
Tidak ada pilihan lain lagi untukku saat itu, dan aku hanya bisa memasang wajah yang kebingungan dan sendu, sungguh aku tidak sanggup menghadapi tuan Arfanka nantinya, dia sangat menyeramkan di sore hari apalagi di pagi hari seperti ini, aku berjalan dengan perlahan menaiki tangga dan mulai mendekati pintu kamarnya dengan pelan sambil menggigit ujung jariku saking gugupnya saat itu.
"Haduh... bagaimana ini, aku harus bagaimana menghadapinya aku sangat malu" batinku saat itu.
Padahal aku sendiri tidak tahu dengan jelas apa alasan aku harus malu kepadanya padahal aku tidak melakukan hal yang memalukan padanya.
Saat sudah sampai di depan kamar tuan Arfanka aku sungguh benar-benar merasa sangat gugup sekali dan tidak tahu harus melakukan apa saat itu, hingga aku mulai menarik nafas yang dalam lalu membuangnya perlahan, aku terus saja berusaha menenangkan diriku sendiri dan terus berusaha untuk mulai mengetuk pintu kamar tuan Arfanka, aku sudah mengangkat kepalaku saat itu dan berusaha untuk mengetuk pintu kamar tuan Arfanka, tetapi disaat aku sudah berusaha untuk menyentuh pintu itu dan mengetuknya aku sungguh tidak bisa melakukan semua itu dan terus saja malah merasa sangat ragu-ragu dan takut.
"Aahhhh ...aku sungguh tidak bisa jika harus mengganggunya, bagaimana jika nanti dia marah terhadapku, atau dia akan membentak aku nantinya, aahhh aku tidak berani mengganggu dia seperti itu, terlebih kejadian subuh tadi aku takut jika benar-benar tuan Arfanka yang memberikan selimutnya kepadaku" gerutuku merasa cemas sendiri.
Aku terus saja berjalan mondar mandir kesana kemari sambil terus saja merasa resah sendiri, tidak tahu harus melakukan apa saat itu dan berkali-kali aku aku terus saja mengurungkan niatku yang hampir saja beberapa kali sudah hendak mengetuk pintu kamar tuan Arfanka namun terus aku urungkan seketika.
"Aaaduhh...ayo aku harus bisa, ini hanya mengajak dia untuk turun ke bawah dan sarapan saja bukan, bukan masalah besar, kenapa juga aku harus terganggu dengan hal itu" ucapku menenangkan diriku sendiri.
Aku berdiri dengan tegak dan meyakinkan diriku sendiri di depan kamar tuan Arfanka saat itu, hingga aku mulai bersiap untuk mengetuk pintu kamar tuan Arfanka, ku angkat tanganku mulai mendekati pintu kamar tuan Arfanka secara perlahan-lahan saat itu.
Hingga tidak lama terdengar suara pintu itu seperti di buka dari dalam oleh tuan Arfanka lebih dulu, aku langsung merasa sangat panik dan cemas sehingga saat pintu itu terbuka dan aku mihat tuan Arfanka sudah berdiri di hadapanku, aku membelalakkan mataku mihatnya untuk beberapa detik saja lalu aku langsung berbalik badan secepatnya hingga membelakangi tubuh tuan Arfanka saat itu.
Aku mulai merasa semakin cemas bahkan aku masih bisa merasakan kedua tanganku yang bergetar cukup kuat saat itu.
"Ya ampun kenapa bisa seperti ini, apa yang harus aku katakan jika dia bertanya kepada aku nantinya" batinku merasa sangat ketakutan saat itu.
Hingga tidak lama ketika aku tengah terus saja berpikir cemas sendirian, tiba-tiba saja tuan Arfanka justru malah memanggil aku dengan nada suaranya yang cukup keras saat itu hingga membuat aku sedikit kaget dan langsung saja aku berbalik ke arahnya dengan cepat saat itu juga.
"Heh....sedang apa kau berdiri seperti itu di depan kamarku, apa kau mengintip aku yah?" Ucap tuan Arfanka saat itu.
Aku benar-benar membelalakkan mataku dengan lebar, tidak pernah sedikitpun aku memiliki niat mengintip seorang tuan Arfanka, jangankan mengintip dia untuk melihat wajahnya dan berbicara kepadanya saja aku sudah tidak berani, orang sekeras dia dan memiliki wajah sangat datar seperti itu mana mungkin ada orang yang berani mengintipnya dan tentu saja semua orang yang mengintip dia secara diam-diam ujungnya akan mati juga di tangannya.
Karena aku tidak ingin dia salah paham terlalu jauh lagi, langsung saja aku segera membalikkan badanku dan menjelaskan kepada dia secepatnya saat itu juga.
"Ahh..ahhh..tidak..tidak..tuan kau jangan salah paham seperti itu, aku sama sekali tidak pernah bermaksud untuk seperti itu, apalagi untuk mengintipmu, mana mungkin aku berani melakukan itu kepadamu tuan aku sungguh tidak berani" ucapku kepadanya saat itu.
Aku berusaha untuk memasang wajah yang sangat serius kepadanya, dia justru malah tidak memperlihatkan ekspresi apapun kepadaku, wajahnya tetap saja terlihat datar bahkan sama sekali tidak terlihat marah atau kesal. Melihat dia yang memasang ekspresi seperti itu justru melah semakin menakutkan untukku karena dengan wajahnya yang datar itu membuat aku tidak bisa memperkirakan bagaimana ekspresi dia sebenarnya saat itu dan apa yang tengah dia pikirkan dalam kepalanya saat itu.
Sungguh dia saat ini membuat aku merasa sangat cemas dan begitu meresahkan sekali, aku juga tidak bisa berbicara lagi hingga tuan Arfanka menanyakan lebih dulu padaku baru aku berani menjawab dia meski dengan wajah yang aku tundukkan karena tidak sanggup lagi menatap wajahnya yang menakutkan dan seram seperti itu.
__ADS_1
"Lalu untuk apa kau berdiri di depan pintu kamarku dan kenapa kau harus terlihat gugup dan membalikkan badan seperti itu saat aku baru keluar dan memergoki dirimu?" Balas tuan Arfanka kepadaku bak seperti tengah mengintrogasi seseorang tersangka.
Aku menelan salivaku sendiri susah payah dan segera menjawab ya meski dengan perasaan sedikit takut dengannya.
"Be..be..begini..tuan... sebenarnya bi Evi yang menyuruh aku agar memanggil kau dan mempersilahkan bahwa sarapan di bawah sudah siap, itu saja tuan" balasku dengan jujur padanya.
Setelah mendengar jawaban dariku tuan Arfanka justru melah terlihat santai saja dan dia hanya menatapku sekilas lalu segera melanjutkan jalannya pergi meninggalkan aku begitu saja, hingga aku merasa heran dan kebingungan sendiri, aku juga segera saja mengikuti dirinya dengan cepat, dan langsung saja kembali ke dapur membantu bi Evi yang saat itu masih terlihat mengelap meja.
Tuan Arfanka langsung duduk pada salah satu kursi yang aku bantu mendoronganya saat itu, aku berusaha memasang wajah tersenyum sambil memperlihatkan gigiku dengan lebar agar membuatnya tidak marah atau berperasangka yang lainnya lagi kepadaku.
"Aahhh.....ayo silahkan duduk tuan" ucapku mempersilahkan dia dengan segera.
Tuan Arfanka hanya menatapku sekilas lalu dia menarik kursi tersebut yang padahal aku sudah mendorongkan kursi itu untuknya tetapi dia malah menggeser kursinya sendiri seakan dia tengah menolak bantuan yang aku berikan kepadanya dan itu cukup membuat aku sedih juga tidak enak hati karena seperti mendapatkan penolakkan darinya dengan halus.
"Ehhh ...kenapa dia seperti menolak aku, apa yang salah dengan mendorongkan kursi untuknya aku sudah mencoba berbuat baik padanya untuk membalas kebaikan dia juga, kenapa dia malah seperti ini" batinku merasa aneh sendiri.
Tuan Arfanka juga sama sekali tidak memperdulikan aku sama seperti biasanya hingga tidak lama ketika dia tengah menikmati sarapannya tiba-tiba saja ponselnya itu berbunyi dan dia segera mengangkat panggilan telpon tersebut juga menghentikan sarapannya.
"Ya...ada apa?" Ujar tuan Arfanka,
Mendengar itu tuan Arfanka refleks menatap ke arah aku, dan aku yang saat itu masih tidak mengetahui apa yang sedang dia bicarakan di telpon hanya bisa menatapnya sambil memasang senyum lebar dengan kedua alis yang aku naikkan karena aku sendiri merasa tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh tuan Arfanka menatap aku seperti itu secara tiba-tiba disaat dia tengah menelpon dengan seseorang.
"Ehh ..kenapa dia malah menatap aku seperti itu?" Batinku saat itu merasa cukup heran,
"Baiklah nanti aku akan membawanya kesana, kau tetap di kantor dan undurkan semua jadwalku hari ini" balas tuan Arfanka membalas panggilan dari telpon itu lagi.
Setelah tuan Arfanka menutup telponnya aku sangat penasaran dengan siapa dia berbicara di telpon barusan karena wajahnya terlihat sangat serius di tambah dia menatap ke arahku saat itu, sehingga wajar saja bukan jika aku merasa curiga terhadap apa yang dia bicarakan.
Hingga akhirnya rasa penasaran di dalam diriku terbalaskan karena setelah tuan Arfanka menyelesaikan sarapannya dia menyuruh aku untuk ikut bersamanya.
"Kau..ayo ikut denganku" ucap tuan Arfanka begitu saja tanpa basa basi.
Aku segera berlari kecil menyusul langkahnya yang sangat lebar dan cara jalannya yang begitu cepat sehingga cukup sulit untuk aku mengejar ketertinggalan darinya saat itu, walau begitu aku terus saja berlari kecil mengejar dia hingga sampai ke luar dan aku menatap ke arahnya dengan kebingungan disaat tuan Arfanka tiba-tiba saja membukakan pintu mobilnya kepadaku saat itu.
"Ayo masuk" ucap tuan Arfanka kepadaku saat itu.
__ADS_1
Aku kenali membelalakkan mataku semakin besar dan kaget, karena mihat tuan Arfanka yang tiba-tiba saja membukakan pintu mobil untukku, aku merasa sangat keheranan dan bingung, bagaimana cara aku menanggapi ucapannya saat itu sampai aku tidak sadar bahwa tuan Arfanka sudah berdiri di sana membukakan pintu mobilnya untukku cukup lama, sedangkan aku hanya tetap berdiri diam mematung saja.
"Heh ...apa kau ingin membuat lenganku pegal hingga patah hanya karena menahan pintu untuk pelayanku sendiri?" Tambah tuan Arfanka lagi menyadarkan aku dengan cepat.
"Hah....a..ahhhh..maafkan aku tuan, aku akan masuk sekarang" ucapku langsung saja tersadar saat itu.
Tetapi disaat aku sudah tersadar dan hendak masuk ke dalam mobilnya tuan Arfanka tiba-tiba saja menutup pintu mobil itu dengan cara membantingnya cukup kuat sampai membuat aku sedikit kaget dan kembali merasa bingung sampai mengerutkan kedua alisku saking tidak mengerti nya dengan sifat tuan Arfanka ini yang sulit sekali di tebak.
"Ehh....tuan kenapa kau menutupnya lagi, aku belum sempat masuk" ucapku kepadanya dengan wajah yang kebingungan saat itu.
"Telat, aku sudah tidak ingin membukakan pintu untukmu, kau buka saja sendiri bukankah kau juga memiliki tangan, gunakan tanganku dengan sebagai mana mestinya jangan merepotkan orang lagi!" Balas tuan Arfanka begitu saja sambil dia berjalan ke sebrang lalu masuk ke dalam mobil lebih dulu.
Entah apa yang sebenarnya dia pikirkan dalam kepalanya tersebut, dia terlihat begitu arogan dan keras kepala tetapi terkadang terlihat baik dan perhatian, dia benar-benar membuat aku merasa kebingungan sendiri dengan sikap yang dia tunjukkan kepadaku saat itu, bahkan sekarang aku sudah benar-benar tidak bisa menebaknya lagi, dia terlalu sulit untuk aku cari tahu karena dia orang yang begitu tertutup dan informasi yang dia miliki juga tidak banyak di ketahui oleh orang di sekelilingnya sehingga tentu saja cukup sulit untuk orang lain mengetahui tentang kehidupan pribadi seorang tuan Arfanka tersebut.
Aku pun langsung saja masuk ke dalam mobil meski menaikkan kedua alisku dan merasa sangat heran dengan sikapnya tersebut.
Aku juga merasa sangat penasaran dengan apa tujuan dia membawa aku masuk ke dalam mobilnya padahal yang aku tahu bahwa dia tidak mungkin pergi ke kantor di hari libur seperti ini, tetapi setelahnya tersebut menunjukkan bahwa dia seperti hendak pergi ke kantornya, aku berpikir mungkin dia akan bekerja di akhir pekan seperti ini, karena memang dia adalah bos nya, sehingga tidak heran jika dia mau bekerja atau tidak.
Tapi aku tetap saja penasaran kemana dia akan membawaku sehingga aku langsung saja menanyakan masalah hal tersebut kepadanya lagi, meski mungkin itu akan terdengar sedikit memalukan sebab aku yang selalu menanyakannya lebih dulu.
"Tu...tuan...jika aku boleh tahu kemana kau akan membawaku sekarang, bukankah setelah terlihat seperti kau akan pergi ke kantor? Jika aku benar untuk apa juga kau membawa aku ke kantormu?" Tanyaku kepadanya sambil mengutarakan dugaan diriku saat itu.
"Heh... siapa yang akan membawamu ke kantor, itu sama sekali tidak ada manfaatnya untukku, dan kau diam saja nanti kau akan tahu dengan sendirinya" balas tuan Arfanka kepadaku.
Melihat dia yang tidak ingin memberitahu aku yang sebenarnya itu sungguh membuat aku semakin penasaran dan hatiku mulai merasa tidak tenang, aku tidak tahu apa yang bisa mengganggu perasaan di dalam diriku hingga aku merasa sangat tidak tenang dan terus merasa sangat cemas tanpa sebab yang jelas.
Hingga tuan Arfanka yang tidak sengaja melirik ke arah Klara dia sungguh merasa sangat tidak tega dan sebenarnya saat itu dia ingin sekali mengatakannya kepada Klara bahwa mereka akan pergi menuju rumah sakit tempat dimana adiknya di rawat, dan ingin sekali memberitahu Klara tentang apa yang terjadi kepada adiknya disana.
Namun tuan Arfanka hanya tidak ingin membuat seorang Klara akan semakin merasa cemas di perjalanan sehingga dia hanya menyimpannya sendiri dan akan memberitahu Klara ketika sampai di rumah sakit nanti secara langsung, tuan Arfanka juga sengaja membiarkan agar perawatnya langsung yang akan memberitahu hal sebenarnya kepada Klara sebab dia sendiri tidak sanggup memberi tahu Klara mengenai hal menyedihkan seperti itu.
Dia hanya takut seorang Klara akan terlihat murung di hadapannya dan dia benci mihat itu, dia selalu merasa empati dan kasihan dengan Klara sehingga baginya lebih baik tidak mengetahui dan tidak mihatnya sedih daripada harus memberi tahu Klara tentang semua yang terjadi dan dia harus melihat Klara bersedih.
"Aahhh....aku tidak bisa memberi tahu dia tentang semuanya, biar perawat saja yang menjelaskan, aku sangat tidak tega" batin tuan Arfanka saat itu.
Padahal dia di kenal dengan sikap jahatnya dan wajah datar yang sangat dingin sepanjang hari, tetapi tidak di sangka dia justru malah memiliki hati yang cukup lembut.
__ADS_1