
Malam sudah tiba dan tuan Arfanka juga sudah mendapatkan undangan dari sang ayah angkat tuan Briantoro untuk hadir diacara jamuan makan malam untuk menyambut kembalinya putra tunggal dirinya yang tidak lain adalah Kevin Briantoro.
Tuan Arfanka juga sudah bersiap-siap untuk pergi dia bahkan tidak memberitahukan pada Klara kemana dia akan pergi malam itu, hingga sesampainya di kediaman Briantoro dia justru malah melihat kehadiran Riksa di meja makan termasuk dengan adik angkatnya Kevin yang sudah berada disana lebih dulu.
Saat tuan Arfanka masuk ke dalam sana, Riksa langsung bangkit berdiri dengan cepat dan menyambut kepadanya tuan Arfanka secepatnya saat itu.
"Aahhh... Arfanka akhirnya kamu datang juga, aku sudah menunggu kehadiranmu sejak lama, mari Arfanka aku bantu kau menarik kursinya." Ujar Riksa yang segera menarikkan kursi di sampingnya untuk tuan Arfanka.
Tuan Arfanka tidak bisa mengabaikannya karena disana ada Kevin sehingga dengan cepat tuan Arfanka duduk di kursi yang sudah ditarik oleh Riksa saat itu, tentu saja Riska sendiri merasa sangat senang karena tuan Arfanka tidak mengabaikan dia seperti sebelumnya lagi, hingga beberapa saat tuan Briantoro tiba di dalam ruangan itu dan dia duduk di tengah-tengah meja yang berada di ujung, sedangkan tuan Arfanka berhadapan dengan Kevin saat itu.
Saat tuan Briantoro hadir mereka bertiga segera bangkit berdiri dan memberikan hormat kepadanya sampai tuan Briantoro kembali mempersilahkan mereka untuk duduk dengan nyaman, lalu dia mulai meminta para pelayan agar menyajikan menu jamuan makan malam saat ini.
"Pelayan keluarkan semua makanannya." Perintah tuan Briantoro dengan tegas.
Dia sengaja baru mengeluarkan makanannya saat ini dan sengaja menghadirkan Riska juga dalam acara ini agar bisa segera menjodohkan tuan Arfanka dengan Riska demi sebuah bisnis yang harus terus berkembang dan kerjasama diantara dua perusahaan besar tersebut karena dia ingin bisa menguasai pasar saham sepenuhnya.
Maka dari itu tuan Briantoro sejak dulu selalu memperlakukan Riska dengan sangat baik dia bahkan selalu mendukung semua keinginan Riska yang sangat menyukai tuan Arfanka dalam waktu yang lama juga sehingga kali ini rencananya untuk menyatukan Riksa dengan tuan Arfanka harus berhasil.
Sambil menunggu semua makanan disajikan oleh pelayan, tuan Briantoro mulai memberikan sebuah pengumuman kecil kepada mereka semua.
"Anak-anakku ada pengumuman yang akan aku utarakan kepada kalian malam ini, kalian semua harus mendengarkannya dengan baik sebab semua ini menyangkut dengan hubungan kalian bertiga." Ucap tuan Briantoro yang membuat Kevin mengerutkan kedua alisnya.
"Apa lagi yang akan dia umumkan sekarang, aku curiga dia hanya akan membuatku kesal hari ini, aahhh menyebalkan sekali berada diantara mereka." batin Kevin saat ini.
Dia sangat penasaran dengan apa yang akan diumumkan oleh ayahnya tersebut, dan Kevin jauh lebih tahu bagaimana otak licik dan akal bulus dari ayahnya sendiri, dia hanya takut jika semua ini akan berhubungan tentang dirinya ataupun pemilihan untuk pimpinan perusahaan nantinya.
Sedangkan Riska terlihat tersenyum lebar sepertinya dia lebih mengetahui semuanya dibandingkan kedua putranya sendiri.
"Mulai saat ini aku akan menunjuk Kevin sebagai direktur perusahaan mendampingi Arfanka selama pimpinan belum terpilih." Ucap tuan Briantoro yang membuat Kevin membelalakkan mata sangat kaget.
Tentu saja dia sangat tidak terima jika dirinya hanya dijadikan seorang direktur saja oleh ayahnya, karena yang dia inginkan adalah jabatan sebagai CEO atau Presdir di perusahaan tersebut, dia selalu merasa bahwa dirinya sudah mampu untuk mengemban semua tanggung jawab tersebut, namun ayahnya selalu saja tidak bisa mempercayai dirinya dengan semua itu. Mendengar hal tersebut tentu saja Kevin langsung memotong ucapan ayahnya dan dia protes tidak menerima semua keputusan ini sepenuhnya.
__ADS_1
"APA? Ayah apa kau tidak salah dalam mengambil keputusan? Aku ini putramu, putra kandungmu yang lahir dari benihmu! Bagaimana mungkin kau malah lebih mengutamakan anak pungut ini dibandingkan denganku yang putra kandungmu, apa-apaan aku hanya mendapatkan jabatan direktur disana sedangkan dia menjadi Presdir, apakah kau pikir itu adil ayah?" Ucap Kevin dengan nada suara yang tinggi.
Dia sangat berani bicara protes dengan sangat lantang dan ekspresi di wajahnya yang sangat menyebalkan untuk dilihat oleh tuan Arfanka saat itu.
Tuan Briantoro sudah mengetahui bahwa putranya akan menyanggah ucapan dia seperti saat ini sehingga dia sudah menyiapkan diri untuk hal seperti ini sebelumnya, ketika Kevin memberontak dan protes seperti itu kepadanya dengan cepat tuan Briantoro menepuk meja makan satu kali hingga membuat Kevin langsung terdiam saat itu juga.
"Brak! Diam kau Kevin sifatmu yang seperti inilah, membuat aku ragu dan terus sulit untuk mempercayaimu sebagai pemimpin di perusahaan. Jika kau ingin memiliki jabatan yang sama dengan kakakmu Arfanka, maka kau bisa menjabat sebagai CEO juga di perusahaan cabang yang ada di luar negeri, tidak perlu kau kembali kesini dan membuat keributan sendiri." Balas tuan Arfanka yang membuat Kevin diam namun hatinyabtetap bergejolak penuh rasa iri dan sangat kesal kepada tuan Arfanka saat itu.
"Aku memilihkan sebagai seorang direktur utama, jabatanmu itu sudah lebih tinggi dibandingkan para direktur lainnya yang ada di perusahaan kita, kau direktur di perusahaan pusat, hanya satu langkah saja yang berbeda dari kakakmu, apa kau tidak bisa menerima itu hah?" Bentak tuan Briantoro kepadanya.
"Tidak ayah... Aku tetap tidak bisa menerimanya, kecuali jika memang aku bukan anak kandungmu mungkin aku tidak akan mempermasalahkan hal ini!" Balas Kevin sambil langsung pergi dari sana.
Tuan Briantoro sudah berusaha untuk memanggilnya dan menyuruh Kevin agar berhenti saat itu, namun sayangnya tetap saja Kevin bukanlah tuan Arfanka yang akan menuruti ucapan ayahnya tersebut, dia tetap pergi dan mengabaikan tuan Briantoro bahkan dia masih berani membanting pintu dengan keras disaat kacau seperti ini.
"Kevin berhenti kau dan kembali duduk, Kevin.... Kevin!" Teriak tuan Briantoro yang sudah sangat kesal sekali dan tidak bisa untuk mengendalikan putra kandungnya itu.
Riska langsung mengambil kesempatan itu dan berusaha untuk menenangkan tuan Briantoro seakan dia benar-benar sangat memperdulikannya saat itu.
"Tuan sudahlah, jangan terlalu dipikirkan dan jangan bersikap terlalu keras pada Kevin, dia masih dua puluh dua tahun, tentu pikirannya masih labil dan belum cukup dewasa seperti Arfanka, mungkin dia hanya sedang tidak baik hati ini dan aku yakin dia akan tetap hadir ke perusahaan untuk menerima jabatannya sebagai direktur, dia adalah putramu wajar saja jika dia merasa iri dengan Arfanka karena dia tidak lebih hebat darinya, kau harus lebih mengerti dia lagi tuan." Ucap Riksa kepadanya.
Setelah menenangkan diri dan mulai menikmati jamuan makan malam tuan Briantoro mulai bertanya mengenai hubungan antara tuan Arfanka juga Riska kepada mereka saat ini dan dengan terang-terangan tuan Briantoro mengatakan perjodohan diantara mereka saat itu.
"Arfanka bagaimana dengan hubungan kalian berdua, apa kau sudah memutuskan untuk menerima perjodohan yang ayah katakan padaku dahulu?" Tanya tuan Briantoro begitu saja pada tuan Arfanka.
Tuan Arfanka sebenarnya sangat tidak mencintai Riska bahkan jangankan untuk mencintainya tuan Arfanka sama sekali tidak menyukai Riska walau hanya sedikipun. Terlebih dia tahu bahwa sahabatnya Jeno menyukai Riska tentu sebagai seorang sahabat dia tidak bisa menikung sahabatnya sendiri hanya karena sebuah perjodohan bisnis seperti ini.
Sehingga kali ini disaat tuan Briantoro menanyakan hal itu kepada tuan Arfanka dia hanya bisa terdiam memikirkan apa yang harus dia katakan kepada ayah angkatnya tersebut, disisi lain dia tidak menyukai Riska dan tidak bisa mengkhianati sahabatnya, namun disisi lain dia juga tidak bisa membantah ketentuan yang sudah di ucapkan oleh ayahnya.
"Arfanka ayo jawab, mengapa kau terlihat termenung, apa kau tidak menginginkan perjodohan ini, apa kau sudah berani menentang ku sekarang?" Tambah tuan Briantoro lagi saat itu.
"Bukan begitu ayah, tetapi hal ini menyangkut perasaan kedua belah pihak, sejak dulu aku sudah mengatakan bahwa aku tida pernah menyukai Riska dan orang yang menyukainya adalah Jeno, mereka juga cukup dekat satu sama lain, bukankah akan sangat buruk jika aku tiba-tiba menjalin hubungan dengan Riksa ayah?" Balas tuan Arfanka menjelaskan.
__ADS_1
"Riska apakah itu benar, apa kau menyukai sekretaris Jeno?" Tanya tuan Briantoro kepada Riska.
"Tidak tuan... Aku sama sekali tidak pernah menyukainya hanya dia yang selalu mengejar-ngejar aku, bahkan dia selalu menjadi penghalang ketika aku menginginkan Arfanka, kau sendiri tahu tuan sudah sejak lama aku meminta ibuku untuk menjodohkan aku dengan Arfanka, tidak mungkin aku menyukai pria lain selain dia." Balas Riska yang sangat membuat tuan Arfanka kesal saat itu.
Karena mendapatkan jawaban seperti itu dari Rusak tuan Briantoro pun langsung memutuskan untuk membuat sebuah pesta pertunangan diantara mereka berdua secepatnya agar bisa mengikat mereka berdua dan membuat semua orang tahu dengan hubungan keduanya, termasuk dia ingin segera menjadi lebih berkuasa, karena ibunya Riksa menjanjikan akan memberikan sebagian dari saham perusahaannya jika sampai Riska bisa menikahi Arfanka dan mereka berdua akan mendapatkan keuntungan yang sama besarnya, menjadi keluarga nomor satu nantinya.
"Baiklah karena Riska sudah mengatakan begitu, ayah rasa kau harusnya sudah mengerti Arfanka, mulai sekarang kalian adalah sepasang kekasih dan pertunangan kalian akan segera dilaksanakan setelah pertemuan dua keluarga dilaksanakan nanti, dan kau Riksa suruh ibumu untuk segera kembali dari luar negeri jika kamu ingin semua ini dilakukan lebih cepat." Ujar tuan Briantoro memutuskannya.
Tuan Arfanka sama sekali tidak berkutik dia tidak bisa menyanggah apapun dan Riksa terlihat begitu senang dia merasa bahwa dirinya telah menang untuk melakukan semua rencananya dengan tuan Briantoro, karena sebenarnya semua ini memang sudah direncanakan dengan sangat matang dan hati-hati oleh mereka berdua cukup lama.
Kevin yang saat itu mengintip secara diam-diam dia benar-benar semakin kesal dan benci pada kakaknya Arfanka, kini kebenciannya semakin bertambah karena kakaknya tersebut malah menerima perjodohan dengan begitu mudah tanpa sebuah perlawanan sepertinya, Kevin sangat benci melihat kakaknya yang sudah berani mengkhianati sahabatnya sendiri yang tidak lain adalah sekretaris Jeno.
"CK... Mereka memang cocok sama-sama manusia sampah." Ucap Kevin sambil segera pergi dari sana secepatnya agar dia tidak diketahui oleh ayahnya dan tuan Arfanka.
Saat tuan Briantoro sudah pergi tuan Arfanka juga segera pergi dari sana namun Riska dengan cepat berlari mengejar tuan Arfanka dan dia terus saja memanggil tuan Arfanka untuk menunggunya saat itu.
"Arfanka tunggu.... Arfanka apa kau mendengarkan... Arfanka...aaaahhhh." ucap Riksa yang tidak sengaja malah tersandung dengan kakinya sendiri karena saat itu dia memakai gaun yang cukup ribet dan memakai sepatu hak tinggi yang membuatnya kesulitan untuk berjalan.
Tuan Arfanka yang mendengar Riska meringis kesakitan dia langsung saja berhenti dan langsung berbalik melihatnya sambil segera berjalan menghampiri Riska lalu membantunya saat itu juga.
"Ssstttm..aaaww...ini sakit sekali," ringis Riska yang terus memegangi kakinya saat itu.
"Ayo bangun aku akan membantumu berjalan sampai ke mobilmu." Ucap tuan Arfanka sambil mengulurkan tangan kepadanya saat itu.
Riska sangat senang dan senyum lebar terpancar jelas di wajahnya dia dengan cepat menerima uluran tangan dari tuan Arfanka dan dengan cepat tuan Arfanka membantunya berjalan dengan memapah dia sampai masuk ke dalam mobil, sedangkan Kevin sudah memperhatikan kelakuan dari tuan Arfanka sejak awal sampai ketika tuan Arfanka sendiri dan mobil Rusak sudah pergi Kevin dengan cepat ikut masuk ke dalam mobil tuan Arfanka begitu saja membuat tuan Arfanka sedikit kaget melihat keberadaan Kevin yang tiba-tiba saja sudah berada di dalam mobilnya belakangnya saat itu.
"Kau? Sedang apa kau berada di mobilku? Cepat keluar aku harus segera kembali." Ucap tuan Arfanka mengusirnya dengan cepat.
"Tidak... Aku tidak ingin tinggal di rumah menyebalkan ini aku ingin tinggal di rumahmu lagi, dan kau tidak bisa melarangku, aku sudah meminta izin dengan ayah dan dia mengijinkannya asal aku menerima tawaran jabatan direktur itu darinya, sudah cepat jalankan mobilnya aku ingin segera beristirahat." Ucap Kevin memerintah begitu saja.
Tuan Arfanka tentu tidak bisa mengusirnya lagi karena sudah tahu bahwa itu sesuai dengan izin dari tuan Briantoro, dan dia baru saja mendapatkan pesan dari ayahnya sehingga tuan Arfanka langsung menyalakan mobilnya dan menginjak pedal gas dengan cepat sekaligus membuat Kevin hampir terhantuk ke depan saat itu.
__ADS_1
"Aishh... Arfanka apa kau mau membawaku ke alam baka ya? Sialan kau!" Gerutu Kevin yang sangat kesal sambil berpegangan dengan kuat saat itu.
Dia juga merasakan kepalanya cukup pusing karena tuan Arfanka benar-benar melajukan mobil dengan seenaknya dan berbelok dengan tajam membuat Kevin sulit untuk mengendalikan dirinya sendiri di dalam mobil saat itu, dia mulai merasa mual dan sangat pusing, namun terus berusaha menahannya karena dia tidak mungkin pergi dan mengalah dari kakaknya itu.