
Aku tidak ingin mengenakan pakaian seperti ini namun terdengar dari luar teriakkan pria tersebut yang menyuruh aku untuk segera keluar saat itu sehingga terpaksa aku keluar dari sana dan melihat rumah yang begitu mewah tersebut dengan lampu gantung yang sangat indah di atas sana.
"Wahhh.... Ada dimana aku sekarang sebenarnya, tuan bisakah kau beritahu dimana aku ini, dan kenapa aku harus memakai pakaian seperti ini?" Tanyaku kepada pria tua tersebut,
"Ini adalah mension tuan Arfanka dan kau adalah pelayan baru disini, kau harus memakai seragam pelayan itu dan bergabung dengan mereka berdua" ujar pria tua tersebut sambil menunjuk ke arah dua wanita paruh baya yang sepertinya berusia sekitar empat puluh tahunan.
Mereka berdua tersenyum kepadanya dan menunduk menyapaku, aku juga segera membalas sapaan mereka dengan ramah dan langsung berjalan mendekati mereka meski perasaanku sangat tidak nyaman saat ini di tambah pakaian pelayan tersebut sangatlah membuat aku tidak bebas dalam bergerak.
"Nona kenapa kamu bisa masuk ke rumah ini? Dan bagaimana bisa kamu menjadi pelayan tuan Arfanka sedangkan dia sangat membenci wanita muda" ujar salah satu pelayan wanita di sana,
"A...a...aku aku tidak tahu, hanya saja ibuku memiliki banyak hutang padanya dan aku dia korbankan hingga tiba-tiba saja sampai di tempat ini, aku ingin keluar dari sini bi, aku tidak nyaman disini apalagi dengan pakaian ini" ucapku kepada pelayan wanita tersebut.
Sedangkan ku lihat wanita itu menatap ke arah pria yang tadi memberikan pakaian tersebut kepadaku dan dia langsung melepaskan tanganku yang sebelumnya dia genggam, dia juga menjaga jarak dariku dengan cepat itu membuat aku sedikit heran melihat perubahan sikapnya yang awalnya begitu ramah kini justru terlihat berjarak dan canggung.
"Ehh.... Ada apa? Kenapa bibi melepaskan tanganku, apa ada perkataan dariku yang salah?" Tanyaku kepadanya,
"Tidak ada, kamu bersikaplah yang baik di rumah ini, dan jangan menyinggung tuan Arfanka agar kamu selamat darinya, ayo kita berdiri di depan untuk menyambutnya" balas bibi tersebut dan langsung berjalan keluar lebih dulu.
Aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya namun aku segera mengikuti dia pelayan tersebut ke depan hingga mereka berjajar di depan pintu yang tertutup dan berdiri dengan posisi yang rapih juga pose yang sama, aku pun mengikuti apa yang mereka lakukan namun aku sungguh merasa tidak nyaman dengan pakaian lahan yang seksi ini, aku merasa malu karena disana juga ada pria tua tersebut.
"Aahhh... Pakaian ini sungguh memalukan, bagaimana bisa aku memakai pakaian seperti ini di depan orang lain" gerutuku terus merasa tidak enak.
Sampai tidak lama pintu itu terbuka dan munculnya pria kejam yang sebelumnya pernah aku lihat di bar juga di perusahaan tersebut dan dia langsung membuka topeng yang menutupi wajahnya tersebut, dia terlihat tampan dan aku kaget saat melihatnya.
__ADS_1
Awalnya aku pikir setengah wajahnya itu terkena luka dan sebagainya hingga dia menutupi menggunakan topeng namun rupanya wajah dia baik-baik saja tapi dia selalu memakai topeng setiap aku melihatnya sebanyak dua kali saat itu, dan kini aku bisa melihat wajahnya secara langsung aku mulai merasa bahwa wajahnya tersebut terasa sangat familiar untukku.
"Di..dia...kenapa aku merasa seperti pernah melihatnya yah? Tapi dimana?" Gerutuku memikirkan dan berbicara pelan.
Semua pelayan menunduk memberikan hormat kepada pria tersebut dan menyambut kedatangannya sedangkan aku yang saat itu sibuk memikirkan merasa pernah melihatnya aku melamun dan tidak sadar bahwa disaat itu hanya aku sendiri yang tidak membungkuk memberi hormat kepada pria tersebut.
Sampai pria itu terus berjalan menghampiri aku dan aku masih belum menyadarinya saat itu karena aku hanya terus menatap ke bawah dengan tertunduk sambil terus memikirkan hal tersebut.
"Eeess.... Siapa yah dia? Aku sepertinya pernah melihat....." Gerutuku pelan terus memikirkan.
Sampai tiba-tiba saja tangan seseorang menepuk pundakku dengan kuat hingga membuat aku kaget dan terperanjat saat itu juga.
"Heh.... Kenapa kau tidak menyambutku seperti yang lainnya!" Ucap pria tersebut dengan tatapan yang tajam kepadaku.
"Ah.... Apa? Bagaimana cara aku menyambutmu? Aku sudah berdiri disini sedari tadi dan kau sudah datang, lalu apa lagi yang harus aku lakukan?" Tanyaku kepadanya.
Saat itu aku sungguh tidak mengerti apapun, makanya aku bertanya seperti itu kepadanya, sampai dia mulai terlihat membulatkan matanya semakin lebar kepadaku dan aku mulai merasa takut saat itu karena cengkeram tangannya di sebelah pundakku mulai mengeras dan dia memegangnya semakin kuat saat itu.
"AA...a..aaaww....sakit kenapa kau malah mencengkram pundakku sekeras itu aaaaww" ringis ku kesakitan dan memegangi tangannya.
Aku berusaha untuk menahan sakitnya namun tidak bisa karena itu sangat kuat aku bahkan tidak bisa membuat dia melepaskan cengkraman tangannya dari pundakku tersebut sampai seorang pria tua itu berbicara kepadanya barulah dia mau melepaskan tangannya dari pundakku itu.
"Maafkan saya tuan semua ini kesalahan saya, dia belum menerima surat peraturan pelayan di rumah ini sehingga dia belum mengetahui apapun" ujar pria tersebut sambil membungkuk.
__ADS_1
Akhirnya pria kejam itu melepaskan tangannya dan aku tetap meringis merasa sakit di bagian pundakku yang sudah mulai memerah dan lebam.
"Aaaw...sssttt... Sakit sekali" gumamku merasakan rasa sakit itu.
"Baiklah segera beri dia peraturan pelayan di mensionku dan untuk dua pelayan itu aku tidak ingin melihat mereka menyambutku lagi, kau tahu aturannya bukan!" Ucap dia dengan menatap tajam menggunakan ujung matanya kepada pria tua tersebut.
Mereka semua langsung membungkuk mematuhi ucapan pria tersebut dan aku juga mengikuti apa yang mereka lakukan, namun aku menunduk sedikit sebab pakaian yang aku kenakan terlalu mini sehingga jika aku menunduk terlalu rendah aku takut bagian dadaku akan terbuka ataupun roknya yang akan terangkat di bagian belakang.
Namun sialnya pria kejam tersebut justru memaksa aku untuk menunduk lebih rendah kepadanya.
"Hey... Kenapa kau menunduk sedikit seperti itu, ayo menunduk lebih rendah apa aku tidak tahu bagaimana caranya menghormati!" Ucap pria tersebut mendesakku.
"Ta..tapi tuan.... Masalahnya pakaian ini" ucapku tidak selesai karena dia tiba-tiba saja langsung menekan pundakku lagi sehingga membuat aku langsung menunduk lebih rendah padanya.
Dan saat itu juga aku refleks langsung menutupi belahan dadaku dengan kedua tangan karena takut dia akan melihatnya.
"Aahhh...." Ucapku sangat kaget.
Untungnya saat itu aku masih sempat menutupinya dan dia langsung saja berjalan menaiki tangga dengan sangat menyebalkan.
Tanpa Klara ketahuan diam-diam muncul sebuah senyum yang sangat kecil di bibir tuan Arfanka disaat dia berhasil mengerjai Klara untuk menunduk lebih rendah kepadanya dan setelah mencengkram sebelah pundaknya sampai meninggalkan sebuah besak lebam saat itu.
Entah senyuman kecilnya itu karena dia puas menyiksa Klara atau karena hal lainnya sebab selama ini hanya tatapan tajam menyeramkan yang selalu dia lemparkan kepada semua orang dan dia selalu senang menyiksa semua orang yang mencoba berhadapan dengannya.
__ADS_1
Tuan Arfanka tidak pernah memberikan ampun kepada siapapun yang mengusik hidupnya dan mencoba ikut campur dalam urusannya, dia bahkan tidak akan segan membunuh siapapun entah itu seorang wanita atau pria, seorang anak kecil ataupun orang tua, selama mereka melakukan kesalahan fatal padanya maka dia akan selalu membalas hal tersebut dengan setimpal.