
Dia hanya takut seorang Klara akan terlihat murung di hadapannya dan dia benci mihat itu, dia selalu merasa empati dan kasihan dengan Klara sehingga baginya lebih baik tidak mengetahui dan tidak mihatnya sedih daripada harus memberi tahu Klara tentang semua yang terjadi dan dia harus melihat Klara bersedih.
"Aahhh....aku tidak bisa memberi tahu dia tentang semuanya, biar perawat saja yang menjelaskan, aku sangat tidak tega" batin tuan Arfanka saat itu.
Padahal dia di kenal dengan sikap jahatnya dan wajah datar yang sangat dingin sepanjang hari, tetapi tidak di sangka dia justru malah memiliki hati yang cukup lembut.
Hingga sepanjang perjalanan pada akhirnya tuan Arfanka sama sekali tidak memberitahu Klara mengenai kondisi adiknya yang saat ini tengah mengkhawatirkan di rumah sakit jiwa, bahkan perawat disana saja tidak ada yang sanggup untuk menanganinya sama sekali, walau sebenarnya saat itu tuan Arfanka sendiri merasa sedikit bingung juga tidak menentu sebab dia tidak bisa mengatakan semua itu kepada Klara tetapi memang tidak ada jalan lagi, dia justru akan semakin merasa tidak tega apalagi mengatakannya dari sekarang kepada Klara.
Hingga sesampainya di depan rumah sakit jiwa, Klara mulai menatap ke arah tuan Arfanka tepat setelah mereka berdua keluar dari mobil saat itu.
"Tuan...kenapa kamu membawa saya kemari, bukannya kita akan ke perusahaanmu ya?" Tanyaku kepadanya saat itu.
Aku .erasa heran dan kebingungan karena awalnya aku pikir dia akan membawa aku ke perusahaan dan membantu dia mengerjakan beberapa urusan disana nantinya namun ternyata dia malah membawa aku ke rumah sakit jiwa seperti ini.
Sedangkan tuan Arfanka saat itu masih bingung bagaimana caranya dia memberitahu kepada Klara mengenai adiknya, namun karena Klara sendiri yang terlihat mendesaknya dan terus menanyakan semua itu berkali-kali, tentu tuan Arfanka juga merasa kesal dia tetap tidak memiliki kesabaran yang banyak saat dirinya terus mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Klara.
"Tuan kenapa kau diam saja, ayo katakan kepadaku tuan apa yang kau pikirkan sampai malah membawa aku kemari?" Tanya Klara lagi terus mendesaknya,
"Aish....iya iya...diamlah, kau sangat membuat aku pusing" balas tuan Arfanka yang sudah jengkel saat itu.
"Begini dengarkan baik-baik dan kau tidak boleh panik kau harus tetap tenang meski aku mengatakannya nanti, apa kau mengerti?" Ujarnya membuat aku semakin bingung saat itu.
Aku benar-benar merasa sangat bingung dan keheranan sendiri dengan sikap tuan Arfanka yang tiba-tiba saja terlihat begitu aneh dan sangat membuat aku semakin mengerutkan kedua alisku menghadapinya.
Aku juga hanya bisa mengangguk menyetujui ucapannya karena aku sangat tidak sabar lagi untuk mendengarkan apa yang sebenarnya ingin dia katakan padaku, pasalyaku tahu rumah sakit jiwa itu adalah tempat dimana adikku di rawat dan aku mulai mencemaskan adikku semakin besar saat ini.
"Huuhh...begini adikmu mengelami beberapa hal di dalam sana dia mengamuk dan lepas kendali, dan perawatan tidak bisa mengendalikan adikmu sehingga meminta agar kau sendiri yang menghadapinya sebagai keluarga pasien tersebut" ungkap tuan Arfanka mengatakannya saat itu.
Bak seperti di sambar petir saat siang bolong, dia merasa sangat kaget bahkan refleks membelalakkan matanya sangat lebar, dia merasa sangat tidak karuan saat itu dan segera saja pergi berlari masuk ke dalam rumah sakit tanpa menghiraukan ucapan dari tuan Arfanka yang saat itu berteriak memanggilnya juga mencoba untuk menghentikan Klara.
"Kirei....dia...." Ucapku sambil segera berlari masuk hendak menemui Kirei secepatnya saat itu.
"Ehh....Klara...hey...aishh...gadis bodoh itu sama sekali tidak mendengarkan ucapanku padahal sebelumnya aku sudah memberitahu dia agar tenang dan bisa menjaga emosinya itu, dasar gadis konyol!" Gerutu tuan Arfanka sambil mengusap kasar belakang kepalanya karena dia sama sekali tidak bisa menghentikan Klara.
Terpaksa dia pun segera berlari masuk juga ke dalam rumah sakit itu, menyusul tuan Arfanka dengan secepatnya sebab tidak bisa di pungkiri dia sendiri merasa sedikit cemas dengan Klara saat itu dan tidak bisa membiarkan dia pergi begitu saja ke dalam sana seorang diri.
Meski terlihat menggerutu kesal dan frustasi, tuan Arfanka tetap saja mengejarnya dan tetapi menghampiri Klara yang terlihat saat itu baru saja masuk ke dalam ruangan pasien milik adiknya Kirei, dia terlihat berjalan sambil berbicara begitu lembut menghampiri sang adiknya dengan perlahan.
"Kirei ini kakak sayang, ini kakak kamu tidak perlu takut dengan aku, aku yang selama ini bersamamu aku Klara yang sudah berjanji kepadamu untuk melindungimu selalu, tolong kenali aku dan sadarkan Kirei...." Ucapku berusaha untuk menenangkan Kirei yang saat itu terlihat bergetar dengan kuat.
Dia terlihat ketakutan dan menatap aku dengan tatapan yang tidak aku kenal, dia seperti orang lain di hadapanku saat itu, dia terlihat kacau dengan rambut berantakan dan wajah yang sangat kusut, dia benar-benar sangat mengkhawatirkan dan aku bahkan merasa sedih juga tidak tahan saat melihatnya, aku berusaha dengan keras untuk menahan air mata agar tidak turun membasahi pipiku di hadapan Klara saat itu dan masih terus berusaha berbicara mendekatinya.
__ADS_1
Tetapi meski aku sudah berbicara dengan lembut dan berusaha menenangkan dia tetapi Kirei tetap saja seperti tidak mengenali aku, dia terus berteriak mengusir aku dengan keras dan histeris tidak jelas, bahkan dia mulai melemparkan banyak barang ke arahku, semua benda yang ada di dekatnya dia ambil dan dia lempar ke arahku namun aku berhasil menghindar saat itu.
"Pergi ...pergi...kau, jangan dekati aku, aku tidak mau pergi...." Teriak Kirei terlihat begitu ketakutan.
"Kirei sadarlah ini aku, tolong tenangkan dirimu, aku Klara kakak kandungmu aku ada di pihakmu aku akan menolongmu dan aku akan melindungi kamu, tolong kenali aku, tatap mataku Kirei" ucapku lagi semakin berjalan mendekatinya.
"Tidak....kau bukan Klara kau manusia jahat, pergi kau dari sini, pergi aku tidak ingin melihat pembohong sepertimu pergi....aarrlkhhh....hiks...hiks..hiks..." Teriak Kirei yang terlihat semakin menjadi saat itu.
Sampai di saat aku berusaha untuk semakin mendekati dia yang saat itu tengah duduk memeluk kedua kakinya yang dia tekuk saat itu, dia mengambil bantal dan melemparkannya ke arahku untungnya saat itu aku berhasil menangkap bantal itu dan dia terlihat sangat marah ketika lemparannya tidak mengenai dirimu.
"Kau.....rasakan ini, kau harus mati manusia biadab, kau ibu yang jahat aku tidak ingin melihatmu, aarrkkk" teriak Kirei lagi yang lebih keras dari sebelumnya.
Bahkan kini wajahnya terlihat sangat marah dan seperti membenci aku, dia mu gkin menatap aku dan menganggap diriku sebagai ibu, sehingga dia marah kepadaku dan terus menyebutkan bahwa aku ibu yang buruk saat itu, dia terlihat sangat terluka dan membenci ibu, bahkan dia malah terus melempariki aku sampai sebuah mangkuk bekas sarapan nya dia raih dan dia lempar ke arahku.
Aku sungguh tidak sempat menghindar ketika Kirei melemparkang manggung berwarna putih itu ke arah wajahku karena saat itu aku baru saja menangkap guling yang dia lemparkan mengenai wajahku sebelumnya.
Sehingga aku hanya bisa mematung melihat Sebuah mangkuk itu melayang hampir mengenai wajahku saat itu.
"Ya ampun..." Ucapku pelan dan seakan saat itu sudah benar-benar pasrah dan menyerahkan semuanya kepada takdir, aku tidak bisa menghindar lagi.
Sampai tiba-tiba saja tanganku di tarik oleh seseorang hingga aku jatuh ke samping tembok dan tubuhku berada di atas tubuh tuan Arfanka saat itu.
Aku sangat kaget ketika melihat ternyata orang yang melindungi aku dan menolongku saat itu adalah tuan Arfanka bahkan aku melihat dengan jelas bagaimana tubuhnya terjatuh membanting pada tembok tempat tersebut melindungi tubuhku agar aku tidak menghantam tembok juga sepertinya.
Aku segera bangkit karena melihat tuan Arfanka yang terlihat meringis kesakitan memegangi sikutnya saat itu, aku mengerti pasti sikutnya akan memar karena menghantam cukup kuat pada dinding kamar tersebut.
Segera saja aku bangkit dan mengulurkan tanganku kepadanya untuk membantunya berdiri saat itu juga namun di saat tuan Arfanka menerima uluran tanganku dan hendak bangkit berdiri saat itu, tiba-tiba saja dari belakang Kirei kembali melemparkan sesuatu ke arahku, yang tidak aku sadari saat itu, namun ternyata di ketahui oleh tuan Arfanka sehingga tuan Arfanka langsung kembali menarik tanganku dan membuat aku kembali jatuh sampai berpelukan dengannya.
"Aahhhh ..." Ucapku yang sangat kaget saat itu.
Aku menatap wajah tuan Arfanka yang sangat dekat dengan wajahku saat itu, jantungku mulai berdetak sangat kencang dan aku sulit mengendalikannya saat itu, hingga teriakkan dari Kirei menyadarkan kami berdua.
"Aaaarrkkkk...pergi kalian semua kalian tidak akan bisa membawaku ke bar itu aku tidak ingin pergi!" Teriakkan dari Kirei yang terus mengamuk semakin menjadi-jadi saat itu.
Aku dan tuan Arfanka langsung bangkit berdiri dengan cepat dan kami merapihkan pakaian kami segera, hingga aku berniat mendekati Kirei saat itu untuk memeluknya dan menenangkan dia tetapi tuan Arfanka menahan tanganku.
"Tuan apa yang anda lakukan, tolong lepaskan tanganku tuan aku harus menenangkan adikku" ucapku kepadanya saat itu,
"Bodoh ...dia tidak bisa kau tenangkan bahkan hampir mengancam nyawamu seperti tadi, apa kau yakin masih bisa membuatnya tenang" balas tuan Arfanka yang membuat aku membisu seketika.
"Ayo keluar dulu, biarkan dia waktu sendiri untuk menenangkan dirinya" ucap tuan Arfanka sambil menggandeng tanganku dan membawa aku keluar dari tempat itu dengan aman dan selamat.
__ADS_1
Apa yang dikatakan oleh tuan Arfanka memang benar, aku tersadar bahwa adikku memang tidak seperti dulu lagi, pikirannya benar-benar sudah terganggu dan dia sama sekali tidak terlihat seperti Kirei yang aku kenal, dia bahkan berani melemparkan semua benda padakunseakan dia sangat membenciku dan dia malah mengira aku sebagai orang lain, mungkin itu juga yang ada dalam bayangan matanya ketika para perawat masuk ke dalam kamarnya saat itu.
Hingga aku menuruti apa yang dikatakan oleh tuan Arfanka dan mengikutinya ke luar dari sana dengan segera, tetapi yang membuat aku heran dan tidak menduga aku sangat kaget melihat tanganku di genggam oleh seorang tuan Arfanka dengan begitu erat seakan dia tengah melindungi aku dan menjagaku agar aman saat itu.
Bahkan tuan Arfanka sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dariku meski kamu sudah berada di luar ruangan Kirei, sampai aku yang lebih dulu mengingatkannya dan meminta dia agar melepaskan tanganku barulah dia tersadar saat itu kemudian langsung melepaskannya dengan cepat dan wajah yang terlihat sedikit gugup saat itu.
"Tu ....tuan...kapan kau akan melepaskan tanganku, kita sudah aman sekarang" ucapku kepadanya saat itu.
Dengan cepat tuan Arfanka langsung saja menghempaskan tanganku cukup kasar bahkan dia langsung saja mengusap tangannya pada celana yang dia kenakan, seakan tanganku kotor baginya dan melihat reaksi yang dia berikan terlalu berlebihan seperti itu kepadaku, aku benar-benar sangat sakit hati karena seakan tanganku kotor di matanya.
Meski wajahnya terlihat gugup saat itu, tetapi dia memang terlihat tidak terlalu menyukai aku sejak awal bahkan dia selalu berbicara keras dan dingin padaku atau terkadang membentak aku dengan suaranya yang lantang juga nada bicaranya yang sangat menyeramkan dan bisa mengagetkan semua orang yang mendapatkan bentakkan darinya.
"Aahhh ....aku hanya lupa saja, jangan ke gr ran aku" ucapnya kepadaku saat itu.
Aku hanya menaikkan kedua alisku merasa sangat keheranan sendiri, lagi pula aku sama sekali tidak merasa ke gr padanya karena aku juga paham dan mengerti dengan jelas bahwa dia menolongku saat itu jadi tidak heran jika dia meminta aku keluar, tetapi aku masih merasa sangat heran padanya ketika dia menggandeng tanganku saat itu bahkan dia sampai rela dan berani masuk ke dalam kamar pasien orang yang memiliki gangguan jiwa seperti adikku Kirei saat itu.
Padahal jika di ingat lagi dan melihat dari karakteristik dirinya, dia tidak mungkin mau masuk ke dalam menolongi pelayan yang tidak berharga dan tidak terlalu dia sukai seperti aku, itu memang cukup membuat aku merasa aneh dan curiga tidak menentu padanya, tetapi aku mengabaikan semua itu sebab pandanganku tiba-tiba langsung beralih ke dalam kamar adikku Kirei dimana saat itu dia perawat pria di kerahkan untuk masuk ke dalam ruangan tersebut dan mereka terpaksa memberikan suntikan penenang kepada Kirei agar bisa membuatnya berhenti melukai dirinya dan menjambak rambutnya sendiri saat itu, juga agar dia berhenti merusak semua fasilitas yang ada di sana.
Bahkan akibat dari amukan Kirei barusan aku rasa kini harus aku yang mengganti semua kerusakan yang dia perbuat, aku sama sekali tidak mengerti harus melakukan apa lagi untuk menyembuhkan Kirei dari traumatis seperti ini.
"Kirei...kamu terlalu muda untuk jadi seperti ini, jika kita bisa berganti posisi aku akan dengan senang hati menggantikan posisimu Kirei" ucapku sambil memegangi jendela dengan besi yang ada disana tempat dimana semua orang bisa mengunjunginya kapanpun.
Tuan Arfanka yang mendengar Klara mengatakan hal seperti itu, dia langsung saja menyanggah ucapan Klara saat itu dengan sangat cepat.
"Heh..enak saja kau bicara, aku tidak akan menerimanya jika kau menjadi gila, aishhh.... bagaimana kau akan membalas dan melaksanakan semua tugasmu sebagai pelayanku jika kau menjadi gila seperti itu, aishhh" ucap tuan Arfanka membuat aku langsung menunduk dan menghindari tatapannya saat itu dengan cepat.
Ucapannya itu sungguh membuat aku sedikit kaget sampai membuat aku tersentak sedikit ke belakang saat itu, dia benar-benar mengagetkan aku dan membuat aku sangat takut dengan tatapannya yang sangat tajam, sampai tidak lama dokter yang menangani adikku dia langsung memanggil aku dan meminta aku untuk mengganti semua fasilitas yang di rusak oleh Kirei belakangan ini termasuk dengan kejadian yang baru saja terjadi.
"Nona Klara saya benar-benar meminta maaf kepada anda, sebenarnya saya sendiri merasa tidak enak untuk mengetakan ini tetapi pihak rumah sakit ini yang sudah memberikan peraturan seperti ini, dan saya harap anda bisa segera melunasi semua ya agar adik anda bisa dengan cepat pula mendapatkan ganti dari semua barang tersebut yang rusak" balas sang dokter menjelaskan kepadaku dengan begitu rinci.
Aku diam sejenak dan tidak tahu bagaimana cara menjawab pada dokter tersebut karena saat ini aku sama sekali tidak mempunyai uang sepersen pun bahkan aku bekerja pada tuan Arfanka sama sekali tidak mendapatkan bayaran, karena ibu yang sudah mengambil banyak uang darinya, bahkan aku juga tidak tahu kapan aku bisa selesai membayar semua uang yang sudah di ambil oleh ibu dari tuan Arfanka.
Kini aku juga masih harus memikirkan cara untuk mengganti rugi semua hal yang di rusak oleh Kirei, aku tidak bisa menyalahkan Kirei atas semua ini karena dia melakukannya dalam keadaan tidak sadar, tetapi aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri karena menjadi kakak yang sangat tidak berguna bagi adikku.
"Dokter maafkan saya tapi untuk saat ini saya benar-benar tidak memiliki uang, bisakah saya membayarnya sedikit demi sedikit, saya janji akan melunasi semuanya" ucapku kepadanya.
Sayangnya dokter tersebut menggelengkan kepada dan mengatakan bahwa pembayaran tersebut tidak bisa aku cicil seperti itu.
"Saya rasa hal seperti itu tidak bisa, tetapi anda bisa membiarkan masalah ini dengan pihak administrasi di depan sana" balas sang dokter menyuruh aku untuk pergi dari sana dengan halus.
Aku mengangguk mengerti dengan maksudnya dan saat aku keluar dari sana aku melihat tuan Arfanka yang ternyata masih ada menungguku di luar ruangan tersebut.
__ADS_1
Dia berdiri menghadap ke arahku tepat ketika aku baru saja keluar dari ruangan pribadi dokter tersebut saat itu, aku terus saja menunduk dengan lesu dan tidak bisa mengatakan apapun lagi saat itu, selain dari terus berjalan lesu menuju meja administrasi yang berada di bagian depan rumah sakit tersebut.
"Ada apa dengannya, apa dia habis terkena marah oleh dokter itu sampai harus keluar seperti ini?" Batin tuan Arfanka menduga-duga saat itu.