Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Menunggu Tuan Arfanka


__ADS_3

"Hey ...ada apa denganmu kenapa kau malah menangis apa kau tidak menyukai hadiah yang di berikan oleh istriku, aku bahkan tidak mendapatkan hadiah darinya setelah di tinggal cukup lama" ujar pak Tino yang membuat aku sedikit tertawa kecil saat itu.


"Aishh...kau ini aku kan sudah sering memberimu sudah sana biar aku yang bicara dengan Klara kau bawakan semua barang ku ke belakang" ucap bi Evi kepada pak Tino.


Pak Tino langsung menuruti ucapan dari bi Evi dan dia langsung saja membawa semua barang bawaan bi Evi ke rumah yang ada di belakang mension milik tuan Arfanka ini.


Aku sungguh merasa malu dan tidak bisa menahan tawa dalam diriku sendiri ketika melihat wajah pak Tino yang terlihat cukup tertekan karena bi Evi membentaknya cukup keras juga menyuruhnya untuk memindahkan barang yang cukup banyak sendirian seperti itu.


"Bi....buat aku bantu bawakan barang-barang bibi yah, kasihan jika pak Tino sendiri saja yang membawakannya" ujarku kepada bi Evi saat itu,


"Ehhh....tidak perlu sudah kamu duduk disini saja Klara lalu kamu buka hadiahmu ini sudah kamu duduk saja, pasti kamu lebih lemah beberapa hari ini di bandingkan dengan suamiku itu" balas bi Evi menahan diriku dan malah menyuruhku untuk duduk saja disana.


Aku pun tidak bisa melakukan apapun lagi selain menuruti ucapan dari bi Evi, karena memang dia terus menekan kedua bahuku saat ini, sehingga aku hanya bisa benar-benar duduk saja disana bersama bi Evi, meski sebenarnya saat itu aku sudah berusaha untuk membantu pak Tino.


"Tapi bi, aku tidak lelah sama sekali, aku baik-baik saja kok bi" ucapku masih berusaha untuk membantu pak Tino yang saat itu terlihat cukup repot dalam membawakan barang-barang milik bi Evi.


"Sudah diam saja, lagian semuanya juga sudah mau selesai kamu itu terlalu baik Klara, kamu sudah kelelahan beberapa hari ini karena sudah beberapa hari juga si Elin itu tidak datang ke sini kan, jadi harusnya kamu yang membereskan semua pekerjaan, aaahh... Memang benar-benar yah si Elin itu dia tidak bisa diandalkan setiap kali aku pergi selalu saja membuat kekacauan di rumah ini seenaknya aaaduhh...sudah tahu rasa dia di ketahui oleh tuan Arfanka dia biar menjadi pelajaran dia di pecat seperti itu" balas bi Evi yang membuat aku merasa kaget dengan ucapannya barusan.


Selama ini aku pikir bi Elin tidak masuk kerja dan tidak datang ke rumah karena izin atau sebagainya, tapi ternyata ketika bi Evi yang mengatakan sendiri hal itu aku sangat kaget sekali mendengarnya sehingga langsung saja membelalakkan mata dengan sangat lebar kepadanya saat itu.


"Aahhh...bi..apa yang bibi katakan barusan? Apakah benar bi Elin di pecah oleh tuan Arfanka? Tapi kenapa bi?" Tanyaku kepadanya dengan kaget dan heran.


Disaat aku bertanya seperti itu kepada bi Evi, dia justru malah terlihat murung dan tertunduk begitu saja, dia diam saja terus seperti itu kepadaku dan aku mulai semakin kebingungan sekarang karena bi Evi tidak kunjung menjawab pertanyaan dariku setelah beberapa saat sudah berlalu.


"Eumm...bi, kenapa bibi tidak menjawab aku, apa yang sebenarnya terjadi bi?" Tanyaku kepadanya lagi.


Aku sungguh sangat penasaran saat itu, apalagi ketika melihat bi Evi yang terlihat gugup seperti itu, hal tersebut membuat aku sangat kaget dan heran karenanya, aku terus berusaha untuk mencoba menanyakan masalah dipecatnya bi Elin.


"Bi...kenapa bibi malah diam juga, ayo katakan bi, apa bibi menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanyaku mencoba untuk mendesaknya lagi.


Aku pikir saat itu bi Evi tidak akan pernah menyembunyikan apapun dariku namun kali ini nyatanya terlihat jelas sekali, bahwa ternyata bi Evi justru malah terlihat diam saja dan sedikit murung, aku sungguh merasa tidak enak karena sudah mencoba untuk mendesaknya, tetapi apabila yang bisa aku lakukan aku juga tidak mungkin terus mendesak bi Evi untuk menjawab pertanyaan dariku jika memang dia tidak ingin membuka mulutnya padaku.


Disisi lain saat itu bi Evi sendiri tengah merasa resah dan kebingungan karena pasalnya suaminya pak Tino sudah memberikan dia peringatan bahwa cukup hanya dirinya saja yang harus mengetahui mengenai bi Elin dan semua tingkahnya yang sudah hampir membuat Klara celaka sebab memasukkan sesuatu ke dalam minumannya kala itu, tetapi bi Evi yang sangat kaget dan emosi dia terus saja tidak bisa menahan dirinya sendiri sampai pada akhirnya malah membongkar urusan itu juga tanpa sadar.


Sekarang dia justru malah merasa kebingungan karena dirinya sendiri yang tidak bisa menyimpan rahasia.

__ADS_1


"Aaaduuhh... bagaimana aku menjawabnya, ya tuhan mulutku memang tidak bisa di kunci" batin bi Evi saat itu.


Sampai tidak lama pak Tino yang baru saja selesai membereskan semua barang bawaan bi Evi ke kediamannya yang ada di belakang mension tuan Arfanka, dia baru saja kembali ke rumah tersebut dan dia langsung saja berjalan menghampiri bi Evi sambil mengambil beberapa makanan yang ada di meja saat itu.


Dan bi Evi yang melihat suaminya kembali itu membuatkan dia sebuah kesempatan dan dia merasa sangat beruntung dengan kemunculan suaminya itu sebab bisa dia jadikan alasan untuk memalingkan pembicaraan dari Klara supaya tidak membahas mengenai bi Elin lagi.


"Aaahhh...kau akhirnya sudah kembali, aku sudah sangat lelah sekali aku mau istirahat kau jangan lupa bereskan semua ini yah, Klara bibi mau kebelakang dulu kau duduklah baik-baik disitu oke" ucap bi Evi yang malah memalingkan pembicaraan dan sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang aku ajukan kepadanya saat itu.


Aku hanya bisa mengangguk sambil tersenyum kecil saat itu kepada bi Evi, dan aku juga tidak bisa melakukan apapun selain menerima semuanya bahwa aku tidak bisa mengetahui mengenai hal itu, aku hanya bisa duduk sambil segera saja membuka kado hadiah dari bi Evi sebelumnya dengan perasaan kesal dan sangat tidak enak hati.


"Eughh....kenapa sih, kenapa semua orang di rumah ini terlihat aneh dan seperti menyembunyikan semua hal dariku, aku memang bukan siapa-siapa di rumah ini tapi setidaknya masalah bi Elin yang di pecat saja masa harus di rahasiakan dariku?" Gerutuku sangat kesal sambil di akhiri dengan hembusan nafas yang lesu saat itu.


Aku benar-benar sangat kesal dan tidak bisa melakukan apapun, sampai ketika aku sudah berhasil membuka kado hadiah dari bi Evi, aku merasa sangat kaget ternyata itu adalah sebuah tas tote bag yang cukup bagus, bahkan aku tidak pernah memiliki rasa yang seperti ini sebelumnya, aku sangat senang ketika melihatnya.


Dan karena mendapatkan tas tersebut aku bisa langsung melupakan masalah bi Elin juga semua rahasia yang mereka semua sembunyikan dariku, aku langsung saja mencoba memakai tas berwarna cream tersebut dan itu sangat cantik ketika aku memakainya, aku langsung pergi ke kamar dan lagi-lagi aku coba pakai di depan cermin samb terus saja tersenyum sendiri merasa sangat senang ketika melihatnya.


"Aahhh ...tas nya sangat bagus, pasti harganya malah, apa aku pantas menerima hadiah seperti ini dari orang lain? Aku bahkan tidak ulang tahun sama sekali, dan bi Evi tetaplah orang lain denganku, aku merasa tidak enak dengannya" ucapku yang merasa tidak enak.


Aku memang sangat suka dengan tas yang di berikan bi Evi kepadaku dan sangat menyukainya tetapi, aku hanya takut jika nantinya aku tidak bisa memberikan balasan yang setimpal kepada bi Evi apalagi kue yang aku buatkan untuknya sudah hancur dan jika aku membuatnya lagi sekarang itu akan menjadi sangat canggung dan aneh sebab bi Evi sudah sampai disini bahkan dia tengah beristirahat sekarang.


"Huuuhh..... sudahlah aku hanya bisa menjaga pemberian bi Evi dengan baik agar dia tahu bahwa aku sangat senang dan begitu menghargai pemberiannya" tambahku bicara sendiri dan segera aku masukkan tas itu ke dalam lemari.


Jadi aku tidak terlalu kelelahan dan tertekan saat harus menjadi pelayan di kediaman tuan Arfanka, namun sayangnya meski aku sudah berusaha untuk melupakan dan mengesampingkan masalah bi Elin yang di pecat, aku tetap saja kembali terpikirkan tentang hal itu, dan sungguh tidak bisa merasa tenang karenanya.


Aku terus saja berjalan mondar mandir dengan perasaan yang resah dan gelisah tidak menuntu di depan pintu masuk menunggu kepulangan tuan Arfanka namun sayangnya dia belum juga kembali bahkan sampai hari sudah mulai gelap dia juga tetap tidak kembali juga, bi Evi sudah memanggilnya aku untuk membantunya menyiapkan makan malam saat itu, tapi tuan Arfanka juga tetap belum terlihat kembali ke rumah juga.


"Klara....kemari, tolong bantu bibi memotong sayurnya" teriak bi Evi kepadaku saat itu,


"Ahhh iya bi aku akan segera kesana," balasku kepadanya dengan cepat.


Aku langsung menghampiri bi Evi yang tengah sibuk dengan masakannya di depan kompor dan aku segera saja mencuci dahulu sayuran yang ada disana, tidak lupa aku langsung saja memotong sayuran yang ada disana dengan secepat yang aku bisa, tetapi aku terus saja merasa sangat tidak tenang sambil memotong sayuran aku terus saja berusaha mengintip ke ruang depan mencoba melihat ke arah pintu masuk karena aku sangat penasaran dan sudah tidak sabar untuk mihat tuan Arfanka.


"Kenapa dia belum pulang juga yah?" Batinku terus saja merasa resah sendiri.


Aku benar-benar tidak bisa tenang sedikitpun karena aku sudah merasa sangat penasaran sekali terhadap penyebab bi Elin di pecat, tidak ada cara lain lagi yang bisa aku lakukan selain dari bertanya langsung kepada tuan Arfanka, orang yang bersangkutan dengan hal itu sesungguhnya, sebab bi Evi dan pak Tino tetap tidak memberitahu aku masalah hal tersebut.

__ADS_1


Saking aku merasa penasarannya dan terus saja mengintip melihat ke arah pintu masuk berharap tuan Arfanka akan segera pulang, tiba-tiba saja bi Evi menepuk pundakku secara pelan dan dia sedikit mengagetkan aku dan membuat aku terperangah kaget karenanya.


"Hey....apa yang sedang kamu lihat, kali sedang memotong sayur fokus ke sayurannya apa kamu mau tanganmu ikut terpotong juga" ucap bi Evi kepadaku saat itu.


"Astaga...bi kamu mengagetkan aku saja, hah...untung aku tidak memiliki penyakit jantung, jadi aku tetap aman" balasku sambil menggoda bi Evi.


Dia langsung saja tertawa mendengar jawaban dariku, sehingga aku terus saja merasa ikut tertawa juga saat itu, hingga bi Evi kembali saja menyuruh aku untuk fokus lagi dalam bekerja dengan lebih fokus saat itu.


"Sudah.... sekarang cepat selesaikan sayurannya bibi hampir menyelesaikan masakan yang ini" ujar bi Evi kepadaku saat itu.


Aku pun segera mengangguk dan memotong sayuran yang ada disana dengan lebih fokus lagi, aku bisa menyelesaikan semuanya lebih cepat dari sebelumnya karena aku fokus dan melihat ke sayurannya tidak lagi terus melihat dan mengintip ke pintu keluar saat itu.


Meski sebenarnya aku sangat penasaran sekali dan benar-benar tidak ingin membuang waktu untuk menunggu tuan Arfanka pulang, sampai akhirnya semua menu makan malam sudah selesai dan kami hanya tinggal menunggu tuan Arfanka pulang dan menikmati makanannya saja.


Aku tengah duduk di depan meja makan dan merapihkan semua makanan yang sudah di sajikan oleh bi Evi sebelumnya dan semuanya sudah bagus juga rapih sekali seperti ini.


"Aahhh... akhirnya sudah selesai juga, Klara ayo sudah sana kamu istirahat biar bibi yang menunggu tuan Arfanka pulang kamu sudah harus bekerja lagi besok, ayo istirahat lebih awal" ujar bi Evi kepadaku,


"Bi... Tidak papa, aku tidak selemah itu, biar aku saja yang menunggu tuan Arfanka pulang, bibi baru saja kembali dari kampung halaman harusnya bibi yang membutuhkan banyak istirahat bukan" balasku kepada bi Evi.


Bi Evi pun hanya tersenyum saja lu dia segera kembali ke rumahnya karena harus membuat makanan juga untuk pak Tino saat itu, sedangkan pak Tino juga sudah menyuruh aku untuk mengunci pintu masuk jika tuan Arfanka sudah kembali nantinya.


"Iya...ayo kita kembali saja ke belakang, aku sudah sangat lapar kau harus menyiapkan makanan juga untuk suamimu ini" balas pak Tino saat itu,


"Nah kan bi, ayolah bi kasian pak Tino, aku baik-baik saja kok, ayo bi tidak papa" ucapku sambil mendorong sedikit tubuh bi Evi agar segera pergi ke belakang,


"Ya sudah kamu baik-baik disini ya, jika ada apa-apa datang saja ke belakang jangan sungkan untuk meminta bantuan" balas bi Evi sambil menyentuh tanganku dengan lembut,


"Emm... Iya, tenang saja" balasku kepadanya sambil mengangguk dan tersenyum lebar.


Saat bi Evi dan pak Tino hendak pergi dari sana, pak Tino justru malah kembali menghampiri aku dan dia meminta aku untuk mengunci pintu.


"Ehh...tunggu, ambil kunci ini jangan lupa kunci pintunya ketika tuan Arfanka sudah pulang nanti, apa kau mengerti?" Ujar pak Tino memerintah kepadaku.


Aku sebenarnya sangat tidak suka cara pak Tino memerintah kepadaku karena dia memiliki wajah yang sama datarnya dengan tuan Arfanka bahkan nada bicaranya saja hampir sama itu sungguh membuat aku cukup jengkel ketika mendengarnya.

__ADS_1


"Ahhh...iya, aku akan menguncinya jangan khawatir" balasku kepadanya.


Pak Tino pun akhirnya pergi menyusup bi Evi yang sudah pergi lebih dulu ke vakang sebelumnya, hingga mereka sudah benar-benar pergi dari sana barulah aku bisa merasa tenang dan damai, aku pergi ke pintu depan dan menunggu tuan Arfanka pulang, aku sudah berdiri beberapa saat di depan pintu untuk menyambut kepulangannya dan aku bahkan sudah berjalan mondar mandir juga disana, namun dia tidak kunjung datang juga, bahkan di saat aku sudah mulai merasa pegal dengan betisku dia masih tidak kembali juga dan aku memutuskan untuk duduk di samping pintu masuk menunggunya hingga kembali sambil memijat betisku sendiri yang pegal saat itu.


__ADS_2