Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Masa lalu Arfanka


__ADS_3

Disaat tuan Arfanka itu sudah pergi dari sana pria tua yang memiliki wajah datar dan cukup menegangkan itu langsung saja memberikan sebuah kertas kepadaku dia memberikan kertas yang berukuran cukup kecil, aku pikir kertas itu pendek tapi disaat aku meraihnya kertas itu menggelinding ke bawah dan sangat panjang membuat aku kaget terperangah saat melihatnya dengan heran.


"E .e....ehh... Astaga peraturan macam apa sebanyak ini?" Ucapku kepelosan saking kagetnya melihat betapa panjangnya kertas peraturan tersebut.


"Anda tidak memiliki wewenang untuk bicara seperti itu, karena kau juga seorang pelayan di rumah ini, mulai sekarang kau harus mematuhi semua peraturan yang ada di rumah ini dan jangan melakukan kesalahan, apa kau mengerti?" Ucap pria tersebut dengan begitu serius kepadaku.


Aku langsung mengangguk patuh kepadanya karena melihat wajahnya saja sudah membuat aku takut dan ngeri di buatnya, tidak ada pilihan lain lagi bagiku selain menuruti semua aturan yang ada disana agar aku bisa keluar dari rumah itu dengan selamat setelah selesai melunasi semua hutang milik ibuku yang tidak mempunyai hati itu.


Aku segera menarik kertas tersebut dan membacanya dengan teliti, aku terus menggulung kembali kertas itu dan segera pergi ke kamar untuk menyimpannya, aku juga segera pergi ke dapur untuk memasak makanan makan malam bagi tuan Arfanka tersebut, karena ketua pelayan tadi sudah menyuruhku untuk memasak.


Aku tidak tahu menu apa saja yang harus aku masak sehingga aku memakai semua yang ada di dalam lemari es saat itu dan segera menyajikannya, hingg ketika tuan Arfanka yang terlihat sangat kejam itu langsung datang dan duduk di depan meja yang lebar dengan banyak hidangan yang sudah aku masak sebelumnya.


Dia mulai memeriksa semua makanan yang tersaji disana dan dia mulai berbicara kepadaku menyuruh aku untuk mengambilkan nasi untuknya.


"Hey... Kenapa kau diam saja disana, ayo ambilkan nasi dan lauk untukku!" Ucap dia mendominasi,


"Aahh.... Baik tuan" ucapku sambil menahan kekesalan dalam diriku.


Aku segera mengambilkan nasi untuknya dan menanyakan lauk mana yang akan dia makan saat itu namun dia justru malah menyuruh aku mengambilkan semuanya.


"Tuan lauk mana yang akan kau pilih?" Tanyaku kepadanya,


"Semua" balas dia begitu saja.


Karena dia sudah berkata seperti itu aku langsung mengambil beberapa lauk yang ada disana dan mulai memberikan piring penuh tersebut kepada tuan Arfanka namun dia mulai mengerutkan kedua alisnya dan terlihat matanya terus membulat terbelalak lebar sampai dia menggebrak meja makan tersebut dengan sangat keras.


"Brakk.....sialan apa yang kau masak hah? Apa kau memasak ikan?" Bentak tuan Arfanka kepadaku dengan sangat kencang.


Aku sangat kaget mendengar bentakkan darinya dengan wajahnya itu yang terlihat menyeramkan dan membuat aku merasa sangat takut saat itu dengan perasaan takut dan tangan yang gemetar aku langsung menjawabnya pelan.


"I..i...iya tuan" balasku dengan gugup,


"Apa kau tidak membaca peraturan yang diberikan oleh pak Tino hah!" Bentak dia lagi sambil berjalan ke arahku.


Dia langsung mencengkram daguku dengan sangat kencang dan menarik aku ke dekat meja makan, aku hanya bisa meringis kesakitan merasakan daguku yang sangat ngilu karena dia mencengkeramnya dengan sangat kuat.


"Kau lihat... Lihat ikan ini, apa kau akan membunuhku dengan memberikan aku ikan hah!" Bentak dia lagi sambil mendorongku ke dekat meja dan membuat tubuhku jatuh menimpa makanan disana hingga beberapa piring jatuh ke lantai dan semua makanan berhamburan begitu saja.


"Aaaahhh.... Preekkkk...." Ringis ku dan suara piring yang pecah di lantai.


Pria itu benar-benar pria yang sangat kejam dia memperlakukan aku dengan sangat kasar dia menjambak rambutku dan menarik aku ke belakang hingga lagi dan lagi melemparkan aku begitu saja dengan sekuat tenaganya hingga aku jatuh ambruk di lantai dengan lemah.


Perutku sudah sakit karena terpentok ke samping meja makan sebelumnya dan rambutku juga sudah dia jambak dengan kuat, lalu kini lututku lebam karena menghantam lantai sebab dia juga yang mendorongku dengan kuat, dia juga memaksa aku untuk memakan ikan tersebut dan memasukkannya ke dalam mulutku dengan paksa.


"Makan... Kau makan masakanmu sendiri hingga, habis ayo makan buka mulutmu dasar wanita tidak berguna!" Bentak dia sambil terus memaksa aku untuk membuka mulutku.

__ADS_1


"Ee..euumm....euumm..." Suaraku yang terus menutup mulutku saat itu.


Aku berusaha menahan tangannya yang terus saja mendorong kepalaku dan tangan satunya lagi yang memasukkan ikan itu secara paksa ke dalam mulutku, semua itu terlalu menyakitkan untukku dan aku berusaha untuk berontak juga menghentikan dia namun aku tidak bisa hingga ketua pelayan akhirnya datang menolongku.


"Tuan... Mohon maafkan nona Klara dia pelayan baru sehingga tidak mengetahui apapun dengan benar, tolong maafkan dia tuan semua ini adalah kesalahan saya, biar saya yang menerima hukuman dari anda" ujar ketua pelayan itu yang membuat pria kejam tersebut langsung menghentikan aksinya.


Aku baru bisa menghembuskan nafas lega dengan mulut yang belepotan dengan bumbu ikan yang tadi aku masak sendiri bagian ujung bibirku juga terasa sakit karena dia terus memaksa untuk membuka mulutku dengan kasar sebelumnya.


"Ohhh... Jadi kau sudah membela gadis ini yah, apa kau lupa siapa kau di rumah ini pak Tino?" Ujar pria tersebut yang langsung berdiri dan berjalan mendekati pak Tino saat itu.


Aku masih meringis di lantai memegangi wajahku yang terasa sangat sakit terutama di bagian mulutku, aku lihat pria itu mencengkram kerah pakaian pak Tino dan dia hampir saja melayangkan tamparan kepada pria tua tersebut, melihat itu tentu saja aku tidak bisa diam, apalagi pak Tino sudah membela aku sebelumnya, sehingga aku langsung bangkit dan memeluk kaki pria itu untuk menghentikan dia dan memohon kepadanya agar memaafkan aku dan melepaskan pak Tino.


"Tunggu tuan tolong berhenti, aku mohon kepadamu tolong maafkan pak Tino dia tidak bermaksud melawanmu, aku akan menerima hukuman apapun darimu tolong maafkan dia, dia sungguh tidak bersalah aku tidak membaca peraturan yang dia berikan dengan benar, aku mohon kepadamu tuan" ucapki sambil memasang wajah sendu dan aku terus memeluk kakinya dengan erat.


Arfanka saat itu langsung melepaskan genggaman tangannya dari kerah pakaian pak Tino dan kini dia langsung kembali berjongkok lalu memagangi kedua pundakku dan dia langsung saja berbicara dengan begitu sinis kepadaku.


"Kau... Apa kau yakin bisa menerima semua hukuman yang aku berikan kepadamu?" Tanya dia padaku,


"Iya... Aku akan melakukan apapun itu" balasku kepadanya.


Dia terlihat memasang senyum sinis dan menyeramkan, lalu dia langsung menarik tanganku dengan kuat dan dia membawa aku masuk ke dalam kamarnya lalu melemparkan aku dengan kuat begitu saja sampai aku menghantam dinding ranjangnya cukup kuat sampai dahiku tergores sedikit dan darah keluar dari sana.


"Dukk.... Aduh...." Ringisku merasakan sakit yang luar biasa pada kepalaku saat itu.


Pandangan mataku mulai memudar aku tidak bisa melihat manusia kejam itu dengan benar hingga akhirnya aku kehilangan kesadaran dengan cepat.


"Hah? Apa dia pingsan? Ckk... Dasar wanita lemah aku bahkan belum memberikan hukuman yang sebenarnya kepada dia, tapi sudah pingsan lebih dulu seperti itu" ucap Arfanka sambil melihatnya dari dekat.


Saat Arfanka menatap Klara dalam jarak yang dekat dan melihat wajah Klara yang cantik dia mulai merasa seperti pernah melihat wajah damai itu.


Entah kenapa saat itu tiba-tiba saja Arfanka tidak bisa melanjutkan kekesalan dan emosi di dalam hatinya yang langsung mereda saat melihat wajah Klara yang damai ketika dia menutup mata seperti itu.


"Sial! Apa yang terjadi denganku, tidak mungkin aku mengasihani wanita sepertinya" gerutu Arfanka segera memalingkan pandangannya.


Arfanka segera mengesampingkan perasaan aneh yang muncul di dalam dirinya tersebut, dia langsung menggendong Klara dan menidurkannya di ranjang kamarnya sendiri lalu dia pergi membersihkan diri dan mulai melihat Klara yang masih belum sadarkan diri, dia mendekatinya dan mencoba melihat wajah Klara dari dekat karena dia terus merasa penasaran dan dia merasa seperti tidak asing dengan wajah Klara.


"Kenapa aku selalu merasa tidak asing dengan wajah wanita ini, dan kenapa juga aku menyetujui ibunya untuk mengambil dia dan merelakan uang yang besar itu, apa aku sudah menjadi bodoh sekarang?" Gerutu Arfanka terus memikirkan.


Dia terus menatap wajah Klara lebih dekat hingga dia tanpa sadar mulai membelai pipi Klara dan mengesampingkan rambut yang menutupi sebagian wajah Klara saat itu.


"Dia tidak terlalu buruk, apalagi dengan tubuhnya yang bagus dan mulus, sayang sekali jika jidatnya meninggalkan bekas luka, aaahh... Untuk apa juga aku mengobatinya" tambah Arfanka segera menjauh darinya.


Namun disaat dia baru saja berbalik satu langkah dari Klara perasaannya terus mendorong dia untuk mengobati luka di jidat Klara saat itu sehingga dengan berdecak kesal Arfanka segera mengambil kotak obat dan mengobati jidat Klara yang terluka karena dirinya, hingga tidak sadar dia justru malah tertidur di satu ranjang yang sama dengan Klara gadis yang dia benci itu.


Dia juga memeluk Klara dengan sangat erat hingga dia dapat tertidur dengan sangat lelap, padahal jauh sebelum itu dia sama sekali tidak pernah bisa tidur nyenyak dalam setiap malamnya.

__ADS_1


Selama ini Arfanka memang mengidap penyakit insomnia yang sangat parah sehingga dia hanya bisa tertidur ketika meminum obat pemenangnya, bahkan baginya sudah hal biasa jika tidak pernah tidur dalam beberapa hari, atau jika tidak dia harus meminum banyak obat penenang yang bisa berbahaya untuk imun tubuhnya sendiri.


Terkadang dia bisa tertidur ketika dia mengingat seorang gadis kecil yang dulu pernah memberikan dia sepotong roti di malam yang gelap dan malam ketika saat itu dia kehilangan kedua orangtuanya sebab sebuah kecelakaan besar yang dia alami.


Dahulu beberapa tahun yang lalu saat Arfanka masih berusaha sepuluh tahun dia mengalami sebuah kecelakaan mobil yang sangat menyeramkan sampai membuat kedua orangtuanya tewas di tempat, dan mulai saat itu rumahnya di ambil alih oleh pihak bank karena mengatakan bahwa kedua orangtuanya memiliki banyak hutan dan dia menjadi tinggal di jalanan tanpa arah dan tujuan.


Dia tidak sekolah dan hanya bekerja paruh waktu atau membantu orang-orang yang membawa belanjaan di pasar, dia bekerja sangat keras ketika usianya sangat kecil tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua dan selalu mendapatkan perlakuan kasar dari banyak anak jalanan lain yang jauh lebih besar dari usianya saat itu, sehingga dia juga sering mendapatkan peny*ksaan dan hal lainnya dari orang-orang jahat di luar sana.


Hingga dalam satu malam yang begitu gelap dan hujan mengguyur kota saat itu, dia di pertemukan dengan seorang gadis kecil yang mendatanginya dan mengusap kepalanya dengan lembut disaat dia menangis di pojokan gang seorang diri sebab baru saja di Sik*a oleh preman dan di rampas uang yang dia miliki untuk jatah makan hari itu.


Namun gadis kecil itu tiba-tiba saja muncul disana mengusap kepalanya dan menyuruhnya untuk berhenti menangis.


"Heyy... Pria tampan kenapa kamu menangis, kau sudah besar jangan menangis lagi, hujan akan semakin deras kalau kau menangis" ucap gadis kecil itu sambil tersenyum cerah dan mengusap kepala Arfanka,


Arfanka segera menengadahkan kepalanya ke atas dan dia melihat wajah gadis itu yang sangat cantik lalu gadis tersebut mengulurkan tangannya dan membantu dia untuk berdiri, gadis itu menanyakan arah jalan kepadanya dan dia segera menunjukkan jalan yang benar pada gadis yang tersesat itu.


Lalu gadis kecil tersebut memberikan dia sebuah roti dan gelang keberuntungan miliknya.


"Terimakasih sudah mengantarku pria tampan, ini aku hanya memiliki roti ini sebagai balasan dari kebaikanmu, dan ini ambilah gelang keberuntunganku, ayahku bilang aku akan selalu beruntung dan bahagia jika memakai gelang ini, tapi aku sudah bahagia meski tidak memakainya, aku yakin kau lebih membutuhkan gelang ini, pakailah dan jangan sampai menghilangkan gelang ini, saat nanti aku menerima keburukan aku akan mengambilnya lagi darimu" ucap gadis kecil tersebut dan segera pergi karena sang ayah memanggilnya.


Gadis itu berhasil bertemu dengan ayahnya setelah tersesat beberapa jam, dan Arfanka kecil tersenyum lebar kepada gadis yang memberikan dia cahaya baru dan semangat baru untuk tetap hidup.


Tidak lama setelah memakai gelang tersebut dia melihat suami istri yang tengah dihadang oleh penjahat jalanan, Arfanka langsung membantunya dengan sekuat tenaga, dan karena dia sudah terlatih hidup di jalanan cukup lama dia tentu bisa berkelahi dengan hebat hingga perampok itu berhasil dia kalahkan dengan mudah.


Pasangan suami istri itu sangat berterima kasih kepadanya karena telah menyelamatkan hal paling berharga bagi keluarga mereka sehingga mereka berdua langsung membawa Arfanka pulang ke kediaman mereka dan mengangkatnya menjadi putra pertama mereka, sedangkan saat itu mereka juga sudah memiliki seorang putra yang usianya di bawah Arfanka.


Pasangan suami istri itu adalah kedua orangtuanya Arfanka saat ini, dan sampai saat ini dia masih berharap agar bisa bertemu dengan gadis kecil yang memberikan dia keberuntungan miliknya tersebut, karena dia mempercayai bahwa keberuntungan yang dia dapatkan adalah berkat gelang yang di berikan oleh gadis tersebut.


Bahkan Arfanka juga membuat janji kepada dirinya sendiri untuk menikahi dan menjaga gadis itu seumur hidupnya dengan semua keberuntungan yang dia miliki saat ini.


Namun sayangnya sampai sekarang dia masih belum bisa menemukan gadis tersebut, sampai dia bertemu dengan Klara dan dia baru bisa tertidur dengan lelap meski tidak memikirkan gadis kecil yang menolongnya dimasa lalu tersebut.


Arfanka mungkin belum menyadarinya saat itu dan dia juga tidak sadar bahwa dirinya tidur dengan memeluk Klara saat itu.


Hingga ke esokan paginya Klara bangun lebih awal dan dia sangat kaget melihat manusia kejam yang tadi malam meny*KSA dirinya kini justru tidur dengannya dan memeluk dia dengan sangat erat.


"Astaga... Aaaaarrhhkkkk....apa yang kau lakukan kepadaku?" Teriak ku sangat kaget dan langsung mendorong tubuhnya dariku.


Aku langsung berdiri dan mengambil selimut untuk menutupi badanku namun saat aku melihatnya semua pakaianku masih terlihat utuh dan baik-baik saja sehingga aku langsung merasa lega dan melemparkan selimut itu kepada pria kejam tersebut lagi.


"Aahhh.... Untunglah semua masih baik-baik saja" gerutuku merasa sangat lega.


Pria kejam itu masih berusaha menyadarkan dirinya dan mengucek matanya pelan, lalu dia langsung menatap ke arahku dengan mengerutkan kedua alisnya dan dia membentak aku untuk keluar dari kamarnya dengan sangat kencang.


"Kau?... Keluar kau dari kamarku!" Bentaknya sangat kencang.

__ADS_1


Aku langsung berlari keluar dan menghindar darinya dengan perasaan panik dan kaget tidak karuan.


__ADS_2