Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Berusaha Sabar


__ADS_3

Karena dokter itu bersikap sangat baik dan begitu mendukungku aku sangat merasa senang dan tidak bisa berhenti tersenyum kepadanya, aku segera berpamitan pergi dari sana secepatnya karena hari sudah hampir malam saat itu dan aku juga tidak boleh pulang terlambat ke kediaman tuan Arfanka nantinya, jika tidak tak tahu apa yang akan terjadi terhadapku nanti dia mungkin benar-benar tidak akan pernah memasukkan aku ke dalam rumahnya semalaman.


Sesampainya di kediaman tuan Arfanka aku segera saja masuk ke dalam rumahnya dengan cepat dan untungnya saat itu aku lihat belum ada siapapun di dalam rumah tersebut yang menandakan bahwa tuan Arfanka dan pak Tiko belum sampai di rumah saat itu sehingga aku bisa mulai menyiapkan masakan untuk makan malam bagi tuan Arfanka, aku memasak seperti sebelumnya.


Tapi ada yang membuat aku heran dan kebingungan ketika tengah memasak saat itu, sebab sejak aku pernah bangun di kamar dengan perasaan aneh aku sama sekali tidak pernah melihat ihat bi Elin lagi di rumah tersebut dan aku merasa sangat heran dengan hal tersebut, bahkan dari sejak tadi pagi hingga saat ini aku masih belum melihat keberadaan bi Elin juga, padahal biasanya bi Elin selalu terlihat berkeliaran di dalam rumah dan selalu saja memerintah aku dengan perkataannya yang sadis dan jahat.


Dia juga sering sekali menuntut aku untuk melakukan pekerjaannya yang berat dan dia tidak mengijinkan aku untuk makan ataupun beristirahat jika saja aku belum menyelesaikan pekerjaan miliknya saat itu.


"Kemana bi Elin pergi ya, apa dia mengundurkan diri dari pekerjaannya? Tapi tidak mungkin begitu bukan, karena dia sangat menyukai pekerjaannya apalagi ketika menyambut tuan Arfanka" gerutuku saat itu terus memikirkan.


Aku merasa kebingungan sendiri dan aku terus saja memikirkan semua itu hingga tanganku tidak sengaja malah teriris oleh pisau dengan tajam hingga jari telunjukku langsung saja mengeluarkan darah dan aku refleks langsung menyedot jari telunjukku sendiri.


"Aaaaawww.... Aduh kenapa sakit sekali, aaah aku benar-benar melamun tadi" gerutuku sambil segera memegangi jari telunjukku yang teriris saat itu.


Rasanya memang sakit dan aku benar-benar merasakannya cukup kuat segera saja aku menyelesaikan masakanku dengan cepat karena saat itu bunyi bel dari rumah sudah terdengar menandakan bahwa ada orang yang datang ke rumah saat itu dan aku tahu bahwa itu sudah pasti adalah tuan Arfanka yang baru saja pulang dari kantor bersama pak Tiko yang menemaninya hari ini.


Segera aku berlari menuju pintu masuk dan langsung membukakan pintu untuknya juga mempersilahkan dia untuk masuk juga membungkuk memberikan hormat terhadapnya saat itu.


"Selama datang tuan, silahkan masuk" ucapku kepadanya menyambut dia dan mempersilahkan saat itu.


Hingga dia menatap ke arahku dengan sekilas dan segera melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah dengan cepat, aku mengikuti langkahnya di belakang dan dia memberikan tas kerjanya kepadaku begitu saja sampai aku harus segera mengambil tas kerjanya dengan cepat karena saat itu aku takut akan jatuh.


Namun karena aku hendak mengambilnya tanpa aba-aba sama sekali hingga tanganku yang tadi teriris oleh pisau mengenai gagang tas kerja milik tuan Arfanka yang cukup berat sehingga aku tidak bisa menyembunyikan ringisan rasa sakit yang aku rasakan saat itu.


"Ambil tas ku" ucap tuan Arfanka sambil melemparkannya ke arahku yang ada di belakang dia begitu saja,


"Aaaahhhh....aaaww....sssttt" ringis ku memeriksa jariku yang teriris saat itu, sedangkan tuan Arfanka yang mendengar aku meringis kesakitan dia langsung saja menghentikan langkahnya sambil sekaligus berbalik menatap ke arahku dengan mengerutkan kedua alisnya.


Sampai tiba-tiba saja dia langsung menarik tanganku cukup kasar dan dia memeriksa jari telunjukku yang terluka dan kembali mengeluarkan darah dari kulit yang teriris saat itu.


"Hey... Kenapa harimu seperti ini, apa ada orang yang melakukan ini kepadamu dengan sengaja hah?" Bentak tuan Arfanka yang tiba-tiba saja menjadi marah dan menatap wajahku dengan penuh emosi.


Bentakkan dia juga sangat kencang sampai aku tersentak sedikit ke belakang namun dia malah menarik lagi tanganku hingga aku langsung mendekat ke arahnya dan dia kembali menatap aku dengan lekat dan cukup dekat serta menanyakan lagi terhadapku siapa yang melakukan hal tersebut sampai hari telunjukku bisa terluka seperti itu.

__ADS_1


"Ayo cepat katakan siapa pelakunya, siapa yang berani-beraninya mengiris dan melukai hati kau hah?" Tanya tuan Arfanka lagi yang terlihat sangat serius saat itu.


Aku kaget dan masih merasa linglung juga kebingungan sehingga aku tidak tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan dia barusan karena memang tidak ada orang lain yang melakukan hal tersebut kepadaku, melainkan itu terluka sebab kecerobohan aku sendiri yang kurang fokus dan malam sibuk memikirkan orang lain disaat tengah mengiris bahan makanan saat memasak sebelumnya.


Aku pun hanya bisa membalasnya dengan gelengan kepala saja saat itu tanpa bisa berkata-kata apapun lagi kepadanya, sampai terlihat tuan Arfanka berdecak kesal dan dia menari terus tanganku sampai mendudukkan aku di sofa depan tv dan dia menyuruh pak Tiko untuk mengambilkan kotak obat, saat itu akua sama sekali tidak pernah berpikir bahwa tuan Arfanka yang terkenal keras dan kejam akan mengobati jari telunjukku yang teriris secara tidak sengaja oleh tanganku sendiri seperti itu.


Dia bahkan terlihat marah dan kesal.saat meneteskan obat merah pada tanganku saat itu dan aku juga merisingi sedikit namun dia justru malah kembali membentak aku dengan keras dan memaksaku untuk bersikap kuat saat merasakan perih di tanganku saat itu.


"Ssssttttt....." Ringisku sambil mengedipkan mataku pelan merasakan perih dan rasa sakitnya yang cukup dalam saat itu.


"Hey.... Jangan lebay seperti itu, ini hanya luka kecil apa kau akan kesakitan sampai sebegitunya benar-benar orang lemah, ayo tahan sakitnya kau harus menjadi wanita yang kuat dan tangguh baru tidak akan ada orang yang berani menindasmu apalagi berniat buruk kepadamu apa kau mengerti hah?" Ujar tuan Arfanka sambil memegangi tanganku lebih erat saat itu.


Aku hanya mengangguk patuh dan mengerti kepadanya sampai dia selesai membalut luka di jari telunjukku dengan hansaplas saat itu, dia juga membalut lukaku secara lembut dan perlahan aku terperangah kaget dan bingung melihat dia yang terlihat cukup manis di mataku saat itu.


"Tuan... Bisakah kau percaya kepadaku jika aku mengatakan bahwa kau tidak seburuk yang orang katakan?" Ucapku begitu saja keluar dari mulutku saat itu,


"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu kepada manusia kejam sepertimu? Apa kau pikir aku terlihat baik kepadaku karena menolong adikmu dan membantumu membalut luka saat ini? Ahahaha...Klara...Klara kau itu hanya seorang pelayan dimataku dan kau pelayan pelunas hutan bagiku tidak lebih dari itu jadi aku harap kau sendiri harus tahu batas dirimu sendiri jangan terlalu percaya diri dan banyak menduga-duga hal yang tidak jelas dan tidak akan terjadi" ucap tuan Arfanka kepadaku saat itu.


Mendengar jawaban darinya senyuman kecil yang aku tunjukkan kepada dia sebelumnya langsung saja menghilang dan aku benar-benar merasa sedikit sakit hati dengan ucapannya saat itu.


Tadinya aku ingin mengatakan mengenai hal tersebut kepadanya namun setelah melihat tanggapan dia yang lebih dulu malah salah paham terhadap maksud dari ucapanku tadi, aku menjadi malas untuk mengatakannya dan lebih memilih untuk memendam hal tersebut di dalam hatiku sendiri.


"Tenang saja tuan aku sama sekali tidak pernah berpikiran seperti itu dan aku jug tahu batas dan tahu diriku siapa di rumah ini, aku akan membalas semua kebaikan yang pernah kau lakukan kepadaku dan aku akan menempati janjiku untuk merawat dan menjagamu dengan baik sebagai seorang pelayan yang baik bukan apapun atau siapapun" balasku kepadanya mempertegas apa yang dia maksudkan.


Aku segera bangkit berdiri dan memohon kepadanya agar dia segera melepaskan tanganku karena memang dia sudah selesai dalam mengobati luka di jariku saat itu.


"Permisi tuan bisakah anda melepaskan tangan saya, dan makan malam ya sudah siap di meja makan, saya akan pergi permisi" ucapku kepadanya sambil langsung membungkuk memberi hormat dan langsung pergi tepat ketika dia melepaskan tanganku sekaligus.


Wajahnya terlihat linglung dan kebingungan sendiri hingga dia membuka matanya cukup lebar ketika melihat aku membungkuk memberi hormat dan mengucapkan permisi kepada dirinya, aku sudah tidak bisa menahan kekesalanku lagi atas jawaban yang dia berikan kepada aku sebelumnya sehingga aku lebih memilih untuk pergi dari sana secepatnya.


Dan melampiaskan kekesalan di dalam hatiku seorang diri di dalam kamar dengan mengucek ranjang dan bantal milikku sekuat tenaga saat itu.


"Aishhh.... Benar-benar orang yang sangat menjengkelkan dan dia menyebalkan sekali, bagaimana bisa dia malah ke gr an sendiri seperti itu, aaahh.... Untung saja aku tidak bicara apapun lagi kepadanya, dia benar-benar menyebalkan, aku sepertinya memang salah mengira bahwa ada secret kebaikan yang bisa berkembang di dalam hatinya" gerutuku dengan kesal.

__ADS_1


Aku berteriak dengan keras di dalam kamarku sambil menutup seluruh kepalaku dan langsung saja menjerit dengan keras di dalam kamar dengan kepala yang aku tutup dengan bantal saat itu.


"Aaarrkkkkkk...." Teriakku sangat kencang dan aku pikir suaraku itu tidak akan terdengar sampai keluar dari kamarku.


Namun rupanya dugaan dan perkiraanku saat itu adalah sebuah kesalahan yang sama sangat fatal untukku, sebab pada kenyataannya tuan Arfanka yang masih berdiri di depan televisi sambil menatap ke arah kamarku dia juga bisa sangat kaget hingga tersentak ke belakang ketika mendengar teriakkan dariku saat itu.


"Aishh... Apa yang sedang dia lakukan apakah dia tengah meluapkan emosinya kepadaku, memangnya apa yang salah dengan ucapanku sebelumnya, memang benar kok dia pasti menyukaiku karena aku sangat tampan dan sudah jelas pria seperti aku adalah idaman para wanita, tidak salah jika dia menyukai aku bukan, dia pasti sedang merasa malu sekarang" gerutu tuan Arfanka dengan merasa penuh percaya diri sendiri.


Padahal disisi lain aku sama sekali tidak menyukainya justru sebaliknya aku merasa sangat kesal dan membencinya, dia begitu menjengkelkan dan sangat keras kepala, dia juga selalu memutuskan sesuatu sesuai dengan keinginan dirinya sendiri.


Dan teriakkan yang baru saja aku keluar kan di dalam kamar adalah untuk meluapkan emosi juga kekesalanku saat itu, bukan karen aku malu atau menyukai orang yang menjengkelkan sepertinya.


Aku berusaha menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan selama beberapa kali untuk menyadarkan diriku dan menormalkan emosi juga nafasku sendiri saat itu, aku sangat emosi dan kesal namun aku harus tetap menjaga kestabilan diriku saat itu.


"Huuuuhhh.... Sabar Klara... Sabar kau harus sabar menghadapinya bagaimana pun dia adalah orang yang sudah membantu menyelamatkan Kirei dan dia juga sudah memberikan setidaknya tempat tinggal dan pekerjaan untukmu, dia juga memberikan kartu dengan uang yang banyak di dalamnya, aaahhh... Aku harus banyak bersabar kepadanya sekarang" gerutu terus mengusap dadaku berkali-kali saat itu untuk mengatur nafas dan emosiku saat itu.


Aku sudah berusaha keras untuk menormalkan emosi di dalam diriku sampai akhir emosi itu justru tetap tidak turun juga sehingga aku memutuskan untuk cepat pergi mandi dan membersihkan diri untuk mendinginkan emosi dan otakku agar tidak terus merasa kesal dan jengkel terhadap tuan Arfanka saat itu.


Aku sudah membasahi rambutku dan tengah mengeringkannya dengan perasaan yang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya dan mandi juga mencuci rambutku dengan wewangian yang sedap adalah obat dari rasa stress di dalam pikiranku saat itu.


Tapi disaat aku tengah mengeringkan rambutku saat itu tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu dari luar dan aku mengira bahwa itu adalah pak Tiko sehingga aku langsung pergi untuk membuka pintu tersebut hanya dengan mengenakan pakaian piama tidurku yang memiliki kaos pendek juga celana pendek diatas lutut saat itu.


"Tok ...tok....tok...." Suara ketukan pintu dari luar yang cukup keras.


Aku segera pergi menghampiri pintu kamarku dan segera membuka pintu itu secepatnya karena pintu terus diketuk berkali-kali saat itu.


"Aishh... Siapa sih mengganggu sekali" gerutuku kesal sambil membuka pintu dengan cepat.


Saat aku membuka pintu dan terlihat ada tuan Arfanka di depanku aku sangat kaget dan langsung saja menutup mulut terbuka dengan kedua tanganku juga dengan mataku yang terbelalak dengan lebar saat melihatnya.


"Astaga.... Tu...tu...tuan ada perlu apa kau menemuiku sampai mengetuk pintu kamarku sebanyak tadi?" Tanyaku kepadanya dengan heran saat itu.


"Heh... Apa kau tuli hah? Aku sangat kesulitan mengupas buah dan kau harus mengupaskannya untukku, cepat keluar dan kupaskan semua buah apel ini untukku!" Ucap tuan Arfanka sambil membawa beberapa biji buah apel di tangannya dengan sebuah piring juga pisau yang ada di atasnya saat itu.

__ADS_1


Aku hanya menatapnya dengan wajah yang terperangah melihat seorang tuan Arfanka datang mengetuk pintuku sangat keras berkali-kali sampai membuat aku jengkel di buatnya.


__ADS_2