
Sebab dari kejadian semalam itu aku benar-benar tidak bisa tertidur dan tidak bisa mengistirahatkan tubuhku walau sejenak saja yang alhasil mataku menampakkan mata panda yang cukup hitam pada kantung mataku yang sedikit membengkak kala itu, aku tidak tahu lagi harus bagaimana, ketika memandang wajahku di cermin itu cukup memalukan dan membuat aku sendiri kaget melihat mataku yang seperti itu sebab semalaman tidak bisa tertidur.
"Hua...mataku seperti ini, bagaimana aku bisa menghadapi tuan Arfanka nanti, ini cukup memalukan, bagaimana jika pria sok keren itu akan menertawakan aku" gerutuku merasa cemas sendiri.
"Aahhh .... Kenapa hitamnya terlihat sangat jelas begini, bagaimana aku bisa keluar sekarang, huhu....ini sangat membuatku tidak percaya diri" tambahku terus menggerutu sendiri.
Dengan cepat aku segera mencari kacamata hitam milikku di sekitar lemari dan semua tempat yang ada disana, aku terus saja mencarinya untuk bisa menutupi mataku itu, karena aku merasa sangat malu dan tidak sanggup untuk berhadapan dengan manusia lainnya dalam keadaan wajah dan mata seperti ini, rasanya akan sangat memalukan jika aku keluar dengan mata bengkak dan kantung mata yang hitam seperti itu karena kurang tidur.
Bahkan aku tidak tidur sedetik pun malam itu, hanya karena aku merasa malu dan cemas di tambah suara berisik di kamar sebelah, entah apa yang di lakukan oleh manusia itu sampai dia membuat keributan bahkan disaat dia tinggal seorang diri di dalam kamar sehingga membuat aku kesulitan untuk tertidur yang pada akhirnya hanya terjaga semalaman.
Untungnya aku berhasil menemukan kacamata hitam yang ada di dalam laci, segera saja aku memakainya dan mulai pergi ke luar untuk menyiapkan sarapan bagi tuan Arfanka saat itu juga, namun saat aku tengah mencuci sayuran dan tengah menunggu telurnnya matang tiba-tiba saja Kevin muncul dan dia terus berjalan mendekatiku saat itu.
"Ehhh....kenapa kau memakai kacamata hitam? Apa kau mengikuti aku ya?" Ucapnya menduga-duga seperti itu.
Aku benar-benar merasa cemas dan takut ketika melihat dia muncul di hadapanku seperti ini, terlebih bi Evi juga belum kembali begitu juga dengan pak Tino aku tidak tahu bagaimana keadaan bi Evi sekarang karena masih belum mendapatkan kabar apapun dari mereka, aku juga tidak memiliki ponsel yang bisa aku gunakan untuk menghubunginya jadi aku hanya menunggu dan mengerjakan semua pekerjaan sendiri saja.
"Ya..tuhan..kenapa orang ini harus bangun pagi sekali sih, dia terus memperhatikan aku, bagaimana jika dia..." Batinku yang merasa cemas dan belum saja selesai bicara.
Dengan cepat Kevin langsung saja menarik kacamata yang tengah aku pakai saat itu dan dia langsung membelalakkan matanya saat melihat wajahku dengan kantung mata yang menghitam bak seperti seekor panda saat itu.
Hingga setelah terperangah kaget beberapa saat barulah dia langsung tertawa dengan keras menertawakan wajahku begitu puas.
"Aahhhh....." Ucapku kaget saat Kevin berhasil menarik kacamata yang aku kenakan saat itu,
"Hah?.....ahahahah......Heh....ada apa dengan mataku kenapa kau terlihat seperti panda hahah....lihatlah wajahmu ini hey....ayo cepat lihat pada kamera ini, kejadian seperti ini harus diabadikan ayo cepat lihat kemari ayo" ucap Kevin yang menertawakan aku dan dia malah terus memotret aku dengan dirinya.
"Sialan Kevin itu dia benar-benar menertawakan aku dengan sangat puas" batinku merasa sangat kesal dan jengkel kepadanya.
Kevin itu sangat menjengkelkan bahkan dia lebih mengganggu di bandingkan seorang tuan Arfanka aku terus saja berusaha menghindari darinya dan menjauhkan diri dari dia sekuat tenagaku, aku sungguh tidak ingin dia terus memotret wajahku seperti itu tapi dia terus saja memaksa aku sampai tidak lama untungnya tuan Arfanka segera tiba dan dia menghentikan kelakuan adiknya itu dengan cepat.
"Aku tidak mau, lepaskan aku aishh ...jangan memotret aku lagi, hey hentikan!" Teriakku terus berontak sebisaku.
"Apa yang kalian lakukan, Klara cepat sajikan makanannya aku sudah lapar" ucap tuan Arfanka yang muncul di waktu yang tepat.
Dengan cepat adiknya langsung menghentikan tingkah gilanya itu dan dia segera duduk berhadapan dengan tuan Arfanka di depan meja makan, sedangkan aku segera mengangkat telur dan rotinya aku segera menyajikan sarapan untuk mereka berdua namun sengaja aku tidak memberikan telur pada Kevin karena dia sudah mengerjai aku sebelumnya dan terus memaksa aku untuk berfoto dengannya dalam keadaan wajahku yang buruk seperti ini.
"Arfanka lihatlah ini haha...bukankah dia mirip sekali dengan seekor panda lihatlah matanya yang hitam, haha...dia terlihat sangat konyol sekali" ucap Kevin sambil hendak memperlihatkan foto itu kepada tuan Arfanka.
Aku tidak bisa membiarkan dia untuk memperlihatkan foto-foto ku yang lebih buruk dari pada melihat wajahku di aslinya, aku juga terus menunduk dan memalingkan pandangan dari tuan Arfanka sedari tadi karena tidak ingin dia melihat mataku yang seperti ini, tetapi si Kevin itu justru malah mau memberikan lihat kondisiku kepada tuan Arfanka dengan sangat mudah seperti itu tentu saja aku tidak terima.
__ADS_1
Dengan cepat aku langsung mengambil ponsel itu dari tangan Kevin dengan cepat dan langsung menyembunyikannya ke belakang tubuhku.
"Ehh ...kembalikan ponselku kenapa kau malah merampas ponselku, apa kau sudah berani padaku ya, cepat kembalikan!" Bentak Kevin dengan keras padaku saat itu.
Meski dia membentak aku seperti itu dan membelalakkan matanya dengan sangat lebar, aku tetap tidak takut dengannya dan tidak perduli sama sekali karena majikanku adalah tuan Arfanka bukan dirinya sehingga aku terus saja mengabaikan dia saat itu.
"Selamat menikmati sarapannya tuan, saya permisi" ucapku sambil membungkuk dan hendak pergi dengan cepat saat itu.
Namun disaat aku hendak pergi dari sana berniat untuk menghapus semua fotoku yang jelek di dalam ponsel Kevin tiba-tiba saja Kevin menangkap tanganku dan dia menarik aku dengan kasar dan terus saja meminta aku untuk mengembalikan ponsel miliknya saat itu, tapi aku tetap tidak akan mengembalikan padanya sebelum aku menghapus semua foto buruk ku di dalam ponselnya.
"Heh...tunggu mau kemana kau, kembalikan ponselku cepat kembalikan!" Bentak Kevin dengan wajahnya yang sangat serius padaku saat itu.
"Tidak...aku tidak akan mengembalikannya padamu, kau memotret aku sembarangan dan aku tidak senang kau melihat wajahku lalu terus menertawakan aku seperti itu, aku akan menghapus semuanya!" Balasku dengan penuh keberanian melawan dia.
Langsung saja Kevin terlihat murah dan dia sangat kesal karena melihat Klara sudah berani melawan dia dan membantah ucapannya sehingga dia mulai menatap pada kakaknya tuan Arfanka yang saat itu tengah menikmati sarapannya tanpa memperdulikan apa yang tengah aku perebutkan dengan adiknya Kevin saat itu.
Hal itu juga yang membuat aku berani melawan adiknya Kevin karena aku sudah melihat cukup banyak bagaimana tuan Arfanka sama sekali tidak terlihat perduli pada adiknya tersebut sehingga aku berani untuk melawannya, karena aku pikir dia tidak akan menghukumku apapun jika aku melawan adiknya sebab dia juga tidak terlihat perduli sama sekali.
"Arfanka lihatlah pelayan kurang ajarmu ini, dia berani sekali merampas ponselku seperti itu, cepat kau suruh dia untuk mengembalikan ponselku dengan cepat!" Ucap Kevin kepada tuan Arfanka,
"Kalian urus urusan kalian sendiri kenapa harus membawa aku, itu juga bukan ponselku dan salah kau sendiri mengganggunya lebih dulu" balas tuan Arfanka yang membuat aku sangat senang.
"Ahaha...aku sudah duga tuan Arfanka tidak akan memperdulikan adik sepertimu, lepaskan aku eugh" ucapku sambil dengan cepat menghempaskan tangan yang dia pegang dengan sekuat tenagaku hingga aku berhasil melepaskan diri darinya dengan cepat.
"Aishh....kalian berdua benar-benar sama saja, dan kau kemarikan ponselku sialan!" Bentak Kevin sambil langsung saja berlari ke arahku.
Aku sangat panik dan takut saat itu sehingga langsung saja aku berlari untuk menghindar darinya sambil berusaha untuk menghapus semua foto yang cukup banyak di ambil oleh adiknya tuan Arfanka tersebut sambil berlari kesana kemari mengelilingi meja makan dan sofa yang ada di ruang tengah.
Aku juga sudah berlari ke dapur juga ke tempat lainnya untuk terus melepaskan diri dari Kevin, namun dia tetap tidak menyerah dan terus saja mengejar aku tanpa kenal lelah padahal saa itu aku sendiri sudah sangat lelah dan tidak tahu bagaimana cara menghindar darinya lagi.
Hingga aku benar-benar tidak bisa kabur darinya juga sangat terdesak olehnya karena aku tersandung oleh kakiku sendiri dan jatuh ke sofa saat itu, Kevin terlihat tersenyum senang dan memandang tajam kepadaku, seperti dia bersiap untuk menangkap ku juga mengambil ponselnya dariku.
"Bruk....aduhhh" ucapku yang tersandung dan jatuh saat itu.
"Hahaha....lihatlah kau tidak bisa kabur lagi dariku, cepat berikan dengan baik-baik ponsel itu padaku dan aku akan melepaskanmu" ucap Kevin padaku saat itu.
"Tidak aku tidak akan memberikannya sebelum aku selesai menghapus semua fotoku di dalamnya" balasku masih tetap tidak ingin kalah dengannya.
Hingga wajah Kevin terlihat semakin kesal saat itu, dan aku juga menatapnya dengan tajam tidak kalah tajam dengan tatapan yang terus dia berikan kepadaku sedari tadi, hingga emosi Kevin terlihat cukup besar dan dia langsung saja berniat merampas ponsel dari tanganku namun dengan cepat aku langsung saja memasukkan ponsel miliknya itu ke dalam dadaku, karena saat itu tidak ada cara lain lagi yang bisa aku lakukan untuk mengancam ponsel itu.
__ADS_1
Jika aku melemparkan ponselnya aku takut itu rusak dan aku harus menggantinya nanti, aku juga tidak bisa kabur lagi karena kakiku sedikit sakit sepertinya terkilir makanya aku refleks langsung memasukkan ponselnya pada dadaku begitu saja, hingga hal itu membuat Kevin kaget membelalakkan matanya.
Dan tuan Arfanka yang ternyata melihat itu juga dia langsung terbatuk karena tengah minum saat itu.
"HAH?..KAU...beraninya kau malah memasukkan ponselku ke dalam situ, aishhh..." Bentak Kevin terlihat marah besar dan sangat jengkel kepadaku.
"Ohok...ohok .. Klara apa kau sudah gila ya!" Ucap tuan Arfanka sambil berjalan mendekatiku saat itu juga,
"Kakak lihatlah dia memasukkan ponselku ke dalam....eumm..." Ucap Kevin yang tidak sampai karena mulutnya langsung saja di bungkam oleh tuan Arfanka dengan cepat.
"Pwahhh.... Arfanka kenapa kau malah menutup mulutku seperti itu aishh" gerutu Kevin sambil melepaskan tangan tuan Arfanka yang membekap mulutnya saat itu,
"Diamlah...Apa kau pikir hal seperti itu pantas untuk kau ucapkan hah!" Balas tuan Arfanka membuat Kevin menjadi sedikit lebih tenang.
Sedangkan aku semakin merasa mau dan hanya bisa menunduk sambil melipatkan kedua bibirku dengan kuat.
Aku benar-benar merasa sangat bodoh di hadapan dia pria tersebut karena malah memasukkan ponsel Kevin ke dalam dadaku begitu saja tanpa berpikir. Tapi aku melakukan semua itu karena sangat panik dan tidak tahu lagi harus menyelamatkan ponsel itu ke tempat mana lagi.
"Aduhhh...sial bodoh-bodoh ...aku benar-benar sangat bodoh, bagaimana bisa aku malah melakukan hal yang semakin memalukan seperti ini, aahhh bagaimana aku menghadapi mereka sekarang" batinku terus saja merasa tidak karuan.
Tuan Arfanka dan Kevin berdiri di hadapanku saat itu dan dengan cepat tuan Arfanka memintaku untuk mengembalikan ponsel Kevin saat itu dengan mengulurkan tangannya padaku dengan cepat.
"Klara kembalikan ponselnya biar aku yang menghapuskan semua foto itu untukmu" ucap tuan Arfanka kepadaku.
Aku langsung saja memandang kepadanya dengan kedua alis yang aku naikkan, aku benar-benar merasa malu dan tidak berani untuk mengambil ponsel di dalam dadaku di hadapan mereka berdua saat ini.
"Ta..tapi tuan.. itu ..aku..aku tidak bisa mengambilnya lagi di hadapan kalian berdua" balasku dengan jujur dan segera menunduk lagi dengan lesu.
Kevin terlihat sangat kesal dan dia langsung saja menerobos memotong ucapan begitu saja sambil menatap tajam padaku dan membentakku sangat kencang saat itu.
"Heh....jangan banyak alasan aku melihatnya dengan jelas bagaimana kau memasukkan ponselku sebelumnya kenapa sekarang kau tidak bisa mengambilnya lagi disaat kami melihatmu, aku juga tidak tertarik dengan dada kecilmu itu!" Bentak Kevin yang sangat membuatku malu.
Dan dia langsung saja mendapatkan tatapan tajam dari tuan Arfanka yang sangat menakutkan, bahkan hal tersebut berhasil membuat Kevin sedikit gugup ketika dia melihat hawa menyeramkan keluar dari Arfanka di sampingnya saat itu.
"AA ..AA..ahhh..baiklah... baiklah, aku akan membalikkan badan kau bila mengambilnya saat itu, cepat saja kembalikan ponselku, itu sangat penting untukku" balas Kevin sambil langsung membalikkan badan karena dia takut dengan tatapan tuan Arfanka saat itu.
"Cepat keluarkan" ucap tuan Arfanka lagi padaku dan dia juga segera membalikkan badannya membelakangi aku dengan cepat.
Aku rasanya ingin mengubur diri sendiri saja karena semua ini sangat memalukan untukku, aku tidak bisa menahan rasa malu yang terlalu banyak aku terima sejak kemarin malam hingga saat ini.
__ADS_1