Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Tuan Arfanka Cemas


__ADS_3

Karena merasa sedikit mencemaskannya, aku pun segera mengikuti dia ke dapur dan membantunya untuk menarik kursi karena dia terlihat cukup kesulitan untuk melakukannya saat itu, jadi aku pun membantu dia karena tidak mungkin juga aku membiarkan dia yang kakinya terluka kesulitan mendorong kursi seorang diri, aku masih Klara yang memiliki hati jadi segera membantunya tanpa pamrih.


"Sudah sini biar aku saja," ujarku sambil segera aku bantu secepatnya.


Dia tidak mengucapkan terimakasih atau apapun hanya langsung pergi duduk begitu saja, aku juga salah karena mengharapkan ucapan terimakasih dari orang sepertinya yang sangat sombong dan begitu keras kepala, mana mungkin orang seperti dia mau berterima kasih pada seorang pelayan seperti aku ini.


Aku pun berdiri di sampingnya mihat dia untuk makan karena memang itu kebiasaan yang selalu aku lakukan, sebagai seorang pelayan harus selalu berada di dekan majikannya untuk berjaga-jaga jika majikannya membutuhkan bantuan, ya walaupun Kevin ini bukan tuan Arfanka tapi aku hanya ingin bekerja dengan baik membalas semua kebaikan yang tuan Arfanka berikan kepadaku selama ini.


Sampai tidak lama Kevin tiba-tiba saja menyuruhku untuk duduk dan aku sedikit kaget ketika mendengarnya, karena sebelumnya tidak ada yang memperbolehkan aku untuk duduk di meja makan yang sama dengan tuan Arfanka selalu bosku.


"Heh...kenapa kau terus berdiri disitu, ayo duduk sana, apa kau tidak pegal?" Ujar Kevin begitu saja.


Saat itu aku pikir Kevin tidak mengetahui aturan di rumah ini yang sudah di buat oleh tuan Arfanka secara khusus untuk lara pelayannya sehingga aku langsung saja menolak dia dan memberitahu dia mengenai peraturan tersebut.


"Kevin...kau mau membuat aku di pecat oleh tuan Arfanka atau dimarahi olehnya ya? Aturan di rumah ini kan sudah jelas, semua pelayan tidak ada yang boleh duduk di tempat yang sama dengan yang di duduki oleh tuan Arfanka, jelas aku tidak mungkin duduk di situ," balasku kepadanya,


Dia malah tertawa kecil mendengar jawaban dariku dan terlihat sekali kalau dia menyepelekan semua itu, wajahnya terlihat sangat santai dan dia malah menaruh sendoknya sejenak sambil menoleh ke arahku.


"Heh Klara, asal kau tahu ya... Bukankah pelayan juga manusia? Kenapa kau sangat menuruti dia bahkan disaat orangnya tidak ada, apa kau babu yang sangat disiplin atau apa, haha...lucu sekali," ucap Kevin yang terkesan seperti menghinaku saat itu.


Aku menatapnya dengan tajam dan tentu saja tidak terima dengan ucapan yang dia lontarkan kepadaku barusan, aku pun langsung membalas ucapannya itu dengan lebih jelas kepadanya, agar dia bisa memahami apa yang aku maksudkan sebenarnya.


"Mohon maaf tuan muda Kevin, mungkin aku memang babu di rumah tuan Arfanka, tapi aku melakukan ini karena keinginanku sendiri bukan semata-mata hanya perintah dari tuan Arfanka saja dan saya rasa anda tidak berhak memerintah saya ataupun berbicara kepada saya layaknya saya adalah pelayan anda, lebih untung saya memberi anda makan disini, karena anda bukan majikan saya ataupun orang yang saja kenal, permisi." Balasku sambil segera pergi meninggalkan dia dengan cepat.


Kevin yang mendengar jawaban itu dari Klara dia langsung membelalakkan matanya dengan sangat lebar dan tentu saja Kevin sangat tidak terima dengan ucapan dari Klara dia merasa emosi dan tidak bisa meneruskan makannya lagi, karena ucapan dari Klara barusan Kevin sangat marah dan mulai membenci Klara.


"Sialan...awas saja kau aku tidak akan diam saja, akan aku buat kalian berdua menderita di bawah kakiku, hah....rasakan saja nanti, aku akan melakukan semuanya dengan sangat bersih dan hati-hati sampai tidak akan ada yang menyadarinya sama sekali." Gumam Kevin sambil memegangi sendok di tangannya dengan erat.


Dendam dia dan kekesalan juga kebencian dia terhadap tuan Arfanka semakin bertambah apalagi saat dia mendengar jawaban dari Klara yang mengatakan bahwa dia melakukan semua ini karena keinginannya sendiri, hal itu membuat tekad Kevin semakin besar untuk menghancurkan tuan Arfanka dan mengambil semua yang tuan Arfanka miliki termasuk dengan Klara itu sendiri.


Sedangkan disisi lain, tuan Arfanka juga tidak bisa bekerja dengan tenang, dia terus saja merasa resah dan cemas pada Klara, sebab dia mengetahui bagaimana sifat dari adik angkatnya Kevin dia bukaah orang yang bisa di hadapi dengan mudah terlebih lagi tuan Arfanka tahu bahwa Kevin sangat membenci dia dan selalu ingin mengalahkannya selama ini.


Bahkan ketika tengah melakukan rapat bersama karyawan dan para staf penting di perusahaan tuan Arfanka menjadi kurang fokus sehingga setelah selesai rapat sekretaris Jeno segera menghampirinya dan menanyakan keadaan tuan Arfanka yang sedari tadi terus saja terlihat melamun tidak menentu.

__ADS_1


"Arfanka ada apa denganmu, kenapa sepanjang rapat berlangsung kau terus saja gagal fokus, apa ada masalah lain di luar yang sedang kamu pikirkan?" Tanya sekretaris Jeno kepadanya dengan serius dan penasaran,


"Kevin....ini tentang dia." Balas tuan Arfanka sangat serius,


"Tidak mungkin kau takut dengan ancaman yang dia berikan kemarin bukan?" Balas sekretaris Jeno menyelidik dan menduganya.


"Tentu saja tidak, tapi sekarang Kevin tinggal di rumahku, meski aku sudah memindahkan semua hal penting ke tempat yang aman dan rahasia tetap saja aku tidak bisa tenang terlebih ada Klara di rumahku, aku takut Kevin akan menyulitkannya," balas tuan Arfanka.


Sekretaris Jeno mulai mengerutkan kedua alisnya dia ikut merasa bingung dengan sikap dari tuan Arfanka yang bisa sampai kebingungan seperti itu, bahkan terus mencemaskan hal tersebut hingga kesulitan untuk fokus dalam pekerjaannya, padahal sekretaris Jeno tahu dalam keadaan apapun tuan Arfanka selalu bisa menyembunyikan keadaan buruk dalam dirinya.


Dia selalu bersikap tenang dan tidak bisa di duga dengan ekspresi yang dia perlihatkan, namun kali ini justru hanya karena seorang pelayan wanita saja tuan Arfanka bisa sampai seperti ini memikirkan tentang wanita tersebut.


"Hah?... Arfanka ayolah ada apa denganmu sebenarnya, kenapa kau harus mencemaskan pelayanmu, dia kan hanya seorang pelayan saja, untuk apa kau memikirkannya sampai seperti ini, lagi pula di rumahmu itukan ada pak Tino dan bi Evi, Kevin tidak akan berani melakukan apapun pada si Klara pelayan barumu itu," balas sekretaris Jeno mengatakannya.


Mendengar tentang pak Tino dan bi Evi tuan Arfanka baru mengingatnya bahwa bi Evi terkena DBD sejak dia pulang dari kampung halamannya dan dia di rawat di rumah sakit untuk beberapa hari begitu juga dengan pak Tino yang ikut membuat izin padanya karena harus menjaga bi Evi di rumah sakit.


Saat mengingat hal itu, tuan Arfanka menjadi semakin cemas dan dia tidak bisa menahan dirinya lagi, sehingga memutuskan untuk segera menelpon pada telpon rumah yang ada disana.


"Aishh...benar pak Tino dan bi Evi tidak ada di rumah, aaahhh..aku harus menghubunginya." Ujar tuan Arfanka sambil berlari terburu-buru ke meja kerjanya dan menggunakan telpon yang ada disana.


"Aishh...kenapa dia tidak mengangkat telponnya, apa dia itu tulis...arghhhh...aku harus segera pulang untuk memeriksanya." Ucap tuan Arfanka.


Tuan Arfanka langsung mengambil ponsel miliknya di meja kerja dan langsung bergegas hendak keluar dengan terburu-buru dari kantornya tersebut namun sekretaris Jeno dengan cepat menahan tangannya karena dia masih memiliki beberapa pertemuan dan pembahasan penting dengan klien juga staf lainnya.


"Ehh... Arfanka kau mau kemana, kau tidak boleh pergi kemanapun sebentar lagi kau harus meeting dengan klien," ujar sekretaris Jeno menahannya dengan kuat,


"Seno kau urus saja semuanya, ada hal penting yang harus aku lakukan sekarang." Balas tuan Arfanka sambil melepaskan tangan sekretaris Jeno yang memegangi tangannya dengan kuat.


Sekretaris Jeno tidak bisa membiarkan tuan Arfanka pergi seenaknya seperti itu dan dia merasa cukup kesal karena tahu bahwa sahabatnya Arfanka malah lebih mementingkan pelayannya yang bernama Klara di bandingkan dengan bisnis dan perusahaan yang dia pimpin saat ini.


"Arfanka, apa begini cara kau bekerja, aku tahu kau sangat mencemaskan gadis itu tapi apa dia sepenting itu bagimu, dia hanya seorang pelayan tidak akan memberikan keuntungan apapun untukmu, jadi kenapa kau harus memilihnya, kau akan kalah dengan Kevin jika kau lebih mementingkan hal tidak berguna seperti itu." Ucap sekretaris Jeno dengan lantang.


Mendengar hal tersebut tuan Arfanka sama sekali tidak terganggu dia hanya berhenti sejenak dan menoleh untuk sesaat pada sekretarias Jeno lalu langsung berlari kembali meninggalkan tempat itu secepatnya.

__ADS_1


"Aku tidak perduli dengan semua ini, nyatanya aku memang bukan putra dari keluarga Briantoro, mereka hanya memanfaatkan aku selama ini, apa yang bisa aku dapatkan dari mereka jika mereka ternyata memang hanya menjadikan aku alat untuk membesarkan perusahaannya sendiri," batin tuan Arfanka sambil terus berlari menuju mobilnya dan dengan cepat mengemudi menuju kediaman dia saat itu juga.


Sekretaris Jeno terlihat sangat kesal dan dia terus merutuki Klara karena dia pikir Klara lah penyebab dari semua ini dan orang yang sudah membuat sahabatnya menjadi berubah tidak seperti dulu lagi.


"CK...wanita itu benar-benar wanita sialan, karena dia Arfanka bisa seperti ini, aku tidak boleh terus membiarkan Arfanka terjebak dengan wanita itu, dia juga tidak pantas untuk seseorang sehebat Arfanka, aku tidak akan membiarkan Arfanka kalah dari Kevin hanya karena seorang wanita yang menjadi beban bagi Arfanka." gerutu sekretaris Jeno sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


Dia terlihat sangat marah dan kesal karena gagal untuk menahan tuan Arfanka sehingga kini dia sendiri yang harus menyelesaikan semua permasalahan di kantor seorang diri, mulai dari meeting penting juga rapat yang diadakan beberapa saat lagi, untungnya sekretaris Jeno sudah terbiasa dengan hal seperti ini sehingga dia sudah tahu dengan jelas apa yang harus dia lakukan ketika mendapati tuan Arfanka yang pergi secara tiba-tiba begitu.


Selama perjalanan tuan Arfanka terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan dia juga terus berusaha untuk menelpon Kevin karena setidaknya tuan Arfanka ingin mendengar suara Kevin untuk memastikan dia tidak tengah menyiksa Klara atau pun memperlakukannya dengan kasar da hal lainnya yang dia takutkan.


Namun sayangnya Kevin yang tengah menonto tv dengan santai dia sama sekali tidak ingin mengangkat panggilan dari tuan Arfanka dia melihatnya sejenak dan mulai membiarkan panggilan itu terus menerus terjadi.


"Aishh...untuk apa pria sialan ini terus menghubungiku, aku tidak akan mengangkatnya mengganggu waktu santaiku saja." Ucap Kevin yang dengan sengaja tidak mengangkat panggilan dari tua Arfanka saat itu.


Kala masih terlihat membersihkan teras di dekat kolam renang dan dia terlihat seorang diri disana, hingga tidak lama kemudian tuan Arfanka sampai di kediamannya dan dia mendobrak pintu begitu saja dengan nafas yang menderu sambil memanggil nama Klara dengan wajahnya yang panik saat itu.


"Hah.....hah...hah..Klara...diamana kau....Klara..." Teriak tuan Arfanka sangat kencang.


Namun yang dia temukan justru hanya Kevin yang duduk di sofa rumahnya dengan santai, dengan cepat tuan Arfanka langsung berjalan menuju Kevin yang menatap dengan tatapan dingin kepadanya, tapi tuan Arfanka yang sudah terlanjur panik dia tidak bisa berpikir jernih saat itu sehingga langsung saja membentak Kevin menanyakan tentang keberadaan Klara kepadanya.


"Kevin...dimana Klara, ayo cepat jawab!" Bentak tuan Arfanka sambil berdiri di hadapan Kevin dan mematikan tv nya.


Kevin hanya berdesak kesal karena waktu santainya di ganggu oleh tuan Arfanka seperti itu dan Kevin justru malah dengan sengaja membuat tuan Arfanka marah kepadanya dengan mengatakan hal-hal yang sudah dia rencanakan di kepalanya.


"Arfanka kenapa kau menanyakan gadis itu padaku? Aku sama sekali tidak ada urusannya dengan kalian berdua, tapi....sayangnya aku sudah pernah melihat bagian dalamnya...apa kau sudah pernah melihatnya juga? Dia cukup bagus pantas kau mau menjadikan dia pelayan di rumahmu" ucap Kevin sengaja memprovokasi tua Arfanka.


Mendengar ucapan itu tuan Arfanka semakin memikirkan banyak hal di dalam kepalanya dan dia langsung saja menarik kerah pakaian Kevin dengan kuat lalu membentak dia semakin kencang dengan kedua mata yang terbuka lebar.


"Cepat katakan padaku apa yang kau maksudkan? Dan dimana Klara sekarang!" Balas tuan Arfanka dengan tangannya yang bergetar menahan emosi.


Tapi untungnya sebelum Kevin menjawab lagi ucapan dari tuan Arfanka Klara tiba disana dan melihat kejadian itu dengan pakaian dia yang sedikit basah karena dia baru saja membersihkan area kolam renang dan membuat bajunya sedikit basah saat itu.


Saat aku baru saja hendak mengganti pakai ke kamar, aku kaget melihat tuan Arfanka sudah ada di rumah dan dia tengah menarik kerah pakaian Kevin, karena merasa panik dan tidak bisa berpikir aku langsung memanggil nama tuan Arfanka saat itu.

__ADS_1


"Tuan Arfanka? Sedang apa kau ada di rumah, bukannya kau sudah berangkat ke kantormu beberapa jam yang lalu?" Ucap Klara menyadarkan tuan Arfanka.


Arfanka langsung melepaskan genggaman tangannya pada Kevin dan mendorong tubuh Kevin cukup kuat sampai membuat Kevin terjatuh ke belakang, tuan Arfanka langsung saja berjalan cepat mendekati aku dan dia tiba-tiba saja memegangi kedua pundakku dengan raut wajahnya yang terlihat aneh bagiku.


__ADS_2