
Itu adalah kejadian yang paling memalukan yang pernah aku alami sejauh ini, benar-benar tidak bisa aku lupakan, aku terus saja menutup wajahku ketika berada di dalam lift saat itu, aku terus saja merasa malu sendiri setiap kali mengingat kejadian saat itu, tapi untungnya kita tidak saling mengenal satu sama lain sehingga aku terus saja berharap untuk tidak pernah bertemu lagi dengan pria tersebut, karena jika sampai kami bertemu lagi, sudah bisa di pastikan itu akan menjadi momen yang sangat memalukan padaku di sepanjang sejarah hidupku.
"Aahhh ..semoga saja aku tidak akan bertemu dengan orang seperti dia lagi, aaahh...aku tidak ingin mengingat hal memalukan seperti itu lagi, sial" gerutuku saat itu.
Terus saja aku berusaha untuk menenangkan diriku dan terus menarik nafas dan membuangnya perlahan hingga aku merasa menjadi lebih baik dan lebih terang seterusnya.
"Huuh ...tenang Klara kamu harus tenang, aahhh aku tidak perlu memikirkan urusan itu lagi, aku juga tidak mengenalinya untuk apa di pikirkan membuat kepalaku pusing saja" tambahku lagi.
Segera saja aku keluar dari perusahaan besar tersebut dan langsung menghentikan taxi dengan cepat, karena kebetulan sekali ada taxi yang melewati tempat tersebut disat aku baru saja keluar dari perusahaan saat itu, sehingga aku tidak perlu menunggu cukup lama lagi.
Sedangkan disisi lain tepatnya di dalam ruangan kantor pribadi tuan Arfanka dia kedatangan seorang tamu yang sangat dia benci, ya dia adalah adik laki-laki nya, putra kandung dari ayah angkatnya tuan Briantoro, yang tidak lain dan tidak bukan adalah sosok Kevin Briantoro, dia masuk ke dalam ruangan tuan Arfanka dengan semena-mena bahkan terus menerobos seenaknya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Dia adalah pria yang sangat sombong dan terkenal dengan sikapnya yang arogan tidak kalah kejam dengan tuan Arfanka, namun Kevin bukanlah tipe pria yang bisa di atur oleh ayahnya seperti yang di lakukan oleh tuan Arfanka dimana dia harus selalu mengikuti semua keputusan yang di buat oleh ayah angkatnya tuan Briantoro.
Tidak pernah sekalipun tuan Arfanka bisa melanggar atau tidak menuruti semua keinginan dari ayah angkatnya tersebut, berbeda dengan Kevin yang selalu berpoya-poya dengan semua harta kekayaan kedua orangtuanya sendiri, dia selalu bisa melakukan semuanya lebih leluasa di bandingkan seorang tuan Arfanka yang sudah jelas dialah yang sudah mengembangkan perusahaan besar tersebut.
Tapi dia seperti burung dalam sangkar yang terkekang dengan perintah ayahnya, dia tidak bisa melakukan semuanya atau membuat keputusan sendiri untuk dirinya karena sang ayah selalu mengatur semua tentangnya termasuk perjodohan yang sudah di rencanakan antara dia dengan Riska, itu juga termasuk ke dalam rencana yang di lakukan oleh tuan Briantoro dan dia sama sekali tidak bisa mengubah semua itu, selain dari mencoba untuk terus menghindari Riska dan terus berusaha untuk membuat Riska agar tidak menyetujui perjodohan tersebut.
Kevin masuk dan menyapa sang kakak angkat yang selalu menjadi saingan kuat bagi dirinya dan selalu ingin dia singkirkan dari keluarganya, sebab dia juga ingin menjadi pemimpin perusahaan tersebut sebab dia sudah selesai dengan semua pendidikan yang membuatnya tidak bisa bergerak dengan leluasa sesuai dengan keinginannya.
"Halo kakakku tercinta, kenapa kau menatapku setajam itu, apa kau kaget dengan kedatangan adikmu ini?" Ucap Kevin sambil duduk di sofa dan menyilangkan kakinya dengan santai.
Sedangkan tuan Arfanka sendiri hanya menatapnya dengan sekilas lalu dia mengabaikannya lagi, karena sudah tahu bahwa adik angkatnya Kevin hanya akan terus memancing emosi dalam dirinya, dan pada ujungnya dia tidak bisa melawan seorang Kevin, itu sangat menyebalkan baginya juga dalam seluruh hidupnya selama ini.
"Untuk apa kau datang kemari, bukankah study mu belum selesai?" Ucap tuan Arfanka tanpa melihatnya sedikitpun.
Persaingan diantara kakak beradik itu terlihat sangat jelas bahkan hanya ketika mereka saling tatap satu sama lain saja itu, sudah terlihat sangat jelas bahwa mereka tidak akur sama sekali diantara satu sama lain, bahkan selalu bersaing dalam segala hal, sekalipun itu adalah hal yang kecil.
"Haha...kenapa kakak? Apa kau sudah mulai merasa cemas? Atau sekarang kau takut karena aku sudah kembali, dan aku akan menyingkirkan posisimu dalam perusahaan ini?" Ucap Kevin sambil mendekati meja kerja tuan Arfanka sambil berbicara dengan sangat sinis.
__ADS_1
Tuan Arfanka sama sekali tidak bisa fokus lagi dalam bekerja karena Kevin terus saja mengajaknya bicara dengan nada yang sangat mengganggu konsentrasi dalam dirinya, dan itu membuatnya kesal juga membenci Kevin.
"Kevin ...dengarkan ini baik-baik, jika kau menginginkan semua ini maka pintalah semuanya kepada ayahmu, aku akan menyerahkan semuanya kepadamu dengan senang hati jika ayahmu bisa mengatakan itu secara langsung, sebab harusnya kau sendiri tahu bahwa aku tidak bisa melawannya" balas tuan Arfanka berkata dengan menatap tajam dan begitu dalam kepada Kevin saat itu.
Kevin sendiri yang mendengar ucapan dari kakak angkatnya seperti itu, dia hanya menanggapinya dengan sebuah tawa yang cukup keras untuk beberapa saat saja lalu dia mulai kembali menatap serius dan memberikan ancaman kepada tuan Arfanka dengan sangat berani sekali.
"Hahaha...kau memang seperti seorang budak dan hewan peliharaan, sama sekali tidak ada artinya, aku akan membuat kau tersingkir dengan kelakuanmu yang penurut itu, lihat saja nanti kakakku yang tersayang" ucap Kevin dengan sinis.
Hingga tidak lama muncul sekretaris Jeno saat itu dan dia langsung saja menarik bahu Kevin agar menjauh dari Arfanka secepatnya, karena sekretaris Jeno sudah tahu seberapa berbahayanya jika mereka berada begitu dekat seperti itu, di tambah hanya ada mereka berdua disana, sekretaris Jeno hanya takut tuan Arfanka akan terpancing emosi oleh ucapan yang di keluarkan oleh adik angkatnya Kevin, dan dia takut itu sebuah jebakkan nantinya karena Kevin adalah orang yang sangat licik.
Lebih licik di bandingkan seekor rubah kecil, bahkan tuan Arfanka sendiri sudah sangat kesal dan emosi dia bahkan cukup kewalahan dalam menahan emosinya saat itu, sehingga ketika sekretaris Jeno tiba dia langsung menghembuskan nafas yang berat, juga kembali duduk di kursi kebesarannya saat itu juga.
"Kevin ...menjauh darinya, apa yang sedang kau lakukan disini?" Ucap sekretaris Jeno yang datang di waktu yang sangat tepat saat itu.
"Huuhh...syukurlah Jeno tiba, jika tidak aku tidak bisa menahan diri untuk menghajar wajahnya yang sangat menjengkelkan itu" batin tuan Arfanka saat itu.
Dia berusaha untuk menurunkan emosinya secepat yang dia bisa agar dia bisa kembali tenang dan bisa mengontrol dirinya sendiri supaya tidak jatuh pada perangkap Kevin dan semua yang mungkin saja sudah di rencanakan oleh Kevin tanpa sepengetahuannya sendiri.
"Huh...tolong jaga tangan kotormu itu Jeno, dan seharusnya kau tahu siapa dan apa posisimu di tempat ini, kau hanya seorang bawahan dari bawahan dan aku adalah pemilik sesungguhnya, apa kau tidak malu berlaku kasar seperti tadi kepada bos besarmu sendiri hah?" Ucap Kevin sambil menatap sinis dan mendominasi.
Jeno ingin sekali marah dan melawannya sekaligus saat itu, tapi sayangnya dia tidak bisa melakukan semua itu karena apa yang dikatakan oleh Kevin memang benar, bahwa sahabatnya Arfanka sendiri hanya menjadi bawahan dari tuan Briantoro yang merupakan ayah kandung dari Kevin, dan dia tidak bisa melakukan apapun selain dari menahan emosi yang ada di dalam hatinya saat itu.
"Cukup Kevin, kau tidak akan mendapatkan apapun dari kami berdua, jika kau datang hanya untuk membuat kekacauan sebaiknya kau pergi saja" balas sekretaris Jeno yang langsung saja mengusir Kevin dari tempat tersebut.
Namun sayangnya Kevin bukanlah orang yang bisa di usir dengan mudah begitu saja oleh orang seperti sekretaris Jeno yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan apapun atas perusahaan ini, sehingga Kevin sama sekali tidak takut dalam melawannya dan dia hanya menanggapi usiran dari sekretaris Jeno dengan sebuah senyuman kecil saja.
"Haha...baiklah ayo kita pergi dari sini, sepertinya kedatanganku memang sangat di benci oleh karyawanku sendiri, sangat menyedihkan padahal aku bisa memecatnya kapan saja, sayangnya kakakku yang bodoh itu terus saja mempekerjakan karyawan bodoh sepertinya" ucap Kevin sambil menepuk keras pundak sekretaris Jeno beberapa kali saat itu.
Kemudian dia langsung pergi bersama dengan dua penjaga yang saku berada di sampingnya kemanapun dia pergi saat itu, dan dia bodyguard itu adalah suruhan dari ayahnya sendiri sebab sang ayah hanya takut putranya akan mengikuti balapan mobil liar yang selalu di lakukan oleh Kevin setiap saat ketika dia berada di luar negeri dan dia selalu membuat kekacauan di setiap tempat yang dia kunjungi, maka dari itu tuan Briantoro sendiri memerintahkan dia bodyguard untuk mengikuti dia kemanapun dia pergi.
__ADS_1
Sekretaris Jeno baru bisa menghembuskan nafas yang lega dan memegangi sebelah pundaknya yang mulai terasa sedikit sakit ketika tadi mendapatkan beberapa kali tepukan yang cukup kuat dari seorang Kevin Briantoro yang selalu menjadi pengacau itu.
"Aaahhh...pundakku sakit juga, sial dia menepuk terlalu kuat, dasar anak nakal brandal sialan itu!" Gerutu sekretaris Jeno yang mulai merasa kesal ketika orangnya sudah pergi dari sana.
Tuan Arfanka sendiri hanya bisa mengurut keningnya yang terasa cukup pening dalam menghadapi Kevin karena dia sudah kembali ke kota ini, dan dia juga sangat tidak senang dengan kemunculannya yang secara tiba-tiba tersebut.
Sekretaris Jeno langsung saja berjalan mendekati tuan Arfanka dan dia berbicara dengan mengajukan protes kepada tuan Arfanka karena dia sama sekali tidak melawan Kevin yang terus mengganggunya sejak dulu hingga sampai sekarang ini, bahkan ketika seorang Arfanka sudah menjadi pimpinan perusahaan tersebut.
"Arfanka aku benar-benar tidak mengerti dengan alur pemikiran otakmu itu, kenapa kau terus saja diam dan menahan diri dengan anak sialan itu, meski aku tahu kau adalah kakak angkatnya tetapi tuan Briantoro lebih mempercayai dirimu di bandingkan dengan bocah nakal itu, tapi kenapa kau tidak pernah membalas perbuatannya, kenapa kau diam dan pasrah terus seperti ini, aku melihatmu begini sama sekali tidak terlihat seperti Arfanka yang aku kenal!" Ucap sekretaris Jeno dengan wajahnya yang sangat kesal.
Sekretaris Jeno sudah terlampau gemas dan kesal dengan tuan Arfanka sehingga dia mengatakan hal seperti itu kepadanya sambil berdiri di depan meja kebesaran tuan Arfanka dan mengusap kasar rambutnya beberapa kali, hingga membuat tuan Arfanka akhirnya angkat bicara dan menjawab semua kebingungan yang dia rasakan saat itu.
"Jeno apa menurutmu anak angkat sepertiku ini bisa melakukan semua seleluasa dia yang merupakan anak kandungnya? Kau tahu sejak kecil aku tidak pernah bisa memutuskan apapun dan semua itu tetap tidak berubah, aku tidak bisa membuatnya membenciku atau marah denganku, jika itu terjadi mungkin dia akan langsung menghempaskan dengan mudahnya, berbeda jika itu terjadi pada Kevin dia akan selalu memberikan kesempatan bahkan berkali-kali kepadanya karena Kevin anak satu satunya dalam hati dia, anak kandung yang selalu dia harapkan kehadirannya, aku harap kau mengerti maksudku" balas tuan Arfanka saat itu.
Kini sekretaris Jeno bisa memahaminya dan dia hanya bisa duduk sofa tamu yang tidak jauh dari tempat meja kebesaran tuan Arfanka sendiri, dia langsung saja menjatuhkan diri dan merebahkan dirinya di sofa sambil menghembuskan nafas yang sangat berat.
"Huaa....bayangkan saja jika kau tidak memiliki sahabat sepertiku, hidupmu akan benar-benar menderita, aahhh aku tidak habis pikir dengan pemikiran para orang kaya di dunia ini" gerutu sekretaris Jeno saat itu.
"Aku juga tidak mengerti dengan otakmu kenapa kau bisa menyukai wanita seperti Riksa, dia selalu melayani banyak pria apa kau pikir wanita sepertinya pantas untukmu?" Balas tuan Arfanka yang langsung membuat sekretaris Jeno berhenti bicara.
"Aishhh....itu berbeda konsepnya, aku sudah menyukainya sejak kita masih sekolah, ya walaupun aku tahu dia mau dekat denganku karena dia tahu aku sahabatmu dan aku tahu dia hanya memanfaatkan aku saja karena dia ingin bersamamu, tapi aku tidak perduli selama kau tidak menyukainya aku bisa dekat terus dengannya itu sudah lebih dari cukup untukku" balas sekretaris Jeno lagi sambil tersenyum sendiri dan menatap ke langit-langit ruangan tersebut.
Tuan Arfanka juga hanya bisa menggelengkan kepala menghadapi sikap sekretaris Jeno yang sama sulitnya untuk dia mengerti, dan mereka segera kembali pada pekerjaannya masing-masing, sekretaris Jeno juga segera kembali pergi ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaan dia yang sebelumnya tertunda.
Bahkan dia sampai lupa apa yang sebelumnya akan dia lakukan sampai masuk ke dalam ruangan tuan Arfanka, dan sampai sekarang dia masih belum mengingat hal itu sehingga membuatnya harus kembali ke ruangannya dan mihat catatan kembali untuk mengingat semuanya dengan benar dan pasti.
"Aaahh ..aku benar-benar sudah melupakan niat utamaku kemari, sudahlah aku pergi saja" ucap sekretaris Jeno segera pergi.
"Dasar konyol" ucap tuan Arfanka sambil tersenyum kecil melihat tingkah sahabat sekaligus sekretaris kepercayaannya itu.
__ADS_1
Di lubuk hatinya yang terdalam sebenarnya tuan Arfanka juga sangat bersyukur dia bisa di pertemukan dengan seorang sahabat yang setia dan terus menemani dia sejak dia kecil hingga sebesar sekarang dan dia masih berada di pihaknya.