
Aku hanya bisa mengangguk patuh padanya dan terus menunggu di dalam mobil dengan Kevin, meski perasaanku sangat canggung tapi tidak ada yang bisa aku lakukan lagi saat itu, hingga tidak lama aku melihat tuan Arfanka yang keluar dari rumahnya bersama dengan wanita bernama Riska tersebut. Belum lagi dia terlihat begitu dekat dengan wanita tersebut, dia terlihat sangat romantis dengan memeluk tangan tuan Arfanka sambil terus bergelayutan di tangannya saat itu.
Melihat mereka yang seperti itu entah kenapa aku merasa sedikit sakit, padahal aku bahkan tidak memiliki hubungan apapun dengannya, entah mengapa aku harus memiliki perasaan seperti ini, aku sungguh tidak nyaman untuk melihatnya sehingga aku langsung saja memalingkan pandangan darinya dengan cepat.
Saat aku memalingkan pandangan yang tidak aku sangka Kevin tiba-tiba saja menghalangi pandanganku dengan tangannya secara tiba-tiba dan seakan dia tahu apa yang aku rasakan saat itu, dia melarang aku untuk melihatnya.
"Heh...jangan lihat jika kau tidak mau melihatnya, untuk apa melihat wanita sialan itu, sudah ayo cepat turun mobil mereka juga sudah pergi." Ucap Kevin sambil menatap ke arahku.
Aku menghembuskan nafas dan segera turun dari sana secepatnya, masuk ke dalam rumah dan segera pergi untuk mengganti pakaian namun yang membuat aku kaget ketika aku mengganti pakaianku, aku sangat kaget melihat dalaman di badanku terlihat jelas karena aku mengenakan pakaian yang berwarna putih dan pakaian itu basah, pantas saja Kevin memberikan jaketnya kepadaku mungkin untuk menutupi hal itu.
Tapi semua itu berarti dia sudah melihat dalamanku sedari tadi dan aku tidak menyadarinya sama itu, aku benar-benar merasa malu saat melihat wajahku di cermin, pipi yang mulai merah padam dan aku merasa sangat tidak nyaman saat itu.
"Aishhh.. benar-benar memalukan bagaimana bisa hal seperti ini malah terjadi padaku, aaahh....dia juga tidak memberitahuku bagaimana aku bisa menghadapinya sekarang." Gerutuku terus saja merasa salah tingkah dan bingung sendiri.
Hingga tidak lama tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu dari luar dan aku tahu bahwa itu teriakkan dari Kevin yang sangat kencang.
"Klara...apa kau sudah selesai...Klara hei...ayo cepat keluar aku sudah menemukan surat kontrakmu itu." Teriak Kevin dari luar pintu kamarku.
Dengan cepat aku bergegas keluar dan tidak membawa satu helai pakaian pun aku hanya mengenakan satu pakaian yang melekat pada tubuhku saja saat itu, karena semua pakaian yang ada di lemari adalah pemberian dari tuan Arfanka dan aku rasa aku tidak berhak untuk mengambilnya saat itu, jadi aku memutuskan untuk pergi tanpa mengambil semua itu hanya meminta sehelai pakaian saja yang bisa aku gunakan saat ini.
Saat aku keluar tentu saja aku langsung bertanya mengenai apa yang dikatakan oleh Kevin sebelumnya, karena aku juga cukup kaget dengan maksud dari surat kontrak yang dia ucapkan ketika memanggilku di dalam kamar sebelumnya.
"Kevin apa yang kamu katakan? Surat kontrak apa itu?" Tanyaku memastikan dahulu.
"Ini... Aku tahu kau dengan Arfanka membuat kontrak bersama bukan? Sudah jangan bingung ataupun kaget dan jangan tanya darimana aku bisa mengetahui semua ini ataupun mendapatkan surat kontraknya yang pasti aku akan menyelesaikan semua masalahmu dan kau bisa hidup dengan bebas sekarang, ayo kita pergi dari sini." Ucap Kevin padaku sambil langsung berbalik hendak pergi dari sana.
Karena dia yang sudah menahan aku seperti itu, tentu saja aku tidak bisa mengungkapkan atau bertanya apapun lagi dan hanya bisa mengikuti dia dari belakang sampai ketika kami hendak masuk ke dalam mobil dan terlihat Kevin yang membawa lagi beberapa barang miliknya dia menanyakan barang milikku karena saat itu aku tidak terlihat membawa apapun sama sekali.
"Kemarikan barangmu, biar aku bantu masukkan ke dalam bagasi," ucap dia padaku sambil mengulurkan tangannya saat itu.
"Tidak ada aku sama sekali tidak memiliki apapun." Balasku kepadanya yang membuat dia langsung terperangah sangat kaget dan membelalakkan matanya padaku.
"Hah? Ahaha..ayolah Klara jangan bercanda, cepat kemarikan barangmu jangan sampai pak Tino dan bi Evi mengetahui kepergianmu ini, mereka bisa mengatakannya pada Arfanka nanti dan kita akan gagal untuk melarikan diri darinya." Ujar Kevin padaku.
Dia terus tidak mempercayai apa yang aku katakan padanya padahal sudah sangat jelas bahwa aku mengatakan, aku memang tidak memiliki apapun selain dari pakaian yang aku kenakan saat ini, selebihnya semua itu hanya milik dari tuan Arfanka, dia yang sudah memberikan aku semua pakaian disana yang bisa aku gunakan setiap harinya.
__ADS_1
"Aku tidak punya apapun, saat aku datang kemari aku seperti ini, benar-benar tidak membawa apapun," balasku kepadanya.
Yang pada akhirnya meski Kevin terlihat menatap terperangah dia pun segera saja pergi membukakan pintu untukku dan mempersilahkan aku untuk masuk saat itu, aku juga segera masuk ke dalam mobil tersebut dan disaat Kevin baru saja menyalakan mobil pak Tino rupanya mengetahui kepergian kami saat itu dia berteriak hendak menghentikanku kami namun sayangnya semua itu sudah terlambat karena Kevin langsung menginjak pedal gas mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga dia bisa keluar dari halaman rumah tuan Arfanka sangat cepat.
"Ehh...Klara kau mau kemana Klara jangan pergi tanpa izin tuan Arfanka...Klara!" Teriak pak Tino saat itu.
Aku menatap dia yang berlari di belakang berusaha untuk menghentikan mobil yang aku tumpangi dengan Kevin saat itu, dan ketika melihat dia berlari dengan susah payah seperti itu, rasanya aku sangat tidak tega sekali tapi aku juga tidak mungkin berhenti disana dan datang untuk membantunya, karena sudah pasti dia akan menahanku tidak mengijinkan aku untuk pergi dan akan terus mengurung aku di tempat itu sebagai pelayan sampai hutangku lunas.
Sedangkan uang sebanyak itu sudah pasti tidak akan pernah bisa aku lunasi jika aku hanya bekerja sebagai pelayan saja disana, terlebih biaya adikku sangat mahal aku tidak akan mampu untuk membayarnya.
"Maafkan aku pak Tino tapi aku masih butuh hidup yang normal, aku harus tetap pergi selagi ada kesempatan untukku," ucapku menatap pak Tino saat itu.
Pak Tino yang mengetahui bahwa Klara melarikan diri dengan Kevin, dia segera menghubungi tua Arfanka saat itu juga dan memberitahu semuanya namun karena tuan Arfanka yang masih bersama dengan Riska, dia tidak bisa berkutik sedikitpun meski saat itu dia berniat untuk pergi dan menghentikan ulah Kevin tersebut.
"Hallo... Tuan ini gawat... Ini tentang Klara dia dibawa pergi oleh tuan muda Kevin dan sepertinya dia benar-benar kabur dari rumah ini sebab tuan Kevin membawa semua barang miliknya," ucap pak Tino di dalam telpon saat itu.
Tuan Arfanka yang mendapatkan kabar tersebut dia langsung saja membelalakkan matanya dengan sangat lebar dan berteriak cukup kencang disaat dia baru saja sampai di perusahaannya saat itu, dia juga langsung melepaskan genggaman tangan dari Riska secepatnya sebab dia harus segera pergi menyusul Kevin.
"APA? bagaimana bisa mereka pergi begitu saja? Aishh...aku akan mengejar mereka jaga rumah dengan baik!" Ucap tuan Arfanka kepada pak Tino dan panggilan pun terputus.
"Arfanka kau mau kemana?" Tanya Riska menahan tangan tuan Arfanka dengan sangat kuat.
"Riska maafkan aku tetapi ada urusan penting yang harus aku lakukan saat ini, sebaiknya kau pulang saja aku akan menemuimu lagi setelah urusanku ini selesai." Ucap tuan Arfanka saat itu.
Namun sayangnya Riska yang sudah bekerjasama dengan Kevin sebelumnya dia tentu tidak akan mengijinkan tuan Arfanka pergi dengan begitu mudah setelah Kevin memberitahu dia bahwa ada kesempatan pagi ini untuk mendekati tuan Arfanka, jadi dengan cepat Riska terus saja menahan tuan Arfanka sampai membuat tuan Arfanka sendiri tidak bisa berkutik lagi saat itu.
"Arfanka kita baru saja sampai dikantormu, urusan apa yang mendesak itu sampai membuatku sepanik ini?" Tanya Riska mencurigainya.
Tuan Arfanka yang tidak bisa membuat Riska mencurigai dirinya dia pun mengalah dan berdecak kesal karena tidak bisa pergi dari tempat tersebut saat itu juga.
"Aishh... Sial, jika aku pergi dia pasti akan memata-matai aku, dia tidak boleh tahu tentang Klara sebenarnya, jika dia tahu maka Klara juga yang akan terdampak nantinya." Batin tuan Arfanka memikirkannya dengan sangat baik saat itu.
"Huuh..baiklah aku tidak aka pergi, ayo masuk ke dalam." Balas tuan Arfanka yang pada akhirnya dia tetap menurut pada Riska meski hatinya terus bergejolak dan mencemaskan mengenai Klara saat itu.
Tuan Arfanka tanpa sadar dia sangat memperdulikan Klara entah sejak kapan itu terjadi pada dirinya, jika ada sesuatu saja yang berhubungan dengan Klara dia selalu tidak bisa menahan dirinya dia tidak ingin membiarkan pria lain mendekatinya apalagi mengambil dia dari genggamannya termasuk oleh Kevin meski dia adalah adik bagi tuan Arfanka sendiri.
__ADS_1
"Sayang kapan kita akan menentukan tanggal pertunangan kita, semua orang harus tahu jika aku adalah tuananganmu dan kamu adalah tunanganku, agar tida ada orang ketiga diantara kita berdua yang mencoba untuk merebut salah satu dari kita." Ucap Riska yang terus menggoda tuan Arfanka saat itu.
Tuan Arfanka sama sekali tidak fokus meski Riska terus membelai wajahnya dan dia duduk di meja kerja tuan Arfanka menghadapa kepadanya tuan Arfanka sama sekali tidak tergoda sedikit pun karena pikiran dia terus terpusat pada Klara dan hanya Klara seorang.
"Dimana dia sekarang, aku harus menghubunginya, Klara tidak bisa pergi dengan Kevin, dia bukan pria yang baik dia akan membuat Klara diketahui oleh ayah, itu akan berbahaya bagi Klara sendiri aku tidak bisa membiarkan semua ini." Pikir tuan Arfanka tanpa henti terus saja merasa sangat cemas.
Tuan Arfanka yang paling tahu bagaimana karakter dari ayah angkatnya, meski dia bukan putra kandung dari tuan Briantoro, tetapi dia sudah tahu lebih banyak tentang karakternya karena dia sudah mengenal sosok ini sejak dia kecil, dan mengetahui bagaimana pola pikir dia juga apa yang selalu dia rencanakan untuk Kevin selama ini.
Sedangkan Kevin sendiri meski dia adalah putra kandung tuan Briantoro tetap saja dia lebih banyak tinggal luntang lantung seorang diri dan selalu menghabiskan waktunya luar negeri selama ini, jadi dia jarang sekali berkomunikasi dengan ayahnya dia juga jarak melakukan video call dengan sang ayah sebab dia membenci ayahnya sendiri yang selalu membela dan terlihat berada di pihak tuan Arfanka secara terus menerus.
Tuan Arfanka mengambil ponselnya dan dia terus saja menghubungi nomor Kevin bekali kali namun sayangnya sudah dua kali menghubungi Kevin dia tetap saja tidak diangkat saat itu, sampai panggilan yang ketiga akhirnya tuan Arfanka mendapatkannya dan dia langsung saja menghempaskan tangannya yang di pegang oleh Riska saat itu.
Tuan Arfanka berjalan pergi meninggalkan Riska dia langsung saja mengatakan pada Riska untuk pergi ke kamar mandi padahal sebenarnya dia hendak menjawab panggilan yang sudah terhubung dengan Kevin saat itu.
Dia pun dengan cepat pergi dari sana secepatnya dan mulai mengangkat panggilan itu, tuan Arfanka langsung saja membentak Kevin dan menanyakan mengenai Klara saat itu.
"Kevin dimana kau sekarang?" Bentak tuan Arfanka bertanya kepadanya dengan bentakkan yang sangat keras.
Sedangkan Kevin dia malah menjawabnya dengan begitu santai dan sengaja berbicara seperti itu kepada tuan Arfanka untuk memancing emosinya saat itu.
"Tenang Arfanka apa yang membuatmu berani membentak seperti ini kepadaku hanya untuk menanyakan seorang pelayan rendahan, apa derajatmu sekarang sudah serendah ini ya?" Balas Kevin dengan nada suara yang sangat membuat tuan Arfanka kesal juga jengkel mendengarnya.
"Cukup Kevin! Jangan bermain-main denganku, katakan saja kemana kau membawa Klara sekarang!" Balas tuan Arfanka yang terus mendesaknya dengan keras.
"Dia di tempat yang lebih baik dibandingkan di rumahmu, dan kau harus tahu, dia akan lebih bahagia jika hidup denganku, dibandingkan hidup dengan orang seperti dirimu yang tidak bisa memilih juga tidak bisa mengungkapkan!" Balas Kevin lalu langsung mematikan panggilannya.
Tuan Arfanka benar-benar sangat murka saat itu, dia emosi sekali dan terus saja membentak Kevin dengan keras untuk tidak mematikan panggilan telponnya saat itu.
"Kevin ..dimana kau? Kevin cepat jawab aku, Kevin!" Teriak tuan Arfanka sangat keras saat itu.
Sayangnya panggilan telpon benar-benar sudah terputus tuan Arfanka tidak bisa melakukan apapun lagi dan dia hanya bisa melampiaskan emosinya dengan mem*kul meja di depan kaca kamar mandi ruangannya saat itu.
"Aatrkkk...sialan, awas kau Kevin aku tidak akan membiarkanmu membawa Klara dengan mudah dia harus menjadi pelayanku. Selamanya!" Teriak tuan Arfanka dengan sangat keras. Namun untungnya suara teriakkannya tersebut tidak bisa terdengar oleh Riska sebab saat itu Riska juga tengah mengangkat panggilan telpon dari rekannya sendiri.
"Bug...bug.... Sialan kau Kevin hah..hah..hah!" Bentak tuan Arfanka dengan nafas yang menderu tanpa henti.
__ADS_1
Dia terus saja merasa sangat kesal dan dirinya dipenuhi dengan emosi yang menggebu-gebu, bahkan dengan cepat tuan Arfanka terus mengusap wajahnya dengan kasar lalu mencuci wajahnya dengan air sampai berkali-kali, untuk melampiaskan emosi dan menurunkan emosi itu di dalam dirinya.