
"Ehhhh.... Tuan kenapa kau ada disini, ini masih sangat pagi bukan?" Ucapku bertanya dengan heran dan masih belum sadar dengan pakaianku sendiri.
Saat pertama kali melihat sekretaris Jeno dan tuan Arfanka duduk dengan posisi kepala sekretaris Jeno yang diapit oleh tangan tuan Arfanka saat itu aku, sangat merasa heran dan kebingungan sendiri, karena tidak biasanya mereka ada di tempat itu sepagi ini.
Hingga tuan Arfanka yang menyadarkan aku saat itu, dan dia berbicara dengan sinis sambil menyuruh aku untuk seger mengganti pakaian saat itu juga.
"Hey .. apakah kau buta atau idiot, lihat pakaianmu itu, beraninya kau keluar dengan memakai pakaian seperti itu!" Bentak tuan Arfanka sangat keras.
Aku langsung menatap ke arah tubuhku sendiri dan saat itu juga aku langsung kaget tidak karuan bahkan refleks menutup mulut yang terbuka dengan kedua tanganku sekaligus.
"Oh... Ya ampun, bagaimana bisa aku memakai kemeja seperti ini, aku bahkan tidak memiliki pakaian seperti ini?" Gerutuku memikirkan dengan kaget,
"Kenapa kau kaget hah? Apa kau tidak sadar apa yang sudah terjadi kepadamu semalam? Cepat kau kembali ke kamarmu dan ganti dengan pakaian yang lebih baik, aishhh apa kau ingin membiarkan laki-laki lain melihatmu seperti itu!" Bentak tuan Arfanka lagi yang terlihat sangat kesal.
Aku pun dengan cepat berlari ke kamarku lagi dan langsung menutuppintu kamar secepatnya.
__ADS_1
Namun setelah itu aku kembali memikirkan apa yang terjadi denganku semalam, aku masih belum bisa mengingat apapun setelah aku memakan makanan dari bi Elin saat itu, dan aku pikir aku langsung tertidur setelah memakan makanannya.
"Apa yang terjadi semalam? Bukankah aku hanya menikmati makan malam ku lalu aku tidur setelah itu karena kenyang, memangnya apa yang dimaksud oleh tuan Arfanka?" Gerutuku memikirkan.
Aku tidak ingin terlalu memikirkannya lagi karena meski aku terus berusaha memikirkan aku tetap tidak mengingat hal itu sehingga aku langsung saja pergi ke ruang ganti dan mengganti pakaianku dengan cepat saat itu, lalu aku segera kembali keluar karena merasa heran sebab semua pakaian yang ada di dalam lemariku saat itu semuanya hanyalah pakaian pelayan yang sama seperti sebelumnya.
"Wahhh... Apa benar-benar tidak ada pakaian lain yang bisa aku pakai, dan aku rasa kemeja ini lebih baik daripada pakaian pelayan seperti ini" ujarku bicara sendiri sambil menatap cermin.
Aku sungguh merasa malu dan tidak enak untuk keluar tapi aku tahu sebentar lagi bi Elin mungkin akan sampai ke rumah dan aku harus segera bekerja seperti biasanya lagi sehingga mau tidak mau aku tetap harus keluar dari kamar saat itu.
Padahal di sisi lain tanpa Klara ketahui sebelumnya tuan Arfanka sudah mengetahui bahwa orang yang menyebabkan dirinya sampai di bawa ke rumah sakit kala itu di sebabkan oleh bi Elin dan tuan Arfanka baru saja mengetahui hal itu dari kepala pelayan pak Tino yang dengan sendirinya baru saja melaporkan masalah itu kepada tuan Arfanka tadi pagi disaat Klara tengah berada di dalam kamarnya.
Dan kini mereka juga tengah membahas masalah hal tersebut bahkan Arfanka kini juga mulai mencurigai bahwa orang yang memberikan obat kuat kepada Klara adalah bi Elin juga sehingga dia menyuruh pak Tino untuk menyelidiki hal itu termasuk sekretaris Jeno yang juga turut andil dalam penyelidikan hal tersebut.
Sehingga hari itu juga dengan sengaja pak Tino menyuruh bi Elin untuk tidak datang ke mension tuan Arfanka sesuai dengan perintah tuan Arfanka karena mereka akan menyelidiki hal tersebut, namun pak Tino masih menyembunyikan itu dengan sangat baik dan mengatakan kepada bi Elin bahwa dia bi berikan waktu untuk libur saat itu.
__ADS_1
Dan bi Elin yang tiba-tiba saja mendapatkan kabar tersebut dari pak Tino, di saat dia baru saja hendak berangkat kerja, tentu saja dia merasa heran namun dia juga merasa senang karena jarang sekali bisa mendapatkan libur dari seorang tuan Arfanka saat ini terlebih bi Evi juga tengah tidak ada disana.
"Aahh... Ini aneh sekali kenapa tuan Arfanka meliburkan aku, atau jangan-jangan rencana yang aku buat sudah berhasil, dan dia sekarang tengah meny*ksa gadis sialan itu sehingga menyuruh aku untuk tidak datang agar tidak menyaksikan hal seperti itu? Aahhh aku senang sekali rasakan saja kau gadis bodoh!" Ucap bi Elin yang tidak menyadari apapun sebenarnya.
Di ruang kerja pribadi tuan Arfanka mereka sudah selesai membahas hal tersebut dan kembali pada pekerjaannya masing-masing, begitu juga dengan sekretaris Jeno yang langsung pergi ke rumahnya dan masih harus mengurusi urusan kantor hari itu, sedangkan tuan Arfanka langsung membersihkan diri dan bersiap-siap ke kantor juga, hingga saat dia pergi ke ruang makan untuk sarapan terlebih dahulu, dia sangat ketat dan kembali tersentak menatap penampilan Klara yang justru sekarang terlihat seksi di matanya.
"Astaga! Heh... Apa yang kau pakai kenapa bisa-bisanya kau memakai pakaian pelayan yang lebih mirip wanita penggoda seperti itu, apa kau sengaja mau menggodaku yah?" Bentak tuan Arfanka sulit mengendalikan dirinya sendiri saat melihat Klara dengan penampilan seperti itu.
Aku hanya bisa menatap dia dengan heran dan mengerutkan kedua alisku sekaligus, karena beberapa hari ke belakang dia sama sekali tidak pernah memperhatikan penampilanku bahkan dia juga tidak pernah mirip aku sedikitpun.
"Tuan bukankah kau sendiri yang memberikan ini pada pak Tino dan dia yang menyuruhku memakai pakaian ini bahkan di dalam lemari pakaianku semuanya pakaian pelayan ini, kecuali kemeja yang aku pakai semalam, yang bahkan aku sendiri tidak ingat darimana aku mendapatkan kemeja itu" balasku mengatakan semuanya kepada dia,
"Aishhh... Kau berani membantahku, aahhh pokoknya saat aku kembali dari kantor aku tidak ingin melihatmu memakai pakaian pelayan seperti ini lagi" ucap tuan Arfanka dengan tegas dan keras.
Dia langsung memanggil pak Tino hingga beliau segera berjalan cepat menghampiri tuan Arfanka saat itu.
__ADS_1
"Pak Tino kau beli pakaian yang cocok untuknya sebanyak mungkin dan jangan biarkan dia memakai pakaian pelayan yang terbuka seperti ini, ingat belilah pakaian yang tertutup jangan sampai kau membeli pakaian sampah seperti ini lagi, aahhh ini merusak mataku" ujar tuan Arfanka memerintah pak Tino saat itu.