Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Mogok


__ADS_3

Dan tanpa Klara ketahui sebenarnya saat itu tuan Arfanka juga memperhatikan dia secara diam-diam dengan ujung matanya hanya saja tuan Arfanka melakukan semua itu dengan sangat rapih sehingga dia tidak mengetahui hal tersebut sama sekali.


"Ckk...dia tersenyum seperti itu sambil menatapku diam-diam, pasti dia terpesona dengan ketampanan ku, ini aku memang sangat luar biasa dan sempurna haha" batin tuan Arfanka yang sangat percaya diri saat itu.


Dia memang memiliki rasa percaya diri yang diatas rata-rata manusia pada umumnya meskipun apa yang dia katakan di dalam hatinya memang cukup benar sesuai dengan apa yang di pikirkan oleh Klara saat itu tetapi dia masih tetap saja terlihat aneh karena terus saja bersikap seakan dia sangat luar biasa ketika tengah menyetir saat itu.


Hingga tidak lama aku mulai merasa canggung sebab tidak ada percakapan sama sekali diantara aku dan dia selama perjalanan dari rumah sakit menuju kantor tuan Arfanka saat itu, aku pun memutuskan untuk bertanya kepada dia lebih dulu.


"Eumm...tuan kenapa tadi kau tiba-tiba menolongku saat di dalam ruang pasien?" Tanyaku kepadanya karena sebenarnya sejak tadi aku memang sudah sangat penasaran dengan hal tersebut.


Tuan Arfanka langsung menoleh ke arahku sekilas lalu dia kembali fokus menyetir ke depan, aku tahu dia terlihat cukup kaget ketika mendengar aku mengajukan pertanyaan seperti itu kepadanya, namun aku memang sangat penasaran sekali dengan hal itu sehingga jika aku tidak menanyakannya sekarang aku akan terus merasa penasaran dengan waktu yang cukup lama dan terkadang itu sangat mengganggu pikiranku, aku tidak bisa fokus dengan hal tersebut.


"Euhh....itu...aku hanya merasa rugi saja jika sampai kau terluka karena adikmu pasti aku juga yang harus mengobatimu jadi tentu aku langsung datang untuk menolongmu saat itu, memangnya kenapa kau bertanya seperti itu tiba-tiba? Apa kau tidak senang aku menolongmu?" Balas tuan Arfanka yang malah berpikiran pada hal lain.


Padahal aku hanya ingin bertanya saja sebab aku sangat penasaran dengan alasan dia, dan aku hanya tidak ingin merasa baper sendiri atas semua kebaikan yang dia berikan kepadaku saat ini, aku tidak ingin memiliki perasaan aneh apapun terhadapnya maka dari itu aku menanyakan hal tersebut bermaksud ingin menyadarkan diri sendiri bahwa memang tuan Arfanka melakukan semua itu padaku karena dia memiliki alasan tersendiri yang kadang tidak bisa aku duga atau aku bayangkan sedikit pun.


Aku juga segera membalasnya dan membantah dugaan dia tersebut kepadaku sebab aku sungguh tidak bermaksud untuk melakukan itu kepadanya.


"E...ee..hhh...tidak...tidak...aku sama sekali tidak berpikir seperti itu, justru aku merasa sangat senang dan bersyukur karena kau menyelamatkan aku tuan, aku sangat berterima kasih kepadaku, aku aku hanya merasa tidak tidak enak hati saja sebab sudah melibatkan mu dengan masalah adikku tadi" balasku menjelaskan kepadanya dengan pelan.


Aku sangat berharap sekali dia bisa mengerti dengan apa yang aku katakan saat itu karena aku mengatakan semua itu secara spontan hanya demi dia agar tidak berperasangka yang buruk lagi kepadaku, dan aku hanya takut dia kan menghukum aku atau membentak aku lebih daripada sebelumnya.


Tuan Arfanka terlihat tersenyum kecil dia merasa senang karena Klara berterimakasih kepadanya dan saat itu dia sudah merasa bahwa dirinya merasa sangat berjasa kepada Klara sehingga dia pikir Klara akan kagum dengan dirinya juga semua pengorbanan yang dia lakukan untuk menolong dia saat itu.


Tapi lagi-lagi, aku masih saja merasa sangat penasaran dan ingin memastikan semuanya dengan benar, sebab aku merasa tuan Arfanka tidak pernah bersikap sebaik ini kepada orang lain bahkan be Evi sendiri selalu mengira bahwa aku di perlakukan spesial oleh tuan Arfanka sehingga hal itu sedikit mengganggu diriku dan aku ingin membuktikan juga memastikannya secara langsung saat ini juga.


"Tuan...lalu bagaimana dengan kau yang membayar tagihan kerusakan yang di buat oleh adikku Kirei, kenapa aku menolongku lagi untuk membayarnya padahal bukankah hutangku padamu sudah sangat menumpuk?" Tanyaku lagi kepadanya dengan kedua alis yang aku kerutkan dan aku menatap dengan lekat kepadanya saat itu.


"Ehhhh...ada denganmu, apa kau sedang mengintrogasi aku yah? Kenapa kau terus bertanya alasanku melakukan semua itu, harusnya kau sendiri tahu bukan semua itu aku lakukan karena terpaksa bukan karena sengaja, menurutmu jika bukan aku yang membayar tagihannya, lantas siapa lagi? Mau kau yang melunasinya? Memangnya kau punya uang? Tidak bukan, makanya aku harus membayarnya, mana mungkin pembayaran seperti itu bisa di cicil atau dinantikan seperti yang kau ucapkan kepada pelayan disana, aishh otakmu itu dimana" balas tuan Arfanka kepadaku.


Aku hanya mengangguk mengerti saja, sebelumnya aku juga sudah berpikir seperti itu tetapi entah kenapa aku malah semakin penasaran dengan alasannya, tapi setelah mendengar jawaban darinya aku langsung bisa merasa jauh lebih lega dan tenang sehingga kini aku bisa langsung berhenti untuk tidak terlalu mengagumi dia, lagi pula bagaimana pun dia memang bukan orang baik, sebab jika dia benar-benar padahaku dia mungkin akan membebaskan aku bukan malah tetap memaksa aku dan menjadikan aku sebagai pelayan di rumahnya untuk melunasi semua uang milik dia yang sudah aku pakai dan yang sudah ibuku ambil kala itu.


"Tuan...apa menurutmu, jadi aku nanti harus membayar semua itu dengan jasaku yang harus bekerja menjadi pelayan di rumahku terus menerus?" Tanyaku kepadanya lagi,

__ADS_1


"Ya iyalah tentu saja seperti itu, kau ini kenapa sih sangat konyol dan aneh" balas tuan Arfanka yang terlihat cukup emosi ketika mendengar jawaban dariku saat itu.


"Maafkan aku tuan tapi aku hanya ingin memastikannya saja kau tidak perlu sampai marah denganku seperti itu" balasku kepadanya sambil segera menunduk memalingkan pandangan darinya.


Aku terus saja merasa sangat tidak beruntung sekarang karena aku menerima kenyataan pahit seperti itu, dengan semua jumlah uang yang sudah di keluarkan oleh tuan Arfanka untukku, aku sendiri tidak tahu dan tidak bisa menghitungnya dengan jelas, entah sampai kapan aku bisa melunasi semua uang sebanyak itu dan bisa segera terbebas dari rumahnya tersebut.


Hingga tidak lama ketika tengah di perjalanan menuju kantor mobil tuan Arfanka tiba-tiba saja berhenti begitu saja di samping jalan membuat aku sangat kaget dan menatapnya dengan heran sebab mobil itu berhenti secara tiba-tiba.


"Tuan kenapa berhenti disini?" Tanyaku kepadanya saat itu.


"Aishhh ..aku lupa mengisi bensinnya karena tadi terburu-buru, aahhh benar-benar konyol" gerutu tuan Arfanka sambil mengomel sendiri.


Aku hany bisa menatapnya dengan heran tanpa bisa melakukan apapun karena aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa jika sudah seperti itu, sebuah mobil yang sangat mewahpun tidak akan bisa di gunakan jika tanpa bensin yang mengisinya.


Aku dan tuan Arfanka langsung keluar dari mobil segera dan ku lihat tuan Arfanka terlihat sangat kesal hingga menendang ban mobilnya sendiri dengan keras tidak tahu apakah kakinya akan terasa sakit atau tidak karena dia menendang mobil itu dengan cukup keras.


"Arkkhhh...mobil sialan dukk...." Bentak tuan Arfanka yang langsung saja menendang mobil tersebut,


"Ehhh ..tuan apa kakimu baik-baik saja, apa kau tidak merasakan sakit sama sekali, tadi itu sangat keras loh" ucapku mencemaskan kakinya saat itu.


"Ahhh..aku baik-baik saja aku ini kan kuat tidak mungkin merasakan sakit hanya karena menendang benda tidak berguna seperti ini, kau jangan mengkhawatirkanku kakiku" balas tuan Arfanka dengan santai padaku saat itu.


Aku pikir dia memang baik-baik saja dan tidak masalah dengan hal itu namun rupanya di saat aku berbalik sejenak sengaja memberinya ruang sendiri terlihat jelas bahwa saat itu tuan Arfanka langsung meringis kesakitan dengan pelan bahkan dia sampai mengangkat sebelah kakinya yang tadi dia pakai untuk menendang ban mobil miliknya.


"Adududud...sial ini sakit sekali aahhh sudahlah sikutku sakit sekarang kakiku juga ikut sakit, aahhh bagaimana ini, aku benar-benar sial hari ini" gerutu tuan Arfanka menggerutu terus menerus tiada henti.


Aku yang melihat itu berusaha untuk menahan tawa dan sekuat tenaga menatap ke arah lain juga membelakangi dia dengan sengaja agar dia tidak merasa malu kepadaku dan tidak perlu berpura-pura untuk menjadi kuat, seperti ketika aku bertanya tentang kaki dia sebelumnya.


"Fffttt ..konyol aku sudah tahu dia pasti kesakitan, kenapa dia harus so kuat seperti itu sih" batinku saat itu.


Disaat tuan Arfanka masih kesakitan di sana aku segera masuk kembali ke dalam mobil dan mengambil obat merah yang tersedia disana dengan cepat, lalu aku segera berjalan mendekati tuan Arfanka dan langsung saja aku menarik tangannya membantu dia untuk berjalan ke samping jalan agar bisa mengobati luka di kaki juga sikutnya.


"Ehhhh..ehh...ehh...kau mau membawaku kemana hey pelan ..pelan...ini sakit tahu" ucap tuan Arfanka yang sepertinya keceplosan mengatakan itu padaku.

__ADS_1


Aku langsung menatap ke arahnya sambil tersenyum karena wajah dia terlihat begitu lucu saat kaget bahwa dirinya sudah keceplosan dan mengakui rasa sakit di tubuhnya saat itu.


"Ehh ..bukankah tadi kau bilang sama sekali tidak sakit yah, kenapa sekarang tiba-tiba kau bilang sakit? Dimana yang sakit itu apa kakimu sakit setelah menendang mobilmu sendiri?" Balasku sengaja menggodanya.


Wajah dia langsung saja berubah sedikit memerah karena malu, aku tahu dia sangat malu dengan kelakuannya sendiri dan aku langsung saja menahan tawa karena tidak ingin membuat dia kembali marah dan menjadi kesal, aku pun segera berbicara kembali untuk menenangkan dia.


"Tidak ini memang tidak sakit, siapa yang bilang jika aku kesakitan? Tadi.....aku...hanya pemanasan saja dan berniat mengagetkan mu tapi sepertinya kau memang tidak kaget" balas tuan Arfanka yang dengan sengaja beralasan agar tidak terlihat lemah di depan Klara saat itu.


Padahal di dalam hatinya dia benar-benar merasa sangat malu tidak karuan sebab kebohongannya sudah terbongkar dengan cepat juga di waktu yang sangat berdekatan.


"Haha...sudah...sudah....ayo duduk disini, tidak masalah jika kau merasa sakit tuan, karena wajar saja jika kau merasa sakit ketika tangan dan kakimu terluka bukan? Meski kau seorang pria dan kau seorang tuan Arfanka yang di kenal sangat dingin juga bermuka tanpa ekspresi, kau tetap saja manusia dan pasti akan merasakan sakit bukan? Jadi jangan ditahan lagi, ayo duduk dan angkat celananya aku akan mengobati lukamu" balasku kepadanya sambil tersenyum dengan lembut.


Tuan Arfanka menatapku dengan tatapan yang canggung dan dia terlihat terus menatap ke arah lain saat itu, meski sambil menggulung celananya dia tetap tidak menatap ke arahku, dan aku mengerti mungkin dia merasa sangat malu dengan tingkahnya sendiri saat itu jadi aku juga tidak berani berkata apapun lagi dengannya saat itu.


Aku segera mengoleskan obat pada kakinya dengan perlahan secara hati-hati, sedangkan disisi lain tuan Arfanka sendiri diam-diam menatap ke arah Klara dan sebuah senyuman tergambar dalam wajahnya saat itu.


Dia merasa sangat senang ketika melihat ada orang yang memperdulikan dirinya seperti itu, apalagi ketika dia mendengar ucapan dari Klara yang sangat membekas dalam hatinya, sebelumnya belum pernah ada seorang pun yang berbicara sangat menenangkan seperti itu kepadanya seperti Klara barusan.


"Dia adalah orang pertama yang bisa menenangkan emosi di dalam diriku, padahal hanya pelayan saja untukku, kenapa kau malah seperti ini padaku, membuat hatiku tidak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi mu" batin tuan Arfanka saat itu.


Bahkan sakit fokusnya berpikir dan terus menatap wajah Klara tuan Arfanka sama sekali tidak sadar bahwa Klara sudah selesai mengobati luka di kakinya dan saat itu aku hendak meminta dia untuk mengulutkan tangannya agar aku bisa lanjut mengobati luka di sikutnya juga.


"Tuan...ini sudah selesai kemarikan tanganku yang terluka agar aku mengobatinya sekalian" ucapku kepadanya.


Tetapi dia justru malah tidak menjawab ucapanku atau melakukan apa yang aku katakan kepadanya dia malah terus saja menatap aku dengan tatapan yang aneh dan terlihat menampakkan sebuah senyuman kecil di wajahnya saat itu, aku sungguh merasa sangat heran ketika melihatnya dan langsung saja aku segera menyadarkan dia dengan cepat.


"Tuan...hey ...tuan Arfanka apa kau baik-baik saja? Kenapa kau malah melamun seperti itu?" Ucapku sambil terus menggoyangkan kakinya hingga tidak sengaja aku menyentuh bagian kakinya yang terluka sampai membuat dia meringis kesakitan dan akhirnya tersadar juga dari lamunannya yang panjang itu.


"Esstt ....awww...kau...bisakah kau mengobati lukaku pelan-pelan!" Bentak tuan Arfanka secara refleks membuat aku membulatkan mataku dengan kebingungan sendiri.


"Ehhh, ada apa denganmu tuan, kau terlihat sangat aneh hari ini, aku sudah memintamu untuk mengulurkan tanganmu agar aku bisa mengobatinya juga tapi kau tidak merespon aku dan malah langsung membentak aku seperti ini secara tiba-tiba, apa kau benar-benar merasa baik?" Tanyaku kepadanya.


Dia langsung saja terlihat gugup dan langsung mengambil obat merah di tanganku dengan kasar.

__ADS_1


"Aishh ..sini biar aku saja yang mengobati lukanya sendiri, ahhhh kau memang banyak sekali bicara, apa kau sudah berani seperti itu kepadaku sekarang hah?" Balas tuan Arfanka yang semakin terlihat aneh.


Tapi karena dia bos aku tidak bisa melakukan apapun selain dari pasrah menerima semua keanehan yang aku terima darinya, hingga dia yang mengobati luka di tangannya itu dan merasa kesal sendiri karena kesulitan untuk mengobati luka itu sendirian.


__ADS_2