
Hingga beberapa jam kemudian tuan Arfanka sudah harus kembali beraktivitas mementingkan tugasnya di perusahaan begitu juga dengan Riska yang kebetulan sekali setelah mendapatkan panggilan telpon dari asistennya dia segera pergi dari kantor tuan Arfanka dengan cepat, tuan Arfanka sendiri tidak memperdulikan dia sedikit pun dia terus diabaikan begitu saja dan tuan Arfanka bahkan tidak mengantarkan dia walau sampai depan pintu aja.
Tidak benar-benar pergi seorang diri dengan perasaan yang begitu kesal dan sangat benci karena dia tidak bisa diantarkan oleh tuan Arfanka saat itu.
Sedangkan disisi lain aku yang baru saja sampai di apartemen milik Kevin kami segera masuk ke dalam dan saat itu aku baru saja selesai merapihkan beberapa barang yang Kevin bawa termasuk pakaian miliknya di kamar dia saat itu, sedangkan Kevin sendiri baru saja mengangkat telpon yang entah dari siapa kala itu hanya saja dia langsung mengajak aku untuk pergi.
"Klara ayo kita pergi, kau sudah selesai merapihkan semua pakaianku bukan?" Ucap Kevin yang langsung aku anggukkan.
Awalnya aku pikir mungkin saja dia akan membawaku pergi mencari makanan di luar namun yang membuat aku kaget, setelah beberapa saat di perjalanan rupanya dia malah membawa aku ke sebuah toko pakaian yang sangat besar, aku membelalakkan mataku dengan sangat lebar saat pertama kali melihat toko pakaian sebesar ini.
"Wahhh...Kevin apa kamu mau membeli pakaian lagi ya?" Tanyaku kepadanya
Pada awalnya aku memang mengira begitu.
Aku pikir dia yang akan membeli pakaian untuknya sendiri, sebab aku pikir tidak mungkin seseorang seperti dia yang selalu bermusuhan denganku akan membelanjakan pakaian untukku saat ini, ditambah aku tahu dia juga sudah membayarkan semua uang tuan Arfanka sebelumnya, itu sudah membuat aku merasa merepotkan dirinya dan tidak enak juga jika sampai ke gr an kalau aku yang akan dibelikan pakaian olehnya.
Namun rupanya dugaanku itu salah dia langsung mengajak aku untuk masuk ke dalam dan dia meminta aku untuk memilih pakaian sendiri saat itu.
"Jadi kau mau membelikan pakaian untukku juga?" tanyaku kepada dia untuk memastikan lagi saat itu.
Dan jawabannya itu sangat diluar dugaanku yang sebelumnya aku kita semua itu tidak mungkin terjadi.
__ADS_1
"Ayo pilih saja mana yang kau inginkan aku juga akan mencari beberapa setel pakaian untukku juga," ucap Kevin membuatku sangat kaget mendengar ucapan dia saat itu.
"Hah? Bagaimana? Apa maksudmu aku harus memilih pakaian? Apa kamu mau aku memilihkan pakaian yang cocok untuk pacarmu ya, atau untuk wanita seperti apa?" Tanyaku kepada dia masih merasa tidak mengerti dan belum paham.
Kevin sendiri langsung berjalan lagi mendekatiku padahal sebelumnya dia sudah hendak pergi dari sana namun mendengar ucapanku barusan dia langsung saja kembali datang menghampiri aku dan mengatakan hal yang membuat aku semakin tidak mengerti dengan pola pikirnya saat itu, dia terlalu banyak teka teki dan bercanda garing yang tidak jelas, bahkan aku sama sekali tidak memahami perkataan dia dengan benar.
"Iya... Kau harus memilih pakaian untuk seorang perempuan yang keras kepala, menjengkelkan dan menghabiskan uang satu milion dollar hanya dalam beberapa detik saja," ujar Kevin yang langsung membuat aku tersadar kalau ternyata sedari tadi dia itu menyindirku.
"Apa aku memang seburuk itu di matamu ya? Kesannya aku sepertinya tidak ada hal baik sedikitpun yang ada di tubuh ataupun karakterku, selama ini, padahal aku sudah berusaha dengan baik, waktunya saja yang kadang tidak telat." balasku kepada mereka saat itu.
Sampai anya aku saja yang baru sadar saat itu, namun setelah sadar justru aku malah merasa tidak enak hati dan sangat tidak nyaman dengannya.
Apalagi disaat dia yang sudah menyinggung aku dengan ucapannya yang seperti itu, mana bisa aku mau berbelanja lagi dengan uangnya, dia saja terdengar sangat perhitungan seperti itu denganku, aku tidak ingin semakin banyak memiliki hutang dengannya dan tidak tahu bagaimana cara mengembalikan uang itu kepada dia nantinya.
Namun disaat aku hendak pergi dari sana Kevin dengan cepat menahan tanganku dan dia malah terus saja memaksaku untuk tetap harus membeli pakaian yang ada disana saat itu juga.
"Hei....kau mau kemana, jangan kau pikir kau bisa kabur begitu saja, apa kamu lupa aku yang sudah membebaskanmu, tinggal denganku kau bisa bekerja ke tempat lain kau bisa memiliki banyak waktu yang bebas, bahkan kau juga bisa menganggap apartemenku sendiri sebagai tempat tinggal dirimu sendiri, apa kau tidak bersyukur dengan semua itu?" Ucap Kevin menahan tanganku dengan kuat.
Sebenarnya bukan seperti itu, sama sekali bukan karena hal tersebut, aku sangat bersyukur atas semua kebaikan orang-orang manapun kepadaku, hanya saja aku memang tidak bisa menambah hutang lagi dan lagi, sebab semakin banyak hutangku maka akan semakin sulit aku memutuskan hubungan dengan kedua kakak adik yang menyebalkan ini.
Meski mereka memiliki banyak uang aku tetap tidak akan bisa dimanfaatkan oleh meretberdua ataupun salah satunya, sehingga aku tetap saja menolak dia dan tetap hendak pergi dari sana berusaha untuk menarik tanganku sendiri agar bisa pergi secepatnya dari toko pakaian tersebut.
__ADS_1
"Kevin sudahlah aku sudah punya pakaian yang masih layak untuk dipakai, aku tidak membutuhkan apapun lagi, sebaiknya kita harus pergi dari sini secepatnya kecuali jika memang kaulah yang akan membeli sesuatu di dalam sana," balasku kepada dia dengan tegas.
Namun mau bagaimana pun aku menolak Kevin tetaah Kevin dia masih terus saja menarik tanganku dengan begitu kuat dia menariknya dengan paksa sampai membawa aku ke tengah-tengah toko pakaian tersebut da dia mengambil pakaian yang ada di rak gantungan disana dengan seenaknya lalu melemparkannya kepadaku saat itu.
Aku juga tidak bisa membiarkan pakaian yang dia lemparkan berjatuhan ke lantai begitu saja karena aku tidak ingin mengganti rugi saat itu, tetapi Kevin sama sekali tidak memikirkan hal itu sedikit pun, dia terus saja mengambil beberapa setel pakaian seenaknya dan memberikannya terus kepadaku tanpa henti, meski saat itu aku sudah berteriak cukup kencang agar dia bisa terus menerus bersikap seenaknya seperti itu padaku namun sayangnya semua itu tetap tidak berhasil.
"Hei...hei...Kevin aahh..Kevin apa yang kamu lakukan hentikan ini, jangan melemparkannya lagi hei...aku sudah kewalahan tahu!" Bentakku kepadanya karena sudah tidak bisa menahan sabar lagi dalam menghadapi manusia menjengkelkan yang super super jahil sepertinya.
Namun meski dia seperti itu aku juga tahu mungkin niatnyanbaik karena dia hanya ingin aku membelikan banyak pakaian untuknya, tapi dengan cepat aku kembali menolak semua hal tersebut, karena aku pikir aku tidak membutuhkan benda atau hal tersebut sehingga aku tidak perlu memprioritaskan perasaan dia ataupun reaksi apa yang akan dia berikan kepadaku saat itu.
Karena dalam hal semacam ini, aku benar-benar tidak ingin merugi aku tidak mau membeli pakaian sebanyak itu yang membuat aku merasa sangat canggung berada diantara orang-orang yang memakai pakaian modis, memakai make up dan menatap rambut mereka dengan cantiknya.
Dan sejujurnya ketika melihat hal tersebut, aku juga iri kepada mereka semua, aku ingin menjadi cantik sama seperti yang mereka perlihatkan namun sayangnya jangankan untuk mengurusi diriku, aku masih memiliki banyak tanggungan bagi adikku dan hutang yang harus aku bayar meski dengan cicilan.
Kevin yang diam-diam memperhatikan Klara dia tahu dan melihat dengan jelas bagaimana seorang Klara malah tergoda dan terus melihat seorang wanita yang tengah berdandan tipis tidak jauh di samping mereka saat itu.
Lebih parahnya Kevin malah mengagetkan aku saat itu dengan menyenggol sebelah bahuku cukup keras dan aku segera saja tersadar namun karena dia bertanya secara cepat dan tiba-tiba tentu saja aku menjadi cukup gugup dan tidak bisa berpikir ketika waktunya begitu mepet seperti itu.
"Hei....apa yang sedang kau lihat, apa kau tertarik dengan riasan?" Tanya Kevin menyenggol samping bahuku cukup mengagetkan aku kala itu.
"Ohh ..... Astaga... Kevin apa yang kau lakukan apa kau mau membuat jantungku copot ya, aahh kau ini memang selalu saja bersikap seenaknya." Gerutuku kepada dia sambil segera menjauh sedikit darinya.
__ADS_1
Aku juga memberikan setumpuk pakaian yang sedari tadi dia lemparkan ke arahku dengan seenaknya dan kini aku sudah kembalikan semuanya untuk dia, jadi dia juga tidak bisa mendesak aku bagaimanapun caranya.