
Sedangkan disisi lain Kevin yang terlihat sangat kesal dan dia sudah mendapatkan penolakan yang sangat memalukan dari kakak angkatnya tuan Arfanka yang sama sekali tidak pernah dia anggap itu, kini Kevin pergi untuk mencari hotel yang bisa dia tempati karena dia tidak ingin kembali ke kediaman ayahnya tuan Briantoro sebab jika dia kembali kesana, maka dia akan selalu mendapatkan banyak cercaan dari sang ayah.
Mulai dari perbandingan antara dia dan kakak angkatnya Arfanka yang selalu saja di banggakan oleh sang ayah, dan hal itu pula yang membuat Kevin selalu merasa kesal dan emosi kepadanya, sejak kecil Kevin selalu mendapatkan banyak sekali tekanan dari sang ayah dan dia selalu di tuntut untuk menjadi lebih baik dari pada kakak angkatnya tuan Arfanka.
Sedangkan dia sendiri sudah berusaha keras untuk belajar dan melakukan segalanya, sebab dia juga ingin mengalahkan Arfanka dan membuktikan kepada ayahnya Briantoro bahwa dia bisa menjadi lebih hebat dan lebih baik dari kakaknya Arfanka tersebut, namun sayangnya Arfanka yang memiliki otak jenius tentu saja tidak dapat di saingi dengan mudah oleh Kevin yang hanya mengandalkan kecerdasan biasa yang dia miliki, hanya sikap penuh semangat dan energi yang besar dalam dirinya yang membuat dia terus belajar.
Hingga menjadikannya lebih pintar dan cerdas dari waktu ke waktu, sedangkan disisi lain Arfanka bisa menyelesaikan semuanya dan bisa melakukan semua dengan mudah bahkan tanpa dia perlu belajar sedikit pun, karena dia sudah di berikan kecerdasan oleh tuhan pada otaknya sejak lahir.
Kevin tahu akan sulit sekali bagi dia melampaui seorang tuan Arfanka sebab dia memiliki keistimewaan otak yang jenius sejak kecil, meski IQ yang Kevin miliki tidak kalah hebat namun untuk melawan orang jenius itu sulit bagi dia yang hanya mengandalkan kerja keras dan standar IQ nya saja, tapi walau begitu Kevin tidak pernah menyerah dia terus belajar dan belajar hingga akhirnya sekarang dia sudah bisa sepadan dengan tuan Arfanka.
Masih masih tetap belum bisa meyakinkan anaknya, dan masih belum bisa mendapatkan kepercayaan dari sang ayah, sebab ayahnya terus saja meminta bukti darinya dimana dia tidak bisa membuktikan semua itu karena ayahnya tidak pernah memberikan dia kesempatan untuk memimpin perusahaan atau bahkan hanya sekedar mendampingi Arfanka di kantor pusat perusahaan milik keluarga Briantoro selama ini.
Sang ayah tuan Briantoro hanya terus mengirimkannya ke luar negeri atau ke tempat-tempat yang jauh hanya demi menjauhkan dia dengan Arfanka dan seperti sengaja untuk menyingkirkan dirinya agar tidak bisa memimpin perusahaan milik ayah dan ibunya sendiri, karena dia jelas memiliki hak yang sangat besar atas perusahaan tersebut.
Kali ini Kevin menyimpan banyak sekali kekesalan dan emosi yang yang terus terbentuk di dalam jiwanya hingga dia terus menggerutu kesal dan malah memutuskan untuk pergi ke kediaman tuan Arfanka berniat untuk mengacaukan rumahnya tersebut, untuk membalas dendam atas kekesalan dan dendam yang dia rasakan sebelumnya.
"Bawa aku ke rumah kakak angkatku" ucap Kevin memerintahkan dua bodyguard yang ikut bersamanya saat itu.
Mereka langsung membelokkan mobil tersebut dan segera membawa Kevin menuju kediaman tuan Arfanka secepatnya, sedangkan disisi lain saat itu aku tengah membersihkan rumah dan bi Evi terlihat cukup lelah juga tidak enak badan sehingga aku mulai mendekatinya karena melihat raut wajahnya yang begitu pucat.
"Bi...apa bibi baik-baik saja?" Ucapku menanyakan keadaannya saat itu,
"Aahhh...bibi baik-baik saja hanya sedikit pusing, tapi bibi masih bisa menahannya, sebaiknya kamu saja yang memasak dan biarkan bibi yang membersihkan mejanya" ucap bi Evi kepadaku saat itu.
Walaupun bi Evi mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja tetapi melihat dari raut wajahnya aku bisa mengetahui bahwa dia sedang tidak baik-baik saja aku segera memegangi tangannya dan mulai memeriksa suhu tubuh bi Evi dengan menempelkan tanganku pada keningnya.
Betapa kagetnya aku ketika merasakan suhu yang sangat panas pada kening bi Evi saat itu, dan langsung saja aku berteriak memanggil pak Tino karena aku takut terjadi sesuatu kepada bi Evi sebab dia tiba-tiba saja pingsan saat itu.
"Astaga bibi, keningmu sangat panas sekali, kau masih mengatakan bahwa kau baik-baik saja, bi...bi...bi..e..ee..ehhh..bi bangun bi...bi...bangun" ucapku sedikit kaget melihat bi Evi yang terkulai lemah sedikit demi sedikit saat itu.
"Pak Tino tolong....pak.... Pak Tino kemarilah cepat...pak Tino!" Teriakku sangat kencang saat itu.
Hingga tidak lama akhirnya pak Tino datang menghampiriku dan dia segera berlari menghampiri aku yang tengah menahan tubuh bi Evi agar tidak jatuh ke lantai secara langsung, aku juga sudah tidak kuat lagi menahannya, namun untunglah pak Tino datang tepat waktu sehingga dia segera membantuku mengangkat bi Evi dan dia segera membawanya untuk pergi ke rumah sakit terdekat saat itu juga.
"Ya ampun, apa yang terjadi dengannya Klara, kenapa dia tiba-tiba pingsan seperti ini?" Tanya pak Tino kepadaku,
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu pak, tetapi suhu tubuh bi Evi sangat panas sebaiknya kamu cepat membawa dia ke rumah sakit, aku takut bi Evi kenapa-napa" balasku kepadanya,
"Baiklah, tolong kamu jaga rumah dan masalah tuan Arfanka bapak akan menjelaskan kepada dia nanti, sekarang bantu aku membukakan pintu, ayo cepat Klara" ucap pak Tino yang segera aku anggukkan.
Aku segera berlari membukakan pintu rumah juga terus membuka pintu mobil dan membantu pak Tino untuk memasukkan bi Evi ke dalam mobilnya dengan cepat, pak Tino segera pergi dari rumah dan aku terus berharap semoga tidak terjadi apapun terhadap bi Evi sebab hanya dia yang selama ini baik juga memperdulikan aku melebihi apapun.
Rasanya sangat tidak rela jika sampai sesuatu yang buruk terjadi kepadanya, aku terus merasa cemas saat melihat mobil yang di kemudikan oleh pak Tino mulai keluar dari gerbang kediaman tuan Arfanka, setelah sudah benar-benar tidak terpandang mata, barulah aku segera masuk kembali ke dalam.
Namun disaat aku hendak mendorong pintu tiba-tiba saja terdengar suara seseorang dari belakang yang meminta aku untuk membukakan pintu untuknya.
Awalnya aku pikir itu tuan Arfanka namun saat aku berbalik rupanya itu sama sekali bukan tuan Arfanka, dan aku langsung kaget terperangah ketika melihat di belakangku adalah seorang pria yang pernah aku temui saat di depan lift kantornya tuan Arfanka tadi pagi.
"Buka pintunya!" Ucap Kevin cukup kencang.
"Aahh...itu pasti tuan Arfanka..." Pikirku saat itu sambil bersiap-siap membalikkan badan dan sudah membukakan pintu untuknya.
"Selamat datang tu.....aaaahhh...kau?" Ucapku kaget tidak kepalanya.
Pria itu juga langsung membuka kacamata hitam yang dia kenakan dan mulai menatap aku dengan tatapan tajam juga kedua alis yang dia kerutkan sangat tajam, dia sama kagetnya dengan aku saat itu.
Aku semakin tersentak kaget karena aku dan dia berbicara mengucapkan kalimat yang sama di waktu yang sama pula, itu cukup membuatku sangat kaget dan tidak habis pikir mengapa aku harus berbicara secara serempak dengan orang yang sangat aneh itu bahkan aku sudah menanggung malu padanya dan sekarang malah harus bertemu dengannya lagi.
"Heh...beraninya kau berbicara bersamaan denganku, apa kau tidak tahu siapa aku ini, hah?" Ucapnya dengan nada bicara yang begitu sombong sekali.
Bahkan sikap dan nada bicaranya lebih sombong di bandingkan tuan Arfanka, dia terlihat memakai pakaian baranded dan begitu banyak pernah pernik di tangannya tersebut, juga jangan lupakan kacamata hitam yang dia taruh di tengah-tengah kemeja yang dia kenakan.
Saat pertama kali mihatnya ketika di depan lift saat itu, aku pikir penampilannya terlah sangat keren dan berkelas, namun ketika melihatnya lagi kali ini dengan lebih lama dan lebih jelas, aku merasa dia norak dan kampungan karena pakaiannya yang terlalu berlebihan, entah berapa banyak uang yang dia pakai di tubuhnya saat ini, mulai dari sepatu bermerk mahal, juga kemeja yang sangat langka, dia terlihat cukup kaya saat ini.
Sedangkan saat dia berbicara kepadaku, langsung saja aku menggelengkan kepala dengan perlahan karena aku memang sama sekali tidak mengenalinya, lagi pula aku baru saja bertemu dengannya di depan lift kantor tuan Arfanka tadi pagi, dan ini adalah kedua kalinya aku bertemu dengan dia, tentu saja aku tidak mengenalinya.
"Aishhh....ternyata kau benar-benar tidak mengenaliku yah, kau kan sudah mihat aku tadi pagi, bagaimana bisa kau tetap belum mengetahui siapa aku ini" ujar pria itu terlihat cukup kesal.
Aku hanya bisa menaikkan kedua alisku merasa sangat heran dan kebingungan sendiri melihat dia yang terlihat begitu kesal dengan jawaban dariku, padahal aku membalasnya dengan jujur karena aku memang tidak mengenalnya, tidak mungkin juga aku akan berpura-pura mengenalinya disaat aku memang tidak mengenal dia dan sangat tidak tertarik untuk mengenalnya sedikitpun.
"Aku memang tidak mengenalimu, memang kau siapa dan untuk apa kau datang kemari, apa kau tidak tahu ini rumah siapa?" Ucapku kepadanya dengan nada yang cukup tinggi juga.
__ADS_1
Aku sengaja membalasnya dengan nada yang dia gunakan saat bicara dengan begitu sombongnya kepadaku, sebab aku tahu orang sombong harus di balas dengan yang sombong juga barulah dia akan bungkam dan diam.
Namun rupanya dugaanku itu sangat salah besar, dia bukan bungkam, justru dia malah semakin menjadi, dan terlihat sangat marah lebih marah di bandingkan sebelumnya.
"Aishhh...beraninya kau berbicara seperti itu kepadaku, tentu saja aku tahu ini rumah siapa, ini adalah rumah kakakku si Arfanka saingan bubuyutanku itu, apa hah? Apa aku salah?" Ucapnya membentakku dengan cukup kencang.
Aku langsung membelalakkan mataku dengan mulut yang terbuka sangat lebar dan segera aku menutupnya dengan kedua tangan saking kagetnya mendengar ucapan dari pria tersebut yang mengatakan sebutan kakak kepada tuan Arfanka, aku masih belum bisa mempercayai hal itu dan langsung saja aku menanyakannya lagi kepada pria tersebut untuk memastikan apakah ucapannya benar atau dia hanya membohongi aku saja.
"HAH?...haha...apa kau sungguh adiknya tuan Arfanka? Jangan coba-coba membohongiku aku akan menghajarmu jika kau menipuku" ucapku memberikan peringatan kepadanya.
"Heh ..heh..heh...apa kau buta atau bagaimana? Aku ini memang adiknya Arfanka jika tidak bagaimana aku akan di ijinkan masuk oleh penjaga yang ketat di depan gerbang sana, apa kau bodoh ya!" Balas pria itu yang setelah aku pikirkan ucapannya memang benar juga.
Tetapi jika dia sungguh adalah adiknya tuan Arfanka maka nasibku akan benar-benar mati saat itu juga, aku sudah melawan dan berani bicara dengan penuh kesombongan dan begitu lantang penuh percaya diri kepada pria itu.
Di tambah kejadian tadi pagi saat aku bertemu dengannya di depan lift itu sangat memalukan sekali, aku sungguh tidak bisa menampakkan wajahku lagi jika dia memang benar-benar adiknya tuan Arfanka.
"KA..KA..kau sungguh adiknya ya?" Ucapku sekali lagi dengan perasaan yang tidak menentu dan bicara dengan sangat gugup saat itu.
"IYA...aku adalah adik dari Arfanka Briantoro, aku adalah Kevin Briantoro, jikalau tidak percaya juga lihatlah ini KTP ku aku benar-benar memiliki nama marga yang sama dengannya, ayo lihat kemari!" Bentak pria itu sampai menunjukkan KTP miliknya kepadaku.
Aku sungguh tidak sanggup lagi untuk melihat KTP milik pria itu tetapi karena dia membentak aku dan mendesak seperti itu, aku pun terpaksa mengambil KTP miliknya dengan tangan yang bergetar cukup kuat karena merasa sangat takut dan cemas, aku mengambilnya dengan perlahan dan membaca nama di KTP tersebut, yang ternyata memang benar namanya adalah Kevin Briantoro dan marga namanya itu jelas sama sekali dengan marga yang di gunakan oleh tuan Arfanka.
Aku benar-benar sangat malu dan di buat begitu memalukan di hadapan pria itu untuk kedua kalinya, terus saja aku menunduk dan merasa bersalah juga tidak enak hati terhadapnya.
"AAhhh...matilah aku dia benar-benar adiknya tuan Arfanka, apa yang harus aku lakukan kepadanya sekarang? Dia pasti sangat kesal dan marah padaku, ahhh bagaimana jika dia mengadukan semuanya kepada tuan Arfanka, aku akan benar-benar mati" batinku merasa sangat kacau saat itu.
Karena takut aku langsung saja meminta maaf kepadanya dan segera mempersilahkan dia untuk masuk secepatnya.
"AA..AA..aahhh..benar kau memang adiknya, maafkan aku...maafkan aku, aku hanya pelayan baru di rumah ini jadi aku tidak terlalu tahu tentang anggota keluarga tuan Arfanka, mohon maafkan aku tuan muda, salahkan masuk" ucapku segera mempersilahkan dia dengan cepat.
Pria itu terlihat menatap sinis dan tajam kepadaku, aku tahu dia sangat kesal sekali dalam menghadapi aku saat itu, dan dia bahkan langsung saja menyuruhku untuk membawakan tas yang dia bawa di tangannya saat itu.
"CK... bagaimana bisa kakakku mempekerjakan pelayan bodoh dan setengah gila sepertimu, ambil ini, jangan sampai kau merusak tas milikku itu harganya lebih mahal dari harga gajimu bekerja disini" ucap Kevin kepada Klara dengan sinis.
Aku berusaha menahan emosi yang menggebu di dalam diriku saat itu, karena melihat dua bodyguard yang menunggu dia di luar, rasanya aku ingin menghajar pria bernama Kevin itu, karena sudah mengatai aku sebagai wanita setengah gila, tapi aku tidak bisa melakukannya, benar-benar orang sialan itu.
__ADS_1