
Saat sudah berada di luar aku memegangi dadaku dan merasakan detak jantungku begitu cepat, aku kaget dan panik tidak karuan karena bisa tiba-tiba berada di dalam kamar seorang tuan Arfanka tersebut, segera aku berlari menuju kamarku dan langsung mandi untuk membersihkan diri sekaligus memeriksa diriku dengan lebih teliti.
Aku sungguh merasa sangat lega setelah bisa melihat ternyata aku masih utuh dan baik-baik saja, ku sandarkan tubuhku ke dalam bak mandi itu dan aku langsung merasa jauh lebih tenang saat ini.
"Huuhhh..... Hampir saja, apa yang sebenarnya terjadi semalam antara aku dan tuan Arfanka itu, bagaimana bisa aku tidur di ranjangnya?" Gerutuku terus memikirkan.
Namun sekuat apapun aku berusaha mengingatnya aku tetap hanya ingat sampai aku dibawa masuk ke dalam kamar itu dan dia melemparkan tubuhku dengan kasar begitu saja, setelah itu aku sungguh tidak mengingat apapun lagi dan aku pikir mungkin aku tidak sadarkan diri setelahnya.
"Apa jangan-jangan tuan Arfanka yang menggendongku dan menidurkan aku di ranjangnya ya?" Tambah aku memikirkan dan menduga duga lagi.
Aku langsung membelalakkan mataku ketika memikirkan hal itu dan dengan cepat aku menghempaskan dugaan aneh tersebut sebab aku sendiri tahu bagaimana tuan Arfanka itu yang terlihat sangat kejam bahkan aku tahu dia tidak menyukaiku dan mungkin dia sangat membenciku karena ibuku sudah menyebabkan kerugian bagi bisnis dia sebelumnya sebab aku tahu uang senilai satu million dollar bukanlah jumlah yang sedikit.
Walaupun dia orang kaya dia juga tidak mungkin merelakan uang sejumlah itu hanya untuk orang asing seperti ibuku di dalam hidupnya apalagi dia adalah orang jahat dan kejam, aku benar-benar merasa takut sekarang.
"Aaahh... Apa yang harus aku lakukan bagaimana aku harus menghadapinya nanti, apa dia akan membunuhku karena tidur di ranjangnya dan dia memelukku? Tapi kan dia yang memelukku bukan aku yang menyentuhnya" gerutuku terus saja merasa resah dan aku tidak bisa merasa tenang sedikitpun saat itu.
Sampai teriakkan kepala pelayan pak Tino terdengar dari luar dan dia menyuruh aku untuk segera keluar dari kamar.
"Nona Klara apakah anda sudah bangun, kau harus segera memasak lagi untuk tuan Arfanka" teriak pak Tino dari balik pintu kamarku.
__ADS_1
Aku segera beranjak dari kamar mandi mengenakan pakaianku lagi dan segera keluar menghampiri pak Tino saat itu.
"A..a..aku sudah bangun pak, aku akan segera memasak" ujar ku kepadanya dan segera pergi ke dapur.
Namun disaat aku sampai di dapur kini sudah ada dua pelayan lain dimana mereka tengah membersihkan area ruang makan dan bibi yang satunya tengah memasak makanan, aku segera menghampirinya dan hendak membantu bibi itu.
"Bi... Biar aku saja pak Tino memintaku agar aku yang memasak sarapan untuk tuan" ujarku kepada bibi tersebut.
Namun wanita yang terlihat lebih tua dari bi Evi itu dia langsung menatapku dengan tajam dan tiba-tiba saja mendorong bahuku cukup keras hingga aku hampir saja jatuh ke belakang saat itu.
"Minggir kau, selama ini akulah yang memasak untuk tuan dan kau mau mengambil posisiku? Hah jangan harap kau bisa mendapatkannya. Meski kau diizinkan oleh tuan Arfanka untuk tinggal di rumah ini namun aku tahu bahwa kau adalah wanita penggoda, lihat dirimu itu kau memakai seragam pelan yang sangat seksi dan memperlihatkan dadamu, apakah kau ingin membuat tuan Arfanka naik ke atas ranjang mu hah?" Ujar wanita itu dengan mulutnya yang jahat.
"Plakkk.... Aku bukan wanita seperti itu, dan aku tidak akan pernah mengambil posisimu di rumah ini, jika kau menyukai bekerja sebagai babu disini aku justru sangat membencinya, aku terpaksa melakukan semua ini dan aku juga membenci pakaian ini!" Bentakku membalas wanita bernama bi Elin tersebut.
Wajahnya memang terlihat lebih tua dariku namun aku pikir mungkin usianya tidak setia itu, aku segera pergi dari sana namun disaat aku berbalik tiba-tiba saja di belakangku sudah ada tuan Arfanka dan dia menatapku dengan wajahnya yang begitu serius dan menatap ke arahku dengan sangat tajam, aku bahkan langsung bergetar ketakutan saat mendapatkan tatapan tajam seperti itu darinya.
Awalnya aku pikir dia akan memarahiku atas apa yang sudah aku lakukan kepada bi Elin sebelumnya.
"Aduh... Bagaimana ini, apa dia melihat aku menampar pelayannya tadi? Aaahh matilah aku sekarang" gumamku merasa cemas.
__ADS_1
Di tambah bi Elin sialan itu dia langsung meringis kesakitan dan dia langsung berpura-pura meringis kesakitan memegangi sebelah pipinya disaat hadapan tuan Arfanka saat itu padahal aku sadar dan mengingat dengan jelas bahwa aku tidak menamparnya sekuat itu.
"Aaahh... Sakit tuan gadis ini menamparku, dia menampar pelayan yang sudah tidak muda lagi sepertiku, dia bukan wanita yang baik dan nona Riska jauh lebih baik darinya tuan" ucap pelayan aneh itu dan aku hanya bisa menatapnya dengan penuh kebencian saat itu.
Rasanya aku ingin sekali membela diri saat itu namun disaat aku baru saja hendak membuka mulutku, pria kejam itu tiba-tiba langsung menampar pipiku dan itu jauh lebih kuat di bandingkan tamparan yang aku berikan kepada bibi Elin sebelumnya.
"Plakk ..... Aahhh...." Sebuah tamparan yang mendarat di pipiku,
"Tu....tuan .. kau... Kenapa kau tidak menanyakan kronologis kejadiannya terlebih dahulu, kenapa kau mempercayai pelayanmu di banding aku, aku bahkan belum menjelaskan apa yang terjadi padamu" ucapku berusaha membela diriku sendiri,
"Apa menurutmu pelayanku yang sudah bekerja bertahun tahun denganku akan berani mengkhianati aku sebagai tuannya? Sedangkan dia tahu seberapa kejamnya aku, dan kau aku jelas tahu bahwa kau selalu melewati batas dan aku sudah melihatnya dengan jelas kau yang menampar dia lebih dulu jadi aku memberikan tamparan kepadamu sebagai imbasnya sehingga kalian berdua mendapatkan hal yang sama" ucap tuan Arfanka dengan keputusannya sendiri.
Aku terperangah mendengarnya dan dia langsung pergi begitu saja dia duduk di depan meja makan dan bi Elin segera menyajikan makanan kepadanya, dia juga terlihat menikmati makanan itu dengan wajahnya yang tanpa ekspresi sedangkan aku masih memegangi pipi kiriku yang masih merasa nyeri akibat tamparannya.
Aku tidak menduga kenapa aku bisa berakhir di tempat seperti neraka begini, dia hanya menyimpulkan atas apa yang dia lihat tanpa dia tahu apa yang terjadi sebelumnya dan dia langsung mempercayai oleh lain hanya karena dia sudah berada lama di sampingnya padahal orang itu membohongi dia dan bi Evi menyaksikan semua kebohongan itu, namun dia juga tidak mencoba membantuku padahal saat itu aku sangat berharap dia mengeluarkan perkataan untuk membantuku.
Rasanya semua orang di dalam rumah ini bisu dan tidak bisa melihat mana kebenaran dan mana kebohongan, aku hanya bisa menjadi korban di rumah ini dan aku segera pergi ke kamar mandi yang ada di dapur dan menangis di depan cermin saat itu sambil terus aku mencuci wajahku untuk menyegarkan diri dan menghapus air mataku.
"Tidak .. Klara kamu tidak boleh lemah, kamu harus bisa melewati semua ini, kau harus kuat Klara, kau tidak boleh menangis seperti ini, kau tidak boleh menjadi lemah, ayo kuatlah Klara ini hanya sebuah tamparan saja" ucap ku berbicara kepada diriku sendiri.
__ADS_1