Gadis 1 Million Dollar

Gadis 1 Million Dollar
Menemukan Sekretaris Jeno


__ADS_3

"Aishh ...sangat menjengkelkan sekali, kenapa mereka harus bersikap sedekat itu di hadapanku sih, benar-benar sangat menjengkelkan sekali," gerutu Kevin sambil terus saja merasa sangat emosi sekali saat itu.


Dia pun memilih untuk memalingkan pandangannya dengan cepat ke arah lain saat itu karena dia tidak ingin melihat pemandangan yang sangat menyebalkan di hadapannya saat itu, sampai hari mulai menjadi malam dan sudah tidak ada banyak orang lain di sekitar sana, sampai tuan Arfanka segera saja mengajak mereka berdua untuk segera keluar dari mobil dan mulai memeriksa daerah tempat kejadian kecelakaan tersebut untuk mencari petunjuk lainnya yang bisa mereka cari.


"Sepertinya sekarang sudah aman, ayo cepat kita turun jangan lupa pakai masker kalian," ucap tuan Arfanka kepadaku juga Kevin saat itu.


Kami segera saja mengangguk dan langsung saja memakai masker yang ada disana saat itu, dia terus saja memakai masker hitam yang aku berikan saat itu, hingga sesampainya kami di tempat kejadian, tuan Arfanka terus saja menggandeng tanganku dengan terus menerus sampai dia segera saja membantu aku untuk berjalan dan menyinari jalanan yang akan aku lewati saat itu.


Cara dia bagaikan memperlakukan aku saat itu sungguh membuat akunsangat meleleh dia terlihat seperti seorang pria yang sangat bertanggung jawab dan begitu keren di mataku karena dia sudah mau membantu aku dan memperhatikan aku dengan sangat baik seperti itu.


"Ayo jalan ke arah sini aku akan menyinari jalan untukmu dan jangan lepaskan genggaman tangannya padaku, agar kau tetap aman," ucap tuan Arfanka yang membuat aku begitu senang sambil langsung saja mengangguk kepada dia dengan segera.


Sedangkan disisi lain Kevin terus berdecak kesal dan dia terlihat begitu kesal dan sangat iri dengan hubungan baik diantara aku dan tuan Arfanka saat itu, mungkin dia seperti itu karena dia jomblo dan dia tidak bisa merasakan rasanya di perhatikan oleh pasangan sebab dia sama sekali tidak memiliki pasangan saat itu.


"CK....dasar kalian ini baru juga masih sebatas pacar kalian sudah menjadi sebucin ini, bagaimana jika kalian sudah menikah, aaahhh..malas sekali melihat kalian berdua ini, aku akan pergi mencari ke sebelah sana saja," ucap Kevin yang lebih memilih untuk pergi ke arah berlawanan denganku dan tuan Arfanka saat itu.


Sedangkan tuan Arfanka juga tidak bisa menahan dia karena itu sudah menjadi keputusan Kevin sendiri, meski saat itu aku sudah meminta agar Kevin tidak pergi seorang diri sebab di daerah itu masih dekat dengan hutan dan cukup bahaya jika pergi seorang diri di tempat sesepi ini.


"Tuan...kenapa kamu malah membiarkan Kevin pergi sendir, wilayah ini terlalu sepi dan ada hutan juga di dekat sana bagaimana jika nanti dia tersesat, sebaiknya kita ikuti saja dia dari belakang," ucapku kepada tuan Arfanka saat itu.


"Sudahlah untuk apa mencemaskan orang seperti dia, lagi pula dia itu sudah besar tidak perlu mencemaskannya dia tidak mungkin tersesat," balas tuan Arfanka kepadaku.


Dan aku tidak bisa mengatakan apapun lagi, kami pun terus saja mencari keberadaan sekretaris Jeno yang tuan Arfanka pikir dia kemungkinan besar akan terpental keluar dari mobil karena saat itu bangkai mobilnya menunjukkan pintu mobil yang lepas dan sudah bisa di pastikan bahwa kemungkinan sekretaris Jeno akan mental ke daerah tersebut saat itu.


Aku juga terus berteriak memanggil sekretaris Jeno sama seperti apa yang dilakukan oleh tuan Arfanka saat itu, sampai kami mendengar teriakkan Kevin yang sangat kencang memanggil namaku juga tuan Arfanka dengan sangat histeris saat itu, dan membuat aku juga tuan Arfanka sangat kaget sambil langsung saja berlari menuju tempat dan asal dari teriakkan dari Kevin saat itu.


"Aaarrkkkk..... Arfanka....Klara kemari kalian berdua hei....tolong dimana kalian!" Teriak Kevin yang sangat mengagetkan kami berdua saat itu.


Aku saling tatap untuk beberapa detik dengan tuan Arfanka dengan perasaan yang sangat kaget tidak karuan ketika mendengar teriakkan dari Kevin saat itu.


"Ya ampun itu suara Kevin kan? Dia...tuan ayo cepat kita pergi mencarinya," ucapku kepada tuan Arfanka dengan sorot mata yang sangat mencemaskan Kevin saat itu.


"Iya..ayo kita pergi," ucap tuan Arfanka kepadaku saat itu.


Kami pun segera pergi dengan cepat hingga kami mulai menemukan Kevin dan berhasil menemukan sekretaris Jeno juga saat itu.


"Tuan itu," ucapku sambil menunjuk ke arah Kevin yang saat itu tengah berjongkok tidak jauh di hadapan kami sambil memegangi sekretaris Jeno di atas pangkuannya.


Tuan Arfanka sangat kaget dan dia langsung berlari untuk menghampirinya secepat yang dia bisa saat itu dan langsung saja bertanya kepada Kevin dengan apa yang terjadi kepada Kevin juga sekretaris Jeno disana yang sudah terlihat tidak sadarkan diri saat itu.


"Kevin apa kau baik-baik saja?" Tanya tuan Arfanka kepada Kevin saat itu.


"Bodoh aku baik-baik saja lihat ini dengan baik-baik, sekretaris mu terluka parah aku tahu dia masih hidup tapi kita harus mengamankan dia dahulu, kau harus membawanya ke rumah sakit dengan cepat atau kita akan kehilangan nyawanya," ucap Kevin sambil mengikat luka yang ada di perut juga kaki sekretarias Jeno dengan kain kemejanya sendiri yang dia robek dengan sengaja saat itu untuk menolong sekretaris Jeno sebagai pertolongan pertama yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkannya.

__ADS_1


Tuan Arfanka juga segera membawanya dan terus saja membawa sekretaris Jeno masuk ke dalam mobilnya dengan cepat, dia juga langsung membawa sekretaris Jeno ke rumah sakit dan menyuruh aku untuk pergi dengan Kevin saat itu, karena takut mobilnya akan ada yang mengikuti dan untuk mendampingi mobilnya dari belakang, aku dan Kevin mengerti maksudnya itu dan kami hanya menurutinya saja.


Kevin langsung menarik tanganku dan dia membawa aku ke dekat mobilnya dan seger saja kami menyusul tuan Arfanka saat itu juga, aku terus saja merasa sangat mencemaskan sekretaris Jeno itu, sebab luka di sekujur tubuhnya sangat parah sekali sampai aku bahkan tidak berani untuk melihat kondisi tubuhnya yang sudah di penuhi dengan darah yang begitu banyak sekali.


Tidak tahu seperti apa kondisi dia sekarang ini, sampai ketika kami tiba di rumah sakit tuan Arfanka langsung saja meminta ruangan private untuk sekretaris Jeno, karena dia tahu bahwa tuan Briantoro bisa dengan mudah menemukan keberadaan sekretaris Jeno di rumah sakit ini jika saja dia tidak melakukan hal pencegahan seperti saat ini.


Kami bertiga terus saja menunggu di luar dengan perasaan yang cemas dan aku segera saja menenangkan tuan Arfanka yang terlihat begitu cemas dan sangat panik tidak karuan mengetahui kondisi sahabat terbaik dia sejak dia kecil yang malah berakhir seperti itu dan dia tidak bisa mencegah hal berbahaya dan sangat fatal seperti ini untuk tidak menimpa sahabatnya sendiri.


"Aaarrkkkkhh.... sial, semua ini pasti ulah Briantoro, dia pasti ada di balik semua ini!" Bentak tuan Arfanka yang berteriak melampiaskan emosinya sangat kencang sampai mbuat urat-urat di tangannya terlihat sangat jelas saat itu.


Aku mengerti apa yang di rasakan oleh tuan Arfanka saat ini, dia pasti sangat kecewa benci dan pasti begitu kesal sebab sahabat yang sudah dia anggap saudara malah berakhir seperti ini karena ulah dari ayah angkatnya sendiri dan dia tidak bisa melakukan apapun.


"Tuan..sudah tenangkan dirimu semuanya sudah terlanjur terjadi kita juga masih belum mengetahui dengan benar apakah semua ini sungguh ulah dari tuan Briantoro atau tidak? Kita harus menunggu sampai sekretaris Jeno terbangun baru kita akan mengetahui semua kebenarannya nanti, tolong aku sangat berharap kamu bisa menenangkan dirimu dahulu jangan terpaut oleh emosi semata seperti ini," ucapku mencoba untuk menenangkan dia saat itu.


Aku terus mengelus punggungnya dengan lembut dan memberikan kekuatan kepadanya denga meyakinkan tuan Arfanka bahwa sekretaris Jeno akan baik baik saja dan aku terus meyakinkan tuan Arfanka bahkan sekretaris Jeno akan segera melewati masa kritisnya di dalam sana.


"Tuan aku sangat yakin sekretaris Jeno ini bukanlah orang yang lemah dia masih memiliki keinginan bertahan hidup yang sangat tinggi di dalam dirinya untuk mengobati adiknya dan untuk masa depan yang tengah dia atur bagi adik perempuannya itu, aku yakin dia pasti bisa melewati masa kritisnya dengan lebih cepat dan akan segera baik-baik saja." Ucapku kepadanya sampai akhirnya tuan Arfanka bisa menjadi jauh lebih tenang saat itu dan aku benar-benar merasa sangat tenang setelah sudah bisa melihat tuan Arfanka jauh lebih tenang di bandingkan sebelumnya.


Sedangkan Kevin sendiri dia baru saja kembali setelah mengganti pakaiannya yang sebelumnya sudah hancur dia rusak sendiri untuk memberikan pertolongan pertama kepada sekretaris Jeno saat itu, dan kini dia malah menyuruh aku untuk pulang ke apartemen lebih dulu.


Dan aku baru saja teringat bahwa di apartemen masih ada Kirei yang aku tinggalkan sendiri dan aku hampir saja melupakan adikku sendiri saking banyaknya hal yang terjadi padaku hari ini dan membuat aku merasa kebingungan dengan diriku sendiri, sebab sibuk menenangkan dan terus menemani tuan Arfanka saat itu.


"Klara kenapa kau masih disini, sebaiknya kau pulang bukankah ada adikmu disana? Dia tidak boleh ditinggal seorang diri dalam kondisi genting seperti ini, terlebih aku tahu anak buah ayahku sudah mengetahui tentang dirimu, aku tahu itu barusan dari bodyguard kepercayaan aku yang memberitahukan tentang hal itu," ucap Kevin memberi tahu aku tentang hal tersebut.


Sampai tuan Arfanka menyuruhku untuk pulang juga karena dia juga sangat mencemaskan aku dan meminta agar Kevin mengantarkan aku sebab dia masih terlihat begitu lemah sekali.


"Pergilah Klara aku baik-baik saja kau tidak perlu mencemaskan diriku, aku bisa menjaga diriku sendiri tapi adikmu jauh lebih membutuhkan dirimu disana, aku juga akan lebih mencemaskan dirimu jika benar ayah sudah mulai mengetahui tentang keberadaan kau di sampingku, jadi biarkan Kevin mengantarkan kamu pulang agar aku bisa merasa lebih tenang jika kau pergi dengannya," ucap tuan Arfanka saat itu.


Aku pun mengangguk patuh kepadanya dan segera saja aku berpamitan kepada tuan Arfanka sambil melambaikan tangan kepada dia saat itu juga.


"Baiklah aku akan patuh padamu tapi tuan aku harap kamu jangan terlalu sedih sampai tidak memperdulikan keadaan dirimu sendiri, jangan lupa berikan aku kabar jika sesuatu terjadi pada sekretarias Jeno, aku juga mencemaskannya." Ucapku kepada dia saat itu.


Tuan Arfanka mengangguk dan dia melepaskan genggaman tangannya dariku, aku langsung pergi dengan Kevi keluar dari rumah sakit itu dengan cepat, dan kami benar-benar merasa sangat tidak tenang sekali, terus saja kami melirik ke segala arah saat itu dan terus memeriksa ke segala penjuru disana untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang memata-matai kami di sekitar rumah sakit tersebut.


"Kalara ayo, kita sudah aman sepertinya anak buah ayahku tidak akan mengetahui tentang hal ini, aku juga sudah meminta bantuan dari para bodyguardku untuk memberikan kabar apapun tentang mata-mata yang di pakai oleh ayahku saat ini untuk mengikuti Arfanka dan mencari tahu tentang dirimu," ucap Kevin saat sudah berada di dalam mobil saat itu.


Aku sungguh merasa sangat cemas dan takut tidak karuan saat itu, aku sungguh tidak menduga bahwa tuan Briantoro bisa bergerak secepat ini sampai diambisa langsung mengetahui tentang dirinya padahal dia baru saja berpacaran dengan tuan Arfanka saat itu.


"Kevin apa menurutmu aku atau tuan Arfanka yang akan dalam bahaya jika sampai tuan Briantoro mengetahui tentang hubungan kami nantinya?" Tanyaku kepada Kevin karena aku sangat cemas sekali saat itu.


"Kau sama sekali tidak mengetahui seutuhnya bagaimana sikap ayahku, jika sampai dia mengetahuinya maka bukan hanya kau saja yang akan dalam bahaya, tetapi orang-orang yang ada di sekitar dirimu juga akan mendapatkan dampaknya termasuk adikmu Kirei, sama dengan apa yang terjadi pada sekretarias Jeno sekarang ini, dan aku juga curiga bahwa sekretaris Jeno mungkin saja menyembunyikan sesuatu yang besar dari Arfanka, sebab dia tidak mungkin akan menjadi sasaran ayahku jika dia sendiri yang memulai untuk berurusan dengan ayahku," ucap Kevin menjelaskan kepadaku saat itu.


Aku sedikit tidak mengerti dengan apa yang Kevin maksudkan saat itu namun aku tahu bahwa dia memperingati aku untuk lebih berhati-hati lagi ke depannya.

__ADS_1


"Kevin apa maksudmu tentang sekretaris Jeno dan hubungan dengan ayahmu itu?" Tanyaku kepada dia merasa sangat penasaran sekali.


"Kau pikirkan saja sendiri, ayahku tidak akan menyerang siapapun yang tida ada urusannya dengan Arfanka sedangkan dia akan menghabiskan semua orang yang berhubungan dengan Arfanka karena dia pikir orang itu hanya akan mendukung Arfanka dan membuat dia semakin kuat dalam bisnis, sedangkan yang ayahku inginkan dialah yang memimpin perusahaan, atau aku sebagai putra kandungnya, bukan malah Arfanka yang di kenal banyak orang seperti saat ini sedangkan nama dia sendiri malah redup dalam dunia bisnis, padahal dialah yang mengajarkan Arfanka selama ini jadi dia merasa di langkahi oleh Arfanka sejak lama, dan aku tahu ayahku tida pernah menganggap Arfanka sebagai putranya dia selalu bilang padaku bahwa Arfanka hanya sebuah alat yang dia butuhkan, maka jika Arfanka sudah tidak berguna bagi perusahaan dia bisa membuang dia begitu saja dengan mudahnya," ucap Kevin menjelaskan lagi semakin jelas tentang seorang tuan Briantoro saat itu dan hubungannya yang begitu buruk dengan tuan Arfanka selama ini.


Aku yang mendengar semua itu dari Kevin sungguh tidak habis pikir dengan apa yang di pikirkan oleh tuan Briantoro ini karena bisa-bisanya dia melakukan semua itu kepada putra angkat yang pernah menolong hidupnya dan malah menjadikan seseorang sebaik tuan Arfanka sebagai alatnya saja untuk terus menempatkan perusahaan dia di nomor satu dalam setiap kali pemilikan perusahaan terbaik di lakukan.


Hingga aku mulai tertarik dengan semua ini dan aku merasa ragu untuk terus menjaga hubungan aku dengan tuan Arfanka setelah mendengar ucapan dari Kevin saat itu, pasalnya aku hanya merasa cemas dengan Kirei aku tidak ingin hal buruk lainnya terjadi lagi kepada Kirei sebab jika aku berhubungan dengan tuan Arfanka cepat atau lambat aku yakin seseorang seperti tuan Briantoro pasti akan mencium bauku juga nantinya.


Aku semakin merenung dan tidak tau harus berbuat apa saat itu, aku hanya merasa tidak menentu dan merasa kebingungan sendiri dengan apa yang harus aku lakukan saat itu.


"Kevin aku bingung sekarang, dan aku sangat takut, aku sangat mencemaskan Kirei, tolong kamu tambahkan kecepatannya," ucapku kepada Kevin saat itu.


Untungnya Kevin mengerti posisiku dan dia langsung saja menuruti permintaan aku kepadanya dan dia menyuruhku untuk tenang.


"Tenanglah Klara adikmu akan baik-baik saja sekarang sebab aku yakin ayah tengah menikmati keberhasilan dia yang sudah membuat kecelakaan itu sukses dan tidak tercium oleh hukum, jadi dia tidak akan mencelakai siapa pun lagi di waktu yang bersamaan," ucap Kevin padaku dan bisa sedikit menenangkan aku saat itu.


"Kevin jika ayahmu itu sangat tidak menyukai tuan Arfanka dan begitu mengekang dia sampai seperti ini, lalu bagaimana denganmu, apa kau tidak takut dengan ayahmu yang jema seperti itu?" Tanyaku kepada dia saat itu.


"Sekarang begini saja, jika kau memiliki adik seorang yang jahat dan sadis apakah kau akan takut juga dengannya? Tentu tidak bukan dan begitu juga yang aku rasakan, karena ayahku tidak akan berani melakukan apapun padaku, sejak kecil aku selalu melakukan hal-hal yang dia larang dan dia tidak pernah melarangku untuk melakukannya, dia justru selalu membiarkan aku melakukan apapun yang ingin aku lakukan karena aku tidak pernah menjadi lebih pintar dan lebih berkuasa dari pada dirinya, itulah mengapa ayahku tidak pernah ikut campur dengan urusanku, meski aku adalah anak kandungnya sendiri. Tetapi jika dengan Arfanka sejak kecil bahkan Arfanka sudah bisa menyaingi kepintaran ayahku, sampai dia sudah bisa di jadikan seorang karyawan yang berprestasi di kantornya sendiri tepat setelah dia selesai menempuh pendidikan di perguruan tinggi sebelumnya." Ucap Kevin menceritakan semuanya kepadaku.


"Tapi apakah kamu merasa iri dengan tuan Arfanka? Dan apakah hal itu yang membuatmu selalu ingin mengalahkan tuan Arfanka selama ini?" Tanyaku lagi memastikan kepada dia.


"Benar aku sangat iri, karena aku di perlakukan dengan sangat berbeda daripada cara dia memperlakukan Arfanka sejak kecil yang selalu di utamakan, tetapi setelah aku dewasa aku tahu menjadi tidak di perdulikan oleh ayah sepertinya memang pilihan terbaik, sedangkan kasihan sekali si Arfanka itu akan terus menjadi budak bagi ayahku karena dia selalu saja melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan begitu rapih sampai tidak ada alasan untuk ayah bisa memarahi dia lagi, sebab semua hasil kerjanya selalu saja bagus dan membuat ayah merasa selalu puas dengan hal tersebut.


Berbeda sekali denganku dimana semua yang aku lakukan tidak pernah dia hargai, meski aku selalu mendapatkan banyak penghargaan dalam masa sekolah sampai aku lulus dari universitas terbaik sekalipun, dia tetap saja tidak pernah membanggakan aku pada orang lain, dia hanya selalu memperkenalkan Arfanka dan Arfanka lebih dulu lalu membanggakan dia dan memberikan dia banyak pujian di hadapan teman-temannya ataupun rekan bisnisnya di sana, itu yang membuat aku muak, dan aku beritahu padamu Klara, jika kau benar-benar menyukai Arfanka aku hanya takut kau akan terluka jadi tolong atur perasaan di dalam dirimu sendiri, Jagan sampai kau jatuh terlalu dalam karenanya, sebab dia tidak akan pernah bisa melanggar ucapan dan perintah ayahku, dia berbeda dia tidak seperti aku yang pemberontak ini," ucap Kevin dengan memberikan tatapan tajam kepadaku dan segera kembali fokus menatap ke depan dan menyetir dengan fokus lagi saat itu.


Sedangkan aku sendiri juga hanya bisa menghembuskan nafas dengan berat, rasanya semua sudah terlambat saat ini, karena aku sepertinya benar-benar sudah sangat menyukai tuan Arfanka dan aku tidak tahu apa alasannya mengapa aku harus menyukai dia sampai seperti ini, tapi di sisi lain apa yang dikatakan oleh Kevin kepadaku sedari tadi itu cukup membuat aku sangat ngeri mendengarnya dan aku pikir Kevin tidak akan mungkin berbohong kepadaku saat itu.


Sebab dia benar-benar adiknya tuan Arfanka dan wajahnya tidak akan mungkin bicara sampai di penuhi emosi yang berubah-ubah dengan cepat saat itu jika.dia memang berbohong.


Sesampainya di apartemen, aku segera saja pergi berlari masuk ke dalam apartemen dan Kevin mengatakan padaku untuk menghubungi dia jika sesuatu terjadi kepadamu ataupun ada hal aneh nantinya.


"Jangan lupa hubungi aku jika terjadi sesuatu padamu." ucap Kevin saat itu.


Aku hanya mengangguk saja padanya dan segera pergi masuk ke dalam apartemen sambil Kevin yang masih saja menatap aku hingga aku benar-benar masuk ke dalam saat itu.


Saat aku sampai di dalam, aku lihat Kirei yang sudah ketiduran di sofa dengan tangannya yang masih memegangi cemilan di sebelah tangannya dan sebelahnya lagi memegang remote televisi dengan erat.


"Astaga...dia bisa tidur dalam keadaan tangannya yang memegangi cemilan seperti ini, yang benar saja apa dia ini masih anak kecil?" Gerutuku sambil segera saja mengambil botol cemilan yang ada di tangan Kirei sambil memunguti sisa cemilan yang berserakan di lantai lalu segera membersihkan meja disana saat itu.


Ku tatap wajah Kirei yang begitu menyejukkan hatiku, dia adalah satu satunya pelita yang masih menyala di dalam hatiku, dan dia adalah satu satunya harapan dalam hidupku untuk mengubah rantai kesakitan dan hidup yang berantakan dan penuh kesulitan seperti ini.


"Kirei....kau harus menjadi lebih baik dari kakak, kakak akan selalu memperjuangkan semua mimpimu sayang," ucapku sambil mengelus kepalanya pan saat itu dan mengecup keningnya dengan sesaat.

__ADS_1


__ADS_2