
Aku dengan cepat berusaha untuk menangkap tas yang dia lemparkan ke belakang secara sembarangan saat itu, untung saja aku berhasil menangkap tas nya jika tidak sudah bisa di pastikan orang sepertinya akan memarahi aku lebih parah di bandingkan tuan Arfanka.
Dia juga langsung saja menerobos masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa dengan merentangkan kedua tangannya juga menyilangkan kakinya bak seorang bos, dan dia berlagak seakan dia adalah pemilik rumah nya sendiri, disaat aku memberikan tas miliknya dan menaruh tas di sampingnya dia langsung saja menyuruh aku untuk menyiapkan minum saat itu.
"Tuan ini tas anda" ucapku kepadanya,
"Heh ... Kau kau pelayan di rumah ini kan?" Tanya pria sombong dan sangat menyebalkan itu.
Aku harus terus berusaha sabar dalam menghadapinya walau dia sangat menyebalkan sekali, bahkan hanya dengan mihat wajahnya saja itu sudah membuat aku sangat jengkel dan kesal, rasanya aku ingin menghajar dia dengan sekuat tenagaku saat itu dan ingin membantingnya ke lantai juga menjewer telingaku sampai putus, tapi lagi dan lagi itu semua hanya akan terjadi di dalam bayanganku saja, atau di dalam sebuah mimpi.
Karena pada kenyataannya aku tidak akan berani melakukan itu apalagi dia adalah adik dari tuan Arfanka aku tidak bisa berbuat macam-macam kepadanya, sehingga saat dia menanyakan itu kepadaku aku langsung membalasnya dengan anggukan dan memasang senyum kecil yang terus aku paksakan.
"Heh....jawab aku dengan ucapan kenapa kau malah memberikan senyum jelekmu itu, aku ini haus cepat ambilkan minuman yang segar!" Ucap dia menghina aku dan langsung memerintahkan aku.
Bahkan tuan Arfanka sendiri saja tidak pernah memerintahkan aku sambil menghina seperti ini, pria ini benar-benar lebih menjengkelkan di bandingkan tuan Arfanka dan dia tidak bisa untuk aku maafkan, dia sangat menjengkelkan sekali dan aku tidak bisa terus menahan emosi dalam menghadapinya saat itu.
"Baik tuan saya akan membuatkannya" balas ku sambil segera pergi dari sana dengan cepat.
Aku pergi dengan menghentakkan kakiku sangat keras dan menggerutu uring-uringan sangat kesal kepada pria yang sangat menjengkelkan itu.
"Aishh... benar-benar mereka ini kakak dan adik sama saja, sama-sama sangat menjengkelkan dan aneh, mereka berdua hanya bisa membuat aku kesal, jengkel dan naik pitam dalam setiap saat, ketika melihat wajahnya saja" gerutuku sambil pergi ke dapur dengan cepat.
Aku yang malas untuk membuatkan minuman untuknya, langsung saja aku ambil es batu dan memasukkannya pada air mineral biasa kepada gelas tersebut dan segera pergi memberikan minuman segar dan dingin tersebut kepadanya, saat aku sampai terlihat wajahnya menatap aneh dan mengerutkan kedua alisnya dengan kesal melihat aku yang kembali hanya dengan membawa sebuah gelas penuh dengan es batu kotak yang kecil-kecil saat itu.
"Eehhh...kenapa kau menyajikan air biasa, aku kan bilang aku ingin minuman yang segar apa kau tuli yah?" Bentak pria bernama Kevin tersebut yang cukup sangat kencang kepadaku saat itu, bahkan membuat aku sendiri bergidik ngeri mendengar bentakannya sesaat kala itu.
"AA..aahh..tuan bukankah air mineral ini juga terlihat sangat segar, aku sudah menambahkan banyak sekali es batu ke dalamnya, itu bisa membuat mulutmu terasa segar dan dingin juga sangat aman untuk kesehatan dirimu jika banyak meminum air mineral" balasku mengatakan alasan terbaik kepadanya.
Tidak ada cara lain selain dari mengikuti cara main dia sendiri, aku harus melakukan itu dan berharap dia tidak akan menyuruhku lagi, karena aku memiliki pekerjaan lain yang jauh lebih penting di bandingkan harus berhadapan dengan orang sepertinya saat ini.
Aku pikir saat itu aku sudah terbebas dan bisa segera pergi ke kamarku untuk menghindar darinya, namun disaat aku baru saja hendak mengatakan permisi kepadanya dia sudah kembali membentakku dan menyuruhku melakukan hal lain tanpa henti saat itu, bahkan aku sampai merasa sangat kesal dan pegal di tanganku karena dia sudah meminta aku untuk menggantikan minumannya berkali-kali membuat aku harus terus menerus memeriksa kesehatan mentalku, jika tidak aku benar-benar akan mati karena terus di perintah oleh ya tanpa henti.
__ADS_1
Atau jika tidak mati bisa saja aku menjadi wanita gila karena pikiranku terlalu stress akibat keinginannya yang tidak pernah benar, aku sudah mengambilkan berkali kali minuman dengan jenis minuman yang berbeda kepadanya, mulai membuat jus buah, minuman kaleng, dan membuat minuman hangat, dia juga meminta di buatkan kopi juga minuman yang lainya yang terdapat di rumah tersebut.
Tetapi semua yang dia lakukan itu tidak berguna dan sama sekali tidak di cicipi sedikit pun oleh Kevin karena sejak awal dia hanya dengan sengaja berkencan mengerjai Klara saja karena dia merasa bosan menunggu Arfanka yang juga masih belum kembali ke kediamannya hingga selarut itu.
Sedangkan aku sendiri merasa sangat emosi dan terus mengatur nafasku yang menderu sebab, dia sudah memerintahkan banyak hal kepadaku, kini balik aku yang akan membentak dia dan melawannya, meski aku tahu dia mungkin akan merasa kesal dan yang lainnya kepadaku, tetapi aku tidak bisa terus berada di bawah kekuasaan pria yang sangat semena-mena terhadap karyawan seperti aku ini.
"Heh...kenapa kau masih disini buatkan lagi aku minuman yang sama dengan rasa yang berbeda!" Ucap Kevin dengan sangat kencang menyuruhku lagi saat itu
Aku menarik nafas yang panjang dan berusaha untuk membuangnya perlahan aku menatap wajahnya dengan melipatkan kedua bibirku dengan kuat dan menggigitnya dengan gemas, segera aku mulai bicara kepadanya ketika dia sudah menatap aneh dengan mengerutkan kedua alisnya kepadaku saat itu.
"Heh....apa? Kenapa kau malah menatapku dengan tatapan seperti itu, apa kau sudah sangat berani melawan aku ya?" Bentaknya lagi kepadaku.
Berkali-kali mendapatkan bentakkan dan terus di perintah oleh ya bak seperti di kerjai karena dia hany terus meminta aku membuatkan minuman saja untuknya, padahal semua meja sudah di penuhi dengan minuman yang aku buat untuknya tetapi dia sama sekali tidak mencicipi semua itu sedikit pun.
Padahal jika memang dia tidak ingin minuman yang aku buat, seharusnya dia memberitahuku terlebih dahulu, jenis atau nama minuman yang sebenarnya ingin dia makan saat itu, bukannya mah dia terlihat memerintah aku tanpa henti dan tanpa menjelaskan apa yang ingin dia pinta dariku secara jelas.
"Tuan... sebenarnya apa yang ingin kau minum, bisakah kau mengatakan apa nama minuman itu padaku, agar aku tidak salah lagi dalam mengambilkan minumannya kepadaku" ucapku dengan nada bicara yang cukup tinggi membalasnya saat itu.
Kedua tanganku sudah aku kepal dengan sangat kuat dan aku berusaha untuk tetap mengontrol diriku saat itu sampai tidak lama ketika tuan Kevin tersebut hendak mengatakannya tuan Arfanka akhirnya kembali ke rumah dan entah kenapa aku merasa sangat senang dia akhirnya datang kembali ke kediamannya.
Aku sedikit merasa bingung dan mengerutkan kedua alisku dengan menatap heran sebab wajah tuan Arfanka terlihat sangat kesal dan tidak senang ketika dia masuk ke dalam rumah dan melihat sosok adiknya Kevin yang duduk di sofa miliknya dengan sangat sombong sekali, bahkan aku juga merasa kesal melihat wajahnya tersebut.
Kevin sendiri yang melihat tuan Arfanka sudah kembali ke rumahnya dia langsung saja bangkit berdiri dan berjalan mulai menghampiri tuan Arfanka saat itu.
"Aahh...kakak akhirnya kau kembali juga, aku sudah menunggumu disini sangat lama, bahkan lihatlah banyak minuman yang sudah aku pesan untukmu, ayo duduklah aku datang kemari hanya untuk menyapamu saja" balas Kevin kepadatuan Arfanka sambil membersihkan tuan Arfanka untuk duduk di sampingnya saat itu.
Tuan Antonio sama sekali tidak memberikan ekspresi wajah yang bersahabat kepadanya, dia hanya terlihat datar dan penuh kekesalan hingga duduk di samping adiknya Kevin saat itu, namun yang tidak aku sangka adalah, tuan Arfanka justru malah mengusir adiknya tersebut dengan perkataan yang sangat kasar sekali, terlihat sangat jelas bahwa mereka tidak aku saat itu, dan aku tidak tahu apa yang terjadi diantara dua kakak beradik ini hingga mereka terlihat tengah bertengkar seperti itu.
"Sebaiknya kau keluar dari rumahku, karena tidak ada tempat untukmu masuk ke dalam sini, dan kau Klara lain kali seharusnya kau tidak mengijinkan orang asing masuk ke dalam kediamanku ini!" Ucap tuan Arfanka memperingati aku dengan menatapku cukup kejam.
Aku semakin merasa aneh tidak karua, apalagi disaat tuan Arfanka mengatakan bahwa aku tidak boleh membukakan atau mempersilahkan orang asing masuk ke dalam rumahnya, tetapi yang saat ini aku bawa masuk adalah adiknya sendiri tentu saja aku pikir tuan Kevin ini bukanlah orang asing sama sekali.
__ADS_1
"AA....a..ahh..baik tuan, tetapi bukankah tuan muda Kevin ini adikmu kenapa kamu seakan tidak senang dia datang dan secara tidak langsung mengatakan padaku untuk mengusirnya dari sini?" Tanyaku kepadanya masih memastikan.
Namun saat itu juga dengan cepat tuan Arfanka langsung menoleh ke arahku dengan memberikan tatapan yang sangat tajam dan menusuk bahkan aku sendiri langsung memalingkan pandangan dengan cepat karena tidak tahan melihat ekspresi wajahnya yang nampak menahan banyak kekesalan juga emosi di dalam dirinya.
"Kau sebaiknya keluar sekarang Kevin, jika kau tidak mendengarnya maka aku akan menyuruh Klara menyeretmu keluar" ucap tuan Antonio memperingatinya.
Tapi sayangnya Kevin ini memang orang yang tidak pantang menyerah dia terus saja bersih keras untuk tinggal di rumah tersebut bersama tuan Arfanka padahal tuan Arfanka sendiri yang sudah mengusirnya saat itu.
Aku sendiri juga tidak tahu harus berbuat apa sekarang karena benar-benar tidak mengerti dengan masalah apa yang mereka bicarakan saat itu, pembicaraan diantara kedua kakak beradik ini sulit di mengerti olehku dan mereka berdua terlihat saling bersaing satu sama lain, namun aku sendiri sama sekali tidak tahu apa yang sedang mereka perebutan dan apa yang membuat mereka mempermasalahkan hal ini hingga mereka berdua memutuskan untuk diam sejenak.
"Tidak aku tidak akan pergi wanita lemah sepertinya mana kuat menyeret aku keluar" ucap Kevin yang masih saja tidak bisa keluar dari rumah tuan Arfanka saat itu.
"Kevin kau akan keluar atau aku akan menendang mu secara langsung dari sini, hingga kau mau untuk keluar" ucap tuan Arfanka balik mengancam dia saat itu.
"Maafkan aku kakak tersayang tetapi karena aku melihat pelayan di rumahmu ini cukup muda dan cantik tentu aku tidak ingin pergi ke hotel atau keluar dari rumahmu ini, aku akan tinggal di sini bagaimana menurutmu?" Ucap Kevin yang dengan sengaja terus saja memancing emosi dari tuan Arfanka.
Kini tuan Arfanka sudah tidak bisa menahan amarah di dalam dirinya lagi, dia langsung saja menarik tangan Kevin dan terus menyeret dia dengan kuat untuk pergi keluar dari rumahnya saat itu, namun sayangnya kekuatan Kevin tidak bisa di sepelekan dia cukup kuat hingga membuat tuan Arfanka sendiri agak kesusahan untuk menyeretnya keluar dari sana.
"Aahhh....kakak kenapa kau tidak mengijinkan aku tinggal disini, hey...lepaskan tanganku, aku akan tinggal di sini bersamamu, aku tidak akan pergi kemana-mana lepaskan aku!" Teriak Kevin sambil berontak dan terus saja berubah melepaskan genggaman taun Arfanka kepada tangannya.
Hingga tuan Arfanka langsung menghempaskan tangan Kevin dengan sangat kencang dan wajah yang terlihat sangat merah padam, aku bahkan merasa sangat ngeri ketika mihat wajahnya yang terlihat begitu emosi saat itu.
"Aaakhhh..kau benar-benar keterlaluan Kevin, kau harus pergi dari sini karena ini rumahku, aku tidak akan mengijinkan siapapun untuk tinggal denganku, apa kau mengerti hah!" Bentak tuan Arfanka sangat kencang, dan dia masih saja berusaha untuk menyeret Kevin keluar dari rumahnya walau itu sedikit sulit,
"Kakakku yang tersayang jika kau terus mengusirku seperti ini, maka aku akan melaporkan pada ayah kita bahwa kau menyewa seorang pelayan yang cantik dan masih muda, dia juga satu-satunya orang yang kau izinkan untuk tingg sepanjang waktu di rumah kesayanganmu ini, bagaimana apa kau yakin masih ingin terus mengusirku?" Ucap Kevin yang mengancam tuan Arfanka.
Ancamannya itu benar-benar sangat efektif, tuan Arfanka sama sekali tidak bisa membuat ayah angkatnya tersebut mengetahui mengenai hal ini, karena jika semua itu bocor kepada telinga ayah angkatnya maka dia kemungkinan besar akan memaksa dia untuk mengusir Klara sedangkan dia tahu bahwa Klara tidak memiliki tempat untuk tinggal lagi semenjak dia mempekerjakannya.
Terpaksa sebab alasan itu tuan Arfanka dengan cepat menyumpal mulut Kevin dan langsung saja membawa dia pergi menaiki tangga dengan kesal dan penuh emosi dia terus membawa masuk Kevin ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan cukup keras.
"Kau ..beraninya kau menantangku Kevin!" Ucap tuan Arfanka sangat emosi.
__ADS_1
Alhasil dia langsung saja menyeret Kevin membawanya untuk menjauh dari Klara karena dia tidak ingin semua itu di ketahui oleh Klara.
"Hey..eumm..eummm..lepaskan aku...hey....brukk" teriakkan Kevin yang sangat kencang juga terus berontak pada tuan Arfanka juga suara benturan pintu yang di banting dengan kencang oleh tuan Arfanka.