Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Panik


__ADS_3

"Halo siapa ini?" Ucap Tini dari sebrang sana,


"Ibu, ini aku Klara aku ingin menanyakan kabar Kirei apakah dia baik-baik saja dan apa dia masih sekolah, aku sangat mencemaskannya" balasku langsung saja menanyakan apa yang membuat hatiku terganggu sejak lama, karena saat itu aku juga di lihat oleh tuan Arfanka yang berdiri di hadapanku,


"Ahaha... Kau menelpon di waktu yang tepat, adikmu sedang aku jual pada seorang pria kaya dengan harga satu miliar, ya memang lebih rendah dari harga mu tapi itu lumayan untuk biaya hidup aku dan adik laki-lakimu" ucap Tini membuat Klara sangat kaget ketika mendengarnya,


Aku tidak tahu lagi dan aku benar-benar sangat takut juga benci pada ibuku ketika mendengar hal tersebut.


"Tidak... Ibu dimana kau sekarang, aku mohon tolong jangan lakukan itu kepada Kirei Bu, dia masih kecil tolong jangan jadikan dia budak seseorang sepertiku, aku mohon lepaskan dia aku akan... Aku akan memberikan apapun kepadamu bahkan semuanya, ambil nyawaku jika kau ingin tapi jangan Kirei aku mohon padamu ibu" ucapku langsung panik dan memohon sebisaku kepadanya.


Sayangnya aku lupa siapa ibuku sebenarnya, dia adalah wanita kejam yang tidak akan mendengarkan permintaan mohon dari siapapun termasuk permintaan mohon dariku yang dia anggap sebagai beban sekaligus pembunuh suaminya.


"CK... Berhenti mengulur waktuku aku tidak akan mendengar permohonan mu gadis bodoh, dan kau tenang saja Kirei tidak akan di jadikan budak oleh pria itu tetapi dia hanya akan aku jadikan pelacur ahahaha..." Balas sang ibu dengan tawanya yang menggelegar.


Aku benar-benar sangat lemas ketika mendengarnya dan aku langsung saja membentak ibuku saat itu juga hingga tidak lama terdengar suara teriakkan Kirei yang meminta tolong kepadaku dari sebrang telpon disana.


"Bu.. jangan lakukan itu aku mohon kepadamu ibu" ucapku semakin panik tidak karuan.


Tidak pernah aku bayangkan ternyata ibu bisa sekejam itu kepada adikku Kirei yang masih kecil dan baru empat belas tahun.


"Kakak... Aaahh.. panas sekali, kak tolong aku...aku mohon selamatkan aku kak" ucap Kirei yang terdengar aneh dengan suaranya di balik telpon itu.

__ADS_1


Bahkan pak Tino dan tuan Arfanka yang mendengarnya langsung membelalakkan matanya sangat lebar saking kagetnya mendengar suara perempuan yang menggelikan itu.


"Oh...tidak Kirei apakah kamu baik-baik saja, kakak akan menyelamatkan kamu Kirei katakan dimana kau sekarang, ayo katakan Kirei!" Bentakku menanyakan lokasinya saat itu.


"Aishh.. diam kau dasar wanita sialan, kau tidak akan bisa menyuruh kakakmu datang ke bar ini!" Bentak sang ibu lalu panggilan pun langsung saja terputus.


Aku kebingungan dan berteriak keras memanggil ibu dan Kirei tapi tidak ada gunanya karena panggilan itu memang sudah terputus saat itu dan tidak ada yang bisa aku lakukan selain pergi untuk segera menyelamatkan Kirei, aku sempat mendengar ibu menyebutkan bar dan aku yakin ibu pasti membawa Kirei ke bar tempat aku pernah bekerja disana dahulu.


"Tidak aku mohon ibu...ibu....aahhh Kirei yang malang" ucapku dengan air mata yang sudah berkaca-kaca di dalam mataku.


Aku langsung memberikan kembali ponsel itu kepada tuan Arfanka dan langsung saja hendak berlari menuju pintu keluar namun sayangnya tuan Arfanka menahan tanganku dengan kuat, sehingga itu menghentikan langkahku.


"Tuan... Kau dengar sendiri bukan apa yang aku bicarakan dengan ibuku, adikku dalam bahaya sekarang aku harus menyelamatkannya aku mohon padamu biarkan aku pergi untuk menyelamatkan adikku dan aku janji aku akan segera kembali aku tidak akan kabur darimu" ucapku kepadanya,


"Bagaimana aku bisa mempercayaimu hah?" Bentak dia kepadaku,


"Kau bisa ikut denganku jika kau tetap tidak percaya padaku, aku mohon kepadamu bantu aku kali ini saja, aku janji akan melakukan apapun yang kau minta dariku, aku janji padamu dan pak Tino akan menjadi saksi dari janjiku ini, bahkan jika kau meminta aku untuk mati aku akan melakukannya asalkan adikku bisa terselamatkan sekarang, aku mohon" ucapanku yang sudah gelap mata dan panik sekali saat itu.


Aku mengatakan semua yang aku punya dan semua yang bisa aku katakan untuk meyakinkan tuan Arfanka saat itu, bahkan aku sama sekali tidak memperdulikan dampak apa yang aku terima karena aku berani berbicara se lantang itu dan berjanji sangat kuat kepadanya.


Tapi aku senang dan merasa sangat bahagia karena akhirnya tuan Arfanka mau mengijinkan aku untuk pergi menyelamatkan adikku bahkan dia turut ikut bersamaku ke bar tersebut.

__ADS_1


"Baiklah aku akan ikut denganmu, tapi ingat ini hanya untuk mengawasimu agar kau tidak kabur, bukan berarti aku membantumu!" Ucap dia yang langsung aku anggukan.


Aku menggenggam tangannya dan langsung menarik dia dengan cepat untuk berlari masuk ke dalam mobil dengan pak Tino yang menyetir saat itu.


"Ayo tuan kita harus segera ke sana sebelum terlambat" kataku sambil menggenggam tangannya itu.


Sedangkan disisi lain Arfanka tersentak sedikit kaget dan entah kenapa dia merasa senang ketika Klara menyentuh tangannya, meskipun itu sebenarnya menarik dia untuk masuk ke dalam mobil lebih cepat dan bisa segera menyelamatkan adiknya tersebut.


Di perjalanan aku terus saja meminta pak Tino agar melajukan mobil dengan cepat, hingga tidak lama akhirnya kita sampai di bar tempat aku bekerja dahulu, dan tempat dimana aku pertama kalinya bertemu tuan Arfanka saat itu, saat sampai disana tuan Arfanka terlihat terperangah dan dia mengerutkan kedua alisnya merasa heran.


"Kenapa kau membawa aku kemari?" Tanya dia kepadaku,


"Tentu saja adikku pasti ada di dalam aku harus menyelamatkannya, terserah padamu mau mengikuti aku atau tidak aku akan pergi" ucapku langsung berlari masuk ke dalam secepatnya.


Aku tidak perduli meski tuan Arfanka berteriak menghentikanku tapi aku hanya berfokus pada keselamatan Kirei saat itu, aku masuk ke dalam dan melihat Kirei sudah di bawah oleh seorang pria yang gendut dan perutnya buncit, dia di bawa ke dalam bar tersebut dimana tempat itu adalah tempat dimana orang-orang menyewa kamar untuk melakukan hal-hal yang tidak bermoral, saat itu aku juga melihat Reno dan ibu yang menyerahkan Kirei kepada pria tersebut.


Rasanya aku ingin menghajar mereka berdua saat itu, namun karena melihat Kirei dalam kondisi aneh begitu, aku pun mengabaikan mereka dahulu dan langsung berlari mengejar Kirei ke tempat itu sayangnya di saat aku mengikuti pria yang membawa Kirei aku di tahan oleh dua bodyguard pria itu yang berbadan kekar dan tinggi.


"Tidak Kirei... Aku harus menyelamatkan dia sebelum semuanya terlambat.. Kirei...lihatlah kemari Kirei...." Teriakku memanggilnya.


"Mau kemana kau, ini adalah tempat yang sudah di sewa bos kami siapapun dilarang untuk masuk!" Ucap salah satu bodyguard berbadan kekar dan tinggi menahan aku saat itu.

__ADS_1


__ADS_2