
Aku sebenarnya ingin terus berontak kepadanya dan aku sangat tidak ingin pergi meninggalkan adikku seorang diri di dalam rumah sakit dalam keadaannya yang tengah tidak sadarkan diri saat itu, aku sungguh tidak tega dan tidak bisa membiarkan dia seperti itu, namun karena tuan Arfanka yang sudah memaksa aku dan dia sendiri terus saja melihat aku dengan tatapan yang serius dan cukup tajam alhasil aku juga tidak dapat berontak dan menolak lagi kepadanya.
Aku hanya duduk di samping tuan Arfanka yang menyetir secara sendiri saat itu, aku hanya duduk dengan perasaan yang tidak karuan dan aku sungguh tidak bisa berhenti menangis saat itu, aku terus terisak sambil menggigit ujung kukuku saat itu, rasanya sungguh tidak bisa menerima sedikitpun perasaan yang aneh ini.
"Ya tuhan aku mohon tolong selamatkan lah adikku, aku mohon jangan biarkan dia menderita terlalu lama ya tuhan aku mohon" batinku terus berdoa dan meminta yang terbaik bagi adikku kepada tuhan saat itu.
Tanpa Klara ketahui saat itu tuan Arfanka sendiri sebenarnya diam-diam memperhatikan Klara secara pelan dan beberapa saat, dia menatap dan mencuri-curi pandang secara diam-diam kepada Klara saat itu, bisa di lihat dengan jelas bahwa wajah tuan Arfanka saat itu menampakkan rasa cemas dan dia juga kasihan kepada Klara yang sebegitu khawatirnya dengan kondisi sang adik.
Namun justru karena tuan Arfanka perduli kepada Klara maka dari itu dia memaksanya untuk pulang terlebih dahulu, sebab tuan Arfanka sendiri tahu bahwa Klara juga harus segera mengganti pakaiannya agar dia tidak masuk angin ataupun sakit karena memakai pakaian yang robek dan sudah tidak jelas seperti itu.
Sampai ketika mereka tiba di rumah tuan Arfanka langsung saja menyuruh Klara masuk ke dalam kamarnya dan mengganti pakaian juga membersihkan dirinya dengan cepat.
"Tunggu apa lagi, ayo cepat masuk dan bersihkan dirimu, aku tidak akan mengijinkan kau kembali melihat adikmu ke rumah sakit jika kau tidak bisa mengurus dirimu sendiri!" Ucap tuan Arfanka dengan tatapan matanya yang selalu sinis dan datar.
Aku menghembuskan nafas yang cukup kasar karena kesal terhadap tuan Arfanka saat itu, meski aku tahu dia berniat baik kepadaku, tetapi hal tersebut sangat sulit untuk aku terima sebab saat itu aku terlalu mencemaskan kondisi adikku Kirei.
"Iya..... Aku akan masuk, kau tidak perlu memerintah aku seperti itu tuan aku bukan anak kecil" balasku yang entah memiliki keberanian dari mana untuk menjawabnya se lantang itu.
Aku langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintu cukup keras, hingga membuat kaget seorang tuan Arfanka saat itu.
"Brakk....." Suara pintu yang aku tutup dengan kasar,
"Astaga! Dasar gadis sialan itu, aku sudah bersikap baik kepadanya tapi berani-beraninya dia bersika seperti itu kepadaku, aahhh aku menyesal memperdulikan dirinya, kenapa juga aku harus perduli dengan dia sementara dirinya saja tidak memperdulikan hal itu, aahhh ya ampun aku sudah gila" gerutu tuan Arfanka dengan sebelah tangan yang dia simpan di pinggang dan satu tangan lainnya yang memegangi jidatnya merasa pusing.
Bukan karena pusing karena sakit kepala tetapi karena dia stres dan jengkel menghadapi Klara yang sangat keras kepala saat itu, dia pun duduk di sofa dengan merebahkan tubuhnya ke belakang dan berusaha mengatur nafasnya dengan pelan sambil menunggu Klara selesai membersihkan dirinya saat itu.
Namun disaat aku selesai berganti pakaian dan aku sudah siap untuk pergi ke rumah sakit aku keluar dari kamarku dan melihat tuan Arfanka yang ketiduran di sofa saat itu.
"Ehhh ... Kemana tuan Arfanka?" Tanyaku sebelumnya karena melihat tuan Arfanka yang tidak ada disana saat aku baru keluar dari kamarku,
Hingga ketika aku mencarinya dan menoleh ke sebelah kanan ternyata tuan Arfanka duduk di sofa dengan merebahkan tubuhnya ke belakang dan kedua tangan yang dia rentangkan pada sandaran sofa tersebut serta kepalanya yang menghadap keatas dengan kedua mata yang tertutup.
Aku terperangah melihat dia tertidur di sofa dan wajahnya terlihat cukup lelah saat itu, sebenarnya aku merasa sangat tidak enak dan merasa sedikit bersalah karena sudah bersikap kasar kepadanya saat dia menyuruh aku berganti pakaian sebelumnya.
"Dia....apakah dia sungguh selelah itu? Aku lupa dia langsung membantuku saat dia baru saja pulang bekerja tadi, apa aku terlalu kejam kepadanya, dia kan bosku" batinku memikirkan.
__ADS_1
Aku menghembuskan nafas dengan sedikit rasa tidak enak terhadapnya dan segera saja aku berjalan menghampiri dia secara perlahan.
Melihat wajahnya yang terlihat kelelahan seperti itu aku sungguh merasa sangat tidak tega untuk membangunkannya di tambah aku tahu dia bahkan belum sempat istirahat sebentar saja, bahkan dia terus saja membantu aku untuk menyelamatkan Kirei saat itu, aku sungguh merasa sangat bersalah sudah bersiap kasar kepada tuan Arfanka sebelumnya.
Sehingga niat hati aku ingin membangunkan dia, aku langsung saja mengurungkan niatku itu dan aku yang sebelumnya sudah mengangkat tanganku hampir saja memegangi tangan tuan Arfanka saat itu aku langsung menarik kembali tanganku dengan cepat karena aku tidak tega untuk meneruskan niatku itu.
"Aahhh .... Sebaiknya aku memasak dulu saja, lagipula aku juga lapar, mungkin Kirei juga akan baik-baik saja jika bersama pak Tiko dan anak buahnya tuan Arfanka disana" ucapku yang mengurungkan niat dengan cepat.
Aku seger kembali bangkit dari sampingnya dan pergi memasak dengan cepat saat itu sampai tidak lama ketika masakannya hampir matang, tiba-tiba saja tuan Arfanka sudah berjalan mendekati meja makan dan dia mulai mengajak aku bicara.
"Hey ... Kenapa kau malah memasak bukannya kau sudah tidak sabar untuk kembali menemui adikmu di rumah sakit?" Tanya tuan Arfanka kepadaku,
"Aku lapar jadi aku memasak dulu, bukankah tugasku juga harus memasak makan malam untukmu tuan, jadi aku hanya melakukan tugasku saja secara baik" balasku beralasan kepadanya.
Aku segera menyajikan semua makanannya diatas meja dan mempersilahkan tuan Arfanka untuk segera menikmati semua makanan yang sudah aku masak saat itu.
"Silahkan tuan aku sudah memasak semua makanan kesukaanmu" ujarku mempersilahkan kepadanya segera,
"CK.... darimana kau tau semua ini kesukaanku" balas dia berdecak pelan sambil membuka piringnya sendiri.
Dia mengambil lauk pauknya pelan dan segera menikmati makanannya.
Aku bingung saat itu jika aku tidak menjawab aku takut dia marah dan membentakku, tapi jika aku menjawab aku semakin takut dia akan membalasku dengan hal yang lebih kejam dan jahat, namun untungnya ternyata dia sama sekali tidak menjawab ucapanku lagi dan terus saja asik menikmati makanannya sendiri.
Aku merasa sedikit senang ketika melihat tuan Arfanka bisa menikmati masakanku dengan lahat, dengan begitu aku tahu bahwa masakan buatanku cocok di mulutnya.
"Bagaimana mungkin makanan pelayan rendahan seperti dia bisa se enak ini? Apa dia seorang koki sebelumnya" batin tuan Arfanka saat menikmati makanan buatan Klara saat itu.
Saking enaknya makanan yang di buat oleh Klara, bahkan tuan Arfanka sendiri tidak memperdulikan tatapan dari Klara yang sedari tadi berdiri di ujung meja dan memperhatikan dia yang tengah makan dengan begitu lahap saat itu, tuan Arfanka bisa menyelesaikan makannya dengan cepat dan dia membuat piring bekas makannya bersih tanpa bekas makanan sedikitpun.
Hal itu membuat aku tidak bisa menahan senyum lagi saking senangnya melihat dia menyukai makanan buatanku.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu, apa kau menertawakan aku yah?" Ucap tuan Arfanka secara tiba-tiba membentakku begitu saja.
Aku kaget karena aku pikir dia tidak melihatku saat itu, namun ternyata aku justru malah ketahuan olehnya disaat aku tengah menahan tawa saat melihat piring bekas makannya bersih tanpa sisa makanan sedikitpun, padahal biasanya aku selalu harus membuang sisa makanan dari piring bekas makannya setiap dia makan ketika bi Evi atau bi Elin yang memasak untuknya.
__ADS_1
Saat dia membentakku dan memergoki aku yang tersenyum kepadanya saat itu, aku langsung saja menjadi sangat gugup dan tidak tahu harus bersikap seperti apa kepadanya.
"A..a..aku itu, aku hanya merasa sangat senang karena kau menghabiskan makanamu" balasku dengan jujur sambil menunduk karena tidak berani melihat wajahnya yang begitu serius menatapku,
"Heh, jangan gr kau aku menghabiskan makananku malam ini karena aku sangat lapar bukan karena makananmu enak, apa kau mengerti, sudahlah ayo cepat kau makan aku akan menunggumu di mobil saja" balas tuan Arfanka kepadaku saat itu.
Aku hanya mengangguk patuh kepadanya hingga dia pergi keluar dari rumah itu barulah aku mulai makan dengan pelan dan aku masih tetap merasa senang sebab aku tahu meski tuan Arfanka mengatakan bahwa dia lapar tetapi aku tetap merasa bahagia karena mau bagaimanapun pun dia tetap menghabiskan makanan yang aku masak saat itu.
"Tidak perduli alasan dia menghabiskan makananku yang penting makanan ini tidak ada yang sia-sia dan terbuang sehingga itu tidak membuatku merasa menyesal dan aku juga tidak perlu membuang-buang makanan yang mahal dan berharga ini" ucapku bicara sendiri dan mulai menikmati makanannya sendiri.
Diam-diam di balik pintu keluar tuan Arfanka mengintip Klara dia melihat Klara yang tengah makan tepat saat dia sudah pergi dari sana dan dia pun segera pergi ke mobilnya setelah memastikan bahwa Klara juga benar-benar makan saat itu, dia sendiri merasa heran dan bingung atas sikap dirinya yang terasa sedikit berbeda saat ini.
"Aishh ... Ada apa denganku, kenapa tadi aku harus mengintipnya dulu, adahal kan terserah dia saja, mau makan atau tidak, kelaparan atau tidak kenapa aku harus perduli kepadanya, aahhh aku harus menjauh dari gadis sialan itu" gerutu tuan Arfanka yang merasa heran dan bingung terhadap dirinya sendiri.
Dia duduk seorang diri di dalam mobil menunggu hingga aku tiba dan setelah itu barulah kami segera kembali pergi ke rumah sakit secepatnya, sampai aku tiba disana ku lihat pak Tiko masih duduk menunggu di luar ruangan seorang diri dan aku berlari secepatnya kepada pak Tiko untuk menanyakan keadaan adikku.
"Pak .... bagaimana keadaan adikku apakah dia sudah siuman dan bagaimana kata dokter mengenai dirinya sekarang?" Tanyaku kepada pak Tiko dengan penuh kepenasaranan saat itu.
Bukannya menjawab pertanyaan dariku secepatnya, pak Tiko justru hanya menggelengkan kepalanya saja dengan pelan saat aku menanyakan mengenai keadaan adikku kepada dia saat itu, sehingga hal tersebut cukup membuatku sangat panik tidak karuan dan aku masih mencoba bertanya kembali kepada dia semampuku, bahkan aku sempat mendesak dia hingga dia mau berbicara dan mengatakan yang sebenarnya terjadi pada Kirei saat itu kepadaku.
"Pak Tiko kenapa kau malah menggelengkan kepala saja, cepat katakan apa yang terjadi dengan adikku? Apakah dia sudah siuman?" Tanyaku lagi mulai mendesak pak Tiko dengan tidak sabar,
"Pak Tiko katakan saja kepadanya apa yang terjadi dengan sebenarnya, dia berhak tahu apa yang terjadi kepada adiknya sendiri" tambah tuan Arfanka memerintah hingga akhirnya pak Tiko mau membuka suara dan memberitahu aku mengenai Kirei saat itu.
"Maafkan saya tuan, nona Klara tetapi adik anda memang baik-baik saja secara fisik dia sama sekali tidak kehilangan suatu apapun dan dia juga tidak terluka sedikitpun, tetapi fsikisnya cukup terganggu dan dokter menyarankan agar dia sebaiknya di bawa ke psikiater untuk di obati secepatnya sebelum pikirannya semakin terganggu" ujar pak Tiko membuat aku merasa kaget dan terperangah dengan kuat.
"A..A..APA? pak Tiko kau tidak bohong kepadaku kan? Adikku tidak mungkin gila, dia adalah wanita yang kuat sama seperti aku, dia tidak mungkin seperti itu!" Bentakku kepada pak Tiko dengan penuh keberanian karena aku sangat panik saat itu.
Aku langsung mendorong tubuh pak Tiko dan menerobos masuk ke dalam ruang rawat adikku secepatnya, tapi saat aku masuk ke dalam dan melihat adikku ternyata diikat tangan dan kakinya menggunakan sebuah kain, itu membuat aku merasa sangat sedih dan cukup terluka dengan keadaannya saat itu.
"Oh ..tidak Kirei.....Kirei kenapa kamu menjadi seperti ini, kamu baik-baik saja bukan Kirei coba lihat aku Kirei" ucapku mendekati dia dan berusaha untuk berbicara kepadanya.
Namun sayangnya Kirei tetap tidak mau melihat ke arahku dia hanya terus menatap ke segala arah tidak menentu dengan wajahnya yang terlihat panik dan ketakutan, aku sungguh tidak menduga adikku sangat ters*ksa sampai dia harus mengalami hal seperti ini karena ibu dan kakak laki-lakinya sendiri, bahkan dia masih sangat mudah untuk menjadi menyedihkan seperti ini dan itu sangat tidak bisa aku terima.
Aku tidak menyerah dan aku berusaha terus berkomunikasi dengannya aku mencoba untuk meraih tangannya dan memegangi dia namun sayangnya Kirei justru malah berteriak dan mengusir aku begitu saja, dia seperti orang lain dan dia bahkan tidak bisa mengenali aku saat itu.
__ADS_1
"Kirei aku yakin kamu baik-baik saja bukan?" Ucapku hampir menyentuh tangannya saat itu,
"Siapa kau? Jangan sentuh aku, jangan p*kul aku pergi kau! Pergi kau wanita jahat pergi!" Teriak Kirei mulai histeris.