Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Terpeleset


__ADS_3

Seperti yang terjadi saat ini disaat aku tengah mengepel lantai dan terus saja membersihkannya dengan baik tiba-tiba saja Kevin berjalan melewati lantai yang baru saja selesai aku bersihkan saat itu, dia berjalan dengan seenaknya dan mengotori lantai yang sudah aku bersihkan padahal saat itu aku baru saja mengepelnya, karena kesal dan tidak bisa menerima semua itu tentu saja aku marah dan langsung saja membentak Kevin dengan sangat keras.


"Kevin...apa kau bodoh hah! Kenapa kamu terus berjalan bolak balik di depan lantai yang baru saja aku bersihkan, apa kamu sengaja ingin membuat aku kesulitan dan harus terus kembali membersihkan lantai yang kau kotori!" Bentakku sambil menatapnya dengan tajam saat itu.


Kevin hanya menatap serius ke arahku dan kedua alis yang dia kerutkan dia langsung berjalan mendekati aku dan tiba-tiba saja dia malah dengan sengaja berjalan terus sambil berlari lari kecil dan sengaja mengotori semua lantai yang baru saja aku bersihkan, dia menginjaknya sambil terus menjatuhkan cemilan yang tengah dia bawa di tangannya sampai cemilan itu berserakan ke lantai dan degan sengaja dia menginjaknya hingga lantai terlihat menjadi semakin kotor.


"Nih...lihat...rasakan itu, aku sengaja membuatnya kotor rasakan.. ini euh...euh...euh....kotor kau kotor" ucap Kevin terus saja berbuat seenaknya tanpa menghormati pekerjaan yang aku lakukan sedari tadi.


Aku benar-benar sangat kesal dan tidak bisa lagi menahan emosi kepadanya, sebab aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa dia benar-benar mengotorinya secara sengaja dan malah membuatnya lebih kotor daripada sebelumnya.


"Kevin!...." Teriakku sangat kencang memanggil namanya sambil memegangi pel di tangan dengan erat.


Dia malah tertawa begitu puas hingga memegangi perutnya dan terus menghentakkan kakinya itu ke lantai hingga tiba-tiba saja dia terpeleset dan jatuh tergeletak di bawah kakiku saat itu.


"Ahahah....kau rasakan ini hahaha....ayo cepat bersihkan apa lagi yang kau tunggu, bersihkan semuanya hahaha...." Ucap dia terus saja menertawakan aku dengan sangat puas.


Aku sangat emosi melihatnya dan ingin menghajar dia menggunakan pel yang aku pegang, namun nyatanya karma datang menghampiri Kevin lebih cepat daripada dugaanku sebelumnya, tanpa aku harus menghajarnya dengan tanganku dia sudah jatuh lebih dulu, dan cara jatuhnya itu sungguh sangat lucu juga sedikit konyol hingga kini akulah yang balik bisa menertawakan dia dengan keras.


"Ee....e...ee...ehh...aaahh brukkk....awwww..aduhh...b*kongku ahhh...sakit sekali" teriak Kevin sambil terus mengeluh memegangi b*kongnya tersebut.


"Eehh?..ahahaha...kau sudah jatuh, rasakan itu siapa suruh kau menertawakan aku sebelumnya dan kau malah dengan sengaja mengotori lantai yang tengah aku bersihkan, maka rasakan saja karmanya itu, dasar petakilan, ceroboh, dan sangat keras kepala aku tidak akan membantumu!" Bentakku setelah puas menertawakan dia saat itu.


Aku hendak pergi meninggalkannya dan tidak mau memperdulikan dia tetapi disaat aku baru berjalan beberapa langkah aku mendengar ringisan Kevin yang kesakitan saat itu, aku juga tidak tega karena saat melihat dia ke belakang rupanya dia masih terlihat kesulitan untuk bangkit.


"Aaww....aaahh...aku tidak bisa berdiri astaga kakiku juga keseleo aahh...sial sekali" ringis Kevin saat itu.


Mendengarnya terus meringis kesakitan bagaimana bisa aku tetap membiarkan dia dan tidak membantunya, mau bagaimana pun dia adalah adik dari majikanku tentu aku tetap harus menolongnya, aku pun menghembuskan nafas dengan kesal dan segera berjalan mendekati dia lalu mulai mengulurkan tangan untuk membantu dia berdiri saat itu.


"Huuhh....aku sangat benci karena memiliki perasaan kasihan pada orang sepertinya" gerutuku sambil berjalan,


"Heh...ayo ambil tanganku, aku akan membantumu berdiri" ucapku kepadanya dengan wajah yang jutek karena aku masih sangat kesal pada Kevin.


Bukannya cepat meraih tanganku Kevin justru melah menatap aku kebingungan dengan membulatkan matanya sekaligus dan tidak bergerak sedikitpun, dia hanya terus menatap aku dengan tatapan yang aneh sehingga membuat aku kembali bicara padanya.


"Ayo cepat terima uluran tangan dariku, sebelum aku berubah pikiran" tambahku lagi padanya.

__ADS_1


Akhirnya Kevin menerima uluran tanganku dan aku segera memapah dia dan membantunya duduk di sofa sambil meluruskan kakinya yang terkilir saat itu, aku juga tahu pasti kakinya sangat sakit sekali apalagi bagian belakangnya karena dia jatuh cukup keras, aku bahkan sempat kaget mendengar suaranya yang jatuh sebelumnya.


"Apa kakimu masih sakit, sebaiknya kita ke dokter saja jika kau masih sakit, lagi pula aku bukan tukang urut yang bisa mengobati kaki keseleo seperti ini" ucapku kepadanya karena merasa kasihan melihat kakinya tersebut.


"Memangnya kau pikir dokter bisa mengobati masalah begini hah?" Balas dia kepadaku.


Langsung saja aku menganggukkan kepala secepatnya, karena memang aku tahu dokter ahli tulang tentu saja akan bisa menanganinya, tidak mungkin juga jika aku harus mencari tukang urut di kota sebesar ini dan dalam lingkungan pribadi yang mewah milik tuan Arfanka, sudah pasti tidak akan bisa aku temukan.


"Tentu saja dokter tulang pasti bisa, paling kakimu akan di benarkan dahulu tulangnya jika itu bergeser dan mungkin kakimu akan memakai perban elastis, karena sepertinya terkilir nya tidak terlalu buruk" balasku kepadanya.


Dia malah membentak aku dengan sangat keras, dan matanya membelalak menatap ke arahku sambil terus saja menggerutu marah-marah tidak jelas saat itu.


"Heh...apanya yang tidak terlalu buruk apa kau tidak lihat bagaimana aku jatuh tadi? Itu cukup keras dan pergelangan kakiku ini sangat sakit sekarang, aishh....kau sama sekali tidak merasakan nya...aaa...adududuh....tuh..lihat ini sakit sekali!" Bentak dia malah melampiaskan kekesalannya padaku.


Aku segera bangkit dan pergi ke dapur mengambil es batu lalu memasukkannya pada kain kompresan, meski terdengar teriakkan Kevin yang menyuruh aku kembali padanya aku tetap mengabaikan suara teriakkan dia yang sangat kencang itu, hingga aku kembali dan langsung menyuruh dia agar menaikkan kakinya ke atas meja secepatnya karena aku akan kompres kakinya dengan es batu agar dia tidak terlalu tersiksa dengan rasa sakit itu.


"Heh kemana saja kau, apa kau mau meninggalkan aku begitu saja disaat aku seperti ini hah, aku akan mengadukanmu pada Arfanka awas saja kau jika mencoba pergi!" Ucap Kevin yang langsung saja membentak aku tanpa alasan.


"Tuan muda Kevin aku mengambil ini, bukankah kau bilang kakimu sangat sakit, aku akan mengompresnya sekarang jadi daripada kau banyak bicara cepat naikkan kakimu ke atas meja, jangan membuatnya tertekuk sedikitpun" ujarku padanya.


"AA.....AA...begitu ya, aku pikir kau akan meninggalkan aku begitu saja" balasnya padaku.


"Tidak mungkin aku meninggalkanmu, meski sejujurnya aku sangat membencimu, tapi aku bukan orang jahat yang akan tega meninggalkanmu begitu saja" balasku sambil menelan kompresan itu pada kakinya sedikit.


"Aaa....aaa..awww..aishh...apanya yang bukan orang jahat kau baru saja menekan kakiku, pasti kau sengaja bukan? Aaahh...aku menyesal karena merasa bersalah kepadamu sebelumnya" balas tuan Kevin padaku.


Aku hanya bisa tersenyum lebar menanggapi ucapannya karena memang aku sengaja menelan kompresan itu pada kakinya dia juga terlalu banyak bicara dan selalu berperasangka buruk padaku jadi wajah saja jika aku merasa kesal dan membuat dia kesakitan sekarang, bibirnya itu hanya bisa mengeluarkan ucapan yang selalu membuat aku naik pitam jadi aku tidak bisa jika tidak melakukan hal seperti tadi untuk membalas dia.


"Sudah...jika kakimu menjadi sedikit parah atau sakitnya semakin besar, tidak ada cara lain lagi selain membawamu ke dokter, tapi kalau hanya dengan di kompres saja sudah membaik artinya kau baik-baik saja, besok juga tidak akan bermasalah lagi" balasku kepadanya.


Aku segera pergi dan memberikan kompresan sisanya kepada Kevin agar dia melanjutkan mengompres kakinya sendiri karena aku masih memiliki banyak pekerjaan yang harus aku lakukan saat ini, terlebih lagi mihat lantai yang sudah sangat kotor juga berserakan kulit kacang bekas Kevin sendiri sebelumnya.


Tapi konyolnya di saat aku hendak pergi dia malah bertanya lagi padaku, padahal seharusnya dia lebih tahu apa yang akan aku lakukan saat itu.


"Eehh ..kenapa kau memberikan kompresan padaku? Ayo kompres lagi kakiku kenapa kau berhenti hah?" Ucap Kevin sambil menatap tajam dan mengerutkan kedua alisnya padaku,

__ADS_1


"Heh...tuan muda Kevin yang sangat sombong dan menyebalkan, apa kau tidak lihat itu...itu...dan ini...semuanya kotor, berantakan dan kacau karena ulah siapa, ayo jawab ulah siapa rumah ini jadi kotor lagi hah?" Balasku kepadanya yang langsung saja bisa membuat Kevin terdiam seketika dan wajahnya terlihat gugup saat itu.


"Aishhh..... sudahlah aku harus membersihkan semua ini, berbicara denganmu hanya menghabiskan waktuku saja" balasku kepadanya saat itu.


"CK.....kau sama sekali tidak menghormati aku, pantas saja kau menjadi pelayan sendiri disini, karena sikapmu itu orang tidak akan ada yang mau dekat denganmu" balas Kevin yang hanya membuatku naik pitam setiap saat.


Segera aku membersihkan semuanya dan kembali mengulangi mengepel lantai lagi dan membersihkan semuanya.


Tanpa Klara sadari saat itu Kevin diam-diam memperhatikan dia dan terus menatapnya selama Klara membersihkan semua hal disana, bukan hanya itu Kevin juga tersenyum kecil ketika memperhatikan Klara dan sedikit rasa dalam hatinya mulai muncul ketika dia mendapatkan kebaikan dari Klara padahal dia suda berbuat jahat dan semena-mena padanya.


"Dia cantik juga, bahkan hatinya juga baik... Kenapa haru Arfanka yang mendapatkan semua kebaikan ini, aku akan merebut semua milik Arfanka tanpa tersisa satu pun termasuk pelayannya juga!" Batin Kevin saat itu.


Kevin terus mengompres kakinya sendiri hingga beberapa jam sudah berlari dia mulai merasa kakinya sudah membaik Klara juga sibuk di dapur menyiapkan makan siang, sedangkan Kevin menggunakan kesempatan itu untuk pergi ke ruang kerja milik tuan Arfanka secara diam-diam, dia berniat untuk mencuri sebuah dokumen rahasia milik tuan Arfanka yang menjadi rahasia penting mengapa tuan Arfanka selalu memenangkan bisnisnya selama ini dan selalu mengalahkan dia setiap kali.


"Aku harus mencarinya, diaman dia menyimpan berkas itu, aku masih ingat dia selalu menyimpan barang penting di ruang kerjanya...tapi dimana dia menyimpan berkas rahasia itu" gerutu Kevin sambil terus mencari semua dokumen di dalam ruang kerjanya Arfanka.


Dia sudah membuka semua laci yang ada disana, bahkan laptop tuan Arfanka pun dia buka namun masih belum bisa mencari dokumen rahasia tersebut, dia tidak menyerah dan terus saja mencari pada tak dokumen yang begitu banyak di ruang kerja tuan Arfanka saat itu, Kevin memeriksa semuanya satu per satu karena dia sangat berambisi untuk bisa mengalahkan tuan Arfanka dengan segala cara yang bisa dia lakukan.


Namun disaat dia tengah mencari dokumen itu tiba-tiba saja dia mendengar teriakkan dari Klara yang memanggil namanya di bawah saat itu.


"Kevin ....tuan..muda..Kevin...dimana kau ...makanannya sudah siap, apa kau tidak mau makan....Kevin!" Teriak Klara mencari Kevin yang tidak dia temukan juga saat itu.


Kevin yang mendengar teriakkan dari Klara dia langsung saja membereskan kembali ruang kerja milik Arfanka dan dia segera pergi ke luar dari sana dengan terburu-buru, namun disaat dia hendak keluar justru dia tidak sengaja menyenggol sebuah lembaran kertas yang tidak di bungkus apapun pada meja tuan Arfanka hingga jatuh ke bawah.


"Astaga ..kenapa aku ceroboh seperti ini, aahh..aku harus membereskan semuanya dengan cepat sebelum Klara menemukan keberadaanku disini" ucap Kevin sambil terus mengambil semua berkas itu dan mengumpulkannya kembali.


Namun ada satu lembar kertas yang dia temukan dan kertas itu berisikan tentang kontrak kerja Klara sekaligus surat perjanjian diantara mereka berdua, Kevin yang tidak sengaja menemukannya dia langsung tersenyum kecil dan langsung saja memotret surat kontrak kerja itu menggunakan ponselnya dan dia segera menaruh kembali semua berkas itu pada meja kerja tuan Arfanka.


"Kontrak hutang?...jadi dia bekerja karena di jual ibunya sendiri...ini cukup menarik aku akan membawa dia denganku pada waktu yang tepat, aku yakin Arfanka sebenarnya memiliki perasaan pada Klara pelayannya itu" gerutu Kevin tersenyum licik.


Dia segera pergi keluar dan mulai menuruni tangga hingga berpapasan dengan Klara yang baru saja kembali dari kamar Kevin saat itu.


"Ehh... Kevin dari mana saja kau, aku sudah mencarimu kesana kemari, kakimu seperti itu saja kau masih bisa berjalan jauh sampai aku kesulitan mencarinya, apa sakit di kakimu hanya pura-pura saja ya" ucapku mencurigai kakinya itu.


"Bodoh apa warna hijau dan lebam di kakiku itu bohongan, aaahh sudahlah aku akan segera makan siang, awas saja jika makanannya tidak enak, aku akan menghukummu!" Balas Kevin sambil segera berjalan sedikit pincang menuju dapur segera.

__ADS_1


Aku menatapnya dari belakang dan masih saja merasa ragu dengan kakinya yang terkilir itu, habisnya dia masih bisa berjalan seperti itu, kenapa sebelumnya dia terlihat sangat lemah sekali dan terus mengeluarkan ringisan yang cukup membuatku cemas.


__ADS_2