
Aku pikir Kevin dapat mengerti dengan ucapan yang aku katakan kepadanya saat itu, namun sayangnya dia sama sekali tidak mengerti dan malah tetap saja menyuruh aku untuk di dan dia terus mengobati luka di kakiku saat itu.
"Sudahlah diam saja, kamu dan aku sama-sama manusia kita sama-sama makan nasi dan sama-sama akan mati, jadi apa bedanya aku denganmu, aku tidak akan menjadi seperti ayahku ataupun menjadi seperti Arfanka, jadi kau santai saja jika denganku," ujarnya begitu saja.
Entah kenapa aku merenung mulai saat itu Kevin terlihat tidak seburuk yang aku pikirkan sebelumnya, dia sama sekali jauh dari bayangan yang aku pikirkan selama ini tentangnya, diaau melakukan semua ini padaku disaat dia sudah tahu bahwa aku hanyalah seorang pelayan rendahan sebelumnya, bahkan aku juga sudah mencoba untuk memperingatinya namun dia malah menjawabnya dengan ucapan seperti itu.
Berkat ucapan darinya, aku menjadi merasa lebih memiliki harga diri lagi dan tidak merasa minder dengannya, perlahan sebuah senyum kecil tergambar di wajahku dan ternyata Kevin memperhatikan wajahku secara diam-diam saat itu.
"Kalau mau senyum ya senyum saja kenapa kau menahannya?" Ucap Kevin yang baru saja selesai menemukan plester pada ibu jari kakiku.
Aku benar-benar merasa gugup dan kaku saat dia menyinggung hal tersebut kepadaku sehingga dengan cepat aku langsung saja memalingkan pandangan darinya dan berusaha untuk menjaga ekspresi di wajahku agar tetap tenang dan tidak ketahuan olehnya bahwa aku merasa senang dan tersenyum kepadanya saat itu.
"AA..AA..apa? Aku tidak tersenyum kepadamu? Kau salah lihat kali, ada-ada saja kau ini." Ucapku kepadanya sambil segera pergi dari sana dengan cepat.
"Sudahlah minggir aku mau pergi ke kamar kau tidur di sofa saja." Ucapku kepada dia dan hendak pergi dengan cepat saat itu juga.
Tapi disaat aku hendak pergi dari sana dia justru malah menahan aku dan mendudukkan aku lagi dengan cepat saat itu, aku terperangah melihat Kevin yang melarang aku untuk masuk ke dalam kamar dan dia malah menyuruh aku untuk tetap tidur di sofa tersebut, padahal dia sendiri tahu kakiku terluka, aku pikir dengan begitu dia akan sedikit kasihan padaku dan memberikan kamar itu untuk aku pakai.
Namun sayangnya aku salah besar, justru malah dia yang tetap saja bisa masuk ke dalam kamar itu dan malah melemparkan sebuah bantal juga selimut tebal kepadaku saat itu dengan kasar, bahkan dia melemparkannya tidak sampai padaku dan aku juga yang harus mengambil bantal tersebut dari bawah sana.
__ADS_1
"Eehh..tidak bisa, enak saja kau mau masuk ke kamar, kau kan harus tidur disini, sudah jelas sejak awal aku yang tidur di kamar, sudah diam kau disini akan aku ambilkan selimut dan bantal untukmu." Ujar dia kepadaku.
Aku sangat kesal tapi tidak bisa mengejar dia karena kakiku sangat sakit dan aku hanya bisa terus meringis merasakan ngilu di kaki ibu jariku saat itu, sedangkan Kevin malah tetap saja langsung masuk ke dalam kamarnya dengan santai dan tidak memiliki rasa kasihan atau iba sedikit pun kepadaku saat itu juga.
"Astaga...aku benar-benar salah mengira dia manusia yang baik, dia masih sama saja. Menjengkelkan!" Gerutuku sangat emosi melihatnya kelakuannya tersebut.
Aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar dan tidak tahu lagi harus melakukan apapun saat itu selain dari pasrah menerima semuanya sekaligus mengambil lemparan selimut juga banyak dari Kevin saat itu juga.
"Hei...ini cepat ambil!" Ucapnya kepadaku sambil melemparkan bantal itu dengan sembarangan bahkan dia melemparkannya tanpa memperlihatkan wajah dia kepadaku hanya tangannya saja yang keluar sebelum dari balik pintu saat itu.
"Aishh...dasar kau sangat menjengkelkan apa kau bodoh hah? Kenapa kau malah melemparkan ya sembarangan, dasar manusia sialan!" Bentakku merutuki dia dengan penuh emosi saat itu.
Aku benar-benar sulit untuk tidur saat itu namun aku masih harus memaksakan diri untuk tertidur meski sangat sulit sekali melakukannya, aku sudah menutup mataku berusaha untuk tidak bergerak sedikit saja supaya bisa tidur dengan cepat namun nyatanya tetap saja sofa yang sangat minim ini tidak bisa membuat aku nyaman dan leluasa untuk merebahkan diriku sendiri saat itu.
"Huaa..... Aku masih tidak bisa tertidur apa yang harus aku lakukan?" Gerutu terus saja merasa sangat kesal dan emosi pada Kevin di tambah kepada dirimu sendiri saat ini.
Pada akhirnya aku langsung saja kembali bangkit lagi sambil terus saja hanya bisa menatap dengan tajam ke arah pintu kamar Kevin tanpa berkedip sedikitpun, dan terus saja merasa emosi kepadanya, aku hanya bisa menggerutu dengan kesal kepadanya.
"Aaarrghhhh... Manusia sialan, sangat menjengkelkan! Bagaimana bisa dia malah melakukan semua ini kepadaku, hei... Manusia sialan aku ingin menghajarmu, awas saja kau! Aaaarrkkkk..hiks..hiks..aku ingin tidur tapi aku tidak bisa tidur di sofa yang pendek dan sempit ini, aku akan jatuh jika tidur di sini huaaa..aku harus bagaimana sekarang," rengek ku yang tidak bisa melakukan apapun lagi saat itu.
__ADS_1
Yang pada akhirnya aku lebih memilih mengamparkan selimut tebal itu di lantai yang sudah aku bersihkan terlebih dahulu lalu barulah aku tidur disana dengan memeluk kakiku sendiri karena merasa dingin sedangkan selimutnya aku gunakan untuk dasar di lantai saat itu.
Walaupun agak dingin dan sangat membuat tubuhku seperti tertusuk kedinginan namun memang tidak ada cara lain lagi ini sudah lebih baik dan lebih nyaman di bandingkan tidur di sofa yang tidak bisa membuat aku bergerak dengan bebas.
Salah saja bergerak sedikitpun, maka aku akan jatuh dan bisa saja menimpah meja yang ada disana lalu akan membuat badanku kembali merasakan sakit di sekujur tubuhku seperti sebelumnya lagi dan lagi, dan aku tidak mau semua itu terjadi kepada tubuhku lagi, aku terus saja berusaha tertidur hingga lama kelamaan seiring berjalannya waktu, akhirnya aku bisa tidur juga dengan cepat.
Sampai ke esokan paginya Kevin bangun lebih awal dan sangat pagi, dia segera keluar dari kamarnya dengan badan yang terlihat lebih bugar dan cerah sekali pagi itu, dia juga mulai meregangkan tubuhnya sesekali sampai dia kaget terbelalak dengan lebar melihat tidak ada keberadaanku di atas sofa saat itu.
"Astaga...dimana dia? Apa dia sudah pergi dari sini?" Ucap Kevin yang merasa kebingungan dan mencari keberadaannya saat itu.
Hingga tidak lama ketika Kevin berjalan semakin ke depan dia mulai bisa melihat ternyata Klara tidur di lantai beralaskan selimut yang dia berikan sebelumnya dia juga terlihat kedinginan karena terus saja menaikkan kakinya sambil memeluk kakinya sendiri seerat yang dia bisa kala itu.
"Aahh? Ternyata dia tidur disini? Aishh..kenapa malah tidur di lantai, tidak mungkin juga dia jatuh dari soft sejauh ini bukan? Aahhh aku tidak mengerti dengan otaknya ini," gerutu Kevin saat itu sambil mulai merasa kasihan melihat Klara yang terlihat semakin kedinginan sendiri saat itu.
Karena merasa kasihan kepada Klara Kevin segera kembali masuk ke dalam kamarnya lagi dengan cepat dan mengambil satu selimut lagi yang sebelumnya dia pakai, lalu dia segera menyelimutkannya kepada tubuh Klara dengan perlahan saat itu, dia langsung saja menyelimutinya dengan perlahan karena takut Klara akan terusik karenanya.
"Dasar kau sangat merepotkan, jangan mencariku saat kau bangun nanti, aku sudah harus bekerja sebagai bapak direktur di perusahaan pusat sekarang, aahh sangat benci sekali harus pergi ke perusahaan yang sama dengan si Arfanka sialan itu, tapi aku tetap harus menuruti kehendak ayah karena sudah berjanji kepadanya." Gerutu Kevin sambil merapihkan jas yang dia kenakan saat itu dan buru-buru memakai sepatunya.
"Jika saja aku tidak janji maka aku tidak akan pernah pergi, ini bukan karena aku menuruti ayah tetapi karena aku menepati janjiku sendiri padanya." Tambah Kevin sambil bergegas pergi dari sana secepatnya saat itu juga.
__ADS_1