
Sampai ke esokan paginya Kevin benar-benar bangun lebah awal dia datang ke dapur dan hendak membantu Klara yang tengah memasak dengan bi Evi saat itu, dia tiba-tiba saja muncul dan mengatakan akan membantu dia memasak bahkan bi Evi saja kaget mendengar hal tersebut saat itu.
"Selamat pagi semua, sedang apa kalian sini biar aku bantu kalian mencuci sayurannya, apa yang akan kalian masak untuk sarapan pagi ini?" Tanya Kevin yang muncul tiba-tiba dan bersikap sok asik sendiri.
Aku menatap dengan kedua alis yang dikerutkan saling tatap dengan bi Evi saat itu, kami berdua sama-sama kebingungan dan tidak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan oleh Kevin saat ini, dengan cepat aku segera menghampiri dia dan mengambil sayuran itu dari tangan Kevin karena aku juga tidak bisa mempercayai dia begitu saja.
"Eehh, sini biarkan aku saja yang melakukannya, anda tuan muda Kevin sebaiknya duduk di sana dan tunggu sampai makanannya siap, apa kamu mengerti?" Ucapku kepadanya.
"Tapi aku ingin membantumu, aku sudah bangun lebih pagi sengaja untuk membantumu saat ini jadi kamu tidak bisa melarangku," balas dia begitu saja sambil melarang aku yang hendak mengambil sayuran itu dari tangannya.
Aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan kesal lalu membiarkan dia melakukannya sendiri dan apa yang terjadi justru dia malah membuka kran air terlalu besar sekaligus hingga menyebabkan air menyemprot kemana-mana dan dia berteriak dengan tangannya yang berusaha menutup kran air itu.
"AA....aahh..Klara kenapa ini aahhh!" Teriak dia sambil terus memanggil namaku meminta tolong padaku saat itu.
Aku yang melihat dia terlihat hendak menutup kran airnya dengan cepat langsung saja berlari menghampiri dia lagi dan segera menutup kran airnya secepat yang aku bisa saat itu aku juga berusaha untuk menarik Kevin agar menjauh dari sana.
"Astaga ..apa yang sudah dia lakukan aahhh benar-benar," ucapku menggerutu segara mematikan kran airnya.
Tapi sayangnya disaat aku baru saja selesai mematikan kran airnya aku sangat kesal dan hendak berbalik sekaligus menatap ke arahnya saat itu tapi karena di bawah lantai sudah terdapat banyak air karena kejadian sebelumnya alhasil malah aku yang hampir terpeleset saat itu, namun dengan cepat Kevin meraih tubuhku dan dia berhasil menahan aku saat itu.
"Kau ..semua ini karenamu, aku kan sudah bilang jika tidak bisa kau duduk saja jadi seperti ini kan...aaahhh" ucapku yang tengah bicara dan malah langsung terpeleset begitu saja.
"Eehhh...Klara awas," ucap Kevin kepadaku saat itu.
Aku kaget melihat dia bisa membantu aku seperti itu dan yang lebih membuat aku kaget juga tidak menduga saat itu ada tuan Arfanka yang mihat kejadian dimana Kevin menahan tubuhku dan dia langsung berdehem cukup keras beberapa kali.
"Ekmm...ekmm.." ucapnya kepadaku saat itu.
Aku dan Kevin dengan cepat kembali berdiri tegak dan dia masih terlihat menanyakan keadaanku, sedangkan entah kenapa saat itu tuan Arfanka sendiri justru terlihat menatapku dengan tajam dan dia malah menyuruhku untuk menjauh dari Kevin sedang Kevin sendiri malah menarik tanganku sampai tiba-tiba saja dia melepaskan jaket putih yang selalu dia pakai dan malah memakaikannya kepadaku dengan cepat di hadapan tuan Arfanka sendiri.
"AA...ahh..tuan, maafkan aku dapurnya agak sedikit berantakan karena aku, aku akan membersihkannya silahkan anda duduk dahulu," ucapku menyambutnya saat itu.
"Kemari kau jangan berada dekat dengan orang sepertinya." Balas tuan Arfanka kepadaku saat itu.
Aku menatap dengan kebingungan serta kedua alis yang dikerutkan bersamaan saat itu, tidak mengerti dengan apa yang dia pikirkan dan apanyang tuan Arfanka sendiri maksud kepadaku saat itu, padahal aku hanya berdiri di samping Kevin saja.
"Eehh...apa tuan?" Ucapku dengan bingung dan mata yang terbuka lebar saat itu.
__ADS_1
"Kemari atau aku akan memecat mu!" Ancam tuan Arfanka begitu saja.
Tentu saja ketika mendengar dia mengancamku begitu aku sangat takut sebab aku tahu bahwa tunggakanku padanya masih sangat banyak, terlebih adikku Kirei juga dibawah biaya darinya aku tidak berani untuk melawan ucapan atau melanggar perintah darinya, dengan cepat aku segera hendak pergi dari sana tapi Kevin malah menahan tanganku.
"Tunggu Klara, ini pakai ini dahulu jangan biarkan siapapun melihatnya," ucap Kevin memakaikan jaket miliknya padaku saat itu.
Aku menatap semakin heran dan penuh dengan kebingungan di hadapan dia kakak beradik ini yang memberikan sikap aneh dihadapanku sampai tidak lama kemudian justru malah terdengar keributan dari luar dan muncullah seorang wanita dengan pakaian glamor, kacamata hitam dan sebuah tas kecil di tangannya.
Dia langsung berlari menghampiri tuan Arfanka lalu memeluknya dengan erat begitu saja, tuan Arfanka sendiri juga tidak berkutik sedikit pun dia hanya menatap kepadaku sekilas sedangkan wanita itu terus bermanja dengannya di hadapan kami semua.
"Aaahhh... Arfanka sayang, lihatlah penjagamu di depan menghadang ku, mereka belum tahu siapa aku, tolong jelaskan pada mereka semua bahwa aku adalah tunanganmu dan aku bisa masuk ke rumah calon suamiku kapan saja, ayo Arfanka aku sangat kesal karena mereka semua tidak mempercayai aku," ucap wanita itu sambil terus memeluknya.
"Kenapa hatiku terasa sakit, melihat tuan Arfanka di peluk wanita lain," batinku saat itu.
Aku juga tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya aku rasakan saat itu, suasana disana terasa sangat canggung bahkan tuan Arfanka sendiri tidak mau bicara padahal aku sangat ingin mendengar ucapan darinya, ingin mendengar secara langsung kebenarannya apakah wanita itu sungguh tunangannya yang bernama Riska sama dengan yang diucapkan oleh Kevin semalam padaku atau bukan.
Hingga tidak lama ketika wanita itu terus mendesaknya tuan Arfanka pun langsung membentak penjaga dia saat itu dengan nada yang cukup tinggi dan sangat keras seakan dia sangat marah dengan para penjaga itu.
"Kalian jangan pernah melarangnya lagi untuk masuk ke rumah ini, apalagi menyeret dia seperti yang aku lihat barusan, dia adalah Riska, selebritis terkenal dan tunanganku, apa kalian mengerti!" Bentak tuan Arfanka yang langsung dianggukkan oleh semua orang yang ada disana.
Mereka semua juga terlihat agak kaget tapi tetap segera membubarkan diri karena tidak ingin terkena semprotan dari tuan Arfanka bahkan bi Evi juga hendak menarikku pergi dari sana tapi sayangnya Kevin masih menggenggam tanganku dan aku berbicara kepadaku supaya dia melepaskan tanganku dan aku juga terus berusaha melepaskannya sendiri meski itu sangat sulit.
Meski aku sudah berusaha untuk melepaskan tanganku darinya tapi dia terus saja menggenggam tanganku dengan kuat, dan dia justru malah mengabaikan ucapanku sampai akhirnya wanita bernama Riska itu justru malah menoleh ke arahku sambil bertanya tentangku saat itu.
"Eehh....sayang siapa dia? Kenapa ada wanita muda di dalam rumahmu, tidak mungkin dia pelayanmu bukan?" Tanya wanita itu sambil menatap sinis padaku.
Mendapatkan tatapan seperti itu darinya aku sudah takut dan menelan salivaku sendiri susah payah dan aku juga bingung bagaimana cara menjelaskan pada wanita itu, bahwa aku memang sebenarnya pelayan disana.
Tapi tiba-tiba saja malah Kevin yang membalas pertanyaan dari wanita itu dan dia malah mengatakan bahwa aku pacarnya yang membuat tua Arfanka menatap tajam dan aku juga sama kagetnya saat itu, hanya wanita yang bernama Riska itu saja yang tiba-tiba saja terlihat langsung berbicara dengan baik kepadaku saat itu.
"Kenapa kalian diam saja, siapa dia sebenarnya?" Tanya Riska lagi saat itu.
"Dia pacarku." Balas Kevin begitu saja membuat aku langsung menoleh ke arahnya dengan kaget.
"Apa? Ahaha...kau tidak bohong kan manamungkin kau punya pacar, kenapa aku tidak tau?" Balas Riska yang sebelumnya tidak bisa mempercayai hal itu.
"Lihat aku menggandeng tangannya dan dia juga memakai jaket mu, apa menurutmu aku bisa memberikan barang mahal dan kesayanganku kepada wanita sembarangan, apalagi menggandeng tangan wanita, tidak mungkin aku memegang tangan seorang pelayan atau wanita sembarangan lainnya, kau lebih tahu bagaimana aku Riska," balas Kevin sambil mengangkat tangan kami saat itu.
__ADS_1
Aku sungguh tidak habis pikir dan aku ingin sekali untuk mebantah ucapannya saat itu namun dengan cepat Kevin malah menarik aku dan membawaku pergi dari sana secepatnya, sampai aku tidak bisa mengelak lagi darinya.
"Sudahlah kalian urus untuk pertunangan kalian itu aku akan pergi ke kantor untuk membuat nama baru bagi direktur umum disana, aku juga akan memperkenalkan pacarku ini pada ayah segera, kau harus hadir nanti Riska, dan kau juga kakak." Ucap Kevin membuat aku sagat kaget.
Aku dibawa pergi oleh Kevin keluar dari rumah tua Arfanka begitu saja dan aku terus berusaha berontak darinya namun dia malah menggendong aku begitu saja dan membawa aku masuk ke dalam mobil dengan bajuku yang sedikit basah saat itu.
"Ehh..Kevin lepaskan aku, Kevin apa yang kamu lakukan...lepaskan Kevin!" Teriakku berusaha untuk berontak saat itu.
Hingga kami sudah berada di dalam mobil Kevin dan dia menutup pintu mobil cukup keras, aku menatap dengan perasaan kesal dan tidak menentu padanya, aku sungguh tidak habis pikir dengan apa yang dia inginkan, sampai melakukan kebohongan besar seperti ini, pasalnya bukan hanya wanita itu saja yang sudah dia bohongi tapi tuan Arfanka dan semua pelayan yang ada disana juga tertipu dengan ucapannya yang mengatakan bahwa kami berpacaran saat itu.
"Kevin apa yang kamu lakukan kenapa kau mengatakan kau dan aku sepasang kekasih di hadapan mereka? Apa kamu gila ya?" Ucapku merasa sangat emosi saat itu.
"Klara harusnya kau berterima kasih kepadaku, aku sudah menyelamatkan kau dari Riska, menurutmu jika dia tahu bahwa Arfanka yang membawamu masuk ke dalam rumah itu, lalu kau adalah pelayannya apa dia akan senang padamu, dia tidak akan membiarkan itu dia akan menganggap kau benalu dan saingan untuknya, dan dia bukan lawanmu dia tidak secantik dan sebaik kelihatannya harusnya kau tau itu." Balas Kevin menjelaskan semuanya kepadaku.
Aku langsung terdiam setelah mendengar penjelasan darinya karena sekarang aku sudah mengerti apa alasan Kevin melakukan semua itu, sehingga tidak ada alasan lagi untuk aku marah dengannya namun tetap saja mengatakan dan berbohong seperti tadi bukanlah solusi yang baik, apalagi dia mengataka bahwa dia akan memperkenalkan aku dengan ayahnya tentu saja aku tidak bisa melakukan semua itu.
"Kevin aku tahu mungkin niatmu itu baik, tapi cara seperti tadi dengan membohongi mereka seperti itu tetaplah tidak baik, apa kamu tidak berpikir dampak apa yang akan terjadi jika kamu mengatakan itu? Aku tidak bisa bekerja lagi dengan tuan Arfanka dan bagaimana aku melunasi semua hutang yang aku miliki padanya, terlebih adikku dia...dia masih sangat membutuhkan uang saat ini, aku tidak bisa pergi begitu saja," balasku kepadanya.
Yang aku beratkan adalah adikku hanya itu, jika tidak seperti ini aku mungkin bisa saja merelakan pekerjaan ini dan bisa bekerja di tempat lain lalu melunasi semua hutang dengan perlahan kepada tuan Arfanka nantinya namun sekarang setelah apa yang terjadi kepada Kirei aku tidak bisa melakukan semua itu.
"Tenang saja aku akan melunasi semua hutangmu, kau bisa bebas dari Arfanka, dia juga tidak bisa terus menahanmu di rumahnya dan menjadikan kau pelayan seumur hidup, kau harus menikmati dunia luar bukan?" Balas Kevin padaku.
Aku benar-benar ingin tertawa sangat lebar ketika mendengar ucapannya, dia berkata dengan begitu mudahnya ingin membantu aku melunasi semuanya pada tua Arfanka tanpa dia tahu seberapa banyak uang yang tuan Arfanka habiskan untuk menolongku, apalagi uang yang di ambil ibuku sangat banyak.
"Ahaha...Kevin apa kau tahu berapa banyak uang yang tuan Arfanka habiskan untukku? Adikku dirawat di sebuah rumah sakit jiwa yang terkenal dia mendapatkan pasilitas VIP disana, terlebih uangnya di bawa kabur ibuku sebanyak satu milyar dollar, ini bukan rupiah lagi tetapi dollar Kevin, darimana kau bisa mendapatkan uang sebanyak itu sedangkan kau saja baru bekerja saat ini, apa kau gila ya?" Balasku mengatakan kepadanya.
Dia malah menatap menyepelekan kepadaku saat itu dan dia tetap menyanggupi semuanya, bahwa dia tetap akan mengganti semuanya pada tuan Arfanka.
"Hanya itu saja? Haha...itu sangat mudah untukku bahkan tidak ada apa-apanya." Balas Kevin kepadaku yang membuat aku kaget mendengarnya.
"Hah? Jangan bercanda Kevin itu tidak sedikit, sudahlah aku akan mencari solusi sendiri aku akan mencari pekerjaan patuh waktu di beberapa tempat dan membawa adikku pulang, aku bisa merawatnya sendiri nanti," balasku kepadanya.
"Aku bilang diam, aku bisa melunasi semuanya, apa kau meragukan aku, aku ini putra kandung tuan Briantoro dan aku juga tidak benar-benar pengangguran, kau saja yang tidak tahu, lihat ini kartu ini tanpa limit kau bisa memegangnya dan bayar semuanya yang kau inginkan," ucap dia sambil memberikan sebuah kartu ATM yang berwarna gold kepadaku saat itu.
Aku sangat kaget mendengarnya dan tanganku saja bahkan bergetar memegangi kartu itu, aku tidak bisa memeganginya dan aku juga sudah percaya bahwa dia memang lebih kaya dibandingkan tuan Arfanka, segera saja aku mengembalikan kartu itu pada Kevin secepatnya.
"AA ..AA..ahh..Kevin aku tidak terbiasa memegangi kartu seperti ini, kau ambil kembali saja dan aku berterima kasih jika kau mau membantuku lepas dari tuan Arfanka, tapi nanti aku janji aku akan membayarnya kepadamu, aku akan membayarnya sedikit demi sedikit dan kau harus menerima semua uang dariku nantinya, bisa begitu kan?" Balasku kepadanya sambil memberikan kembali kartu itu padanya.
__ADS_1
"Baiklah apapun yang kau inginkan, sekarang kita tunggu saja sampai mereka pergi dan kau bisa mengganti pakaianmu, setelah itu kau harus ikut ke apartemen milikku, kau bisa tinggal disana," balas dia yang hanya bisa aku anggukan saat itu.