
Walau menahan rasa malu yang teramat dalam di dalam hatiku tapi nyatanya aku tetap harus melakukan semua itu dan segera mengambilnya dengan perasaan yang benar-benar malu bahkan tanganku sendiri tidak bisa berhenti bergetar saat itu, saking besarnya gugup dan rasa malu yang menghantui diriku saat itu.
"Tu...tuan...ini aku sudah mengambilnya" ucapku sambil mengarahkan ponsel itu kepadanya dengan kepala yang terus menunduk tidak berani menatap ke arahnya.
Tuan Arfanka segera mengambil ponsel itu dariku dan Kevin terus saja berusaha untuk mengambil ponsel itu dari tuan Arfanka namun untungnya tuan Arfanka tetap tidak memberikan ponsel itu kepadanya dan dia justru langsung membentak Kevin dengan keras hingga membuatnya terdiam dan pasrah menerimanya.
"Berikan itu padaku, Arfanka apa yang kau lakukan itu ponselku kembalikan padaku!" Ujar Kevin dengan wajahnya yang masih sedikit kesal dan tidak sabaran itu,
"Heh...diam..kau aku kan sudah bilang biar aku menghapus semua fotonya, baru aku akan mengembalikannya padamu, jika memang tidak ada apapun di dalam ponselmu kenapa kau sangat takut seperti itu?" Balas tuan Arfanka yang langsung membuat Kevin terdiam.
"Ya...ya...silahkan saja kau hapus lagi pula aku tidak membutuhkan foto wanita menjengkelkan sepertinya" balas Kevin yang akhirnya membiarkan tuan Arfanka menghapus semuanya.
Tuan Arfanka langsung menatap ke arahku di saat dia tengah menghapus fotoku di dalam ponsel Kevin saat itu, aku benar-benar sangat malu dan tidak tahu apa yang dia lihat sampai membuatnya tersenyum kecil seperti itu, aku pikir mungkin saja fotoku sangat jelek dan buruk di dalam ponsel itu sebab aku juga belum sempat menghapus semuanya hanya beberapa saja yang sempat aku hapus sebelumnya.
"Aaahhhh...ini sangat memalukan apa fotoku sekonyol itu ya, sampai seorang tuan Arfanka saja tersenyum menahan tawa melihatnya, aahhh si Kevin ini benar-benar menjengkelkan" batinku merasa sangat kesal kepadanya.
"Haha ...dia ada-ada saja kenapa kantung matanya terlihat lebih buruk saat di foto, konyol sekali" batin tuan Arfanka saat itu.
Tuan Arfanka pun menghapus semuanya dan segera mengembalikan ponsel itu pada Kevin sang pemiliknya, Kevin juga segera mengambilnya dengan cara yang sangat kasar serta wajahnya yang terlihat begitu menyeramkan disaat dia tengah marah menatap tajam kepadaku bak seperti ingin menelan aku hidup-hidup saat itu.
"Heh....ini" ucap tuan Arfanka memberikan ponsel itu padanya,
"CK.....kenapa kau sangat lama sekali, dan kau...awas saja aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah dasar pelayan lancang!" Bentak Kevin padaku.
Aku sama sekali tidak takut dengannya meski dia membelalakkan mata seperti itu kepadaku, justru aku semakin ingin melawannya dan balik menatap dia jauh lebih tajam dari apa yang dia berikan kepadaku sebelumnya sampai membuat dia terlihat semakin kesal dan frustasi karena aku melawannya.
"Eehh....eh .. lihatlah Arfanka, pelayanmu ini benar-benar kurang ajar, beraninya dia membelalakkan mata seperti itu padaku, kau harus memberinya hukuman jangan memanjakan pelayan sepertinya!" Ucap Kevin mengadu pada tuan Arfanka,
"Aishh...sudahlah aku sudah hampir terlambat, Klara kau bereskan rumah seperti biasa dan kau Kevin sebaiknya kau cepat keluar dari sini!" Ucap tuan Arfanka kepadanya.
Tuan Arfanka sama sekali tidak menanggapi aduan dari adiknya Kevin tersebut, aku juga sedikit merasa aneh, tapi lebih banyak merasa senang dan menahan tawa ketika melihat Kevin diacuhkan oleh kakaknya sendiri dan semua ucapan darinya seakan tidak di dengar oleh tuan Arfanka saat itu, ini benar-benar membuatku menang banyak.
"Fffttt....haha...rasakan itu, aku sudah tahu tuan Arfanka tidak akan membela dia meski dia adiknya sendiri, tapi...kenapa itu bisa terjadi ya?" Pikirku merasa sedikit aneh.
Sedangkan Kevin terus saja menahan tuan Arfanka dan dia terus meminta agar bisa tetap tinggal di rumah tersebut hingga waktu liburnya selesai, banyak alasan dia lontarkan kepada tuan Arfanka saat itu, meski tuan Arfanka terus menolaknya dan tetap berusaha mengusirnya namun Kevin malah mengancam tuan Arfanka lagi untuk menghubungi ayah mereka sehingga dengan wajah yang kesal tuan Arfanka pun mulai mengijinkannya.
"Eeehh.... Arfanka aku akan tetap tinggal disini sampai semua urusanku selesai, aku tidak akan pergi kemanapun" ucap Kevin membuat tua Arfanka membelalakkan mata dan dengan cepat berbalik menatap kepadanya.
__ADS_1
"Heh....kau kan sudah berjanji untuk pergi sekarang, jadi pergilah sebelum aku yang akan memanggil satpam dan menyeretmu keluar dari rumahku!" Ucap tuan Arfanka memperingatinya dan tetap mengusir Kevin,
"Haha...silahkan saja jika kau bisa melakukan semua itu, maka aku akan menghubungi ayah dan memberitahukan bahwa kau mempekerjakan seorang gadis di dalam rumahmu untuk menjadi pelayan, bagaimana apa kau masih berani untuk mengusirku sekarang? Ahaha..." Jawab Kevin sambil memegangi ponselnya dan siap untuk menelpon ayahnya Briantoro saat itu.
"Huuuhh ..... Baiklah kau bisa tinggal disini tapi jangan sampai aku melihat kau membuat kekacauan lagi, jika tidak aku sama sekali tidak takut dengan ancamanmu itu!" Balas tuan Arfanka dengan menghembuskan nafas kasar dan dia segera pergi dari sana dengan cepat.
Sedangkan Kevin terlihat berjingkrak kesenangan dia juga mulai melihat ke arahku dan dengan cepat aku pergi menuju ke dapur untuk membersihkan bekas makan tuan Arfanka sebelumnya, namun sungguh sial sekali untukku, baru saja aku melangkahkan kaki satu langkah, Kevin sudah memanggilku dan dia berjalan ke hadapanku dengan berkacak pinggang saat itu.
"Heh....Klara.... ahahah... Bagaimana kau tidak akan bisa lolos dariku sekarang, si Arfanka itu juga tidak akan bisa melindungimu lagi, haha..." Ucapnya kepadaku dengan wajah yang menatap cukup sinis.
Rasanya aku ingin mencekik lehernya atau membanting dia ke dinding hingga pingsan, wajahnya itu sangat menyebalkan, meski dia memang cukup keras dalam penampilan juga wajahnya yang tampan mendukung dia, tetapi kelakuannya itu sungguh membuat orang menjadi tidak tahan dan aku yakin tidak akan ada orang yang mau bertahan lama dengan orang sepertinya dia sangat menjengkelkan dan menguras kesabaran.
"Ckk .... Memangnya siapa yang takut denganmu dan mencari perlindungan pada tuan Arfanka, aku tidak perduli" balasku sambil segera menghindarinya.
Aku ingin terus menjauh darinya dan dengan cepat tidak berhubungan lagi dengan orang sepertinya dia, tapi dia justru menahan tanganku dengan kuat dan mulai memerintah aku dengan cara paksa juga terus mendesak.
"Eeeehhh....mau kemana kau? Apa kau pikir bisa lolos dariku, hahah...jangan bermimpi. Cepat sekarang kau siapkan air panas untukku karena aku akan mandi setelah sarapan" ucapnya memerintah dengan seenaknya.
Aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang tajam dan masih harus menuruti perintahnya, segera aku pergi ke kamar mandi di kamarnya lalu mulai menyiapkan air panas untuknya sambil terus saja menggerutu kesal kepadanya dengan tiada habisnya saat itu.
Sampai setelah aku selesai menyiapkan air panas untuknya segera aku pergi keluar dan aku melihat rupanya dia sudah masuk ke dalam kamar dan dia pun pergi ke kamar mandinya dengan menatap sinis sekilas padaku, baru saja aku hendak keluar dari kamarnya dia langsung berteriak sangat kencang memanggil namaku.
"Aaahhhkkk.... Klara!" Teriak Kevin dengan sangat kencang hingga suaranya memekikkan telinga.
"Aishhh....apa lagi yang mau dia lakukan" gerutuku sangat kesal dan segera kembali menemui dia.
Aku membuka pintu kamar mandinya dengan keras dan memasang wajah yang kesal menahan emosi di dalam diriku sendiri saat itu.
"Apa....hah? Kenapa kau berteriak seperti orang gila, tidak bisakah kau memanggilku dengan lebih baik?" Ucapku membentak dia saat itu,
"Heh ...disini kau hanya pelayan apa yang kau keluhkan aku adalah tamu, bebas untukku memerintahmu seperti apapun, kenapa? Apa kau tidak terima, jika kau tida terima silahkan angkat kaki dari rumah ini aku akan melaporkan semua kelakuanmu yang buruk ini pada tuanmu si Arfanka itu" balasnya yang benar-benar menguji kesabaranku.
"Jika aku tidak memiliki banyak hutang, aku sudah pergi dari sini sejak lama dasar bodoh!" Gerutuku dengan mulut yang aku rekatkan sangat kuat saking kesalnya pada Kevin.
Aku pikir dia tidak akan mendengar gerutuanku barusan, namun rupanya telinga dia cukup berpungsi dengan baik sehingga dia mendengarnya dan kembali memperingati aku, sungguh tidak bisa terbebas lagi darinya, dia sangat keterlaluan.
"Heh...apa yang sedang kau ucapkan, cepat kemari dan lihatlah apa kau mau membunuhku dengan memberikan aku air sepanah ini hah?" Bentak dia sambil menarik tanganku dengan kuat.
__ADS_1
Aku masih ingat bahwa aku membuat air itu tidak terlalu panas bahkan aku sendiri sudah menambahkan air dingin ke dalamnya untuk menyeimbangkan suhu pada air tersebut, namun sekarang dia tiba-tiba saja marah padaku berkata bahwa air itu terlalu panas untuknya, aku benar-benar merasa sangat curiga, apalagi ketika melihat ekspresi di wajahnya yang sangat tidak meyakinkan saat itu.
Karena penasaran aku pun segera menyentuh air itu dengan tanganku untuk memastikannya, namun disaat aku hendak memasukkan tangan pada bak mandi, dari belakang si sialan Kevin justru malah mendorongku hingga aku kehilangan keseimbangan dan langsung saja terjatuh pada bak mandi tersebut, tapi sebelum jatuh aku masih sempat menarik tangan Kevin yang mendorong bahuku sebelumnya hingga dia juga ikut terjauh pada bak mandi itu dan kami berdua duduk berhadapan pada bak mandi itu dengan pakaian yang basah kuyup.
Aku langsung tertawa dengan keras melihat rambut Kevin yang langsung saja menjadi lepek dan wajahnya yang kaget karena dia malah ikut terjatuh denganku.
"Ahahahah....rasakan itu siapa suruh kau malah mendorong aku, memangnya kau pikir aku ini bodoh apa? Aku sudah menduga kau pasti mengerjai aku saja" balasku kepadanya sambil terus tidak bisa berhenti untuk menertawakannya saat itu.
"Aishh...kau...rasakan ini, kemari kau aku tidak akan membebaskan mu dengan mudah, rasakan ini kau harus basah, lebih daripada aku" ucap dia sambil terus saja memberikan cepretan air kepadaku hingga aku benar-benar basah sampai ke seluruh tubuh termasuk wajah dan rambutku.
Aku menatapnya dengan menahan kekesalan dan benar-benar sangat emosi saat itu, sampai aku telah kehilangan kesabaran dan langsung saja mendorongnya hingga dia tersentak ke belakang dan air sampai pada lehernya saat itu.
"Kau.... berhenti mengerjai aku, jika kau terus seperti ini, aku tidak akan segan-segan untuk menenggelamkan mu di dalam bak ini!" Ancamku sengaja menggertak dia dan membuatnya takut saat itu.
Namun bukannya takut si Kevin itu justru menutup matanya dan dia berbicara gugup sambil menunjuk ke arah badanku saat itu, aku menatap dengan heran dan penuh kebingungan sampai ketika aku menatap ke badanku sendiri rupanya pakaian yang aku kenakan tembus pandang sebab terkena air.
"I..i..itu....pakaianmu..." Ucap Kevin dengan terbata-bata mengatakannya.
"Apa yang kau bicarakan, bicara yang benar!" Bentakku masih sempat membalasnya saat itu.
Saat melihat sendiri aku langsung saja berteriak dengan kencang dan langsung saja menjauh darinya sambil segera keluar dari bak mandi tersebut dan menutupi tubuhku dengan tanganku sendiri, aku tidak berani berdiri dan terus saja berjongkok disana sambil menundukkan kepalaku dan benar-benar merasa sangat malu saat itu.
"Aaarrtkkkkk.....astaga...apa yang harus kulakukan sekarang hua....ini benar-benar memalukan" gerutuku pelan setelah berteriak sangat kencang.
Kevin segera bangkit berdiri dan dia mengambilkan handuk miliknya di kamar mandi tersebut lalu menyelimutkannya padaku saat itu, aku juga tidak menduga dia bisa bersikap layaknya seorang pria sejati seperti itu, dan mau membantuku padahal dia sangat kejam dan menjengkelkan sebelumnya.
"Cepat ganti pakaianmu, dan aku minta maaf karena sudah melihatnya" ucap Kevin yang membuatku sangat kesal hingga pipiku langsung.erona di buatnya.
"Kau benar-benar sialan!" Balasku sambil langsung saja pergi menabrak sebelah bahunya dengan keras.
Aku pergi ke kamarku dengan cepat dan segera mengganti pakaianku saat itu juga, aku sangat malu dan penuh dengan rasa emosi di dalam diriku, aku tidak ingin bertemu lagi dengan Kevin meski kami berada di dalam rumah yang sama saat ini, bahkan saat membersihkan rumah aku sengaja pergi membersihkan kolam renang terlebih dahulu, lalu mulai membersihkan dapur.
Dan setiap kali dia muncul aku akan terus menghindarinya dan pergi menjauh dari dia, aku tidak ingin melihat wajahnya karena itu akan membuat aku sangat malu dan kesal ketika mengingat kejadian di kamar mandi dengannya saat itu.
Kevin sendiri juga merasa sedikit gugup juga tidak karuan, meski dia sudah berusaha untuk bersikap santai seakan tidak pernah ada yang terjadi diantara dia dan Klara namun tidak bisa dia pungkiri karena dia juga seorang pria, dia terus saja membayangkan hal itu lagi dan lagi ketika dia melihat Klara, entah kenapa dia juga mulai merasakan ada yang aneh pada perasaannya.
Yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
__ADS_1