Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Mengupas Buah Apel


__ADS_3

Apalagi saat dia mengatakan bahwa dia kesulitan untuk mengupas kulit buah apel yang berwarna merah saat itu, aku tidak bisa berkata kata apapun lagi kepadanya dan hanya bisa terperangah dengan heran juga kebingungan sambil memegangi rambutku yang masih setengah basah saat itu dan tengah memakai handuk di kepala.


"Aishhh ... Kenapa kau malah melamun seperti itu cepat ambil semua ini dan lekas kupas buah apel untukku lalu sajika ke ruang kerjaku diatas, ingat jangan lama!" Ucap tuan Arfanka begitu saja sambil memberikan piring berisi beberapa biji buah apel tersebut.


Juga pisau yang ada di atas piring tersebut, dia kemudian langsung pergi dengan berjalan cepat menaiki tangga begitu saja, aku hanya menatap dia yang pergi dengan cepat hingga dia sudah benar-benar tidak terlihat oleh mata barulah aku langsung menggerutu kesal terhadapnya karena dia datang secara tiba-tiba dan mendesak aku secara tidak sabar seperti itu juga tidak kenal waktu dimana saat itu sudah hampir tengah malam dan dia malah ingin cemilan buah.


"Hah... Apakah dia sudah gila atau kenapa sih? Bagai bisa dia menginginkan buah apel yang dikupas? Kenapa tidak langsung menggigitnya saja itukan sudah lebih mudah dan bagus kenapa harus merepotkan aku seperti ini?" Gerutuku merasa kesal dan uring-uringan sendiri.


Aku menghembuskan nafas kasar yang kesal hingga aku masih tetap harus melakukan hal tersebut dan segera menyelesaikan tugas mengupas kulit buah apel tersebut secepatnya sebelum dia akan berteriak lagi dan mengomeli aku karena lambat memberikannya.


Segera aku pergi ke dapur dan membenarkan dulu handuk diatas kepalaku saat itu, aku mengulas semua buah apel ya dan mengiris kecil kecil lalu segera pergi ke ruang kerja tuan Arfanka lalu mulai mengetuk pintu ruangan kerjanya beberapa kali sampai mendapatkan sahutan dari dalam dari tuan Arfanka secara langsung.


"Tok....tok....tok.... Tuan ini saya Klara, apa saya sudah boleh masuk?" Teriakku dari balik pintu ruang kerjanya sambil mengetuk pintu itu beberapa kali.


Hingga akhirnya tidak lama suara balasan dari tuan Arfanka terdengar oleh tingkah dan dia memperbolehkan aku untuk segera masuk saat itu, sehingga aku segera membuka pintunya dan masuk membawa sebuah piring berisi irisan buah apel yang sudah aku potong kecil-kecil, aku menaruhnya di atas meja kerja tuan Lukas dengan perlahan.


"Tuan ini buah apel yang anda minta sudah aku kupas dan aku iris kecil-kecil sehingga anda bisa menikmati buahnya dengan nyaman" ucapku kepada dia.


Tuan Lukas langsung menggeser laptopnya lalu menatap ke arah piring dengan buah apel tersebut tapi ada yang berbeda dengan raut wajah yang dia perlihatkan saat itu, dimana dia tidak langsung mengambil buah apelnya atau segera menikmatinya talindia justru malah menatap ke arahku dengan tatapan yang tajam dan kembali membentak aku lagi dengan sangat keras tak kalah keras daripada sebelumnya.

__ADS_1


"HAH! apakah kau tuli atau bodoh hah? Bagaimana bisa kau malah mengiris buah apel ini kecil-kecil dan kotak seperti dadu begini, apa kau pikir aku ini anak kecil apa? Aku hanya minta kau mengupasnya saja bukan memotongnya apalagi mengirisnya seperti ini, aishh...." Ucapnya memarahi aku.


Padahal aku sudah berinisiatif melakukan semua itu karena aku pikir semua orang memang selalu menikmati buah dengan cara yang sama mengirisnya panjang atau kotak-kotak seperti itu hingga kita tinggal makan dan menyusulnya menggunakan tusuk gigi yang sudah di sediakan saat itu.


Namun bukannya menikmati dan menerima buah mangga yang sudah aku iris untuk ya dia justru malah kembali memarahi aku dan membentakku lagi dengan wajah marahnya yang sangat menyeramkan sekali.


"Ta...ta. tapi tuan itu kan bagus kau hanya tinggal menikmatinya sekarang" ucapku kepadanya karena masih merasa aneh dengan ucapannya.


"Apanya yang bagus aku akan kesulitan menikmati buah apelnya jika harus menusuk buah apel itu sepotong demi sepotong sedangkan pekerjaanku ini sungguh banyak dan menumpuk di tambah sekarang kau malah membuang waktuku, sudah sanga buatkan lagi yang baru, cepat!" Teriak tuan Arfanka yang sangat aneh dan cukup menjengkelkan untukku,


"Tuan ...tapi .." ucapku berusaha berbicara kepadanya.


"Tunggu apalagi, tidak ada tapi...tapi cepat pergi buatkan yang baru atau hutangmu kepadaku akan aku tambah karena kau merugikan pekerjaanku lagi" ancam tuan Arfanka yang selalu saja bisa membuat aku merasa takut dan kalah dengan dirinya.


Aku terpaksa mengambil kembali piring itu dengan lesu dan kesal, itu adalah pengalaman pertamaku dan itu cukup menjengkelkan sekali, aku tidak bisa berhenti menggerutu kesal ketika sudah keluar dari ruangan kerjanya dan aku terus saja merutuki dia sepuasku dan sebisa aku hingga emosi di dalam diriku bisa benar-benar hilang saat itu dan aku bisa setidaknya menjadi lebih tenang.


"Aaahhh ... Dasar tuan Arfan sialan, dia mempermainkan aku atau memang dia adalah manusia paling merepotkan di dunia ini, aaaahhh....tidak tahu ibunya mengidam apa ketika mengandung putra menjengkelkan sepertinya, ohh astaga aku harus sabar ingat dengan hutangku yang begitu banyak kepadanya aku tidak akan bisa mengembalikannya seumur hidupku, ya ampun" gerutu merasa kesal dan lesu sendiri.


Meski terus menggerutu dan merutuki tuan Arfanka dengan sepuasnya tetap saja aku masih haru melakukan hal yang sangat menjengkelkan itu dan aku sudah merasa tanganku agak pegal karena terus memegangi pisau dan harus memotong kulit apel merah yang sangat tipis saat itu.

__ADS_1


"Aku harus segera menyelesaikan tugas ini lalu cepat tidur dengan tenang dan lupakan semua tentang manusia yang sangat menjengkelkan itu" ujarku kepada diriku sendiri untuk menambah kesabaran dan semangat di dalam diriku untuk menyelesaikan pekerjaan membosankan tersebut.


Aku benar-benar sangat heran dan kesal pasalnya mengupas buah pasti bisa di lakukan oleh semua orang di dunia ini, dan dia justru malah menyuruh aku untuk mengupaskan buah apel untuk ya di tambah disaat aku sudah baik untuk berinisiatif melakukan itu memotong buah apelnya kecil-kecil lalu memberikan kepada dia dengan penuh rasa hormat, tetapi balasannya justru malah sebuah bentakkan.


Itu benar-benar sangat menguras banyak energi kesabaran di dalam diriku hingga aku tidak tahu sekarang energi kesabaran di dalam diriku tinggal berada lagi karena akhir-akhir ini aku lebih sering marah dan mudah terpancing emosi.


Tapi karena aku tetap mengerjakannya sebaik dan secepat yang aku bisa sehingga akhirnya aku selesai mengupask semua buah mangga tersebut, lalu segera saja aku kembali harus pergi ke kantor pribadinya di lantai atas sambil memberikan buah yang selesai aku kupas sangat bersihkan.


Kali ini aku sama sekali tidak masuk dengan mengetuk pintunya karena sudah tahu itu tidak di kunci dan dia juga tidak akan masalah jika aku membuka pintunya setelah aku mengetuk memberinya kode dahulu bahwa aku hendak masuk ke dalam ruang kerja miliknya tersebut.


Sampai kembali terdengar suara tuan Arfanka yang menyambut kedatangan aku saat itu, aku tersenyum kecil walau terpaksa kepadanya lalu menaruh pesanan buah apel yang sudah di kupas kulit luarnya dan tidak di potong atau di iris sedikitpun.


Aku pikir saat itu kekesalanku sudah selesai dan dia tidak akan menyuruhku atau membentak aku lagi sehingga aku pikir aku sudah bisa pergi dari sana ke kamarku dan beristirahat dengan tenang.


Namun sialnya dia saat aku hendak pergi dan berpamitan kepadanya dia justru malah menahanku lagi dan kembali memberikan aku perintah untuk mengambilkan air untuk dirinya saat itu.


"Baiklah tuan saya akan kembali, permisi" ucapku yang baru saja hendak pergi pamit kembali ke kamarku dan bobo dengan nyenyak saat itu.


"Ohok....ohok...ahhhh....aku tidak bisa menikmati apel Tampa minum tenggoroka ku terasa kesat dan kering, bisakah kau mengambilkan dahulu minum untukku?" Ucap tuan Arfanka yang terlihat terbatuk beberapa kali.

__ADS_1


__ADS_2