompresan kepada tanganku dan dia menyuruh aku untuk segera mengompres pipiku yang saat itu terlihat mulai bengkak karena tamparan dari tuan Arfanka sebelumnya.


"Tunggu Klara... Bibi perduli padamu begitu juga dengan pak Tino, kami hanya tidak bisa ikut campur demi kebaikan kamu juga, dan ini obati wajahmu yang bengkak bibi juga sudah menyiapkan makanan untukmu di kamarmu, makanlah setelah mengobati pipimu" ucap bi Evi kepadaku.


Dia menaruh kompresan itu ke tanganku dengan paksa kemudian dia tersenyum dan segera meninggalkan aku, aku sedikit merasa heran dan aneh karena tidak menduga ternyata masih ada orang yang memperdulikan aku, aku tersenyum kecil dan merasa senang karena bi Evi masih ada hati untuk memberikan hal semacam ini padaku, aku segera pergi ke kamar dan mengompres pipiku sampai setelah aku makan aku segera membereskan rumah membantu bi Evi juga bi Elin.


Saat itu aku baru saja selesai membersihkan ruangan tengah namun bi Elis kembali menyuruhku untuk memotong rumput di halaman depan dan aku segera melakukannya meski terik matahari sangat panas saat itu aku tetap memotong tanaman disana dengan sekuat tenagaku dan keringat bercucuran di wajahku.


Bi Evi yang melihat rekannya bi Elin terus memerintah Klara sedangkan dirinya malah duduk bersantai sofa sambil mengemil makanan, dia tidak terima melihat Klara di perlakukan seenaknya seperti itu sehingga dia melaporkan kejadian itu kepada pak Tino yang merupakan suaminya namun tidak ada yang tahu kecuali tuan Arfanka sendiri bahwa mereka adalah suami istri.


"Tino cepat kau tegur dia dan ancam dia agar dia tidak melakukan hal ini kepada Klara, aku sudah sangat geram melihatnya berlagak seperti tuan rumah di rumah ini sejak nona Klara masuk ke dalam rumah ini, padahal kau tahu bukan nona Klara seharusnya bukan menjadi pelayan dia harusnya menjadi pasangan tuan Arfanka, kau juga melihatnya bukan malam itu nona Klara di gendong oleh tuan Arfanka ke kamarnya dan dia baru keluar saat pagi hari ketika itu" ucap bi Evi kepada suaminya di rumah belakang mension besar tersebut,

__ADS_1


"Baiklah iya, aku akan memberikan teguran kepadanya tapi dia itu sangat keras kepala aku tidak bisa menjamin untuk menghentikan dia seterusnya" ujar pak Tino kepada bi Evi.


Walau begitu bi Evi masih merasa sangat senang dan dia segera kembali ke mension lalu menemui Klara yang saat itu masih memotong rumput di halaman depan.


"Nona Klara ayo masuk ke dalam kau tidak perlu memotong rumput ini karena ini pekerjaan tukang kebun bukan pelayan sepertimu, ayo masuk" ajak bi Evi sambil menarik tanganku pelan.


Aku menatapnya dengan heran karena sebelumnya bi Elin yang menyuruh aku untuk melakukan hal tersebut dan dia mengatakan kepadaku bahwa itu adalah bagian dari pekerjaan pelayan.


"Ehh..... Bi tapi tadi bi Elin bilang ini harus aku kerjakan" ujarku kepadanya,


"Aduhh.... Klara kamu ini terlalu polos dan penurut, kamu kan tahu dia bukan orang baik dan tidak menyukaimu, apa kamu masih bisa mempercayai dia setelah dia berperilaku buruk padamu sebelumnya" ujar bi Evi menyadarkan aku.


Aku pun segera bangkit berdiri dan bi Evi membawaku ke dalam dia menyuruh aku untuk duduk di samping meja makan dan dia memberikan air dingin kepadaku.


Aku segera meneguknya sampai habis dan tenggorokanku rasanya langsung terasa segar dan lega, kini aku sudah tidak terlalu kepanasan lagi seperti sebelumnya dan aku bisa bernafas dengan nyaman sambil mengusap keringat yang masih saja mengucur deras dari dahiku karena di luar tadi sangatlah panas.


Sampai tidak lama bi Elin datang ke sana dan melihat aku yang tengah duduk beristirahat di kursi, dia langsung menarik tanganku dan membentak aku dengan keras.


"Ohhh.... Bagus.. kau enak enakkan duduk disini, sementara aku harus bekerja tanpa henti, ayo ikut aku kau harus membersihkan kolam sekarang" ucap bi Elin sambil menarik tanganku dengan kuat.


Namun untungnya saat itu bi Elin ada disana dan dia segera menahan tangan binElin dan menghempaskan tangannya yang terus menarik aku dengan paksa.

__ADS_1


"Cukup Elin kau sudah keluar dari batasan, apa kau lupa bahwa kau bisa ada disini juga berkat aku yang membawamu, kau tidak bisa memerintah orang lain seenakny sedangkan dirimu malah bersantai seperti tadi, apa kau pikir aku tidak mengetahui kelakuan buruk mu itu?" Bentak bi Evi membelaku,


"Hahaha.... Evi .. kau jangan munafik, kau sudah menikah dengan pria misterius mu itu dan aku masih lajang aku yakin tuan Arfanka akan lebih suka mempekerjakan wanita yang muda dan kuat seperti aku, bukan wanita penjilat sepertinya" ucap bi Elin sambil menunjuk ke arahku.


Aku sangat kesal saat itu namun aku tidak bisa melakukan apapun kepadanya karena hal terakhir kali yang terjadi padaku aku takut dia melaporkan perbuatanku kepada tuan Arfanka jika aku menamparnya lagi.


Saat itu juga bi Evi hampir menampar bi Elin namun pak Tino menghentikannya dengan cepat. Untungnya pak Tino datang tepat waktu dan dia langsung memberikan peringatan kepada bi Elin yang membuat dia langsung diam dan pergi dari sana.


"Stop... Ada apa dengan kalian, Elin saya melihat pekerjaanmu tidak beres akhir-akhir ini, jika kau terus memperlakukan pelayan lain dengan buruk saya akan melaporkan kelakuanmu itu pada tuan Arfanka" ucap pak Tino dengan tegas.


"CK.... Kau mengancamku pak Tino, huh aku tidak takut dan kau Klara lihat saja nanti kau beruntung sekarang tapi tidak dengan di kesempatan selanjutnya, awas kau!" Ancam bi Elin dengan tatapan yang tajam dan dia langsung saja pergi dari sana dengan kesal.


Aku merasa sedikit lega dan bisa bernafas lega sekarang setelah bi Elin sialan itu pergi dari sana, namun sekarang kepalaku terasa sedikit pusing aku tidak bisa berdiri dengan benar hingga hampir jatuh saat itu, namun untungnya bi Evi menangkap ku dengan cepat.


"Klara apa kamu baik-baik saja?" Tanya bi Evi kepadaku.


Aku segera bangkit dan berdiri dengan tegak, aku berusaha menguatkan diriku karena aku tidak ingin merepotkan orang baik sepertinya, melihat bagaimana bi Evi membelaku barusan itu sudah jauh dari cukup untukku dan aku tahu bahwa aku masih harus bekerja hari ini.


"Aku baik-baik saja bi tadi hanya sedikit pusing saja, aku akan pergi meminum obat dan segera membaik" ucapku sambil segera tersenyum kepadanya,


"Klara jika kamu tidak enak badan kamu tidak perlu memaksakan dirimu sendiri, bibi masih sanggup melanjutkan semua pekerjaan di rumah ini, beristirahatlah ke sana" ujar bi Evi kepadaku.

__ADS_1


Aku segera menahan tangannya dan aku segera tersenyum berusaha menguatkan diriku sendiri dan meyakinkan bi Evi juga pak Tino agar mereka tidak mengkhawatirkan aku lagi.


"Tidak masalah bi, aku baik-baik saja dan aku masih sanggup, tenang saja aku masih muda dan energiku masih sangat banyak, aku akan mengelap meja disana dan membersihkan tempat lainnya" balasku kepadanya dan segera pergi mengambil lap dan kemoceng disana.


__ADS_2