
Meski aku sudah bicara membentak dia dengan keras tapi tetap saja dia masih terlihat menahan tawa seperti itu menertawakan aku terus menerus, rasanya aku ingin sekali mengumpulkan mulut Kevin saat itu juga, namun sayangnya aku tidak bisa melakukan itu, rasa sadar diri di dalam diriku yang membuat aku tidak bisa melakukan hal tersebut.
"Aishhh....Kevin kau akan diam atau aku akan kehilangan kesabaran denganmu," ucapku bicara memperingati dia terlebih dahulu saat itu.
Dia terlihat langsung mengubah ekspresi di wajahnya dan aku langsung saja memalingkan wajah darinya dengan cepat, karena aku akan terus merasa kesal jika masih bisa melihat wajahnya saat itu, di tambah otakku sudah terlalu cemas dan bingung memikirkan pernyataan cinta dari tuan Arfanka sebelumnya.
Ini benar-benar tidak bisa membuat aku tenang, hingga sesampainya di apartemen aku langsung masuk ke dalam dan mengeluarkan semua barang milik Kevin dari apartemen yang akan aku tinggali.
"Ini kau bawa semua barang milikmu." Ucapku kepadanya saat itu juga.
Kevin terlihat membelalakkan mata dengan wajah kaget kepadaku bahkan dia sampai mengerutkan kedua alisnya sangat kuat saat itu sambil menahan pintu apartemen yang hendak aku tutup.
"Tunggu Klara... Kenapa kau malah mengusirku apa kau lupa ini milik siapa hah?" Ucap Kevin membuat aku tidak bisa melakukan apapun lagi saat ini.
"Ini memang milikmu tetapi aku kan akan bayar sewa padamu, jadi singkirkan tanganmu sekarang juga!" Balasku dengan tatapan sangat tajam saat itu.
Kevin semakin menyipitkan matanya menatap kepadaku, dan aku juga tidak mau kalah sedikitpun darinya, meski dia memberikan tatapan setajam itu kepadaku aku bisa membalas dia dengan tatapan yang lebih tajam lagi agar dia bisa merasakan apa yang aku rasakan, kami saling tatap dan memberikan tatapan tajam kepada mereka satu sama lain saat itu juga dalam waktu beberapa menit saat itu sampai mataku saja sudah terasa perih karena kami sudah seperti tengah melakukan kontes tatapan mata yang kuat.
"Astaga...heh mau sampai kapan kita terus begitu, ayolah Klara aku hanya akan tidur malam ini saja, apartemen yang satunya belum di bereskan semuanya masih cukup berdebu dan sangat berantakan, aku tidak mungkin tinggal disana malam ini." Balas Kevin sambil menghentikan tatapan nya lebih dulu kepadaku.
Aku juga langsung melepaskan tatapan tajam kepadanya sehingga langsung saja aku membalas ucapannya karena aku masih belum cukup percaya ketika mendengar ucapan darinya saat itu, sebab aku tahu bahwa dia bukanlah orang yang benar-benar bisa di percaya.
"Heh...apa kau pikir aku mudah untuk kau tipu, pokoknya kau tidak boleh masuk ke sini, titik." Balasku tetap melarangnya saat itu.
"Astaga ..harus bagaimana lagi aku mengatakannya padamu Klara, ayo ikut denganku jika kau tetap saja tidak percaya dengan ucapanku, ayo ikut!" Ujar dia sambil tiba-tiba saja langsung menarik tanganku dengan cepat dan secara paksa.
Dia terus membawa aku dan memaksaku untuk ikut dengan dia ke apartemen milik ya yang satu lagi dimana ada berhadapan tepat dari hadapan apartemen yang aku tinggali sebelumnya, dia langsung membuka pintu apartemen tersebut dan menyuruh aku untuk melihatnya secara langsung disana dia terus saja membentak aku dengan keras dan malah terus merutuki aku.
__ADS_1
"Nih.....lihatlah dengan mata kepalamu sendiri, ayo cepat kau lihat dengan benar, bagaimana apa kau percaya padaku sekarang hah? Kau lihatlah baik-baik!" Ucapnya kepadaku dengan wajah yang gemas sekali, bak seperti dia sangat membenciku.
Aku juga tidak bisa berkata-kata apapun lagi karena memang di dalam sana cukup berdebu sampai aku saja langsung terbatuk-batuk karena debu yang berterbangan disana membuat hidungku terasa sangat gatal dan bersin beberapa kali.
"Hachim....Hachim..... Ohok...ohok...ohok....aahhh...minggir..minggir kau aaahh," ucapku sambil segera menjauh dari tempat itu dan segera saja keluar dari sana dengan cepat.
Kevin pun segera saja menutup kembali pintu tersebut dan dia langsung berbalik menatap ke arahku lagi dan langsung saja berbicara kepadaku dengan nada bicara yang cukup tinggi saat itu, terlihat dengan jelas bahwa saat itu dia seperti kesal padaku dan aku juga tidak bisa melakukan apapun lagi ataupun menolak dia lagi sebab mau bagaimana pun dia adalah pemilik apartemennya, jadi aku tidak bisa melarang dia sama sekali.
"Bagaimana apa kau masih mau menyuruh aku untuk tidur disana hah? Atau kalau bisa kau saja yang tinggal disana, karena aku adalah tuan tanahnya jadi tentu saja aku bebas melakukan apapun, sudah sana kau pergi saja kesana berikan kartu aksesnya padaku aku akan tidur di tempatmu dahulu, jika kau memang tidak mau tinggal dalam satu rumah yang sama denganku," ucap dia kepadaku saat itu.
Aku hanya bisa berdiam diri saja tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa menatap dia dengan sinis, sambil dengan cepat menahan dia agar dia tidak mengambil kartuku dengan paksa seperti ini.
"Eehhh...tunggu, siapa bilang aku tidak mau, aaahh kau ini benar-benar, ya sudah ayo masuk tapi ingat hanya malam ini saja, kau ingat itu ya!" Bentakku kepadanya saat itu.
"Oke... terserah padamu aku sudah sangat lelah, aahhh mataku bisa memiliki lingkaran hitam jika sampai kurang tidur lagi, hoaamm..aku sangat ngantuk kau tidur di sofa aku akan tidur di kamar," ucap dia kepadaku saat itu.
"Ee...eee..ehhh...tunggu kenapa malah kau yang tidur di dalam hei...Kevin aku ini wanita kau harus mengalah kepadaku, Kevin...tok....tok...tok.... Kevin ayo cepat buka pintunya hei!" Bentak aku dengan sangat kencang kepadanya.
Sayangnya dia sudah terlambat menutup pintunya dan kini dia sama sekali tidak mau membukakan pintunya untukku terus saja dia menutup pintu itu dan menyuruh aku untuk pergi dari sana dan berhenti untuk mengetuk pintunya.
"Pergi kau dari sini! Cepat sana aku ingin tidur tahu, jangan terus menggedor pintu seperti itu, sampai tanganmu putus aku tidak akan pernah membukanya!" Balas dia kepadaku saat itu.
Mendengar dia benar-benar merasa sangat kesal dan emosi, dia terus saja mengusir aku seperti itu dan aku benar-benar tidak bisa mengubah keputusannya, alhasil aku pun hanya bisa menggerutu kesal sendiri dan menendang pintu kamarnya dengan sekuat tenaga yang malah membuat kakiku sendiri merasa sakit saat itu.
"Arrghhkkk..aku akan berteriak sekencang yang aku bisa kau tidak akan bisa tidur malam ini Kevin sialan! Eugh..Duk....duk...Duk..." Teriakku sangat kencang sambil terus menendang pintu kamarnya itu dengan sekuat tenaga.
Hingga pada tendangan yang terakhir aku melakukannya terlalu kencang dan kelepasan sehingga membuat kuku kakiku melukai kulitku sendiri saat itu, dan rasanya benar-benar sangat ngilu dan sakit sekali aku terus berjinjit dan meringis kesakitan terus menerus.
__ADS_1
"Eughhh sialan kau DUK! aaa....aaa..aaahhhh..aaaww..kakiku," teriakku meringis sangat sakit sekali saat itu.
Hingga membuat Kevin langsung saja keluar dari kamarnya dengan wajah yang panik dan langsung memegangi tubuhku dia memeriksa dan menanyakan apa yang terjadi padamu saat itu, aku terus merasa sangat sakit sekali dan tidak bisa membalas dia dengan benar.
"Hei...ada apa denganmu? Astaga... Kau terluka? Kenapa bisa seperti ini, aishh ayo kemari duduklah pelan-pelan." Ucap dia yang baru muncul dari balik kamar sambil segera memapah aku membantuku untuk segera duduk di sofa saat itu.
Aku tidak bisa berhenti terus meringis kesakitan dan terus saja mengangkat satu kakiku ke atas meja hingga Kevin kembali dengan membawa obat p3k kepadaku dan yang tidak aku sangka ternyata dia malah membantu aku saat itu, bahkan dia mengobati luka di kakiku tanpa aku meminta bantuan darinya.
"Eehh ..mau apa kau?" Tanyaku kepadanya dengan perasaan yang kaget saat itu.
"Diam...aku hanya akan mengobati jari kakimu, tidak akan membuatmu terluka," balas dia dengan nada bicara yang lembut berbeda sekali dengan apa yang biasa dia lakukan kepadaku sebelumnya.
Aku pun menjadi sedikit gugup karenanya dan segera saja aku menuruti perkataan Kevin, aku membiarkan dia mengobati luka di ibu jari kakiku saat itu, walau terasa sangat perih dan aku secara refleks meringis kesakitan saat itu, tetapi Kevin dengan baiknya dia justru malah mau meniupi kakiku dan dengan cepat aku menahan dia agar tidak melakukan hal seperti itu, sebab aku merasa sangatlah tidak enak dengannya.
"Sssttt ....aaaww," ucapku meringis kesakitan saat itu.
"Apa masih sakit?" Tanya dia kepadaku dan langsung saja aku berikan anggukan kepadanya saat itu juga.
"Huuu....huuuu," suara Kevin yang meniup kakiku saat itu.
Aku langsung saja membelalakkan mata dengan sangat lebar dan tidak menduga dia bisa bersikap semanis ini kepadaku, padahal yang aku tahu dia sama sekali bukan tipe pria yang bisa memperhatikan wanita dengan sangat baik seperti ini, dia bukan orang seperti itu, sangat berbeda sekali dengan Kevin yang aku kenal selama ini.
"Eeehhh ...hentikan apa yang kamu lakukan? Jangan meniupinya begitu, ini kakiku tidak pantas orang seperti kamu melakukannya, cepat hentikan!" Ucapku kepada dia sambil memegangi pundaknya berusaha untuk menahan dia agar tidak melakukannya lagi.
Namun bukannya berhenti atau pun mendengarkan ucapan dariku dia justru malah menatap datar padaku dan malah dia yang balik melarang aku untuk tidak memegangi bahunya saat itu.
"Heh....kau yang tidak boleh memegangi bahuku, kenapa juga orang seperti aku tidak bisa melakukan semua ini, bukankah kau dan aku sama-sama makan nasi? Lalu apa bedanya?" Balas dia bicara dengan begitu mudahnya.
__ADS_1
"Bukan begitu Kevin, tapi kau itu orang kelas atas, aku hanya seorang pelayan sebelumnya ku sangat tidak pantas melakukannya bahkan seharusnya kau tidak perlu membantu aku mengobati luka di ibu jari kakiku seperti ini, bahkan hanya dengan kami memegangi kakiku seperti tadi saja itu sudah termasuk penghinaan bagimu meski kamu sendiri yang berinisiatif melakukannya." Balasku menjelaskan sekaligus memberikan pengertian kepadanya dengan sangat hati-hati agar tidak sampai menyinggung perasaan dia sendiri saat itu.