
Meski saat itu sekretaris Jeno merasa sedikit takut dengan tuan Arfanka namun dia juga tetap saja merasa penasaran dengan hal tersebut, dan rasa penasarannya justru malah lebih besar dari rasa takutnya saat melihat tuan Arfanka saat itu.
Dia perlahan duduk bergeser mendekati tuan Arfanka dan mulai menyinggung mengenai hal tersebut dengan caranya yang baik-baik.
"Ekhm... Tuan... Bagaimana dengannya, a..a.. apakah kau benar-benar melakukan itu dengan Klara?" Tanya sekretaris Jeno dengan sangat penasaran saat itu,
"Aishh... Dasar kau bodoh! Bagaimana bisa kau memikirkan tentang hal tersebut" bentak tuan Arfanka yang langsung saja menyemprot dia dengan amarah,
"Ya... Ya.. ya maaf tuan aku kan hanya bertanya, dan lagi tadi kau juga sangat lama di dalam sana tentu aku menjadi sangat penasaran apa saja yang sedang kau lakukan disana" balas sekretaris Jeno yang justru malah semakin memancing emosi tuan Arfanka saat itu.
"Aishh... Diam kau, sekali lagi kau membahas soal itu, aku akan menghancurkan mulut lemesmu itu!" Ucap tuan Arfanka mengancam sekretaris Jeno dengan matanya yang membelalakkan matanya dengan lebar saat itu.
Dia sangat kesal dan semakin emosi saja kepada sekretaris Jeno karena dia sangat kesal dan tidak bisa melupakan apa saja yang terjadi di dalam kamar itu ketika dia melihat seorang Klara yang cantik dengan kelakuannya yang liar itu, bagaimana pun tuan Arfanka juga tetap seorang pria dan sulit sekali untuk dia menahan dirinya saat itu.
Jadi ketika sekretaris Jeno menanyakannya seperti itu, tentu saja tuan Arfanka sangat kesal karena pertanyaan dari sekretaris Jeno itu membuat dia kembali mengingat momen tersebut dan itu sangat membuatnya frustasi.
"Aaarrgghhhhkkkk... Sudahlah kau ini sangat menyebalkan sekali, dan ingat jangan sampai kau berani-beraninya berpikiran aneh tentang aku dan pelayan rendahan tersebut, aku sama sekali tidak melakukan apapun dengannya ingat itu!" Bentak tuan Arfanka memperingati sekretaris Jeno dengan menunjuk wajahnya lurus dan membuat sekretaris Jeno langsung mengangguk patuh kepadanya.
Dia pun segera pergi menaiki tangganya lagi dan dia segera masuk ke dalam kamarnya dengan menggaruk bagian kepala belakangnya terlihat frustasi dan kesal sendiri sampai membanting pintu kamarnya cukup keras.
__ADS_1
"Brakkk...." Suara tuan Arfanka yang membantingkan pintunya sangat keras, sampai membuat seorang sekretaris Jeno sangat kaget.
Saking kagetnya bahkan sekretaris Jeno sampai kaget terperanjat dan dia langsung kembali duduk di sofa dengan lesu dan terpaksa malam ini dia harus tidur di sofa itu.
"Astaga! Ada apa dengannya? Kalau memang tidak ada apa-apa yang mereka lakukan kenapa wajahnya terlihat panik begitu saat aku menanyakannya, apa dia sudah gila yah?" Gerutu sekretaris Jeno memikirkannya lagi.
"Ahh... Sekarang aku tidur dimana, aishh... Tidak mungkin kan aku harus tidur di sofa malam ini, tuan aku tidur di mana heyy!" Teriak sekretaris Jeno dengan keras.
Namun sayangnya memang tidak ada sahutan dari tuan Arfanka sehingga sekretaris Jeno Mun hanya bisa menggerutu kesal sendiri dan terus merasa kesal pada tuan Arfanka yang tidak pernah bisa sampaikan kekesalannya itu.
"Aishhh..... Aaarrghhh.... Tuan kau sangat kejam denganku!" Teriak sekretaris Jeno merasa sangat kesal dengan semua itu.
"Aaahh... Kenapa aku harus sial sekali sih" gerutu sekretaris Jeno yang masih saja menggerutu kesal sebelum dia benar-benar tertidur kala itu.
Bukan hanya sekretaris Jeno yang sulit tertidur malam itu, namun tuan Arfanka sendiri juga sama kesulitan tertidur karena dia sulit sekali melupakan kejadian barusan yang dia lakukan dengan Klara, dia selalu bisa membayangkan hal tersebut di saat dia menutup matanya namun tuan Arfanka masih terus berusaha memaksakan dirinya untuk tidur, sayangnya dia tetap tidak bisa dan ujung-ujungnya dia terus saja terbangun lagi dan lagi.
Hingga malam telah lewat dan mereka berdua benar-benar tidak tidur malam tadi sehingga tuan Arfanka keluar dari kamarnya dan duduk di sofa bergabung dengan sekretaris Jeno saat itu, mereka duduk bersampingan dan saling tatap satu sama lain dengan tatapan yang sangat melelahkan kala itu.
"Aahhhh... Kau... Sana kau pergi dari rumahku, ini sudah pagi untuk apa lagi kau masih disini aiishh merusak pemandangan rumahku saja" ucap tuan Arfanka yang membuat seorang sekretaris Jeno langsung kaget membelalakkan matanya seketika itu juga.
__ADS_1
"A..a....apa kau bilang? Aku merusak pemandangan rumahmu? Aishh Arfanka kau benar-benar sudah melewati batas kali ini, kemari kau" ucap sekretaris Jeno yang sudah kehabisan kesabaran dan dia langsung saja hendak menjambak rambut tuan Arfanka.
Namun untungnya saat itu tuan Arfanka langsung saja menyingkir dengan cepat hingga akhirnya justru malah kepala sekretariat Jeno yang terjepit oleh tangan tuan Arfanka dan membuat dia kesulitan bernafas dan pegal saat itu.
"Aaaahhh... Aishh... Ini sangat menyebalkan, hey... Cepat lepaskan aku tuan Arfanka hey.. Arfanka aku sekarang masih sahabatmu apa kau tega sekali kepadaku aishhh...." Ucap sekretaris Jeno sambil terus menepuk tubuh tuan Arfanka agar dia bisa melepaskan dirinya.
Saat itu aku baru saja bangun dari tidurku dan aku langsung saja berjalan keluar karena merasa sangat haus saat itu, aku tidak bisa menahan diriku lagi dan langsung pergi keluar dari kamar begitu saja untuk mengambil air ke dapur.
Aku berjalan melewati tuan Arfanka dan sekretaris Jeno, yang saat awalnya aku tidak menyadari keberadaan mereka, aku langsung mendekati lemari es yang ada di sana lalu mengambil minuman dan meneguknya sambil berdiri begitu saja di hadapan tuan Arfanka dan sekretaris Jeno yang seketika berhenti bertengkar saat itu.
"Wahhhh.... Dia cantik sekali bahkan saat bangun tidur" ucap sekretaris Jeno sambil membelalakkan matanya melihat Klara yang saat itu keluar dengan menggunakan kemeja putih milik tuan Arfanka dan dia tidak memakai celana.
Sehingga hal itu tentu saja membuat kedua pria tersebut langsung menelan salivanya sendiri dengan susah payah, bahkan tuan Arfanka langsung saja menutup wajah sekretaris Jeno agar tidak bisa melihat penampilan Klara saat itu.
"Aishh.... Tuan lepaskan aaahhh apa yang kau lakukan lepaskan aku" teriak sekretaris Jeno yang berontak karena matanya di tutupi oleh kedua tangan tuan Arfanka saat itu.
Sedangkan aku baru saja sadar ketika mendengar teriakkan dari sekretaris Jeno dan langsung berbalik seketika melihat ke arah sumber suara dan aku kaget ketika melihat ada tuan Arfanka dan sekretaris Jeno disana.
"Ehhhh.... Tuan kenapa kau ada disini, ini masih sangat pagi bukan?" Ucapku bertanya dengan heran dan masih belum sadar dengan pakaianku sendiri.
__ADS_1