Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Berterimakasih


__ADS_3

Aku sungguh kaget dan merasa sangat prihatin dengan keadaan adikku Kirei yang seperti itu dia bahkan tidak mengenali aku dan justru malah mengusir aku sambil berontak seperti ingin m*mukul aku saat itu.


"Kirei tenang sayang, ini kakak aku Klara Kirei aku Klara bukan ibumu aku kakakmu" ucapku terus berusaha menyadarkan Kirei.


Namun sayangnya Kirei tetap tidak sadar sampai tidak lama kemudian dokter masuk ke dalam ruangan tersebut bersama dengan tuan Arfanka, dan dokter tiba-tiba saja menyuruh aku untuk keluar dan tidak memperbolehkan aku untuk menemui Kirei sementara waktu.


"Nona sebaiknya kamu tahan dirimu dahulu, dia sedang terguncang dan saat ini saya rasa hanya psikiater yang bisa membantunya dia harus di bawa perawatan ke rumah sakit khusus untuk orang-orang dengan gangguan mental seperti ini, maafkan saya nona sebaiknya anda juga jangan banyak menemui dia dalam kondisinya yang seperti ini, karena itu bisa membahayakan dirimu" ujar sang dokter memberitahunya,


"Tidak dokter, dia adikku dia sama sekali tidak akan melukaiku dia hanya lupa terhadapku aku akan membuat dia mengingat kembali siapa aku sebenarnya dan aku akan menyembuhkan dia sendiri" ucapku dengan tegas dan kuat.


Dokter tetap menggelengkan kepala dan para suster langsung saja memindahkan adikku entah akan di bawa kemana oleh mereka saat itu, aku kaget dan segera berusaha menahan mereka yang akan membawa adikku keluar dari sana.


"Tunggu kau mau membawa adikku kemana, hey jangan bawa dia aku mohon tolong jangan bawa adikku!" Ucapku berusaha untuk menghentikan dokter dan suster yang membawa adikku pergi saat itu.


Namun sayangnya disaat aku akan mengejar mereka tanganku di tahan oleh tuan Arfanka dan dia menyuruhku untuk diam karena ternyata itu adalah perintah dari tuan Arfanka sendiri dimana dia yang menyuruh pihak rumah sakit untuk membuat rujukan dan memindahkan Kirei ke rumah sakit khusus untuk orang-orang yang memiliki gangguan mental seperti dia.


"Tuan lepaska aku, aku ingin mengejar adikku mereka membawanya, tuan apa yang kau lakukan cepat lepaskan tanganku!" Teriakku dengan panik dan mata yang sudah berkaca-kaca.


Aku tidak bisa membiarkan adikku di bawa pergi oleh mereka begitu saja tanpa izin dariku, dan aku tidak ingin jika sampai adikku Kirei benar-benar akan di masukkan ke rumah sakit jiwa, aku tidak ingin semua itu terjadi.


"Diam, kau harus tenang dan berusaha menerima semuanya, adikmu memang sudah seperti itu, tapi dia masih memiliki kesempatan untuk sembuh jika kita mengobatinya dengan benar, apa kau pikir jika kau mengobatinya hanya dengan membawa dia kembali ke rumah dia akan sembuh dengan sendirinya iya? Apakah kau psikiater yang tepat untuk adikmu, apa kau cocok untuk mengobati pikirannya hah?" Bentak tuan Arfanka kepadaku.

__ADS_1


Mendengar itu darinya aku mulai tersadar bahwa apa yang di katakan oleh tuan Arfanka semuanya adalah benar, aku memang bukan seorang dokter apalagi psikiater yang bisa menyembuhkan adikku sama sekali, aku hanya bisa menangis lagi mengeluarkan air mataku perlahan dan merasa sangat lemah juga hancur saat itu.


Aku segera duduk di kursi tunggu yang ada di sana sambil memegangi keningku dan menangis tersedu-sedu, meratapi semua kenyataan yang sangat menyakitkan ini.


"Hiks...hiks...aku memang bodoh, semua ini terjadi karena aku....aku bukan kakak yang baik untuknya...maafkan aku Kirei aku gagal melindungimu hiks...hiks...." Ucapku sambil terus menggelengkan kepalaku dengan kuat saat itu.


Tuan Arfanka duduk di sampingku dan dia mengusap lembut kepala juga punggungku saat itu dia menenangkan aku dan menguatkan aku dengan perkataannya yang masih terdengar kasar juga sedikit menyakitkan, namun walau begitu aku tahu niatnya memang baik kepadaku hanya penyampaiannya saja yang memang kurang tepat.


"Sudah jangan menangis terus seperti itu, kau menangis juga tidak akan merubah apapun aku sengaja menyuruh pihak rumah sakit membawa adikmu ke tempat yang lebih tepat untuknya, disana dia akan benar-benar di rawat dengan benar dan perlahan dia akan kembali pulih kau juga bisa menjenguknya nanti jika kau mau" ucap tuan Arfanka kepadaku.


Aku langsung melirik ke arahnya dengan cepat karena aku tidak menduga jika ternyata semua itu sudah di atur dan di persiapkan oleh tuan Arfanka, bahkan dia mau membawa adikku ke tempat yang tepat dan merawatnya juga.


"Tu...tuan, tapi aku tidak memiliki apapun yang bisa aku berikan kepadamu untuk membalas semua yang sudah kau lakukan untukku, di tambah sekarang adikku dia...." Ucapku tertahan karena aku tidak sanggup lagi untuk melanjutkannya.


Aku hanya bisa mengangguk dan berterima kasih kepadanya.


"Terimakasih banyak tuan jika tidak ada kau aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi kepadaku dan adikku, mungkin aku juga tidak akan bisa menyelamatkan dia dan dia bisa saja menjadi lebih parah dari sekarang jika tidak berhasil menyelamatkan dia saat itu" ucapku kepadanya.


Tuan Arfanka tetap terlihat santai saja dan dia masih kelihatan acuh tidak acuh terhadapku saat itu.


"Sudahlah aku lelah aku akan pulang ayo cepat kau bangkit, kau juga harus istirahat bukan" balas tuan Arfanka kepadaku saat itu.

__ADS_1


Aku segera mengangguk patuh karena aku tahu bahwa aku memiliki banyak sekali balas Budi kepadanya, yang mungkin tidak akan pernah bisa aku balas atas semua kebaikan yang dia berikan kepadaku.


Meski dia sangat kejam dan menakutkan di mata orang lain tapi melihat bagaimana dia menolong aku sampai sejauh ini aku merasa dia tidak terlalu buruk sehingga pemikiranku tentangnya perlahan mulai berubah sedikit demi sedikit sejak saat itu.


*******


Sampai ke esokan paginya aku berusaha untuk menjadi pelayan yang baik baginya, aku bekerja lebih rajin lagi dan lebih giat lagi, bahkan aku membuatkan jus yang segar untuknya sambil menata makanannya dengan sangat baik dan rapih di atas meja, aku berdiri di dapur menunggu hingga tuan Arfanka turun dari lantai atas.


Sampai ketika dia tiba aku langsung datang mendekatinya dan mempersilahkan dia untuk duduk di depan meja makan sekaligus menarikkan kursinya dengan cepat juga melemparkan senyuman kepadanya.


"Aahhh... Tuan kau sudah siap, silahkan duduk aku sudah memasakkan banyak hidangan pagi ini" ujarku kepadanya dengan wajah yang cerah.


Tuan Arfanka yang melihat wajah Klara sangat berbeda pagi ini, dia langsung saja menatapnya dengan heran dan kebingungan sambil mengerutkan kedua alisnya dengan kuat, bahkan dia terus menatap tajam kepada Kalara sebab merasa sangat heran dengan perubahan yang terjadi terhadapku sikapnya itu.


"Tuan silahkan, kau mau yang mana lauknya biar aku ambilkan sekalian" tambahku mempersilahkan kepadanya.


Namun bukannya menjawab, tuan Arfanka justru malah terus menatapnya dengan tatapan yang tajam dan mengerutkan kedua alisnya sangat kuat hingga hampir menyatu satu sama lain.


Itu membuat Klara merasa heran dan bingung saat melihatnya.


"Tuan.... Kenapa kau diam saja, ayo pilih saja aku akan ambilkan untukmu" tambah Klara lagi.

__ADS_1


Bukannya memilih sesuatu dengan apa yang dia inginkan, tuan Arfanka justru malah langsung merampas piring miliknya yang di pegang oleh Klara saat itu.


"Aku bisa mengambilnya sendiri" ucap tuan Arfanka dengan tatapan sinis pada Klara saat itu, sambil terus saja menatap tajam dan aneh kepada Klara saat itu.


__ADS_2