
Aku sungguh tidak sanggup lagi ketika melihat kondisi Kirei yang sudah hampir kehilangan seluruh kesadarannya saat itu, aku berusaha untuk mengangkat dia dan menggendongnya namun sayangnya aku tidak bisa menggendong dia sebab tenagaku yang menjadi lemas karena menangis tidak karuan.
"Tidak.. Kirei aku mohon bertahanlah, Kirei jangan lakukan ini pada kakak tolong sadar dan bertahanlah, aku sudah berhasil menyelamatkanmu Kirei!" Teriakku sangat keras berusaha untuk tetap membangunkan Kirei saat itu.
Sayangnya Kirei justru malah terus tidak sadarkan diri dan dia tidak mengatakan apapun kepadaku, aku menangis sekeras kerasnya dan merasa sangat tidak terima atas semua perlakuan ibu dan Reno kepada aku juga Kirei.
"Kirei bangun Kirei... Bangun!" Teriakku sambil terus menangis terisak tanpa henti.
Tuan Arfanka datang menghampiriku dan dia meminta pak Tino untuk menggendong adikku saat itu, meski aku tidak ingin siapapun menyentuh dia tapi tuan Arfanka memelukku dan dia menenangkan aku saat itu, hingga aku mau menyerahkan Kirei pada pak Tino.
"Pak Tino bawa dia sekarang" ucap tuan Arfanka memerintah,
"Tidak hentikan itu, aku sendiri yang akan membawanya aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhnya lagi!" Bentakku sambil menatap tajam ke arah pak Tino,
Tuan Arfanka mulai menatapku dan dia langsung memeluk aku secara tiba-tiba hingga membuat aku sedikit terkejut dengan perlakuannya tersebut.
"Tenangkan dirimu, pak Tino bukan pria jahat ataupun pria bejat, dia anak buahku dan orang kepercayaanku kita juga akan pergi dengannya, adikmu akan baik-baik saja bersama pak Tino dan aku" ujar tuan Arfanka kepadaku.
Entah kenapa saat itu aku tiba-tiba saja mempercayai dia karena memang tidak ada siapapun lagi yang bisa membantu aku dan melindungi aku juga Kirei dari ibu dan Reno yang bisa saja datang menghadang kami nantinya.
__ADS_1
Aku segera mengangguk setuju meskipun masih berat hati untuk menyerahkan Kirei pada pak Tino saat itu.
"Bagus, jadilah penurut agar aku tidak perlu membentakmu di kemudian hari" balas tuan Arfanka sambil mengusap lembut kepalaku.
Pak Tino langsung menggendong Kirei keluar dari kamar itu dan membawanya masuk ke dalam mobil yang sama dengan aku juga tuan Arfanka saat itu, kami langsung pergi ke rumah sakit terdekat yang ada di sana dan segera menyerahkan Kirei kepada sang dokter agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat secepatnya.
Aku sungguh merasa sangat cepat dan tidak karuan saat itu, perasaanku campur aduk dan sangat panik melihat adikku dalam keadaan seperti itu, rasanya sangat menyakitkan sekali karena melihat kondisi adik yang selama ini aku rawat dan aku jaga justru malah di perlakukan sangat buruk oleh ibuku sendiri.
Terkadang aku sering berpikir apakah aku dan Kirei anaknya atau bukan? Karena dia selalu saja memperlakukan kami berbeda dari Reno, dan aku sangat ingin menanyakan hal itu setiap saat kepada ibu, namun sayangnya aku tidak memiliki keberanian untuk melakukannya, aku memang pecundang tapi aku jelas melihat disaat ibu melahirkan Kirei bahkan ayah juga sangat senang kala itu disaat melihat Kirei datang ke dunia namun aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri mengapa ibu sangat membenci Kirei.
Jika dia membenciku mungkin itu bisa aku mengerti karena aku tidak mati dalam kecelakaan saat bersama ayah tapi ayah yang menyelamatkan aku justru malah dia lah yang meninggal dan mengorbankan dirinya untuk keselamatan aku saat itu.
"Kirei bertahanlah aku mohon tolong bertahan untukku Kirei hiks...hiks...hiks...tidak tahu lagi apa yang akan terjadi denganku jika kau tidak... Hiks..hiks...aku mohon Kirei" ucapku terus menangis dan aku mulai menutupi seluruh wajahku dengan kedua tanganku saat itu.
Aku tidak perduli apapun lagi meski pakaianku juga sudah sobek dan aku hanya menutupinya dengan jas milik tuan Arfanka saja saat itu.
Sampai tidak lama tuan Arfanka yang duduk di sampingku dia langsung menyuruh aku untuk pulang dan berganti pakaian terlebih dahulu namun aku menolaknya dengan cepat karena aku tidak ingin meninggalkan Kirei bahkan untuk satu detik pun.
"Sudah berhentilah menangis seperti itu, adikmu selamat dan dia mungkin sedang di tangani oleh dokter, dia juga belum sampai apa-apa bukan, kau pulanglah dan ganti pakaianmu aku benci melihatnya" ucap tuan Arfanka kepadaku,
__ADS_1
"Tuan aku mohon kepadamu kali ini saja, tolong biarkan aku tetap disini sampai adikku siuman aku tidak masalah meski memakai pakaian seperti ini, aku tidak keinginan dan aku masih bisa bertahan, aku tidak mau meninggalkan adikku walau sedetik pun, aku sangat mencemaskannya aku mohon kepadamu" ujarku padanya memohon dengan mata yang berkaca-kaca.
Nampak saat itu tuan Arfanka menatapku dengan sangat tajam hingga dia langsung saja membentakku sangat keras bahkan itu membuat aku kaget dan kesulitan untuk menelan salivaku sendiri karena bentakkan darinya.
"Aish....dengarkan aku, kau adalah pelayanku jadi kau harus menuruti ucapanku, ulang sekarang atau aku akan menyeretmu!" Bentak tuan Arfanka kepadaku dengan matanya yang terbelalak lebar.
Aku tersentak kaget melihat dia bisa membentak aku sekeras itu padahal sebelumnya meski semarah apapun dia denganku, dia belum pernah membelalak matanya selebar itu, bahkan sampai mengeratkan giginya terlihat menahan amarah yang cukup besar dalam dirinya.
Tapi walau melihatnya marah besar kepadaku seperti itu, aku tetap tidak bisa menuruti perintahnya kali ini karena tentu saja aku masih harus mengutamakan adikku Kirei di atas apapun di dunia ini termasuk tuan Arfanka meski dia sendiri yang telah membantu aku menyelamatkannya.
"Maafkan aku tuan tapi aku sungguh tidak bisa menuruti perintahnya saat ini, aku takut saat adikku bangun nanti dia tidak melihat aku di sampingnya aku tidak akan pergi dan akan tetap disini" balasku dengan tegas sambil memalingkan pandangan darinya dengan cepat.
"Kau.... Baiklah karena kau sendiri yang memaksa aku untuk menyeretmu, maka jangan salah kan aku, ayo ikut denganku" ucapnya sambil langsung saja menggendong tubuhku begitu saja.
Aku tidak sempat lari ataupun menghindar karena dia melakukan semua itu tanpa aba-aba terlebih dahulu, aku juga sudah berontak namun dia terlalu kuat untuk aku yang sudah lemas seperti ini.
"Eughh... Lepas tuan lepaskan aku, turunkan aku.....tuan aku mohon turunkan aku!" Teriakku berontak berusaha untuk melepaskan diri dari gendongannya.
"Diam atau aku akan melemparkan mu ke jalanan hah!" Bentak dia sangat kejam kepadaku.
__ADS_1
Aku pun tidak berani lagi membuat dia marah dan kesal saat itu sehingga aku hanya bisa pasrah saja saat itu dan membiarkan dia membawa aku masuk ke dalam mobil, bahkan tuan Arfanka menyetir sendiri saat itu karena dengan sengaja menyuruh pak Tino untuk menunggui adikku di rumah sakit.