Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Cemas


__ADS_3

Ke esokan paginya tiba-tiba saja tuan Arfanka mendapatkan kabar bahwa adiknya sekretaris Jeno meninggal dunia karena dia ternyata mengalami beberapa masalah pasca operasi gagal ginjal yang dia lakukan di rumah sakit luar negeri sebelumnya, namun semua itu tentu saja bukan suatu hal yang tidak di sengaja, melainkan sudah di rencanakan oleh seseorang sebab sebelumnya adik sekretaris Jeno ini baik-baik saja dan sedang dalam masa pemulihan hanya saja saat dia siuman diam-diam tuan Briantoro datang menemuinya disaat tuan Arfanka dan Kevin di sibukkan dengan keadaan sekretaris Jeno itu sendiri.


Tuan Briantoro mengatakan bahwa kakaknya sekretaris Jeno telah meninggal dunia di tangannya sehingga sang adik mengalami syok mendalam yang seharusnya tidak dia lakukan ketika dalam masa pemulihan seperti itu, hingga dia kembali kritis dan tuan Briantoro mengambil kesempatan itu untuk menghilangkan nyawanya dengan mudah.


Dia berhasil melenyapkan satu orang lagi yang menjadi beban baginya karena jika dia tidak menyingkirkan gadis itu maka dia masih harus membayar semua biaya rumah sakitnya yang mahal dan sangat menjengkelkan ketika melihat banyaknya angka pengeluaran uang yang di lihat oleh tuan Briantoro selama ini.


Dia keluar dari rumah sakit setelah membekap adik sekretaris Jeno, sampai beberapa menit kemudian barulah dokter dan perawat disana mengetahui kepergian adiknya sekretaris Jeno, dan mulai mengabari tuan Arfanka.


Tuan Arfanka yang menjadi orang pertama mendapatkan kabar tersebut, dia sangat kaget dan begitu syok sekali, sebab baginya adik Jeno merupakan adiknya juga.


"Apa suster dia meninggal? Baik saya akan segera kesana," ucap tuan Arfanka dalam panggilan telponnya saat itu.


Kevin menatap penuh kebingungan dan dia menahan tangan tua Arfanka yang henda pergi dari sana tanpa memberitahu pada dirinya apa yang sedang terjadi saat itu.


"Arfanka siapa yang meninggal?" Tanya Kevin kepadanya.


"Adik dari sekretaris Jeno," balas tuan Arfanka yang membuat Kevin membelalakkan matanya sangat kaget.


Dia semakin mencurigai sang ayah yang ada di balik semua ini, dia tahu siapapun yang berani berurusan dengan ayahnya pasti akan berakhir seperti ini, ayah nya itu tidak mungkin meninggalkan satu orang pun. Sementara tuan Arfanka yang pergi memeriksa adiknya sekretaris Jeno, kini Kevin justru mulai menghubungi anak buahnya dan meminta untuk mengikuti gerak gerik sang ayah.


Hingga Kevin mendapatkan kabar bahwa sang ayah sama sekali tidak ada di kantor ataupun di rumahnya saat itu, hal tersebut membuat kecurigaan Kevin semakin bertambah sebab ayahnya tidak pernah pergi ke luar dari rumah pagi-pagi seperti itu biasanya.


Sampai hari demi hari terus berlalu adik sekretarias Jeno sudah di makamkan dan aku semakin cemas melihat semua ini, bukan hanya sekretaris Jeno yang masih koma tetapi adiknya juga sudah meninggal dunia, hingga satu Minggu telah berlalu dan mereka masih belum menemukan titik terang sama sekali.


Meski sudah mencurigai tuan Briantoro sebagai dalang dari semua kejadian mengenaskan ini, tetapi tuan Arfanka sama sekali tidak memiliki bukti apapun yang bisa dia gunakan untuk melawan tuan Briantoro saat ini, begitu juga dengan Kevin meski sudah menyuruh anak buahnya mencaritahu tentang sang ayah tetapi anak buahnya sendiri juga tidak bisa benar-benar menyelidiki semuanya secara detail, sebab dia juga takut akan ketahuan oleh tuan Briantoro nantinya dan jika sampai ketahuan maka urusannya akan semakin melebar.


Aku merasa cemas setiap hari dan terus saja tidak tenang sedangkan pertunangan tuan Arfanka akan di laksanakan beberapa hari lagi, beberapa hari belakangan ini tuan Arfanka juga sama sekali tidak menghubungi aku ataupun menemui aku hanya Kevin yang selalu ada di sampingku akhir-akhir ini dan Kevin juga yang selalu menemani Kirei bermain setiap malam, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi terakhir bertemu dengan tuan Arfanka hanya pada pemakaman adiknya sekretaris Jeno saja.


Setelah itu aku tidak pernah lagi berhubungan sangat dekat dengannya padahal kami masih sepasang kekasih baru yang seharusnya tengah dalam masa bahagia saat itu.


Tetapi aku tahu mungkin tuan Arfanka tengah dalam kesulitan untuk mencari bukti nyata yang kuat agar dia bisa menyelamatkan sekretaris Jeno, sebab sampai saat ini dia masih belum bisa dikatakan aman di tambah aku mendengar kabar dari Kevin bahwa perusahaan sedang dalam kondisi yang buruk sekali, sampai tuan Arfanka tidak memiliki banyak waktu untuk mengurusi hal lainnya.


Hal itu juga yang Kevin takutkan jika aku masih berhubungan dengan tuan Arfanka, bahkan malam ini saja disaat aku tengah berdiri di balkon dan Kevin bermain dengan Kirei dia tiba-tiba saja menghampiri karena saat itu Kirei sudah pergi tidur ke kamarnya.


"Klara ada apa? Aku lihat akhir-akhir ini kamu begitu murung?" Tanya Kevin sambil berdiri di sampingku saat itu.


Aku mulai meminta pendapat darinya karena aku rasa aku tidak bisa lagi bertahan pada tuan Arfanka, aku hanya takut nasibku akan berakhir sama persis seperti apa yang terjadi kepada sekretaris Jeno dan adiknya, aku tidak ingin itu terjadi juga padaku nantinya.


"Kevin apa menurutmu lebih baik aku mengakhiri hubunganku dengan tuan Arfanka ya?" Tanyaku kepadanya.


"Mengapa kau berpikir begitu?" Tanya Kevin balik padaku.


"Aku takut tuan Briantoro lama kelamaan pasti akan mengetahui semua tentang aku dan Kirei aku hanya tidak ingin berakhir pilu seperti nasib sekretaris Jeno, apalagi aku tahu kalau tuan Arfanka sudah di jodohkan dan akan bertunangan dengan wanita lain pilihan tua Briantoro, jika sampai tuan Briantoro mengetahui bahwa tuan Arfanka berpacaran denganku, aku hanya takut Kevin," ucapku mengatakan semua ketakutanku saat itu.


Kevin menenangkan aku dan dia mengusap lembut punggungku berkali kali saat itu, dia terus saja memberikan ketenangan padaku sedangkan aku sendiri masih belum bisa merasa tenang saat itu, meski Kevin sudah menenangkan aku dengan berbagai cara.


"Sudahlah Klara jangan banyak memikirkan hal itu, masih ada aku disini, selama aku masih ada di sampingmu tidak akan ada siapapun yang berani menyentuhmu, aku akan menjamin itu karena aku tidak seperti Arfanka," ucap Kevin padaku saat itu.


Dia menarik tanganku dan memeluk aku dengan erat saat itu, sedangkan disisi lain aku tidak tahu sama sekali jika ternyata di bawah sana ada tuan Arfanka yang baru saja hendak menemui aku, namun dia justru malah melihat aku berpelukan dengan Kevin sehingga dia langsung kembali pergi dengan perasaan marah saat itu.

__ADS_1


"CK...bagus sekali, aku hanya tidak menemuinya bener hari tapi dia sudah bermain dengan adik angkatku sendiri di belakangku." Ucap tuan Arfanka merasa sangat kesal dan emosi saat itu.


Dia langsung pergi dari sana dan menyalakan mobilnya sambil pergi dengan cepat, suara mobilnya bisa aku kenali dan aku segera melepaskan pelukan dari Kevin hingga melihat ke bawah dan ternyata mobil tuan Arfanka sudah melaju pergi saat itu.


"Tuan Arfanka...itu...bukankah itu mobil miliknya?" Ucapku kepada Kevin dan dia menganggukkan kepala padaku saat itu.


"Kenapa kau tidak memberitahuku dia pasti melihat kau memelukku, dia akan salah paham Kevin, ayo cepat kita kejar dia dan jelaskan semuanya," ucapku sambil menarik tangan Kevin dan memintanya untuk pergi mengejar tuan Arfanka.


Namun Kevin sama sekali tidak bergerak dia terus saja terdiam sehingga membuat aku sangat merasa heran saat itu dan langsung saja aku membentak dia dengan keras saat itu.


"Kevin apa yang kau lakukan, ayo cepat kita pergi kenapa kau malah masih diam saja, Kevin ayolah Kevin!" Ucapku kepadanya.


"Klara lihat baik-baik ke bawah sana, apa kau mau di ketahui oleh anak buah ayahku." Ucap Kevin sambil menunjuk ke salah satu arah sebrang jalan apartemenku saat itu.


Saat aku memperhatikannya dengan baik ternyata memang ada beberapa orang yang terlihat memotret tempat ini juga mulai mengikuti mobil tuan Arfanka saat itu, aku kaget bukan main dan langsung saja terbelalak lebar melihatnya, tidak menyangka bahwa ternyata selama ini tuan Arfanka sudah di jaga dengan seketat itu secara diam-diam tanpa dia ketahui.


"Hah? Jadi...selama ini tua Arfanka? Kevin apa dia tahu bahwa di ikuti anak buah tuan Briantoro?" Tanyaku sangat mencemaskan tuan Arfanka saat itu.


"Dia tidak tahu dan jika dia tahu sekalipun dia tetap tidak akan bisa melakukan apapun, dia tidak pernah bisa berontak pada ayahku, dia hanya anak angkat yang takdirnya sudah di tentukan oleh ayahku dia tidak bisa memilih dan tidak bisa melakukan apapun, bahkan jika dia harus menikah dengan Riska dia tetap akan melakukannya dan mengkhianati Jeno juga dirimu." Balas Kevin menjelaskan kepadaku saat itu.


Aku tidak tahan lagi menahan air mata yang sudah berkaca-kaca di pelupuk mataku saat itu, aku merasa sangat lemas dan langsung berjongkok dengan tatapan mata yang kosong, terus saja merasa sedih tanpa bisa melakukan apapun.


"Hiks...hiks..kenapa...kenapa kamu tidak memberitahu aku sejak awal jika mencintai tuan Arfanka akan seberat ini untukku, kenapa Kevin? Jika aku tahu mungkin sejak awal aku tidak akan pernah menerimanya," ucapku sambil menangis saat itu.


"Klara tidak ada salahnya jika kau mencintai Arfanka aku bukannya tidak memberitahumu tapi aku hanya memberikan kesempatan agar kalian bisa merasakan cinta yang tulus sebenarnya diantara kalian berdua, tapi aku tidak pernah berpikir bahwa semua itu harus menjadi begitu singkat bagi kalian," balas Kevin kepadaku.


"Kevin aku ingin meminta tolong padamu, aku mungkin tidak bisa bertemu dengannya lagi, tapi tolong aku ingin menghubungi dia, aku ingin memutuskan hubunganku dengan dia walaupun hanya lewat dirimu atau lewat panggilan telpon saja, yang pasti aku tidak ingin lagi berhubungan dengannya aku tidak mau Kirei terseret dalam masalah ini, dan aku tidak mau masih menjadi pacarnya disaat dia akan bertunangan dan menikah dengan wanita lain aku tidak ingin di anggap wanita simpanan," ujarku meminta bantuan kepada Kevin dan dia terus menganggukkan kepala kepadaku saat itu.


Aku sudah berkemas sejak malam dan terus saja membereskan barang milik Kirei hingga saat Kirei bangun aku langsung menyuguhkan sarapan untuk dia dan Kevin, tetapi Kirei malah menanyakan mengenai Arfanka saat itu di hadapan kami berdua.


"Kak kenapa sih tuan Arfanka tidak datang lagi kemari, kenapa dia tidak mengajak aku main lagi, apa kalian sudah putus?" Tanya Kirei kepadaku saat itu.


Aku menatapnya dengan bingung dan tidak tahu harus menjawab apa saat itu.


"AA..AA..ahhh... Kirei sayang untuk apa kamu menanyakan tuan Arfanka dia itu sudah mau menikah dengan tante Riska kamu tahu gadis yang kamu idolakan di televisi yang cantik itu, nah dia adalah calon istri tuan Arfanka sedangkan kakak hanya mantan pelayannya saja, kakak tidak mungkin berpacaran dengannya, kamu ini bagaimana sih," ucapku membalas perkataan Kirei karena sejak awal dia belum mengetahui bahwa aku menerima cinta tua Arfanka saat itu.


Namun sayangnya Kirei memang gadis yang pintar dia menunjuk ke arah cincin pemberian tuan Arfanka yang masih aku kenakan saat itu.


"Kak kau tidak bisa membohongi aku, jika kau tidak berpacaran dengannya atau sama sekali tidak menyukainya kenapa kau masih memakai cincin pemberian dia di tanganmu dan saat itu kau bilang apa yang aku katakan benar, kau terlihat sangat menyukainya, kau tidak bisa membohongi aku kakak." Balas Kirei kepadaku saat itu.


Aku sudah tidak bisa berkata-kata apapun lagi disaat Kirei sudah berbicara seperti itu dan hanya bisa tersenyum kecil sambil kebingungan, hingga untungnya Kevin cepat berbicara dan membantu aku untuk menjelaskan kepada Kirei saat itu.


"Hei...hei..hei..Kirei aku sangat sakit hati sekali jika kamu malah menanyakan Arfanka disaat sudah ada aku di samping kakakmu dan dirimu, sudah jangan menanyakan dia lagi, dia sudah mau menikah dan orang yang kakakmu sukai itu sebenarnya bukan dia sebab jika mereka berpacaran mereka tidak mungkin berpisah dalam waktu selama ini bukan? Ayolah Kirei aku lebih baik darinya," ucap Kevin sambil memasang wajah merajuk pada Kirei saat itu.


Yang pada akhirnya bisa membuat Kirei langsung berpihak kepadanya dan dia sudah tidak terus mendesak aku ataupun membahas mengenai tuan Arfanka lagi saat itu.


"Ahaha...iya iya kak Kevin aku tidak akan membicarakan dia lagi kau memang yang terbaik tetapi tetap saja kau merebut kakakku dari tuan Arfanka, tapi jika kau bisa membahagiakan dia lebih baik dari tuan Arfanka aku tidak masalah, kau juga sama tampannya hehe," balas Klara yang sangat membuat Kevin gemas padanya.


Dan dia langsung saja menggelitik Kirei dengan terus menerus sebab sudah berani bicara membandingkan antara dirinya dengan tuan Arfanka saat itu, dan terus saja mereka tertawa bercanda ria satu sama lain, aku merasa lega setidaknya berkat Kevin aku bisa menghindari pertanyaan dari Kirei yang terus saja mendesak aku, dan berkat dia juga aku bisa memiliki tempat tinggal dan terbebas dari tuan Arfanka.

__ADS_1


"Tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika Kevin tidak muncul dalam hidupku, mungkin sekarang aku sudah berurusan dengan tuan Briantoro jika tidak ada dia di sampingku," batinku memikirkan sambil terus saja melihat kedekatan antara Kevin dan Kirei yang menjadi sangat akur sekarang ini.


Padahal sebelumnya Kirei tidak terlalu menyukai Kevin sebab sejak awal mereka bertemu Kirei selalu saja menganggap bahwa Kevin orang yang sudah merebut aku dari tuan Arfanka padahal semua itu sama sekali tidak terjadi, Kevin hanya lebih memihak aku dan dia yang selalu membantuku, meski sebelumnya tuan Arfanka melakukan banyak hal untukku juga, tetapi nyatanya dia tetap tidak bisa melindungi kau ataupun menjaga aku dari ancaman tuan Briantoro dan yang lainnya saat itu.


"Hei..sudah...sudah jangan bercanda lagi ayo cepat sarapan kita akan segera pergi dari sini," ucapku kepada mereka berdua.


"Kak kenapa sih kita harus pergi aku sudah nyaman tinggal di apartemen ini," ucap Kirei bertanya lagi setelah dia selesai makan saat itu.


"Kirei tempat ini tidak aman dan kakak rasa kita lebih baik tinggal di kediaman tuan Kevin saja disana lebih besar dan lebih leluasa untuk kamu dan kakak tinggal, dengan kamu tinggal disana setiap hari kamu bisa melihat kak Kevin dan kamu juga bisa pergi ke sekolah dengannya bukankah itu keren, kamu selalu ingin punya kakak laki-laki yang baik padamu bukan?" Balasku kepadanya.


Untunglah saat itu Kirei mudah sekali di bujuk dan dia langsung mengangguk kepadaku dan terlihat sangat senang mendengar jawaban yang aku berikan saat itu.


"Wahh.... ternyata kau mau membawa aku pindah ke rumah kak Kevin ya, kenapa kamu tidak memberitahuku sejak awal kalau pergi ke rumah kak Kevin aku bisa sangat senang hehe, kak Kevin bisakah kita pergi main dulu sebelum pergi ke rumahmu, aku ingin pergi ke taman bermain, temanku bilang ada taman bermain di daerah sana dan itu baru buka, bagaimana kalau kita pergi ke sana?" Ucap Kirei yang malah mengajak Kevin bermain lagi.


Aku tahu Kevin cukup sibuk di perusahaan terlebih dengan hal yang lainnya jadi aku langsung saja menimpali Kirei karena aku tidak ingin semakin merepotkan Kevin lagi.


"Kirei Kevin ini harus bekerja dia tidak bisa terus menemani kamu setiap hari, biarkan dia kerja hari ini, nanti jika di akhir pekan baru kamu bisa mengajaknya bermain bagaimana?" Ucapku kepada Kirei saat itu.


Dia langsung terlihat murung dan merajuk kepadaku, wajahnya di tekuk cukup buruk dan dia melipat kedua tangannya di dada sangat tinggi seperti itu.


"Eumm tidak mau aku ingin sekarang kak lagi pula sekarang kan hari Sabtu siapa juga yang bekerja di hari Sabtu, kak Kevin ini kan bosnya dia bebas kapanpun tidak bekerja dia punya banyak anak buah suruh saja mereka yang menyelesaikan semuanya kenapa harus sulit," balas Kirei saat itu.


Aku baru saja ingin memberitahu dia lagi dan memberikan pengertian kepada Kirei tetapi Kevin justru malah menahanku dia memberikan kode padaku untuk diam saat itu sampai dia sendiri yang mulai bicara pada Kirei dengan baik-baik sampai Kirei menurutinya saat itu.


"Kirei aku mau kok menemaniku pergi sekarang ke taman bermain itu tetapi Kirei ucapanmu yang mengatakan seorang bos bebas untuk libur kamu salah, aku harus tetap bekerja meski aku bos nya sebab aku masih belum memiliki cukup kekayaan untuk menjadi pemimpin perusahaan, tetap saja semua kekayaan yang aku miliki itu bukan hasil dari kerja kerasku hanya sebagian saja yang aku miliki dan selebihnya itu milik ayahku aku bekerja padanya jadi aku tetap tidak bisa bersikap semena-mena, apa kamu mengerti?" Ucap Kevin menjelaskannya.


Anehnya Kirei menuruti dia dengan begitu mudah tetapi tidak mendengarkan aku sebelumnya, kini Kirei malah menjadi lebih menurut kepada Kevin daripada aku, dan sejujurnya aku tidak senang dengan hal itu, bahkan disaat hendak ke luar saja Kevin langsung menggandeng tangan Kirei dan membawanya masuk ke dalam mobil hingga tidak lama tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di sana dan keluarga tuan Briantoro saat itu, aku sangat kaget dan langsung membelalakkan mataku saat itu juga.


Kami tidak bisa pergi ataupun mengelak saat dia sudah berada di hadapan kami saat itu, sedangkan Kevin segera menyuruh aku untuk membawa Kirei masuk ke dalam mobil lebih dulu.


"Tu..tu..tuan Briantoro? Kevin bagaikan ini?" Gerutuku pelan saat itu dengan penuh kecemasan.


"Tenang saja, ayo pergi bawa Kirei masuk ke mobil lebih dulu aku akan menghadapinya," ucap Kevin padaku saat itu.


Untungnya koper kami sudah di masukkan lebih dulu sebelum kami turun saat itu jadi tuan Briantoro tidak akan terlalu mencurigakan kami, aku pun dengan cepat menuruti ucapan dari Kevin dan segera membawa Kirei untuk masuk ke dalam mobil secepatnya.


"Kirei ayo kita masuk ke mobil dulu, kamu tunggu di sini dan pakai headset di telingamu jangan melepaskannya sampai kakak kembali, kamu harus menurut!" Ucapku kepadanya yang langsung dianggukkan oleh Kirei saat itu.


Kemudian aku kembali lagi dan melihat Kevin bicara dengan tuan Briantoro saat itu, aku hanya bisa berdiri di samping Kevin dengan perasaan gugup dan tidak menentu saat itu, tidak tahu harus menghadapi tuan Briantoro seperti apa lagi.


"Ada apa ayah datang kemari, apa kau terlalu luang untuk datang menemui aku?" Tanya Kevin lebih dulu kepadanya.


"Ya..aku hanya ingin menengok putraku ini, tapi rupanya dia benar-benar sudah tumbuh menjadi dewasa, siapa wanita di sampingmu apa kau tidak mau mengenalkannya denganku?" Ucap tuan Briantoro yang membuat aku bergetar takut saat itu.


Tapi dengan cepat Kevin menggandeng tanganku dan dia memberikan aku sedikit ketenangan, namun dia malah memperkenalkan aku kepada tuan Briantoro sebagai pacarnya saat itu dan dia mengatakan bahwa dia akan menikahi aku di saat acara pernikahan kakaknya juga.


"Dia Klara dia adalah kekasihku, kami sudah lama bersama dan dia selalu tinggal di apartemenmu bersebelahan dengan apartemen milikku, dan aku baru saja ingin pergi ke rumahmu untuk mengenalkan dia padamu, aku juga ingin kau melakukan acara pertunangan yang megah untuk aku juga Klara, bukan hanya untuk putra kebanggaan mu saja," ucap Kevin yang justru malah di sambut tawa pelan dari tuan Briantoro saat itu.


"Hahaha....kau memang sudah dewasa tetapi kau tidak pernah berubah, baiklah aku akan menyiapkannya juga untukmu, kau tidak perlu khawatir tentang hal itu." Ucap tuan Briantoro sambil menepuk sebelah pundak Kevin kemudian dia pergi sambil memberikan sebuah kartu undangan jamuan makan malam kepada Kevin saat itu.

__ADS_1


"Jangan lupa untuk datang aku akan mempertemukan kalian berdua dahulu sebelum kalian bertemu di acara pertunangan bersama nantinya," ucap tuan Briantoro saat itu.


Aku baru saja bisa merasa lega dan sedikit jauh lebih tenang ketika tuan Briantoro sudah pergi saat itu, dan baru saja bisa menghembuskan nafas dengan lega saat itu.


__ADS_2