
Mereka segera keluar dengan cepat dan setelah berada di luar kamar juga tuan Arfanka yang langsung mengunci pintunya barulah sekretaris Jeno benar-benar merasa bingung dan heran yang bercampur menjadi satu saat itu.
Dia berdiri di luar pintu kamar tuan Arfanka dengan memegangi kepalanya dan tangan satunya berkacak pinggang dengan terus berjalan bolak balik di depan kamar tuan Arfanka saat itu.
"Ahh ... Ini benar-benar di luar dugaan, bagaimana bisa seorang tuan Arfanka bisa melakukan hal semacam itu? Aneh sekali bukan? Dokter apakah kau pikir tuan Arfanka sangat aneh, iya kan dia tidak pernah mau menyentuh wanita manapun sebelumnya tapi sekarang dia justru mau melakukan itu dengan seorang wanita yang dia jadikan pelayan, iya kan aneh bukan?" Ucap sekretaris Jeno yang terus mengajak bicara sang dokter saat itu.
Sedangkan sang dokter sendiri tidak bisa melakukan apapun dan dia hanya bisa mengangguk saja, sebab tidak memahami apa yang diucapkan oleh seorang sekretaris Jeno saat itu, sampai akhirnya dokter pun memilih untuk pergi dari sana secepatnya karena dia juga masih memiliki banyak pekerjaan lain di luar sana.
"Sekretaris Jeno saya harus pergi ke rumah sakit kembali karena banyak pasien yang menunggu disana, dan untuk nona Klara saya rasa dia akan baik-baik saja setelah melakukan hal itu, ini dia hanya perlu meminum obat ini agar bisa mengembalikan tenaganya dan menetralisir efek dari obat tersebut" ucap sang dokter yang membuat sekretaris Jeno merasa bingung dan dia tidak mau di tinggalkan disana seorang diri saja.
Apalagi untuk menunggui orang yang melakukan hal seperti itu, sehingga sekretaris Jeno pun segera mengikuti sang dokter dan mengantarkannya hingga ke pintu keluar.
Sampai ketika dokter itu sudah pergi dari sana kini sekretaris Jeno merasa bingung sendiri sambil memegangi obat di tangannya itu dan dia hanya bisa berdiri di depan sofa lantai bawah dengan perasaan yang tidak karuan dan tidak bisa diam saat itu.
Dia terus saja membayangkan apa yang akan dilakukan oleh tuan Arfanka kepada Klara di dalam sana dan dia tidak mampu lagi membayangkan hal lainnya, dia hanya takut tuan Arfanka akan memperlakukan dia sangat kasar, dan itu membuat dia merasa tidak tenang juga sangat mencemaskan Klara.
__ADS_1
Sedangkan disisi lain tuan Arfanka justru belum melakukan apapun dan dia benar-benar masih harus mempersiapkan dirinya sendiri, dia menarik nafas yang panjang dan membuangnya dengan perlahan dan dia terus mengulangi hal itu berkali-kali untuk menenangkan dirinya dan mempersiapkan diri untuk melakukan hal itu pada Klara.
Dan Klara sendiri dia sudah mulai melepaskan pakaiannya sendiri dengan paksa seperti itu dan wajahnya terlihat begitu meras dengan terus meminta tolong kepada tuan Arfanka juga memegangi tangannya dengan erat saat itu, bahkan di saat tuan Arfanka berusaha untuk mengontrol dirinya, justru malah Klara sendiri yang menarik tangan tuan Arfanka secara tiba-tiba dengan begitu cepat.
Sampai akhirnya tuan Arfanka pun jatuh ke ranjang tersebut dan wajah mereka saling berdekatan saat itu, bahkan deru nafas Klara yang memburu sudah bisa dirasakan dengan jelas menerpa wajahnya kala itu.
"Klara aku melakukannya karena kau sendiri yang meminta, namun tenang saja aku tidak akan merusakmu sama sekali, ini hanya ciuman sederhana saja, sama seperti yang dikatakan oleh dokter, ini hanya untuk menolongmu, aku akan tetap mengontrol diriku sendiri" ucap tuan Arfanka sebelum dia benar-benar menempelkan bibirnya pada bibir milik Klara saat itu.
Entah apa lagi yang mereka lakukan setelahnya yang pasti setelah tuan Arfanka melakukan apa yang dikatakan oleh sang dokter itu benar-benar berfungsi dan membuat Klara semakin membaik dengan perlahan, kini tubuh dia sudah tidak sepanas sebelumnya dan wajahnya pun sudah kembali berangsur membaik.
Dia langsung pergi ke kamar mandi setelah menyelimuti Klara dan segera mengguyur seluruh badan dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya untuk menyadarkan dia dan menghilangkan semua pikiran juga keinginan kotor yang ada di dalam kepalanya saat itu.
"Aahhhh.... Aku hampir saja melewati batas padanya, aishh benar-benar bodoh, bagaimana bisa aku tidak tahan dengannya" gerutu tuan Arfanka sambil terus membasahi seluruh tubuhnya saat itu juga.
Dia bahkan menghabiskan lebih banyak waktu di kamar mandi untuk merendam tubuhnya dan menenangkan dirinya sendiri di banding membantu Klara saat itu, sampai hal tersebut membuat sekretaris Jeno yang menunggunya di bawah merasa sangat cemas dan berpikiran macam-macam tentang tuan Arfanka dan Klara saat itu.
__ADS_1
Padahal pada kenyataannya tuan Arfanka juga tidak melakukan apapun atau melakukan hal-hal yang di luar batas kepada Klara.
Sekejam dan sekeras apapun dia pada setiap lawannya namun dia tetaplah pria yang bertanggung jawab dan pria sejati yang tidak akan mungkin merusak seorang wanita dengan berkedok menolong hidupnya dia hanya melakukan hal yang memang perlu dia lakukan untuk menolongnya.
"Aduhh .. kenapa tuan Arfanka lama sekali, apa mereka sudah selesai atau belum yah? Apa mereka masih tengah melakukannya sekarang? Aishh aku tidak sanggup membayangkannya sama sekali, aahh Klara yang malang" ucap sekretaris Jeno saat itu.
Namun disaat dia tengah merasa resah sendiri, tidak lama tuan Arfanka keluar dari kamar dan dia menggendong Klara dalam pangkuannya saat itu.
"Jeno apa yang sedang kau lakukan bantu aku menyiapkan kamarnya" ucap tuan Arfanka saat itu yang mengagetkan sekretaris Jeno karena tiba-tiba saja muncul di belakang tubuhnya.
"Astaga... Tuan kau mengagetkan aku saja, aahhh iya-iya, aku aku bantu untuk membukakan pintunya, silahkan tuan" ucap sekretaris Jeno dengan cepat membukakan pintu kamar Klara saat itu.
Tuan Arfanka pun segera memasukkannya ke dalam dan segera menidurkan Klara di ranjangnya tersebut hingga menyelimuti dia dengan baik dan dia langsung keluar begitu saja untuk menutup pintu kamarnya dan segera duduk di sofa sambil merebahkan tubuhnya begitu saja.
"Waahhh... Sangat lega sekali sekarang dia sudah tidak gila lagi" ucap tuan Arfanka sambil menyandarkan tubuhnya di sofa sambil menatap ke langit-langit rumahnya tersebut.
__ADS_1
Sekretaris Jeno yang merasa sangat penasaran dia pun segera mendekati tuan Arfanka dan segera duduk di samping tuan Arfanka sambil berusaha untuk bertanya mengenai apa saja yang sudah dia lakukan dengan Klara di kamarnya tersebut.