Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Amarah Sekretaris Jeno


__ADS_3

"Aaaaarrrtkkkkkhhhhh...dasar sekretaris Jeno sialan!" Teriakku sangat keras dan memakai sekretaris Jeno dengan keras.


Setelah itu aku barulah bisa merasa lebih baik dan merapihkan pakaiankunyang sedikit kusut lalu pergi ke dapur untuk membuatkan dia kopi yang dia inginkan sebelumnya, aku menambahkan banyak sekali garam ke dalamnya bukanlah gula karena sangat kesal dan ingin memberikan pembalasan yang setimpal kepada orang yang sudah mempermainkan aku sebelumnya.


Segera aku bawakan kopi dan cemilan yang sudah dia minta kepadaku sebelumnya, aku sudah tersenyum senang dan tidak sabar untuk melihat reaksi yang akan dia berikan kepadaku ketika dia mulai menyeruput kopi dengan rasa asin yang teramat sangat ini, aku langsung mengetuk pintu ruangan kerjanya terlebih dahulu lalu segera menaruh kopi juga cemilan tersebut di atas mejanya.


"Silahkan sekretaris Jeno, ini kopi dan cemilan yang anda minta" ucapku sambil segera pergi dari sana mengambil lap dan mulai membersihkan meja yang tidak jauh berada di ruangan itu juga.


Sambil membersihkan meja aku terus saja berusaha untuk mengintip ke arah sekretaris Jeno yang saat itu masih saja terlihat sibuk dengan pekerjaannya dan dia sama sekali tidak memperhatikan cemilan juga kopi yang sudah aku berikan kepada dia sebelumnya, aku sungguh merasa cukup gemas kepadanya karena sudah sangat tidak sabar untuk melihat reaksinya saat itu.


Hingga tidak lama akhirnya dia tanpa sadar mulai meraih kopi buatankunitu lalu langsung saja dia menyeruput kopi tersebut cukup banyak sampai akhirnya dia merasa sangat keasinan sampai gelasnya jatuh ke bawah dan pecah berhamburan, aku tidak bisa menahan tawa lagi meski melihat gelasnya pecah aku tidak perduli karena dia sungguh sangat menjengkelkan sekali bagiku.


"Fffttt..hahahaha....rasakan itu, siapa suruh kau terus saja membuat aku jengkel dan memerintah kepadaku seenaknya seperti itu, maka itulah balasan yang setimpal untukmu hahaha...." Ucapku sambil terus tertawa dengan sangat puas.


"Cuihhh.....kopi macam apa itu, apa kau mau membunuh aku yah?" Bentak sekretaris Jeno dan aku mengabaikannya.


Aku benar-benar puas dan sama sekali tidak perduli lagi meski dia membentak aku dengan membelalakkan matanya dengan sangat lebar kepadaku, bagiku aku sudah terbiasa mendapatkan tatapan tajam seperti itu, lagipula dia bukan tuan Arfanka dia bukan orang yang harus benar-benar aku turuti semua keinginan dan perintahnya sebab aku sama sekali tidak memiliki hutang Budi atau hutan uang kepadanya.

__ADS_1


Dia terlihat sangat marah kepadaku dan langsung saja menyuruh aku untuk membersihkan pecahan gelas yang berserakan di lantai saat itu.


"Klara cepat kau bereskan semua kekacauan yang kau sebabkan ini, jika aku kembali semuanya belum selesai aku akan memecatmu dan mengembalikan kau pada Arfanka!" Bentak sekretaris Jeno kepadaku.


Dia kemudian langsung pergi meninggalkan ruangannya entah akan pergi kemana, aku juga tidak menanyakannya sama sekali karena memang tidak perduli dengannya, dia terus marah sampai seperti itu kepadaku tanpa dia rasakan dan sadar dengan kesalahan sendiri yang sudah dia lakukan kepadaku, dimana dia terus menyuruh aku seenaknya dan terus saja memaksa aku melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu.


"CK....persetan denganmu sekretaris Jeno, aku sama sekali tidak perduli meski kau akan mengadukan semuanya kepada tuan Arfanka, lagi pula aku bukan karyawanmu aku datang ke sini hanya karena kebetulan tuan Arfanka tidak mengantarkan aku langsung kembali ke rumah, dan kau seharusnya bersyukur aku mau membantumu dengan suka rela! Huh...dasar manusia tidak tahu terimakasih" gerutuku terus saja merasa kesal dengannya.


Aku segera membersihkan pecahan gelas disana dengan sapu dan secepatnya membersihkan lantai itu juga hingga tidak lama kemudian setelah aku baru saja selesai membereskan semuanya tuan Arfanka datang ke ruangan itu bersama dengan sekretaris Jeno saat itu.


Aku sedikit merasa cemas karena melihat tuan Arfanka datang bersama sekretaris Jeno, pasalnya aku hanya takut di belakangku sekretaris Jeno akan mengatakan hal-hal buruk tentang semua perbuatan yang aku lakukan kepadanya padahal semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan semua yang sudah dia lakukan kepadaku.


"Semua ini karenamu, Jeno yang memaksaku untuk datang kemari dan melihat hasil dari kerjamu yang membuat Jeno sangat kesal, sekarang aku tanya kepadamu, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya tuan Arfanka begitu saja kepadaku.


Saat mendengar apa yang dia katakan padaku sebelumnya, aku rasa sekretaris Jeno memang sudah mengatakan tentang aku kepada tuan Arfanka sebelumnya, menurutku dia akan tetap mempercayai sekretaris Jeno apapun alasan dan apapun yang aku katakan kepadanya, sebab sudah jelas sekali sekretaris Jeno adalah orangnya dia sahabat sekaligus sekretaris kepercayaannya di kantor ini, sedangkan aku bukan siapa-siapa.


Hanya seorang pelayan dengan keberanian yang sangat tinggi untuk melawan seorang sekretaris Jeno dan berlaga memberikan dia sebuah pelajaran, padahal justru aku sendiri lah yang akan menerima semua dampak buruknya yang aku timbulkan.

__ADS_1


Tidak ada cara lain lagi yang bisa aku lakukan selain dari meminta maaf saja kepadanya dengan cepat, aku tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menjelaskan apa yang terjadi denganku kepada tuan Arfanka disana, dia tetap tidak akan berada di pihakmu apapun alasan dan apapun sebabnya.


"Tuan...aku minta maaf, aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuat sekretaris Jeno kesal kepadaku, hanya saja tadi aku memang tidak bisa mengontrol emosi dalam diriku dan aku melakukan sedikit hal yang buruk kepadanya aku tahu aku salah, maka dari itu aku minta maaf sekretaris Jeno" balasku kepadanya dengan cepat.


"Apa kau pikir meminta maaf dengan cara seperti itu saja cukup, untuk menggantinya banyaknya waktuku yang terbuang akibat ulang isengmu itu" bentak sekretaris Jeno yang sangat kencang kepadaku.


Kedua tangan sudah aku kepalkan dengan kuat menahan emosi di dalam diriku, sebab aku tahu bahwa aku tidak bisa melawan dia di hadapan tuan Arfanka seperti ini, aku tidak ingin membuat tuan Arfanka menjadi marah kepadaku atau membenciku hanya karena masalah yang awalnya hanya hal sepele saja diantara aku dan sekretaris Jeno saat itu.


"Huuh ..... Sekretaris Jeno, kau pikir aku marah dan melakukan semua itu tanpa sebab? Aku melakukan semua itu hanya karena aku....aahhh sudahlah semuanya tidak penting harus bagaimana aku meminta maaf kepadamu agar kau bisa menyelesaikan semua permasalahan ini dan tidak lagi melibatkan aku di dalamnya?" Ucapku menahan diriku untuk menjelaskan saat itu.


Aku benar-benar merasa putus asa dan tidak karuan, aku sama sekali tidak berani untuk menjelaskan semuanya di hadapan tuan Arfanka yang ada disana karena aku memiliki banyak sekali rasa ketakutan terhadap dirinya saat itu, sehingga aku pikir mungkin aku harus tetap mengalah dan menerima semua ini dari sekretaris Jeno.


"Baiklah aku akan memaafkanmu jika kau meminta maaf dengan bersujud di bawah kakiku bagaimana apa kau mau hah?" Ucapnya kepadaku.


Aku langsung membelalakkan mataku dengan sangat lebar dan tidak menyangka bahwa dia bisa berbicara seperti itu hanya karena sebuah masalah kecil saja.


Aku memang tidak bisa melawan dia dihadapan tuan Arfanka karena aku sangat menghormati dia sebagai orang yang sudah membantu aku dalam banyak hal tetapi jika untuk semua itu aku harus merendahkan diriku di hadapan seorang pria sombong seperti dirinya di tambah ini juga tidak sepenuhnya kesalahanku, aku tentu tidak akan memberikan harga diri di dalam diriku, harta paling berharga yang aku miliki satu-satunya, tidak akan pernah aku merendahkan diriku sendiri kepada orang lain, apalagi orang seperti sekretaris Jeno ini.

__ADS_1


"Sekretaris Jeno jangan kau pikir aku akan terus diam saja dan tidak melawan dirimu hanya karena kau adalah sahabat dari tuan Arfanka, aku bisa menghajarmu jika aku ingin, aku bisa melakukan semuanya kepadamu jika kau terus membuat aku kesulitan dan menahan amarah sampai seperti ini lagi" ucapku memberikan dia peringatan terlebih dahulu.


Dia menatap tajam kepadaku seakan dia mengira semua peringatan yang aku lontarkan kepadanya hanyalah bualan mulutku saja, tanpa dia tahu bahwa aku adalah wanita yang sangat berbeda dengan apa yang dia pikirkan selama ini tentang seorang wanita dalam hidupnya.


__ADS_2